Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 43 Bayang Masa Lalu


__ADS_3

Pada siang hari Salwa dan Mirna berada di perpustakaan . Mereka sedang mengerjakan tugas dari dosen . Mereka berkelompok dan sangat serius membahas tugas tersebut .


" Kalian sedang mengerjakan tugas ya ?" tanya Zahrana kepada mereka yang sangat serius .


Seorang siswa menanggapi pertanyaan Zahrana tersebut . " Oh iya Bu, Kami sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen kami, " ucap nya kembali serius melihat buku yang tebal ditangannya .


" Jadi kalian satu kelas dengan wanita itu ?" tanya Zahrana memunculkan mulutnya ke arah Salwa .


" Oh Salwa , dia Salwa Bu Zahra. " terang siswa tersebut dan kembali serius membaca bukunya .


" Iya aku tahu , aku sangat mengenalnya . Dia pernah satu sekolah denganku ." Zahrana langsung duduk di samping siswa tersebut dan memasang wajah serius .


" Ibu Zahra temannya Salwa , aku tidak menyangka ternyata tua dari kita. Wajahnya Baby Face ." Puji siswa itu kepada Salwa , karena memang wajah Salwa terlihat muda dari umur sebenarnya .


" Mmmm, Iya sih wajahnya Baby Face . Kalian itu belum mengenalnya . Asal kalian tahu Dia itu maling , dikeluarkan dari Pondok karena mencuri ! Dan dia bukan perawat , Dia seorang janda . " Zahrana menjelaskan dengan berbisik-bisik kepada siswa yang datang . Setelah menjelaskan itu Zahrana pun kembali duduk bangku . Dia langsung tertawa sinis memandang Salwa dan merasakan kemenangan yang penuh Hakiki .


Tentu saja semua mata tertuju kepada Salwa , dengan begitu mudahnya gosip tentang Salwa Itu pun menyebar bahkan semakin bertambah parah. Mata-mata mereka Langsung memandang Salwa penuh dengan kebencian, karena Salwa telah menyembunyikan statusnya sebagai Janda Dan itu jadi sebuah hal yang sangat menggemparkan di kampus mereka.


" Pantas saja dosen kita yang muda itu selalu saja memandang Salwa , aku sempat memperhatikannya . Jangan-jangan dia itu suka dengan Salwa . Dasar , ternyata memang janda lebih terdepan ya dari kita-kita seperti ini. " bisik seorang siswi kepada siswi yang lainnya .


"Dosen muda yang mana? "


"Itu loh Dosen Hilman. Tadi aku lihat dia teriak-teriak memanggil Salwa. "


"Ih Janda kok gatel banget. " Siswi itu mencibir saat melihat Salwa.


Zahrana semakin senyum penuh senang saat melihat reaksi mereka. Baginya, Salwa tidak boleh disukai banyak orang dan apalagi dia terlihat bahagia. Itu benar-benar sangat menyakitkan untuk Zahrana.


"Sal, kenapa ya kok mereka pada bisik-bisik. Mata mereka ke arah kita. " Mirna mulai merasakan, feelingnya sangat kuat.


"Udah biarin aja. Tugas dulu yang penting. " Salwa tetap serius membaca dan mencari referensi untuk tugas kuliahnya.


Seorang siswi lewat yang memang terkenal sebagai cewek cantik di kampus. " Pantas saja cowok-cowok kampus pada ngiler. Ternyata dia udah berpengalaman, Janda memang terdepan ya. " Singgungnya dengan jelas saat melewati di belakang Salwa.


Deg...


Mata Salwa terbelalak, mencoba mencerna kata-kata yang dilontarkan oleh cewek itu.


"Apa kau dengar Mir? Dia sepertinya menyinggung ku. "


"Tapi, dari mana dia tahu bahwa kamu janda. Kan di kampus hanya aku dan Kak Fir yang tahu. "


Mata Salwa langsung menatap tajam kepada Zahrana yang tertawa sinis di meja pustakawannya. Mereka bertatapan.

__ADS_1


"Aku tahu siapa yang menyebarkannya. " Salwa menggenggam tangannya dengan keras karena menahan amarahnya.


"Baiknya kita keluar dari sini. Dari pada bikin emosi. Mereka juga sangat kekanakan, info yang setengah matang langsung ditelan bulat-bulat. " Mirna meradang.


"Ayo kita keluar. " Salwa menarik Mirna keluar perpustakaan. Mereka lalu duduk di bawah pohon untuk membaca buku dan melanjutkan tugas mereka.


