Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 25 Kedatangan Imran


__ADS_3

Di Kampus.


Firman memainkan jarinya di atas layar smart phonenya. Dia kadang mematikan dan menghidupkan layarnya. Bagi yang berada di samping nya pasti akan merasa kebingungan. Seakan ia sedang menunggu seseorang.


"Apaan sih Fir, dari tadi handphone terus. Nungguin kabar siapa sih? " senggol temannya.


"Enggak..."


"Enggak gimana? "


"Aku menunggu pesan dari seseorang. Apa dia ga butuh bantuan ku kali ya? " tebak Firman.


"Siapa Fir? Cewek incaran baru? "


"Apaan sih, udah ah. Aku mau ke perpus dulu. "


"Wuih. Sejak kapan kamu Fir jadi anak kutu buku. " ejek temannya. Jelas mana ada dalam hidup Firman kamus dalam hal belajar. Dia terkenal raja krepean alias contekan.


Sebenarnya dia pintar, tapi malas nya kelewatan karena ia merasa salah jurusan. Firman anak orang kaya, dia anak dari seorang komisaris di sebuah perusahaan. Jadi bagi nya hidup hanya lah sebagai permainan sampai umur dia cukup. Maka ia akan mewarisi perusahaan ayahnya.


Mudah saja baginya untuk pindah jurusan, tapi ini hanya sekedar trik nya untuk menghabiskan uang Ayahnya yang ia benci. Dia membenci Ayahnya karena telah membuat Ibu nya menghilang. Sampai sekarang dia kehilangan sosok seorang Ibu. Karena ia masih kecil, ia tidak tahu apa yang terjadi di dunia dewasa kala itu. Dia hanya bisa menyalahkan kehilangan Ibunya kepada Ayahnya.


Firman pergi ke perpustakaan dan mengamati. Dia mencari seseorang. Ya, tidak lain adalah Mirna.


"Nah itu dia! "


Firman mendekati Mirna perlahan dari belakang dan membisikkan kalimat di samping Mirna.


"Apa Salwa ada menghubungi mu? " bisiknya pelan, karena ia sadar mereka berada di Perpustakaan dimana dilarang berisik.


"AASSTAAGAA! " Mirna berteriak.


Semua mata pengunjung melirik Mirna, terlebih Ibu penjaga Perpustakaan. Dia melotot ke arah Mirna.


"Kau ini, apaan sih. Kau mengagetkan ku tahu. Kak Fir, bukankah kau sudah menitipkan nomor ponsel mu. Ya tunggu saja Salwa menghubungi mu, " bisik Mirna sembari melindungi wajahnya dengan buku. Jelas ia malu dengan semua tatapan semua orang.


"Tapi dia tidak ada menghubungi ku. "


"Ya udah. "


"Ya udah gimana? " Fir menatap Mirna dengan serius.


"Ya terserah kak Fir. Usaha kek. Jangan tanya melulu. Kau sudah membuat ku malu disini. Kau tahu, se isi kampus mengira aku ada apa-apa dengan mu. Bahkan aku menjadi kesulitan karena mantan-mantan pacar mu. "


"Oke. "


Firman beranjak pergi.


Sikap Firman yang langsung pergi membuat Mirna hanya bisa menganga takjub.

__ADS_1


"Gila tu anak, dia hanya ngerjain aku apa. Salwa, kau membuat hidup ku dikampus penuh warna warni."


...■□■□■□■□■...


Jam 1 malam.


"Siapa kamu! " teriak suami Bu Midah.


"Pak, ini aku Pak. Imran ! " Imran mengangkat kedua tangannya dan berjalan mendekati sorotan lampu senter milik Bu Midah.


"Ayo masuk. Salwa tidak ada di rumah. "


"Dia sakit Imran, dibawa ke rumah sakit. Kamu kemana saja? Kasihan Salwa. "


"Iya Bu, Pak. Ada banyak masalah aku Bu. "


"Kalo ada masalah itu dibicarakan Imran. Bukan dengan cara lari dari kenyataan. Kasihan istri mu. "


...■□■□■□■□■...


"Stop... Stop Pak. Ini ongkos ojek nya. Terimakasih Pak. " Imran menyerahkam uang berwarna ungu 3 lembar ke tukang ojek.


Dia membawa tas ransel yang ia sandang kemana-mana, pakaian Imran terlihat lusuh. Tidak serapi dahulu saat pertama kali ia datang. Ia berjalan menuju rumah yang tampak asri. Di depannya ada beberapa kandang burung bergantung di teras.


