
"Ah... baiknya aku blokir saja mantan mertua ku itu. Membuat mental ku hancur saja. "
Dengan cepat Salwa memblokir nomor mertuanya. Dia merasakan kelegaan. Ia malas mengambil pusing memikirkan nya. Lagian, mantan ibu mertuanya tidak mengirim nomor rekeningnya juga. Jika ia sudah punya uang, pasti lah ia akan membayarnya.
...■□■□■□■□■...
08.00 Pagi Hari.
Salwa keluar kamar untuk pergi ke kampus. Dia memantapkan keyakinannya untuk menyelesaikan kuliahnya. Setelah lulus, ia akan bisa mencari pekerjaan yang lebih baik. Sekarang ini, dia harus menjadi wanita mandiri. sehingga tidak lagi disepelekan siapa pun.
"Kamu anak baru ya disini? " sapa seorang perempuan dengan tank top dan celana pendek. Dia menyandarkan tubuhnya ke pagar dan mengisap rokok.
Tentu saja Salwa terkejut mendapati cewek muda merokok, itu tidak biasa bagi Salwa. Namun ia tetap membiasakan dirinya untuk berwajah natural.
"Oh Iya Mba. Kenalkan Salwa. "
"Oh ya... panggil aku Jes. Jessy. Itu kost ku! " jawabnya sembari mematikkan abu rokoknya ke bawah pagar. Ia menunjuk pintu kost sebelah kanan kost Salwa.
"Inggih Mba. " Angguk Salwa dengan senyuman. Ia sudah tidak tahan mencium asap rokok yang mengepul.
"Kuliah? "
"Iya Mba. Berangkat dulu Mba. Assalamualaikum. "
Pamit Salwa.
"Ya... "
Namun Jessy tidak menyahut salam Salwa. Salwa langsung melangkah pergi melewati daun pintu 3 pintu kost yang tertutup. Tepat keluar dari pagar kost Salwa bertubrukan dengan seorang anak berseragam SMA yang sangat terburu-buru.
"Aduh, Maaf ya dek. " Salwa langsung meraba bahu anak SMA itu.
"Apaan sih. Makanya mata ditaruh ke depan. " Kibasnya ke bahu. Lalu pergi begitu saja dengan wajah judesnya.
Salwa kaget, "Astaghfirullah. Anak SMA disini ... " Salwa mengelus dada nya.
BRAAKKK... Daun pintu terdengar di banting. Salwa menengok, ternyata Anak SMA itu sudah masuk ke dalam kamarnya yang berada di kiri kost Salwa.
"Astaghfirullah. Apa aku akan betah disini. Penghuni kostnya sangat beragam. " batin Salwa dengan menghela nafas lalu pergi menaiki angkutan umum.
...■□■□■□■□■...
09.000 di kampus.
Salwa berjalan menuju ruang kelasnya.
__ADS_1
"Sal, Salwa! " suara pria berteriak.
"Kak Firman. Kenapa? " tanya Salwa dengan menghentikan langkahnya.
"Ah syukurlah, kamu sudah masuk. Kau tinggal di mana sekarang? "
"Jadi Kak Firman? "
"Iya, aku ke kontrakan mu dahulu. Hee, sebenarnya aku juga menyusul mu ke kampung halaman mu. Tapi... "
"Tapi kenapa? "
"Aku diwaktu yang salah, maaf ya Sal. Aku datang pas waktu banyak orang jadi aku ga mampir. Kamu baik-baik saja kan? "
"Alhamdulillah masih bisa bernafas. " Salwa tersenyum dan melanjutkan langkahnya, ia faham betul maksud Firman. Rupanya Firman menyusulnya ke kampung halamannya di saat Suaminya di tangkap polisi.
"Lalu? " Firman mengimbangi langkah Salwa yang lumayan cepat.
Tiba-tiba Salwa menghentikan langkahnya, "Lalu apa? Kak Firman ingin mengatakan ke seluruh kampus ini bahwa aku Janda? Lalu Kak Firman ingin membuat gosip tentang ku dan menyebarkan bahwa suami Salwa Hanifah ini ditangkap polisi, begitu? "
"Jadi kamu sudah Janda? "
"Kenapa kau senyum, iya memang! kau tertawa di atas penderitaan orang lain. " Salwa langsung manyun, ia sangat benci kata 'Janda' yang pasti anggapannya buruk.
"Jadi kau janda? " Firman memastikannya kembali.
"Itu arti nya aku punya kesempatan! " teriak Firman, ia tidak perduli semua mata tertuju padanya.
