Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 37 Cinta Dan Dendam


__ADS_3

Fir mulai gelisah menunggu jawaban Salwa. Keringat nya menetes diujung dahi turun ke pipi. Padahal AC mobil sudah menyala dan dingin. Namun, karena ada pertarungan batin di dalam hati Fir. Maka hawa dingin itu seakan panas. Fir seperti duduk di bara api.


Matanya nanar, rasanya sudah tidak ada harapan lagi. "Jika aku ditolak. Apa yang harus ku lakukan, aku, aku akan tetap mencintai mu Salwa. " Gaungan isi relung hati Fir menggema di kepalanya.


Salwa terpaku sesaat, dia tidak percaya Fir yang dihadapannya sekarang sedang menyatakan cinta bahkan bukan hanya sekedar pernyataan namun ini sebuah lamaran pernikahan.


Setuju atau tidak. Benak Salwa bimbang karena dia baru saja mengalami perang dunia dalam sebuah pernikahan. Itu semua seakan membuatnya trauma. Bahkan sekarang ia tidak bisa yakin apakah yang ia rasakan cinta atau ia hanya takut kehilangan perhatian Fir.


Salwa bimbang, namun ia sadar Fir tidak mungkin didiamkan saja. Perlahan tangannya yang tergenggam membuka kembali. Ia menatap wajah Fir yang sangat tegang menunggu jawabannya.


Salwa memegang tangan Fir yang sedang memegang cincin. Dia pegang dengan kedua tangannya yang lembut.


"Fir.... " Salwa menatap bola mata Fir yang penuh harap.


"Datanglah ke rumah ku sekaligus melamar ku dengan Ayah mu. Itu akan sangat memuliakan ku, jika Ayah ku setuju dengan mu. Maka aku akan menjadi milikmu seutuhnya dalam ikatan yang sah. "


Mendengar bait demi bait apa yang diucapkan Salwa. Membuat fikiran Fir kosong. Dia bingung dengan isi dari pembicaraan Salwa.


"Jadi, apa kau menolak ku? " tanya nya dengan polos dan lirih.


"Aku belum bisa menjawabnya disini, tapi bawa lah cincin ini kerumah ku. Pada saat itu aku akan menjawabnya. Tapi, satu hal yang pasti. Kau sudah mencuri hati ku. " Salwa memastikan kembali agar lebih menegaskan kepada Fir.


Seketika wajah Fir yang sedikit murung langsung berseri seri. Memang banyak perbedaan diantara Salwa dan Fir. Tapi meski begitu, Fir tidak mau mengalah begitu saja. Ia ingin menjadi Imam yang baik.


Fir menutup cincin itu kembali dalam kotak perhiasan dan menyimpannya dengan rapi di jok mobil. Ia tersenyum selalu, satu hal pasti. Ia sudah tahu isi hati Salwa. Tinggal merebut hati calon mertuanya saja yang belum tahu.


...■□■□■□■□■...


"Ayah. Aku ingin cepat melamar Salwa, " rengek Fir kepada Ayahnya yang sedang memverifikasi laporan perusahaannya.


"Kau yakin ingin mempercepatnya, datang-datang langsung minta kawin. "


"Aku yakin, aku takut dia diambil orang. "


"Kamu ini. " Hans tertawa dan berdiri sembari menepuk pundak anaknya.


"Rapikan dulu rambut mu itu. " Tunjuk Hans ke kepala Fir.


Fir sangat antusias, dia langsung pergi ke barber shop untuk memotong rambutnya. Apalagi Ayahnya sudah berjanji. Pekerjaan di kantor sudah ia selesaikan dengan baik.


Tidak lupa dengan kuliah nya, yang dahulu dia uring-uringan. Sekarang dia penuh semangat mengejar ketertinggalannya.


Dia benar-benar berjuang untuk melayakkan diri nya dihadapan Salwa. Bahkan dalam seminggu ini di padatkan jadwalnya untuk mengupgrade dirinya menjadi lebih baik lagi.

__ADS_1


...■□■□■□■□■...


Di Kantor Perusahaan Hans.


"Fir, ini berkas untuk kerja sama dengan vendor ternama. Aku ingin kamu menangani ini. " Hans memberikannya kepada Fir.


"Oke! " ucapnya mengambil berkas itu. Fir langsung membuka dan mempelajari berkas itu dengan sangat cermat.


"Pak, apakah ada yang perlu saya bantu? " suara wanita menyapa Fir.


Fir langsung melihat arah suara itu. Karena ia baru mengenal suara itu.


"Siapa kamu? "


"Saya?! " Tunjuknya ke pada dirinya sendiri. Seorang perempuan cantik berpakaian baju wanita karier.


