
"Lihat, ini berita kampus kita. Polisi telah menangkap beberapa orang koruptor yang telah menggelapkan dana beasiswa. Lihat, ternyata demo yang dilakukan tiap hari itu membawa dampak. " tunjuk Salwa ke layar.
"Syukurlah. "
Tiba-tiba Salwa terhenyak sesaat dan menatap layar dan memastikan dengan jelas.
"Hehe,. Kenapa kau seperti itu? " tanya Fir saat melihat Salwa menatap layar kaca dengan wajah setengah terkejut dan setengah tidak percaya.
"Itu Zahrana... Orang yang ku ceritakan yang jadi pustakawan di perpustakaan kampus kita. Dan dia juga sahabat saar di ponpes ku Fir. "
"Yang mana? "
Teliti Fir ke layar mencari sosok wanita yang dijelaskan oleh Salwa.
"Apakah dia yang kau ceritakan yang memfitnah mu dahulu. Dia akhirnya mendapatkan hasil dari tuaiannya sendiri, " ucap Fir dengan mantap.
...■□■□■□■□■...
3 bulan kemudian
"Hey Tahanan 3698, keluar. Kau ada pengunjung! " teriap sipir wanita.
"Aku, siapa? "
"Lihat saja sendiri. Ayo cepat, waktu mu 10 menit. Jika kau menerima barang atau sesuatu kau harus menyerahkan ke kami dulu untuk diperiksa. Faham? "
"Faham Bu! " ucapnya pelan. Ia masih dengan kebingungan karena ia tidak tahu siapa yang mengunjunginya. Karena ia anak yatim piatu, bahkan paman dan neneknya tidak mengakui nya sebagai keluarga lagi semenjak kasus korupsi ini.
__ADS_1
Ia melangkah pelan dan melihat sosok wanita berjilban panjang dari belakangnya. Terlihat perut hamilnya menyembul. Mungkin diperkirakan masa kehamilannya sekitar 5 atau 6 bulan.
"Ibu, ini Tahanan 3698. Zahrana . " Sipir mempersilahkan Zahrana masuk.
Betapa terkejutnya Zahrana saat melihat wanita itu menengok. Wajah yang ia sangat kenal bahkan sangat ia benci.
"Salwa?! " ucapnya mematung.
"Ayo cepat duduk! Ingat kalian punya waktu 10 menit. Kalian harus bergantian dengan tamu yang lain. "
"Terimakasih Ibu. Silahkan duduk Zahrana! " ucap Salwa mempersilahkan.
Dengan pelan dan sedikit ragu Zahrana duduk dihadapan Salwa dengan menundukkan kepalanya.
"Zahrana, apa kau baik-baik saja? "
"Bukan Za, aku tulus menjenguk mu. Kau masih sahabat ku kan Za? Kau tahu, aku sudah memaafkan mu. Jadi setelah kau keluar nanti, mari menata kehidupan baru lagi. Aku tidak ingin ada dendam diantara kita.
Ya sudah, jangan bicarakan masa lalu lagi. Ini aku bawakan makanan kesukaan mu dulu, waktu di pondok kau suka masakan ibu kan, ini aku bawakan. "
Rantang 3 susun itu diserahkan oleh Salwa. Namun tidak ada jawaban dari Zahrana. Ia masih tertunduk. Melihat itu, Salwa pun berdiri.
"Ya sudah, baik-baik ya kamu. Jaga kesehatan, 1 bulan nanti aku akan kembali menjenguk mu sebelum aku melahirkan. Aku pamit pulang! " ucap Salwa mau melangkah pergi.
Meneteslah air mata Zahrana. Dia mengusapnya dengan lengan bajunya, lalu ia menatap punggung sahabatnya yang pernah sakiti berkali-kali.
"Maafkan aku. Tapi aku bingung, Mengapa kau masih ingin menemui ku. Bukan kah kau membenci ku karena apa yang telah aku lakukan kepada mu selama ini? "
__ADS_1
Langkah Salwa terhenti mendengar perkataan Zahrana. Lalu ia berbalik dan tersenyum.
"Karena kau sahabat ku. Mungkin aku tidak memahami sehingga kamu melakukan itu. Jadi sekarang aku ingin bertanya, apa alasan mu hingga kau melakukan itu semua kepada ku? "
Zahrana terdiam sejenak.
"Karena aku merasa kehilangan mu, hanya kau yang ingin bersahabat dengan mu. Tapi semenjak kau mendapat perjodohan dengan Hilman. Aku cemburu, karena perhatian mu hanya untuk Hilman. Tidak lagi untuk ku. Makanya aku berusaha memfitnah mu dan merebut Hilman. Tapi sebenarnya aku tidak menyangka sampai kau dikeluarkan. Karena aku kira Kiayi Ahmad pasti... "
"Cukup Zahrana. Tidak usah dijelaskan. Mari kita buka lembaran baru. " Senyuman Salwa begitu teduh.
"Waktu habis! " teriak Sipir kepada mereka.
Salwa keluar di sambut oleh Fir.
"Bagaimana? Kau bertemunya? " tanya Fir penasaran.
"Sudah. Alhamdulillah dia sehat. Bulan depan kita kesini lagi ya. "
"Kenapa kau masih ingin menemuinya? "
"Karena dia sahabat ku. Dan dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain aku. " senyum Salwa kepada Fir.
Fir pun tersenyum dan tetap fokus menyetir keluar dari parkiran Rutan.
Dibalik jendela jeruji. Zahrana termenung dan meneteskan air matanya.
"Terimakasih Salwa, " ucap nya lirih sembari memegang rantang penuh makanan kesukaannya.
__ADS_1
"TAMAT"