
"Oouuuhhhh. Dimana aku. Apa tadi hanya mimpi belaka? Sangat nyata sekali. " Sedikit pusing kepala Fir karena badannya terasa terhempas sesaat.
Ia sangat yakin jika apa yang ia alami bukanlah mimpi. Namun di ruangan tidak ada Salwa. Ia tengok ke sekeliling sampai ke sela-sela. Hanya dalam kamar mandi yang belum ia periksa. Fir mencoba bangkit, namun kepalanya masih terasa pusing. Sehingga ia urungkan niatnya untuk berjalan ke kamar mandi.
"Kamu kenapa Fir? " tanya Pak Hans yang masuk ke dalam kamar.
"Hah, Ayah dari mana? " tanya masih dalam kebingungan.
"Kamu kok kaya orang linglung gitu. Ga boleh melamun. Aku habis membelikan kamu makanan. Baru sebentar saja sudah lupa."
Fir tidak lagi memperdulikan Ayahnya, ia sibuk mencari sosok wanita yang ia cintai. Ia menggigit bibirnya, terasa sakit. Jelas sekali yang barusan ia rasakan bukan mimpi.
"Kamu sendirian? Mana Salwa? Di kamar mandi juga tidak ada."
"Salwa? " suara Fir getir mendengar pertanyaan Ayahnya. Ia berfikir tujuh keliling memastikan apa yang ia alami nyata atau mimpi.
"Berarti benar ada Salwa. Oiya, baju putih ini adalah baju akad nikah tadi. Alhamdulillah bukan mimpi. "
"Fir. Kamu kenapa melamun. Mana Salwa?? " Hans bertanya lagi. Dia bingung melihat anaknya yang melamun, jelas khawatir. Karena Fir terluka dikepala. Sehingga ia takut ada sesuatu yang terjadi.
"Salwa disini Pak. " Perlahan suara perempuan lembut terdengar. Rupanya Salwa keluar dari bawah bangsal Fir. Dia bersembunyi di bawah dengan sangat rapi.
"Ya ampun, kamu kenapa sampai ke bawah ranjang begitu? "
"Anu... Salwa menjatuhkan cincin. Jadi Salwa cari sampai ke bawah situ. " tunjuknya dengan ragu. Ia takut Ayah Fir melihat apa yang baru saja dia dan Fir lakukan.
"Oh. Sudah dapat? " Hans meletakkan bungkus plastik makanan.
"Alhamdulillah sudah Pak. " Salwa memandang Fir, senyum terpaksanya menandakan ada gurat ke khawatiran. Wajah Salwa penuh dengan kotoran bekas di bawah ranjang rumah sakit.
"Nah ini makanan kalian ya. Aku mau keluar dulu untuk memberikan makanan kepadw para perawat. " Hans keluar dengan 2 kantong plastik di tangannya untuk memberikan nasi kotak sebagai bentuk syukur.
Tangan Salwa langsung merabah tangan Fir untuk memastikan tidak ada yang sakit ditubuh suaminya.
"Maaf, tadi sakit ya? " bisik Salwa pelan kepada Fir yang masih diam melihat Salwa di sampingnya.
"Hahaha. Wajah mu Sal, kotor!" ucap Fir tertawa.
"Ya iyalah Sakit, kamu terlalu kuat mendorong ku. Sampai-sampai aku kira aku masuk dalam mimpi lagi. Nih tangan ku sakit. " Fir menyodorkan tangannya. Dengan cepat pula Salwa meraih tangan Fir untuk dipijat.
Mata Fir terpejam merasakan pijatan Salwa. Ia tersenyum penuh kemenangan, "Kurang. Disini juga sakit. " tunjuknya ke bahu.
Maka semakin naik pula tangan Salwa memijat ke bahu Fir. Semakin lebar senyum Fir mendapatkan pijatan Salwa.
"Masih sakit Salwa. Disini. " Tunjuknya ke kepalanya. "
Melihat itu Salwa terdiam dan berfikir. "Aku tidak berani memijat kepala, apalagi ada perbannya. Kan kamu luka, "
__ADS_1
"Ya udah, gantinya pijat di sun aja udah disini. " tunjuk Fir kembali ke pipi nya.
"Iiihhhh mana ada begitu. "
"Ayooo. Aku kesakitan ini. Ini kan karena kamu juga tadi mendorong aku. Kamu mau aku sakit? " Desak Fir memegang tangan Salwa.
Salwa pun tersenyum, dia tahu ini hanya akal-akalan Fir saja agar mendapatkan ciuman nya. Salwa pun menuruti permintaan Fir.
"Emmuuacchhhhh... " kecupnya dipipi kanan.
"Nah udah kan. Ya udah yo makan dulu. "
"Beeluummmm. " Pinta Fir dengan manja dan menunjukk sebelah kiri pipinya. Kapan lagi Fir fikir meminta bermanja dengan Salwa, mumpung keluarga yang lainnya belum datang.
Salwa menuruti permintaan Fir dan berpindah kesisi kiri.
"Eemuuuaaccchhhhh. Sudah ya, nanti dilihat orang. Kan malu. Nanti aja udah kalo Sayang udah sembuh. " Salwa malu-malu mengatakan itu, dari pada ketahuan. Ia rayu Fir dengan memberi iming-iming seperti itu.
"Janji ya. Aku nanti mau honey moon dengan kamu di Bali. "
Salwa hanya tersenyum dan mengangguk malu. Fir sangat antusias dengan rencana bulan madunya. Ditambah semangat lagi, besok Fir sudah diperbolehkan untuk pulang dan hanya menjalani kontrol rutin saja.
