Jodoh Sang Wanita Malam

Jodoh Sang Wanita Malam
menikmati waktu bersama


__ADS_3

setelah, Cleo pergi membawa Deswita,ke Rusia, Daniel dan Medina,kini tengah di sibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing.


...Bahkan, mereka jarang sekali bertemu walau tinggal satu rumah hingga Daniel protes....


...dia meminta agar Medina, berhenti bekerja karena menurut nya, semua tidak akan pernah ada ujungnya, yang ada mereka kurang komunikasi seperti saat ini....


"sayang, aku mohon berhenti lah bekerja, aku bisa menghidupi mu, dengan uang ku, dan Takan habis untuk tujuh turunan, cukup dulu kita berpisah karena semua konflik yang di buat Cleo yang selalu mengendalikan diri mu, hingga aku hampir gila di buat nya" ucap Daniel.


"Kak, dan harus nya mengerti ini perusahaan,milik mommy, yang di wariskan kepada ku dan aku harus menjaga nya dengan baik, tapi kalau aku berhenti nanti siapa yang, akan mengurus nya, aku tidak ada keluarga lain lagi KA meysha, sudah tidak ada dan Andres juga, masih kecil dan Sheila,sibuk dengan klub nya, dan rumah tangga nya saat ini.


"tapi sayang, bagaimana,kalau kita gabungkan saja perusahaan nya dan biar aku yang mengurus nya bersama asisten ku.


"nanti kita bicarakan lagi.saat aku selesai mithing Ok, muachh" Medina mengecup bibir Daniel sekilas.


Daniel saat ini sudah pulang terlebih dahulu, dahulu, sementara Medina belum juga kembali saat ini sudah larut malam, dan ponsel nya mati, Daniel yang resah kini, tengah menunggu di balkon kamar nya sambil melihat kearah jalan masuk gerbang Mension, iya melihat mobil istrinya, saat ini tengah memasuki gerbang, dan melaju perlahan menuju, garasi rumah tersebut, Daniel langsung turun, dan menunggu di pintu masuk.


"Dari mana saja, kamu jam segini baru kembali, apa kamu tidak pernah menganggap ku ada hmm, apa aku tidak pernah berharga di mata kamu" Daniel, langsung memberondong pertanyaan, kepada Medina.


"Kak,,, bisa tidak, tanya nya nanti saja aku lelah"


jawab Medina, yang tidak mau berdebat.


Medina menaiki tangga di ikuti Daniel yang menahan marahnya, saat ini.


"Aurel, kita harus bicara saat ini juga" ucap Daniel.


"iya Kak, tapi apa Kaka tidak lihat, aku baru pulang dan tubuh ku ini sangat lelah please mengerti lah saat ini saja" ucap Medina yang kini langsung masuk ke kamar mandi, untuk memberikan diri, Medina kini sudah satu jam berada di kamar mandi dia berendam di bathtub, untuk merilekskan otot-otot nya yang kini terasa ngilu.


"sayang, kamu sedang apa di dalam lama banget mandi nya gak baik Lo berendam lama-lama,ini hampir jam dua belas malam, ayo cepat keluar" Daniel menghawatirkan istrinya itu.


Medina, pun keluar dengan wajah fresh dan lilitan handuk di kepala.


"maaf kak, tadi aku ketiduran di bathtub, saking lelahnya" ucap Medina yang kini sedang mengalungkan tangannya di leher Daniel, dan mengecup, bibir suaminya itu,agar Daniel tidak marah lagi pada nya.


"Sayang, apa kau sudah makan malam?" tanya Medina kepada, suaminya.


"Aku menunggu mu dari tadi" jawab Daniel singkat.


"baik lah tunggu lah sebentar aku ganti baju dulu ya sayang, Maaf gara-gara aku kamu jadi kelaparan.

