Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 9 Merajuk dan Kejujuran


__ADS_3

"Mir, vas ini urusan mu ya, aku tidak mau tahu." Pesan Imran dan ia langsung menyusul Salwa ke kamar.


"Apa? Dasar kau adik Kura-, " Umpatannya langsung terhenti tatkala Pak Somad datang.


"Kenapa Mir? "


"Anu Pak, kesenggol. Lalu pecah. "


"Ooh ya sudah, Ga papa. Memang ibu nya kadang meletakkan nya di tempat yang sering kesenggol. Aku juga jadi korbannya. "


"Maaf ya Pak. Ga sengaja. "


"Tidak masalah, Salma, Salma... Ayo bersihkan Vas ini nak! " Pak Somad berteriak memanggil Salma anak sulung nya.


Imran masuk ke kamar, dan mendapati Salwa sedang duduk di tepi ranjang dan sedang tersedu-sedu. Dia memintal mintal ujung bantal yang ada di pangkuannya.


"Kamu kenapa dek? Apa kamu mendengar pembicaraan Aku dan Amir? "


Tanya Imran kepada Salwa yang masih membelakanginya, ia tidak ada keinginan merubah posisinya untuk menghadap Imran. Imran pun sudah duduk di samping Salwa.


"Salwa, dengarkan dulu. Maafkan aku karena belum jujur. Sebenarnya, aku ingin memberi tahu mu saat akan pergi ke kota nanti. "


"Jadi itu benar, dia anak mu. Ternyata kamu Duda. Lalu kenapa Bapak tidak pernah bilang dari awal begitu pula Mas, aku disini merasa dibohongi. Kamu memalsukan status mu Mas. "


"Iya aku Duda Salwa. Tapi, " kalimatnya tertahan begitu saja.


"Apa? Sampai hati Mas kamu berbohong kepada aku, terlebih kepada kedua orang tua ku. " Air mata Salwa semakin berlinang. Dia memandang Imran dengan sinis.


"Dengar kan dulu Salwa, " Dengan lembut Imran mencoba menenangkan Salwa.

__ADS_1


Salwa yang sudah terlanjur emosi langsung berdiri dan menjauh dari Imran, "Betapa bodohnya aku menerima perjodohan ini. Semuanya ku serahkan kepada orang tua ku. Aku tidak bisa menerima anaknya, aku masih muda. Aku belum bisa merawat seorang anak, aku berusaha menjadi istri yang baik. Aku melayaninya, tapi nyatanya aku telah dibohongi. " Batinnya berkecamuk. Salwa selalu menangkis tangan Imran yang mencoba menenangkannya.


"Dengar dulu Salwa penjelasan ku. Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya " Imran masih membujuknya.


Namun Salwa tidak ingin mendengarnya, dia menutup kedua kupingnya. Dan berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya.


Imran mengetuk pintu kamar mandi, "Salwa, ayo buka. Akan aku jelas kan cerita sebenarnya. " Imran menunggu namun tidak ada jawaban dari Salwa.


Imran terduduk di depan pintu kamar mandi. "Entah kau mendengar atau tidak, tetap aku jelaskan. Dahulu sebelum aku meminta perjodohan ini. 1 tahun lalu aku jatuh cinta dengan seorang janda punya anak 1. Aku di mabuk kepayang, aku ingin dia menjadi istri ku. Lalu ku persunting dia dengan berbagai persyaratan yang ia inginkan. Bahkan aku menentang keluarga ku yang tidak setuju.


Namun, Setelah keluarga ku luluh karena kegigihan ku. Pada hari pernikahan, sudah ijab kabul. Malam itu ternyata dia melarikan diri dengan seorang pria dengan membawa kabur uang amplop undangan beserta uang yang sebanyak 20 juta yang menjadi persyaratannya dan segala perhiasan. Dan anak itu, Nama nya Amar. Pada saat di tinggalkan dia berumur 2 tahun. Aku tidak sampai hati untuk membawa nya ke panti asuhan. Keluarga mantan istri ku itu ternyata pada saat acara semuanya palsu. Aku di tipu Salwa. "


Panjang lebar Imran menjelaskan riwayat hidupnya sebelum bertemu dengan Salwa.