"Yang sabar ya Sal. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di hidup mu. "


"Iya Mir. Aku santai saja. Aku memaafkan mereka karena mereka tidak tahu. Hanya memandang sekelumit saja dari hidup ku. Status Janda memang serba salah Mir. "


"Tapi kan sekarang kamu bukan janda lagi.... "


Ungkapan Mirna membuat senyuman terukir kembali di bibir Salwa.


"Iya ya. Hehe... Sssttttt... "


"Kamu mau bulan madu kemana?


" Kata Fir dia mau ke Bali. Tapi entahlah, sembuh juga belum. "


"Hahaha kasian Fir, dia perlu bersabar tingkat Dewa. Oiya, kamu mau hadiah apa Sal sebagai kado pernikahan? " Mirna menggenggam tangan Salwa.


"Aah ga usah. Jadi sahabar ku saja kau sudah hadiah terindah untuk ku. "


"Yeeeee... " Salwa mendorong ke bahu Mirna.


Dikejauhan terlihat Hilman sedang berjalan bersama Zahran. Mereka berbincang dengan sangat serius. Pada saat melewati Salwa dan Mirna. Hilman acuh dan tidak mau melihat Salwa karena ia marah besar kepada Salwa.


"Hilman, kamu tidak mengenal Salwa. Itu Salwa. " Zahran menunjuk ke arah Salwa.


"Aku tahu, "


"Aku yang baru tahu. Kenapa kamu acuh kepada nya. Bukankah dia cinta pertama mu. Aku saja dulu kau tolak mentah-mentah. "


"Itu kan dulu. Salwa itu masa lalu, " ucapnya berlalu dari hadapan Salwa.


Zahrana tersenyum, "Karena masa lalu. Jadi kau pasti sudah memaafkan aku kan Hilman? "


"Sudahlah Zahra, jangan membahas tentang masa lalu. Aku pamit duluan. " Hilman membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam. Namun Zahrana mengetuk kaca mobil Hilman kembali.


"Ada Apa Zahrana? "


"Apa aku masih diberi kesempatan? " Tanya nya lemah lembut.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Zahrana, Hilman sepintas memandang Salwa yang melihat ke arah nya. Dan ia langsung menatap Zahrana.


"Baiklah, ayo masuk ke mobil! " Ucap Hilman dengan harapan agar memancing cemburu Salwa jika ia dekat dengan Zahrana.


Mobil itu berputar dan melewati Salwa dan Mirna kembali dan membuka kaca jendela seakan sengaja memanas-manasi Salwa.


"Dosen Hilman sama Bu Zahrana itu langsung akrab ya. Jangan-jangan mau dijadikan bini ke dua tuh. " Celetuk Mirna.


"Husss kamu ini, "


"Apa Sal? "


"Bibir mu itu loh terlalu jujur. "


Mendengar pernyataan itu akhirnya mereka tertawa bersama.


...■□■□■□■□■...


"Pak Dwi, tolong angkat barang-barang aku ke mobil. " Titah Salwa kepada Pak Dwi si Sopir untuk membawa barang di dalam kostnya.


"Kak Salwa! " teriak Dinda dan langsung memeluknya.


"Kamu sudah sehat Din? "


Dinda mengangguk pelan, air matanya berlinang.


"Aku baru tahu jika kaka mau pindah. Terimakasih Kak sudah membantu ku. Dan maafkan aku juga dulu pernah bersikap kasar kepada Kakak. "


"Iih kamu ini apaan sih, mana Kak Jessy? "


"Kak Jessy lagi bekerja, "


"Ya udah, nanti aku WA dia. Oiya. Kapan-kapan kita makan bersama ya. Kamu juga harus hati-hati. Jangan ulangi lagi ya. Baik-baik Dinda. " Peluk Salwa kepada Dinda. Dinda menangis tersedu dipelukan Salwa. Ia seakan tidak terima Salwa pindah, ia baru saja menemukan sosok Kakak.


Kadang orang asing seperti keluarga. Dan Keluarga seperti orang asing. Begitulah kehidupan, tidak terduga.


"Salwa! " teriak seorang pria di depan pagar.


"Hah! " Salwa otomatis melihat sosok pria di depan pintu yang memanggilnya. Dan dia sangat terkejut.


BERSAMBUNG.


Jangan Lupa, Like dan Vote.

__ADS_1


__ADS_2