__ADS_1


"sudah lah,ayo segera selesai kan, ganti baju mu dan segera lah turun, aku menunggu mu" ucap Daniel sambil melangkah keluar kamar, dan saat ini ia berjalan melewati tangga.


Medina, bergerak cepat tidak butuh waktu lama iya bertindak sangat gesit mungkin karena latihan nya dulu, tidak sia-sia, saat ini bahkan iya turun berlari cepat di tangga membuat Daniel meringis, takut kalo istrinya kepeleset.


"Aurel, kamu itu apa-apa an sih sayang gimana kalo kamu jatuh?"kata Daniel yang menatap tajam,saking kagetnya.


"aku sudah jauh terlihat untuk semua itu, dan bahkan lebih ekstrim dari ini aku pernah loncat dari lantai lima hotel saat, itu saat menjalani misi penting, mengejar para penjahat, yang kabur" kata Medina.


"tapi sayang, aku tidak mau kamu melakukan hal itu lagi,ini rumah bukan tempat mu dulu menjalankan misi berbahaya, lupakan semua itu" ucap Daniel tegas, Medina hanya tersenyum, dan,kini ia duduk dan bergerak cepat memberikan piring berisi, makanan, yang kini, tengah di hadapan Daniel.


"tidak ada lembut-lembut nya" ucap Daniel sambil memalingkan wajahnya.


"sudah lah sayang, aku cape tidak mau berdebat, sebaiknya cepat kakak makan, dan kita bisa tidur saat ini Juga" ucap Medina, yang sudah lelah.


"aku tidak mau tidur, aku mau jatah ku malam ini, dan itu harus" ucap, Daniel yang langsung dapat tatapan, tidak percaya dari Medina.


"sudah lah sayang ayo makan, ingat saat ini waktu mu hanya untuk ku" Daniel menegaskan itu lagi.


setelah selesai makan Medina kini sudah berjalan menuju, kamar iya langsung masuk kedalam selimut dan memeluk guling, Daniel yang baru saja sampai, dia langsung melepaskan selimut itu dan melemparkannya,ke sembarang arah.


"sayang, aku sudah katakan kalau malam ini kamu tidak bisa lolos dari ku,hmmm seperti nya, butuh waktu sampai pagi, kalau di sengaja tidur nya" Daniel kini menakuti Medina.


"aku ingin sekarang besok dan seterusnya, tidak ada penolakan" ucap Daniel yang kini sudah mulai memasuki, lingerie, milik Medina, iya meraba gunung kembar,milik istrinya itu, sambil mencium bibir Medina dengan penuh nafsu, Medina pun mengalah kalau sudah urusan begini, Medina tidak mau cari ribut dengan suaminya.


"eumm sayang, aku mohon, lembut lah sedikit, aku tidak akan, menolak nya, aku hanya butuh istirahat, sebentar saja" namun ucapan Medina, tidak bisa Daniel terima.


"owh begitu ya, jadi kamu anggap aku ini pengganggu, begitu baik'lah kalo begitu"


Daniel pergi membanting pintu, dan saat ini ia pergi menuju ruang kerja nya dia mengambil minuman, beralkohol tinggi di rak penyimpanan, saat ini langsung membuka dan menenggak, nya, dan saat ini dia duduk termenung,di sofa singgel miliknya, yang menghadap dinding,kaca ruangan yang mengarah ke pegunungan, yang saat ini di selimuti kabut.


Medina, yang menyusul Daniel kini ia langsung,mengambil botol tersebut dari tangan suaminya, itu.


"Sudah,puas marah nya kalau masih belum puas aku ada di hadapan mu,ayo lampiaskan kemarahan mu pukul aku jika belum puas juga tapi aku minta jangan sesekali minum minuman keras ini, karena tidak akan pernah menyelesaikan masalahmu,malah makin rumit, kamu pasti tahu itu sayang" Medina mencoba berbicara baik-baik, dan, saat ini ia membuang minuman itu ke tong sampah.