Salwa merasa dongkol saat ditanya statusnya, ia tidak bisa menguasai hatinya yang masih belum stabil. Tapi, dilangkah nya yang cepat secara samar ia masih bisa mendengar teriakan Firman.
Mirna langsung duduk di samping Salwa. "Sal, kenapa tu orang teriak begitu. Kau apakan kaka tingkat itu? "
"Entahlah. Sudahlah. Mending persiapkan buku, itu dosen sudah datang, " sahut Salwa memandang ke depan lalu menunduk kembali dengan senyuman malu. Meski samar, ia mendengar jelas apa yang dikatakan Firman.
"Ternyata Firman tidak mempermasalahkan status janda ku. " batin Salwa dengan semu merah di pipi nya.
#
#
#
Salwa keluar kelas, perkuliahan hari ini hanya ada 2 mata kuliah. Salwa dan Mirna tampak riang berjalan.
"Apa kalian ada waktu luang? "
__ADS_1
Sebuah suara pria mengagetkan mereka.
"Tidak, tidak Pak, " jawab mereka kaget.
"Oh kalo begitu. Bantu aku membereskan berkas di kantor ku. Aku cuma butuh 1 orang, kamu ya Salwa, " ucapnya sembari memilih Salwa dan berlalu pergi.
Pak Guntur, dosen muda di kampus. Umurnya sekitar 30 tahunan. Salwa yang hanya mengikuti perintah Dosen muda itu langsung berpisah dengan Mirna dan mengiringi langkah Guntur di belakang.
"Kemana dia Mir? " tanya Firman memperhatikan Salwa.
"Dia disuruh bantu Pak Guntur membereskan berkas. "
"Kamu tidak ikut? "
"Kata beliau, mau sama Salwa saja. Ya udah deh. Aku duluan Kak Fir. " Senyum Mirna girang karena bisa pulang kuliah dengan cepat.
Salwa masih mengikuti Pak Guntur. Setelah masuk di ruang kantor Pak Guntur.
"Yang mana Pak berkasnya, mau di apain berkasnya? "
"Oh itu di belakang rak coklat. Nah itu berkas harus di pisah lembar kuning sama merahnya. "
"Baik Pak, " jawab Salwa dengan cepat menuju rak di belakang meja kantor Pak Guntur. Hanya ada mereka berdua, semua dosen sudah pulang. Guntur pergi ke pintu dan mengunci nya.
"Salwa, " Guntur menyebut namanya dengan lirih seraya mengelus bemper belakang Salwa yang masih asyik memungut berkas di lantai.
Sontak saja Salwa merasakan remasan diarea terlarang itu langsung menjauh.
"Bapak ngapain? "
"Aku suka kamu Salwa, kamu pasti suka aku juga kan. " Guntur sudah menarik Salwa dan mengkungkungnya di dinding.
Salwa berontak. "Tidak Pak, jangan! " teriak Salwa dengan mendorong tangan dan bahu Guntur yang ingin membekapnya. Sempat terdorong, namun Guntur menarik kerudung Salwa sehingga robek. Dan membuat rambut Salwa terlihat jelas.
"Ternyata kau memang sangat cantik Salwa. Aku sudah mengamati mu. Kau suka di dekati pria kan, contohnya kau suka berada dekat dengan Fir si anak badung itu. Pastinya kau sudah mantap-mantap dengannya. "
"Kau GILA Pak Guntur. " Salwa membenarkan kerudungnya. Ia mencoba berlari ke arah pintu namun gagang pintu itu tidak bisa ia buka. Bahkan sudah membuka engsel nya.
Guntur datang dan menarik tubuh Salwa hingga terjatuh ke lantai. Dan menyingkap jubahnya sampai paha. Dengan cepat Guntur menindih dan ingin memperkaos nya. Salwa berontak, namun tenaga wanita tidak lah sebanding dengan pria yang lumayan bertubuh besar itu meski jelas bukan orang yang aktif olahraga.
"Tolong... TOLONG... Jangan Pak. Tolong! " teriak Salwa sekuat tenaga sembari menghalangi tubuh nya dari amukan Guntur.
"Tolong...! Salwa semakin lemah dengan perlawanannya yang tak berarti. Dia menangis namun tidak putus asa. Dia masih menghalangi. Meski jubah nya sudah tersingkap tidak karuan.
" TOLONG... ! "
__ADS_1
BERSAMBUNG
*Jangan lupa dukungannya ya buat novel aku, dukungan kalian berharga banget buat aku agar semangat memberikan sambungan kisah ini😘😘kasih dukungan dengan like, komentar dan juga gift serta vote*