
"Salwa, selamat ya. Semoga kamu bahagia. " Netra Hilman memancarkan rasa kecewa di hatinya. Jelas itu terlihat kekecewaan itu pada Salwa. Ia tatap wajah Salwa yang cantik di balut make up yang elegan.
"Mas... " Maryam memegang tangan suaminya. Ada setitik rasa cemburu terpatik di hatinya. Apalagi melihat netra suaminya begitu dalam memandang Salwa, tidak pernah ia merasakan suaminya memandanginya seperti itu. Ia genggam tangan Hilman sedikit menekan agar menyadarkan lamunan suaminya.
"Terimakasih Mbak Maryam dan Pak Hilman kedatangannya. " Salwa dan Fir mengucapkan itu untuk mencairkan suasana dan menyadarkan Hilman secara halus. Agar melepaskan tatapannya pada istrinya.
"Sama-sama." raut wajah Maryam yang awalnya senyum mendadak berubah sedikit murung. Namun ia sembunyikan lalu pergi sembari menggandeng tangan suaminya.
"Dia kenapa Sayang? " tanya Fir.
"Entahlah, udah ah. Ga usah perdulikan. Setelah selesai acara ini, kita langsung ke rumah sakit ya Mas. "
"Iya sayang. Tadi Ayah sudah kasih kabar. Ibu sudah sadar. Sepertinya, kita bakal ada acara perkawinan lagi. " senyum Fir kepada Salwa dan sesekali menggerakkan alisnya ke atas untuk menunggu tebakan Salwa.
"Hah, maksudnya apa? kita mengadakan pesta lagi, capek Mas aku. Kata orang jadi raja dan ratu sehari. Tapi aku capek duduk begini saja. "
"Eeiitssss bukan kita, tapiiiii... " senyum Fir dengan bergaya. Karena ia masih menunggu tebakan Salwa.
"Tapi apa? "
"Nanti lah, ngomong-ngomong. Kamu ga ada kefikiran pakai cadar ga sih? "
"Memangnya kenapa? " tanya Salwa kebingungan, Firman yang tidak terlalu agamis memberikan pertanyaan itu seakan memberi lampu hijau.
"Aaahhh ga papa. Nanya aja. Hehe, " Fir tidak meneruskan niatnya, sebenarnya ia lagi dilanda rasa cemburu. Apalagi melihat Hilman begitu lekat menatap Salwa. Jika bukan di tengah banyak orang, mungkin saja tinju Fir sudah melayang ke pipi pria itu.
"Yeee... Gimana sih. "
"Sal, Keluarga Mantan suami mu ga kamu undang ya, dari tadi ga ada tuh ibu-ibu yang dulu marah-marah ke kita waktu di super market? "
"Astaghfirullah. Kelupaan ngundang mereka. Hehe, lagian buat apa juga diundang. Mereka pasti ga bakal datang toh, aku ini mantan menantu nya yang paling dia benci kok! " sahut Salwa dengan sedikit sesal.
"Bagus lah aku kelupaan, coba saja mereka diundang. Yang ada monyongnya ratu iblis itu tidak akan berhenti menjelek-jelekkan aku. "
"Sal... Sal... Kamu kok melamun? "
Fir membuyarkan lamunan Salwa karena memikirkan mantan ibu mertuanya. Orang yang paling ia hindari bertemu. Yang ada bakal menguras kesabaran imannya saja.
"Hehe, Mas Fir. Capek aku jadi ratu sehari. "
"Hahaha... Capek jadi ratu, apa karena malam tadi? " Ejek Fir membisikkan ke telingan Salwa. Langsung saja beberapa cubitan melayang kepinggang Fir. Mereka tertawa bersama di pelaminan. Hari ini menjadi Kebahagiaan terbesar Fir dan Salwa.
Doakan semoga langgeng ya reader! 🤗 terimakasih buat para readers sejati masih setia dengan novel ini. Semoga kalian selalu sehat.
...â– â–¡â– â–¡â– â–¡â– â–¡â– ...
__ADS_1
1 bulan kemudian.
"Huek... Huek.. "
Fir yang masih terlelap di kasur akhirnga terbangun karena mendengar suara itu. Ia raba kasur disampingnya dengan mata yang masih tertutup.
"Kosong... Ga ada Sayang ku. Suara apa sih itu, jam berapa sih ini. Ya Ampun ini kan jam 5 subuh. Tunggu,... Itu kan suara muntah. Apa itu Salwa? "
Dengan segera ia kucek matanya dan bangkit dari kasur. Sedikit sempoyongan dia berjalan karena tubuhnya masih mengumpul nyawanya di dalam untuk memberikan kesadaran. Dia perlahan melangkah ke kamar mandi.
"Astghfirullah. Salwa? Kamu kenapa? " Fir terkejut melihat Salwa yang memasukkan wajahnya ke dalam toilet duduk. Wajahnya tampak kelelahan dan lemas.
Dengan segera Fir menghampirinya. "Masih mau muntah? Sudah selesai? "
Tidak ada jawaban dari Salwa, namun hanya anggukan kecil. Setelah melihat itu, Salwa langsung digendong oleh Fir ke kasur.
