
Fir langsung menghampiri Salwa. Ia angkat tangannya dan mencoba menggapai kepala istrinya dan urungkan itu. Lalu Dia mengelus wajah istrinya yang masih terlihat ketakutan.
"Kamu tidak apa-apa sayang? Tenang, ini aku Suamimu. Kamu sudah aman, maafkan aku. " Peluk Fir kepada Salwa. Namun dengan cepat Salwa memberontak. Fikirannya seakan masih terkukung di saat kejadian itu. Disaat tangan bajingan itu menyentuh kulitnya.
"Salwa , ini aku. Suami mu. Fir! "
"Tunggu Fir , Beri waktu dia. Dia masih syok! " ucap Mirna dengan membuka tangannya dan memeluk Salwa dengan erat kembali. Dia membawa Salwa bersama Minah ke kamarnya.
Fir terduduk frustasi. Bian memegang bahu Fir untuk memberikan kekuatan dan kesabaran.
" Tenang, biarkan semua istirahat terlebih dahulu. " Usap Bian ke bahu Fir dan sedikit menekan ke bahunya.
" Baiklah ." Fir menghela nafas dalam.
" Sebaiknya ini diselesaikan di kantor polisi secepatnya. " saran Hans.
" Tentu saja Ayah," ucap Fir bangkit dan ingin pergi.
"Oh iya Ada yang ingin bertemu denganmu . "
"Siapa? "
"Kau akan mengenalnya bertemu dengannya. "
Fir pun melangkah pelan dan mengikuti Hans untuk menemui tamu tersebut. Sesampainya di sana Fir terdiam dan terkejut melihat sosok wanita yang ingin bertemu dia .Dia adalah wanita yang ia kenal pada saat kecil dahulu, Orang yang memberikan kasih sayang kepadanya, Siapa lagi kalau bukan ibunya. Ibu kandungnya yang telah repa meninggalkannya demi lelaki muda.
Yola berdiri melihat Fir yang telah dewasa, ia kagum dan ingin sekali langsung memeluk dan mendekap tubuh anaknya yang yang sangat ia rindukan selama ini.
"Aku ibumu! " ucap nya pelan namun mantap
"Ibu! " Sahut Fir sinis.
Merasa pertemuan mereka tidak nyaman dipandang oleh tamu lain. Hans langsunf menengahi. "Baiknya kalian berbicara Empat Mata," usul Hans kepada mereka berdua agar mereka dapat mengutarakan isi hatinya masing-masing.
Mereka mengikuti apa yang disarankan oleh Hans.
"Makasih telah hadir pernikahanku. " Jawab Fir dengan dingin. Wajahnya datar tak berekpresi.
"Apa begitu penyambutanmu kepada Ibu kandungmu sendiri Fir. "
"Ya mau bagaimana lagi, seperti pada umumnya kepada orang asing. Ibu pergi dari rumah ini meninggalkanku jadi aku rasa meskipun Ibu adalah ibu kandungku, sayangnya aku merasa asing. " Fir mengatakan tanpa memperdulikan isi hati ibunya yang mungkin tersakiti.
"MaafKan aku Fir, dulu mungkin aku terlalu muda dan tidak bisa membela diri di hadapan kakekmu. "
" Jangan membawa Mendiang Kakek. Bukankah ibu lari dengan pria muda itu, jangan dibahas Masa lalu itu. Apa yang ibu lakukan pada saat itu jelaskan terekam di dalam otakku sendiri. "
Yola terdiam dan meneteskan air mata dia berpikir entah apa yang rekam Di dalam ingatan Fir Apakah dia mengingat pergi dan dikatakan oleh kakinya bahwa dirinya pergi dengan orang lain dan meninggalkan Fir dan ayahnya. Sekeji itu kah dirinya di dalam benak Anak kandungnya.
"Jadi kakek yang bilang seperti itu kepadamu bahwa aku rela meninggalkanmu hanya untuk pria dan bermain dibelakang ayahmu? "
__ADS_1
"Bukankah begitu kenyataannya! "
"Itu semua bohong Fir, Aku bukan pergi, tapi diusir oleh kakekmu, mereka Terlalu percaya dengan hanya beberapa lembar foto saja dan sesungguhnya foto itu hanyalah rekayasa untuk menjatuhkan ayahmu tapi sayang ayah dan mendiang kakekmu terlalu percaya! "
"Maksud ibu? "
"Ya, itulah konspirasi di dalam perusahaan setiap orang pasti ingin menjatuhkan orang yang terkuat dengan segala upaya. "
"Apakah pada saat itu Ayah juga baru menerima dan memenangkan perusahaan ini sebagau pemegang saham utama. "
"Iya benar! "
Mendengar itu Fir langsung menggenggam erat tangannya dan bergetar. Dia bangkit dan pergi meninggalkan Yola.
"Mau ke mana kamu? "
Fir mengindahkan panggilan Ibunya, ia Membuka pintu ruang kerja dan berpapasan langsung dengan Ayahnya.