"Aku sudah tidak sabar belah duren. " Bisik Fir di telinga Salwa. Dan itu membuat Salwa semakin malu dan memerah pipinya. Ia cubit pinggang Fir dengan mesra.
"Aau... " Teriak fir pelan dan tak lepas dengan senyumnya.
Di rumah kediaman Hans.
"Ini kamar kalian, karena kamu sudah menikah. Jadi kamar kamu Ayah dekorasi ulang biar hawa-hawa pengantin terasa. " Hans memperlihatkan kamar Fir dan Salwa.
"Terimakasih. Bapak sampai capek-capek mendekorasi segala. "
"Ooh anggap saja kado penikahan kalian. Ini baru sebagian kecil Salwa. Kado pernikahan kalian masih ada lagi. Minah... Minah. Ayo bawa kadonya. "
"Iya Tuan. " Minah ditemani Ujang si tukang kebun membawa kado besar masing-masing di tangan mereka.
"Masyaallah Pak, besar sekali hadiahnya. "
"Dipakai ya Fir malam ini. Awas jangan lupa, cara pemakaian ada di dalam kadonya. " Tepuk Hans ke bahu anaknya.
Ujang dan Minah ketawa ketiwi melihat pasangan pengantin baru.
"Selamat ya Den dan Nona. Semoga langgeng dan cepat dapat dede bayi, " Ucap Minah dan Ujang.
"Loh, aku ga kamu doakan cepat sembuh ya. Kepala ku pakai perban gina jang? "
"Iya kami doakan juga buat Den cepat sembuh biar bisa bekerja keras malam ini. Hehe. " Ujang tertawa kecil menyinggung itu.
__ADS_1
"Aah ya sudah. Kalian istirahat saja. Nanti setelah Fir sembuh total. Kalian bisa bulan madu. Naah setelah itu baru kita meriahkan pernikahan kalian. "
"Ingat, kamu harus buatkan aku cucu secepatnya. " bisik Hans ke telinga Fir.
"Rebes Yah. "
"Jangan rebes-rebes saja. Lakukan dengan benar. " Hans sangat bersemangat, apalagi semenjak kehadiran Salwa. Hubungan Ayah dan Anak ini pun menjadi lumayan dekat. Hans pun keluar kamar meninggalkan mereka. Begitu pula Minah dan Ujang.
"Syukur Alhamdulillah ya Min, Den Fir sama Tuan Hans sudah berbaikan. "
"Yo iya jelas. Wong ada Nona Salwa. Gengsi dong masa Ayah sama Anak bertengkar. Udah ah sana, angkat galon aja. Didapur habis jang. "
"Iya, iya. " Ujang galon berisi air yang sudah ada di gudang dan memasukkannya ke dapur.
Salwa mengelilingi kamar pengantin mereka yang begitu indah. Banyak hiasan bunga-bunga, dan tidak lupa aroma terapi yang membuat semakin nyaman kamarnya. "Masyaallah, baiknya Ayah mertua sampai menyiapkan ini semua untuk kita Sayang. "
"Iya dong, Ayo sini. " Fir menarik Salwa dan mendudukkannya di kasur.
"Ayo kita buka kado dulu. " Fir mendorong kado berwarna pink ke hadapan Salwa.
Salwa langsung membuka kado yang besar itu. Ternyata di dalamnya dua buah handuk besar, peralatan mandi, lengerie berwarna merah dan sprei. Semuanya sangat wangi.
Kado satunya dibuka kembali, kotak nya lebih kecil. "Apa ya isinya? " tanya Salwa penasaran dengan sedikit menggoncang kotaknya.
"Eeiittzzz jangan gitu. Kalo isinya kaca, bisa pecah. " Salwa perlahan membuka kadonya. Terlihat selembar kertas. Lalu ia serahkan kepada Fir. Lalu ia ambil isinya. Berupa dua batang cokelat dengan bahasa negara lain, rempah-rempah dan parfum.
"Ini apaan ? "
Fir yang masih membaca surat dari Ayahnya langsung tertawa.
"Itu cokelat dari Turki Sayang, Buat membangkitkan libido, nih baca surat dari Ayah. Ada pesan untuk kita. Ya udah, sini aku buka cokelatnya. Kita makan sekarang aja ya. " Dengan cepat Fir membuka Cokelat itu. Ia patahkan potongan cokelat dan langsung ia suapkan untuk Salwa.
"**** Sayang cokelatnya. Setelah ini kamu pakai ini ya." pinta Fir menunjuk langerie.
"Hah, sekarang? Apa ga sakit kepala, Kamu kan masih sakit. "
"Anu Sal, sakit kepala nya yang lain. Bukan yang ini. Ayo makan lagi cokelatnya, katanya efeknya baru terasa sekitar 2 jam. Pas kan, ini sudah jam 8 malam. " Fir senyum-senyum malu menunjuk kepalanya yang masih ada perbannya dan setelah itu ia memakan cokelat nya lagi. Salwa pun menjadi ikut tersipu malu melihat kelakuan Fir suaminya yang teramat bucin.
Asyik makan cokelat dan membalas pesan Wa orang tua Salwa, Fir langsung menggenggam tangan Salwa.
"Kenapa? " tanya Salwa penasaran.
"Sayang..., ayo yo sekarang. Efeknya udah aja nih. " Fir mengedipkan matanya sebelah untuk Salwa agar bisa secepatnya belah duren. Dengan malu-malu, Salwa pun masuk ke kamar mandi.
BERSAMBUNG.
Jangan lupa, like dan subcribe.
__ADS_1