Daniel sedari tadi tidak bicara sepatah kata pun, saat ini dia hanya menatap Medina, dan terus menerus menatap tanpa berkedip.


"jangan,buat dirimu susah sendiri,bicara lah aku tau kamu saat ini sedang di bakar emosi" ucap Medina, yang kini merasa suaminya sedang menahan emosi.


Medina, langsung duduk di pangkuan suaminya dia mencumbu bibir Daniel, yang hanya diam sedari tadi, iya tau itu bisa menangkan nya tapi Medina salah Daniel adalah seorang yang tidak bisa di taklukkan begitu saja, saat ini Daniel masih menatap kearah Medina.

__ADS_1


"pergilah, aku tidak mau memaksa orang, untuk urusan ranjang, jadi percuma saja, kamu pura-pura baik di hadapan ku saat ini" ucap Daniel yang kini melepaskan, Medina dari pangkuan nya dan dia langsung berdiri berjalan, mendekati dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan,di depan sana.


🌹💖💖🌹


Medina tidak habis pikir, Daniel sangat, gampang tersinggung, iya kini mendekat ke arah Daniel, dan langsung memeluk nya dari belakang.


"Sayang, Maaf kan aku, aku memang bersalah tapi apa tidak bisa kah kamu memaafkan aku, aku benar-benar menyesal,dan kamu sudah salah paham pada ku, aku tidak menolak mu saat tadi hanya saja aku minta kelembutan, itu saja, aku mohon maaf kan aku" ucap Medina.


"Aurel, aku sudah bilang tolong tinggal kan aku saat ini, aku tidak mau memaksa orang lain, untuk itu" ucap Daniel yang sontak membuat Medina, berurai air mata, iya langsung bergegas pergi menuju kamar nya,iya langsung membereskan barang-barang nya kedalam koper satu koper penuh barang dan beberapa dokumen, miliknya, iya kini memakai switer dan pergi menyeret koper nya seorang pelayan langsung bergegas, mendekat kearah Medina dan bertanya.


"nyonya anda mau kemana larut malam begini, dan kenapa anda membawa koper, sebesar ini?" sontak pertanyaan pelayanan itu terdengar oleh Daniel yang langsung mengikuti arah suara tersebut,di lihat nya Medina sedang menyeret koper, kearah pintu.


"Aurel, mau kemana kamu?" ucap Daniel, sambil berlari dan segera, merebut koper tersebut dari tangan, Medina, saat ini.


"lepas, aku akan pergi di sini bukan rumah ku karena aku orang lain bagi mu" ucap Medina sambil menarik kasar koper itu dari,tangan Daniel, iya kembali berjalan dan kini iya sedang berusaha, membuka pintu.


"Satu langkah saja kau pergi dari rumah ini maka, kamu bukan lagi istri ku" kata Daniel deg,, saat itu juga bagai di sambar petir di musim kemarau, Medina menghentikan langkahnya.


"keputusan ada di tangan mu, kamu boleh memilih,berbalik untuk melanjutkan rumah tangga kita atau tidak menoleh sama sekali dan pergi, untuk selamanya" Daniel berkata kejam bahkan Medina tidak, pernah menyangka hal, itu akan keluar dari mulut suaminya itu.


Medina mematung, tapi saat ia memilih yang terakhir, saat dia mau melangkah ke luar, Daniel sudah memeluk nya dari belakang sambil menangis.


"apa kau tega akan meninggalkan cinta kita, yang selama ini mati-matian kita perjuangkan, ucap, Daniel.


Medina, yang sedari tadi sudah banjir air mata, dalam diam nya kini ia berbalik, dan berkata.