"Saya sekretaris Bapak. Pak Hans memerintahkan saya untuk membantu Bapak. "


Fir sekilas tergoda sesaat melihat sekretaris barunya. Bagaimana tidak, wajah yang cantik di tambah dengan tubuh yang sexy dibalut dengan blouse yang membentuk tubuhnya dan rok pendek span.


"Pak, Apa kah ada yang bisa saya bantu? "


"Oh tidak... Tidak perlu. Kau bisa meninggalkan aku sendiri. "


Mendengar tawaran itu, ia tidak tahu jika sekretaris bisa membuatkan minuman juga.


"Ah mungkin itu boleh. Ambilkan saja minuman dingin. "


"Baik Pak, " Sahutnya pergi sengan lenggak lenggok anggunnya.


Tidak berapa lama, Sekretaris itu datang membawa kan minuman kopi dingin ke meja Fir. Dia sangat jelas dengan sengaja mendekati Fir saat memberikan kopi itu. Dia sedikit mencondongkan badannya agar lekuk tubuh sexy nya nampak dihadapan Fir.


Sayang, Fir tidak menggubrisnya. Dia malah merasa risih. Karena merasa tidak digubris. Hans masuk ke ruangan Fir. Dan langsung memerintahkan Sekretaris itu keluar.


"Bagaimana Sekretaris mu? Dia sengaja ku pekerjakan untuk membantu mu. "


"Maaf Ayah. Aku ingin sekretaris ku adalah pria. Sehingga ia bisa mengikuti aku kemana pun. Dan aku akan memilihnya sendiri. "


"Baiklah, itu terserah kamu saja. "


"Hemm rupanya anak ku memang kekeh dengan pilihannya untuk mencintai Salwa. Aku hanya memberi tes kepada nya. Karena di dunia persaingan bisnis ini memang keras. " Batin Hans bangga dengan anaknya.


Karena ia tidak ingin kesalahan masa lalunya terulang kembali. Karena persaingan bisnis. Dia harus merelakan istrinya pergi meninggalkan nya. Sayang, Fir tidak tahu akan kebenarannya. Ada rahasia yang disimpan rapi oleh Hans dari Firman.

__ADS_1


"Aku rasa dia sudah siap menggantikan ku di perusahaan ini. "


...■□■□■□■□■...



Salwa keluar pagar kost, ia sengaja tidak menghubungi Fir. Karena ia fikir bisa naik bus. Baru saja keluar pagar, ternyata malah Fir yang sudah menunggunya dengan senyuman di atas motor kesayangannya.


"Selamat pagi! "


"Hah, Astaghfirullah. " Salwa bergidik, bahu nya terangkat saat terkejut. Lalu ia menengok dan memperhatikan pria yang menyapa nya lembut. Dari berambut panjang terurai sekarang dia sudah memendekkan rambutnya.


"Fiirrr... Ini kamu? " tanya Salwa takjub dengan dandanan Fir.


"Iya ini aku Fir. " Senyumnya memberikan helm kepada Salwa.


"Ayo aku antar ke kampus! "


"Kamu tidak kerja? Katanya kemaren kamu kerja ? " Salwa masih tersenyum melihat tampilan baru Fir. Jujur, dibalik hati Salwa ia terpesona dengan tampilan Fir yang baru ini.


"Aku sudah menyelesaikan tugas di kantor, jadi aku bisa antar jemput kamu. Kuliah ku juga tinggal sidang skripsi. Ayo naik, nanti kamu terlambat. "


"Makasih Fir. "


"Oiya, bulan depan di tanggal 7. Aku akan ke rumah kamu bersama Ayah ku. "


"Baiklah, " ucap Salwa pelan.


"Bersiaplah aku akan melamar mu sesuai keinginan mu. Aku akan membuktikan cinta ku tidak main-main Salwa. " Setelah mengatakan itu Fir membawa Salwa menuju kampus.


Sepanjang jalan, Salwa tidak bisa menutupi hati nya yang bahagia. Dia selalu tersenyum mengingat sikap manis Fir kepada dirinya. Dan sekarang dia mendengar langsung bahwa dia akan dilamar oleh Fir.


"Terimakasih Fir. Kau mau menerima ku yang janda ini. " Batin Salwa.


Sesampai di kampus. Salwa beraktifitas seperti biasa. Ia sangat bersyukur hari ini tidak bertemu dengan Hilman. Ia sudah berulang kali menjawab dengan yang sama saat bertemu. Hilman selalu saja mencari celah untuk meminta jawaban pertanyaannya terakhir kali.


Namun disisi lain, Salwa tidak menyadari ada sepasang mata mengawasinya dari awal ia memasuki gerbang kampus.


"Salwa... Kau ... " Pria itu mengepal tangannya dengan kuat. Dia terlihat marah saat melihat Salwa di bonceng oleh pria.


BERSAMBUNG


Jangan lupa! Like, Subcribe dan vote.

__ADS_1


__ADS_2