"Akhirnya... " Imran menghela nafas lega.


"Waalaikum salam, siapa ya? " jawab seorang perempuan keluar dari pintu.


"Astaghfirullah.... Pak. Bu. Salwa! " Salma berteriak dengan nyaring memanggil semua penghuni rumah.


"Ada apa Salma, kok kamu teriak kaya orang kesuru- oooh Imran. Ternyata kau datang juga. Mau apa kau kesini! " Pak Somad keluar untuk melihat Salma, dan matanya langsung tertuju ke arah sosok Lelaki. Siapa lagi kalau bukan Imran yang membuat meledak emosi Pak Somad.


Imran langsung berlari dan bersimpuh di kaki Somad


"Ampun Pak, ampun... Saya khilaf. Saya banyak masalah. Karena tidak ingin membebani Salwa. Maka dari itu saya pergi. "


Somad langsung menendak Imran. Imran terjungkal ke tanah. Tapi, dia dengan cepat berdiri lagi dan masih mencoba bersimpuh ampun kepada mertuanya.


"Sampai hati kau menyakiti putri ku. Kau lupa janji mu hah! "


"Maaf kan Imran Pak. Imran khilaf. Imran tidak akan menyakiti Salwa lagi," Janjinya.


Tangan Somad sudah terangkat untuk menampar Imran.


"Jangan Pak. Dia tetap suami ku Pak. " Salwa mencegah tangan Ayahnya. Dan dia langsung berdiri membelakangi Imran untuk melindungi dari tamparan Ayahnya.


Melihat itu, Somad mengurungkan niatnya. Ia jatuhkan tangannya dengan mencoba menghela nafas. Rosmiati langsung menarik tangan suaminya agar memberikan kesabaran.


"Pak, ayo masuk rumah. Biarkan mereka berdua menyelesaikannya. Berikan kesempatan mereka, jika tidak ada keputusan. Baru kita turun tangan. Ayo Pak, malu dilihat tetangga jika ribut. " Rosmiati menarik Somad agar masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Somad pun mengikuti saran istrinya, ia merasa ada benarnya juga pendapat Rosmiati.


"Ayo Mas Imran. Duduk di sana dulu. "


"Maafkan aku ya Salwa. Aku, Aku khilaf. "


"Asal Mas tahu, Saat Mas meninggalkan ku. Aku hamil Mas. Tapi, ternyata Tuhan berkehendak lain. "


"Jadi... "


"Ya... "


"Innalillahi wa inna iliahi rojiun. Maaf kan aku Salwa. " Imran bersimpuh di kaki Salwa dengan berlinang air mata.


Salwa mengangkat tubuh suaminya agar tidak bersimpuh lagi. "Sekarang jelaskan saja kenapa Mas Imran meninggalkan ku. Dan buat apa uang yang Mas pinjam itu? "


Imran duduk di kursi teras.


"Sebenarnya, aku terlalu ingin cepat sukses. Aku malu mendengar kita masih tinggal dikontrakan. Lalu aku terlibat judi Online. Dan aku kalah serta mengalami kerugian besar. Jadi ku fikir aku berhutang dulu. Dan pergi agar kamu tidak mendapatkan imbasnya. "


"Apa ini jujur Mas? "


"Tentu saja. Maafkan aku ya Sal. " Imran meraih tangan Salwa dan ingin menggenggamnya.


Namun, Salwa lebih dulu menarik tangannya. Salwa ingin sekali menampar Imran, namun ia tahan selalu. Salwa merasa Imran masih belum berterus terang.


" Mas tahu aku disini dari siapa? "


"Ya hati ku saja mengatakan kamu disini Salwa. "


"Ya sudah, Mas masuk rumah yuk, istirahat dulu. "


Imran langsung masuk ke dalam rumah. Ia sudah merasa tenang karena sudah mendapatkan maaf dari istrinya. Ia pun sibuk dengan handphonenya di kamar.


Tok tok tok...


"Permisi! " suara pria tegas datang ke rumah Pak Somad.


Imran menengok dari balik pintu kamar. Seketika wajah Imran menjadi pucat saat bertatapan dengan pria yang baru datang.


"Ya... Tunggu! " ucap Rosmiati keluar dari ruang tengah.


Tiba-tiba Rosmiati terkejut dan berteriak memanggil suaminya.


"PAAKKK! "


Bersambung.


Jangan lupa ikuti terus kisahnya. Dukungan anda sangat penting untuk author dengan memberikan like, vote serta subcribe. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2