"Aku tidak akan pernah pergi jika kau tidak menyuruh ku, dan asal kau tahu demi membebaskan mu dari belenggu mafia itu aku bertaruh hidup dan mati membawa anak kita dalam kandungan, saat itu, dan saat ini, dengan mudah nya kau berkata itu pada ku, apa kesalahan ku sudah tidak bisa di maafkan,hiks,,, hiks,,, hiks, apa semua bisa berakhir, dengan sedikit saja kesalahan yang aku buat, jawab ka,kalau memang kau sudah tidak bisa memaafkan aku maka lepaskanlah pelukan ini aku akan segera pergi, dan saat itu terjadi, aku akan pergi untuk selamanya dari mu" Medina, melepaskan tangan Daniel yang kini memeluk nya erat, tapi tidak Daniel lepas kan juga dia malah mengangkat, tubuh Medina dan membawa nya pergi menuju tangga dan memasuki kamar tidur milik mereka.


"jawab pertanyaan mu sudah terjawab sayang, aku tidak ingin kehilanganmu, dan sampai kapan pun kau tetap akan di samping ku sampai maut menjemput" ucapan Daniel, hanya di balas dengan tatapan,sendu oleh Medina, Daniel merebahkan Medina di atas ranjang, dia kini langsung,mengunkung nya dan mencium bibir Medina dengan lembut, dan menuntut, sampai akhirnya semua kain yang menempel di tubuh keduanya terlepas, dan mereka melakukan penyatuan, di malam ini pukul satu dini hari, hingga pukul empat pagi baru selesai.


betapa remuk, rasanya tubuh Medina kini seperti, berkelahi dengan,puluhan preman, yang sering di hadapinya dulu, betapa tidak, dari pagi beraktivitas sampai pagi lagi mulai dari pekerjaan, hingga urusan ranjang, Medina, harus siap untuk itu, jika di bandingkan menjalankan misi, nya dulu dengan saat ini, Medina lebih baik menjalankan tugas, nya dulu biar pun berat berkali-kali lipat,namun, Medina melakukan tugasnya saat ini demi cinta nya kepada sang suami.


Daniel, sudah bergegas membersihkan diri, saat ini karena ada mithing pagi ini dengan klien, dari, luar.


"Sayang, aku harus bekerja hari ini, kalau kamu masih lelah tidur lah lagi aku pergi dulu ya sayang ku muachhhh" Daniel mengecup bibir istrinya itu sekilas, dan langsung bergegas pergi karena sudah terlambat.


siang hari tepat jam 11:30 Medina, baru bangun dari tidur nya, saat ini ia sedang berendam di bathtub, untuk membersihkan diri nya dari sisa percintaan nya pagi tadi, dan saat ini ia bisa melihat seluruh tubuh nya dari cermin besar yang terpangpang,di samping bathtub.dan ia hanya bisa tersenyum, melihat tanda kepemilikan, hampir di seluruh tubuh, Medina tau Daniel,tipe orang yang sangat setia dengan pasangan nya dan tidak akan pernah melepaskan nya, sekali pun harus berkorban nyawa. Daniel memang bukan seorang penguasa, dia hanya seorang, pengusaha, tapi ketulusan cinta nya, mampu meluluh lantakan, semua.


ya buktinya, Medina mampu menghabisi, komplotan, mafia, yang mengikat, Daniel dan juga semua musuh nya bahkan, di saat iya sedang mengandung buah cintanya dengan Deswita, dan siapa pun takkan sanggup, melakukan semua itu di keadaan seperti Medina, saat itu, yang semua di lakukan karena dorongan, cinta nya, terhadap Daniel, bahkan setelah operasi Caesar, saat mengeluarkan, bayi, dari dalam perut yang sudah terluka hebat, saat itu Medina sudah di nyatakan mati, tapi Daniel, saat itu, sedang menangis karena merindukan Medina, dan memanggil-manggil istrinya itu, dan Medina yang tengah berjalan menuju cahaya putih, iya langsung berbalik karena melihat Daniel yang sedang menangis dan memanggil,manggil diri nya.

__ADS_1


__ADS_2