"Salwa, apa kau mendengar cerita ku. Itu lah kebenaran yang ada Salwa. Dan sekarang, kau adalah istriku satu-satunya. Aku sudah jatuh cinta kepada mu saat pertama kali memandang mu. Ku mohon beri aku sempatan Salwa. "


Panjang lebar Imran menjelaskannya. Namun belum ada tanda-tanda Salwa keluar dari kamar mandi. Entah ia mendengar atau belum menerima alasan yang diberikan oleh Imran.


Tetap saja, tidak ada sahutan. Sunyi sepi. Terlintas fikiran yang tidak baik di otak Imran. "Jangan-jangan."


Dengan segera ia berdiri, ia goyang-goyang gagang pintu kamar mandi. "Aku harus mendobraknya. Jika ada apa-apa justru aku yang akan di salahkan oleh Mertua ku. "


Amir mengetuk dan membuka pintu perlahan. "Sedang apa kau Imran, Aku mau pulang! "


"Jangan pergi dulu, gara-gara kau istri ku ngambek. aku takut dia kenapa-kenapa di dalam kamar mandi. Dia tidak keluar dari tadi. " Imran mulai panik.


"Waduh, gawat ini. Salwa, Ini aku Amir. Apa kau sudah menjelaskannya? " Tanya Amir kembali kepada Imran. Anggukan kepala Imran sebagai pertanda sudah diceritakan.


"Begini Salwa, apa yang diceritakan Suami mu Imran, betul adanya. Dia tidak berbohong. Kenapa kami tidak menjelaskan perihal itu karena memang pada kenyataannya Imran ini masih perjaka ting ting mendekati bujang lapuk. Titel Duda itu hanya lah di administrasi hukum. Bapak mu pun mengetahui itu. Namun, penjelasan itu kami serahkan kepada Imran. Maafkan kami, pemikiran panjang kami ini ternyata membuat kamu kecewa. Dan malah kamu mengetahui nya dari pembicaraan kami. "

__ADS_1


Amir memandang mata Imran, ada sedikit keputus asaan yang tergambar di wajah Imran. "Wes, gagal lagi ini kamu nikah imran. " Nafas panjang terhembus oleh Amir. Ia tidak bisa lagi membayangkannya.


"Baiklah, aku mengerti..., " ucap suara lembut dari dalam kamar mandi.


"Alhamdulillah." Imran dan Amir pun mengucap syukur. Amir langsung keluar kamar dan masih saja menggoda Imran dengan menepuk pundak adiknya dan tidak lupa memonyongkan bibirnya sebagai kode untuk menyuruh nya untuk mencium.


"Awas kau Amir, Kau yang bikin drama ini! "


Salwa pun keluar, mata nya sembab. Imran langsung tersenyum bahagia karena istrinya sudah mencoba mengerti keadaannya.


Langsung ia peluk istrinya, "Terimakasih sayang, kau sudah mengerti aku. Maafkan aku karena terlambat memberi tahu mu. Tapi, tenang saja. Burung Mas milik adik seorang. " Cubit mesra Imran ke pipi Salwa. Dan itu membuat Salwa tersipu.


Tidak menunggu lama, langsung ia ke-cup bibir Salwa. Sebagai tanda kesalahfahaman mereka sudah tidak ada lagi. Salwa pun membalas ke-cupan mesra suaminya. Cukup intens mereka melakukannya sampai melupakan bahwa Kakak Amir akan segera pulang.


"Habis ini kita pacaran ya! " pinta Imran kepada Salwa.


"Maksud Mas Imran pacaran kaya gimana? "


"Nah justru kamu ga tahu, maka dari itu kita pacaran, " Jawab Imran memeluk Salwa dengan mesra, sekali lagi ia cium dahi Salwa dengan mesra. Lalu dia keluar untuk memberangkatkan Kakak nya Amir sekeluarga untuk pulang.


💙Bersambung💙


💛Terimakasih Sudah membaca novelku


❤Jangan lupa like, komen dan vote


💜Semoga kalian semua terhibur membaca nya


💖Dan jangan lupa tetap ikuti kelanjutan kisahnya

__ADS_1


Dukungan kalian sangat bermakna untuk menambah semangat ku untuk menulis dan melanjutkan kisah novel ini. Terimakasih💗


__ADS_2