"Fir, Apakah kamu sudah berbicara dengan ibumu? "
"Sebaiknya Ayah yang harus berbicara dengan ibu dan menyelesaikan permasalahan kalian berdua. "
Fir langsung Pergi meninggalkan mereka berdua yang tak saling berkata.
Fir masuk ke kamar untuk menemui Salwa terlihat Salwa sedang berbaring meringkuk di atas kasur masih terisak-isak dalam tangisnya.
Perlahan Fir masuk dan duduk di samping Salwa mencoba meraba bahu Salwa dan menenangkannya.
Mendengar janji Fir, Salwa bangkit perlahan dan ia menatap suaminya meskipun matanya masih dalam keadaan sembab dan wajahnya yang merah karena menahan kemarahannya.
"Aku sekuat tenaga melindungi Harga Diriku. aku belum ternoda. Aku ingin kamu mempercayaiku, bukan aku yang merayunya! "
Fir meletakkan telapak tangannya ke kepala istrinya dan dia tersenyum untuk menenangkan Salwa.
"Tentu saja, Aku tidak pernah berpikir sedikitpun tentang itu. aku juga tidak menyalahkanmu karena ini semua sebenarnya adalah salahku. Maafkan Aku Salwa sayangku. "
Fir menyeka Air Mata Di wajah istrinya yang yang sembab dia mengusapnya pelan untuk menghilangkan noda bekas air matanya di pipi manisnya.
"Salwa sayangku. "
Ucap Fir dan mengecup bibir Salwa dengan lembut. Bulir air mata Salwa kembali merebak di ujung matanya saat sentuhan mesra itu hadir dibibirnya. ia peluk tubuh Fir.
"Tenanglah Salwa, malam ini hanya ada kenangan indah kita. Lupakan apa yang terjadi. Hanya ingat kenangan manis kita."
Salwa mengangguk pelan, dia memasrahkan dirinya saat Fir melepaskan kancing bajunya.
"Fir, terimakasih kau mempercayai ku. "
"Tentu saja, kau istri ku. Kau orang yang paling aku percaya di dunia ini! " ucap Fir memeluk istrinya dan menggeraikan rambut panjangnya.
__ADS_1
"Fir..., " ucap Salwa lirih, ia bimbing tangan Fir ke lehernya. Senyum hangat di wajah Fir menghiasi malam itu.
Fir dengan pelan membimbing tubuh Salwa untuk berbaring kembali ke kasur dan dia langsung mengkukungnya dalam dekapan hangatnya.
Dan mereka menunaikan ibadah mereka dengan khusyu meski di lantai bawah masih ada pesta. Hiruk pikuk pesta menemani malam mesra mereka, Fir menciptakan malam indah untuk Salwa agar ia melupakan kejadian yang tidak mengenakkan tadi.
"Ku harap Salwa dapat melupakan kejadian tadi . Dan hanya mengingat malam kita saja. "
"Huuhh... " Fir melenguh lemas di samping Salwa. Dia banjir keringat di dalam ruangan ber ac.
"Apa kau menyukai nya sayang? "
"Mas Fir... " ucap Salwa malu-malu. Dia langsung meringkuk ke dalam pelukan Fir dan menyembunyikan wajahnya ke dalam dada bidang Fir.
"Aawww... Salwa. Kau malu apa masih mau? " Ucap Fir sambil melarikan tangannya ke tubuh Salwa dan mempererat pelukannya..
"Iihh Mas... Jangan tanya begitu ah. Kan malu. "
"Hehe, bukannya gitu, kalo kau dekap lagi, aku malah mau lagi ini. Tuh lihat, kau harus tanggung jawab. " lirik Fir ke bawah selimutnya.
Salwa hanya tersipu malu dengan wajah yang memerah.
"Akhirnya kau sudah tersenyum kembali sayang, aku harap. Malam ini kau hanya mengingat kebersamaan kita. "
"Mas Fir, " ucap Salwa Lirih. Dan ia mengecup bibir Fir dengan cepat.
"Hah, secepat kilat saja? Aku ingin lebih lama Salwa. "
Fir menatap Salwa sepersekian detik. Lalu dia langsung menarik tangan Salwa dan menggulingkannya ke sisi kasur.
"Aahhhh Mas... " Salwa berteriak karena kaget dengan tindakan Fir.
"Kau harus tanggung jawab. " Fir langsung menerjang tubuh Salwa kembali dan menggelitik pinggang Salwa.
"Hahaha.. Mas... "
Tok... Tok.. Tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan candaan mereka. Salwa dan Fir saling bertatapan dan heran.
Fir melirik jam dinding. Pukul menunjukkan jam 1 malam.
"Siapa? " bisik Salwa ke telinga Fir. Fir menggeleng-geleng kepalanya. Dan ia menutup bibir Salwa dengan jari telunjuknya. Ia menunggu bunyi ketukan itu kembali dan musik di lantai bawah. Namun semua sudah sunyi. Salwa dan Fir tidak sadar bahwa pesta sudah lama selesai.
Tok... Tok... Tok. ..
Bunyi ketukan pintu itu kembali terdengar.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Jangan lupa like dan koment