"Badan kamu panas, kamu kenapa sayang? Apa masuk angin, lambung kamu bermasalah? " Fir duduk dipinggir kasur dan menggenggam tangan Salwa.
"Mungkin maag kambuh, tapi tiap hari kan makan aja. Malah ga telat kaya di kost an dulu. Apa jangan-jangan! "
"Hah jangan-jangan apa sih? "
" Apa Maag ku semakin parah? Tapi perut ku ga sakit, Cuma terasa kram kaya lagi datang bulan. Trus mual-mual."
"Ya udah kamu istirahat dulu ya, biar ku panggilkan Minah biar buatkan kamu bubur saja. "
"Ini Non makan dulu, ada bubur ayam. "
"Hueek... Bi Minah, aku ga suka ayam dibuburnya. Hueek.... "
Minah langsung menarik nampan berisi bubur ayam itu menjauh dari ruangan Majikannya dan meletakkannya diluar. Dengan cepat ia memberikan minyak angin.
Minah dan Fir saling bertatapan. Fir hanya bengong melihat istrinya seperti itu sedangkan Minah senyum sumringah.
"Den.... ! "
"Apa? " Jawab Fir bengong.
"Alhamdulillah Den... Den bakal jadi Ayah. Non Salwa sudah test pack? "
Salwa menggelengkan kepalanya.
"Iya sih, aku lupa juga kapan terakhir haid. "
"Hah, aku bakal jadi Ayah. Maksudnya Salwa Hamil Minah? "
__ADS_1
"Iya Den. Aduh, Den ini telmi banget dah. Minah belikan test pack dulu ya di apotek. Tunggu bentar... Ujang... Ujang! " Minah langsung berlari bahagia mencari Ujang untuk dibonceng ke apotek terdekat.
Fir duduk disamping Salwa yang masih mual-mual. Dia langsung memeluk Salwa bahagia.
"Ya Allah, Alhamdulillah. Ternyata top cer ya, secepat ini di kasih Amanah. Terimakasih ya Allah. Makasih ya Sayang. Aku bakal jadi Ayah Sal. " Kecup Fir ke dahi dan pipi Salwa.
"Huekk... Aah udah ah jangan dipeluk cium. Ga lihat nih masih.. Hueekk.. "
Dengan cepat Fir melepas pelukannya. Dan mengangkat tangannya.
"Oke, oke... Sorry! "ucapnya merasa bersalah. Karena terlalu bahagia karena bakal menjadi calon Ayah.
...â– â–¡â– â–¡â– â–¡â– â–¡â– ...
Karena masih trimester pertama, kehamilan Salwa terasa sangat berat. Apalagi di tambah rasa mual dan tidak semua makanan yang cocok dia makan. Sehingga dia sedikit lemas. Fir menganjurkan agar terminal dulu dalam kuliah atau istirahat. Namun Salwa tetap ingin kuliah karena sebentar lagi dia akan membuat proposal untuk mengajukan skripsinya.
Sedangkan Fir sudah menyelesaikan sidangnya, dan ia akan wisuda bulan depan.
"Yakin ini kamu mau kuliah? " tanya Fir penuh ke khawatiran.
"Iya, aku mau mengajukan judul proposal Sayang, kalo di tunda kapan lagi. Aku mau selesai semuanya sebelum melahirkan. "
"Tapi hari ini aku tidak bisa menemani. Ada urusan di perusahaan Ayah. Tidak apa-apa kan? "
"Iya, tidak apa-apa. Aku bisa kok di antar Pak Dwi. Kan aku kuliah tidak sendiri juga. Ada Mirna dan Bian juga. "
"Oke. Kalo begitu, tapi kalo kenapa-kenapa cepat telpon aku ya. Janji ya sayang! "
"Iya, siap Sayang.... "
Salwa berangkat hanya berdua dengan Pak Dwi. Sesampainya di kampus dia melihat banyak mahasiswa dan mahasiswi berkumpul menyoraki di depan gerbang sampai ke halaman depan kantor para dekan kampus.
"Berikan keadilan kami, pancung Koruptor, dasar Bi*dab!, gulingkan pemakan duit mahasiswa!" teriak ketua demonstrans itu dengan ikat kepala dan toa di mulutnya. Semakin dia teriak, semakin keras pula dukungan para kawan-kawannya.
"Ada yang demo ya Non? Kita agak susah masuk," tanya Pak Dwi sambil menengok ke kiri dan ke kanan untuk mengawasi mobil mereka yang membelah lautan mahasiswa agar dapat menuju masuk ke halaman kampus.
"Kurang tahu juga Pak. Kan Salwa ga ada urusan tentang beginian. "
TOK TOK TOK.
Bunyi kayu menghantam kap mobil belakang.
"Astaghfirullah! " Teriak Salwa ketakutan.
Dengan cepat Pak Dwi langsung menongolkan kepala nya keluar.
__ADS_1
"Hey... !!! "
BERSAMBUNG