Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
10. Malioboro


__ADS_3

Sabtu petang Seti duduk di dingklik kecil menyebelahi Joe. Melupakan sejenak satu minggu yang sibuk dengan praktikum kampus dengan segala teori-teori text book.


Doni tak terlihat. Seharian di kost, sibuk memotong kulit, membuat pola baru untuk dompet yang akan dipasarkan.


Lapak  dua kali satu meter itu sibuk menggelar dagangan-nya di tepi Malioboro yang macet. Mobil, motor, becak, dan andong  tumpah memenuhi jalan yang tidak seberapa lebar itu. 


"Aku mau ke tempat Asri," Seti mendekatkan mulutnya ke  ke kuping Joe.


Kegaduhan Malioboro dengan suara promosi lagu-lagu keras dari masing-masing toko, suara teriakan asongan tiap lapak, dan adu urat menawar harga dari pembeli lapak  mengharuskan siapa saja yang bercakap untuk mendekat atau sedikit berteriak.


"Ajak Asri ke lapak Set." Joe sedikit berteriak.


"Coba nanti. Sudah dua minggu aku gak ke Mantrijeron." 


Joe mengiyakan. Seti lalu berdiri, berjalan menyeberang menghampiri si Denok  di parkiran depan hotel Natour Garuda.


Menengok ke langit yang sedikit berbintang. Awal penghujan yang sudah beberapa kali membasahi Jogja sempat membuat Seti ragu ke kost Mantrijeron yang lumayan jauh dari Malioboro.


Jika tadi turun hujan Seti berencana menghabiskan malam minggunya menemani Joe di lapak-nya. Kelihatannya langit bersahabat. Tak berlama-lama  si Denok melesat ke arah Mantrijeron.                             


...----------------...


Kost Mantrijeron terlihat sedikit ramai. Sepasang laki-laki dan perempuan duduk bersebelahan  mengobrol di dekat pintu masuk. Sepasang yang lain agak tersembunyi saat Seti mendekat


"Seti mbak, mau ketemu Asri." Seti menjawab suara intercom yang menanyakan tujuan kedatangannya.


Perempuan yang sedang mengobrol di dekat pintu melirik sebentar ke arah Seti. Kelihatannya tertarik mendengar Seti menyebut nama Asri.


"Duduk dulu mas," kata perempuan itu ramah.


"Makasih mbak, saya tunggu di motor saja." Seti berdiri menjauh. Sungkan mengganggu percakapan tiap-tiap pasangan itu. Selain belum mengenal semua penghuni kost Mantrijeron.


Perempuan yang menawarkan Seti duduk tadi mengalihkan obrolannya lagi dengan laki-laki di sampingnya setelah Seti menjauh.


Menengok kanan kiri sebentar di teras, Asri tersenyum tipis melihat Seti yang dicarinya melambai dari halaman.


"Siapa tuh As," nada menggoda keluar dari perempuan dekat pintu tadi saat Asri berjalan mendekati Seti.


"Teman mbak," Asri tersipu malu menjauh, mendekat ke arah Seti.


Berdiri berhadapan, senyum dan riasan sederhana Asri menggoda Seti merapat lebih dekat, lalu menyalaminya.


 "Ngobrol di luar saja yuk As, kalau kamu mau." Seti  merasa tak enak Asri berdiri berlama di halaman.


"Sebentar aku ambil dompet dan sepatu  dulu." tak menolak ajakan Seti, Asri berbalik ke dalam kost Mantrijeron mengambil dompet dan sepatu di kamarnya. Ada suara godaan terlontar  ke arah Asri saat  ke luar lagi menghampiri Seti.


Berpamitan ke arah perempuan yang tadi menggoda Asri. Seti membuka perkenalan dirinya sebelum meninggalkan kost Mantrijeron bersama Asri.


...----------------...


"Ke mana kita ?" tanya Asri di tengah laju si Denok.


"Malioboro."


"Aku belum pernah ke sana." suara Asri terdengar senang, mendengar Seti mengajaknya ke Malioboro.

__ADS_1


"Ada tempat enak di sana buat ngobrol," Seti masih menyembunyikan tentang lapak Joe. Ingin memberi kejutan kepada Asri.


"Angkringan ?"Asri penasaran. Tertawa kecil mencoba menerka.


"Bukanlah. Tempat nongkrong biasa aja. Lihat orang lalu lalang. Siapa tahu ketemu teman Purwokerto kita,"


"Kupikir angkringan," Asri tertawa lagi. Semakin penasaran.


"Kamu senang nongkrong di angkringan ?"


"Asal bareng kamu," 


"Nanti pulangnya kita ngangkring lagi di tempat kemarin."


Percakapan di atas si Denok terhenti. Kemacetan mulai terasa memasuki Kotabaru. Hati-hati Seti mencari jalan ke arah Malioboro.                               


...----------------...


Menyeberangi Malioboro, menengok ke arah Utara sambil melambaikan tangan kanan meminta jalan ke arah motor dan mobil yang melintas, tangan kiri Seti erat menggandeng tangan Asri. 


"Kenal dia As ?" tunjuk Seti ke arah lapak yang terlihat ramai di depannya setelah menyeberang.


Mengikuti tangan Seti yang menunjuk seseorang. Asri bergumam, "Itu Joe kan ?" masih sedikit ragu, dia mencoba menerka sosok yang ditunjuk Seti.


"Yups, diam-diam saja kita mendekat." 


Joe menoleh ke arah seseorang yang menepuk pundaknya. "Asriiiiii ...," serunya girang. "Duduklah," tangannya menyorongkan  dingklik ke arah Asri tak lama setelah keterkejutannya hilang. Tak menyangka Seti benar-benar mengajak Asri ke lapak-nya.


"Wah jadi juragan sekarang." goda Asri ke arah Joe. Pandangan matanya berkeliling menatap sekitar lapak.


"Seti mana Joe ?" tanya Asri menyadari Seti yang tiba-tiba saja tidak ada di antara mereka.


"Paling lagi beli minum. Bentar lagi juga nongol." jawab Joe. Paham dengan kebiasaan Seti.                 


...----------------...


Seti muncul di tengah percakapan Asri dan Joe tentang Jogja, kost dan kampus masing-masing. Tiga cup coklat panas dan sekotak bakpia yang ditentengnya diletakkan di meja kecil sudut lapak. 


"Minum As. Maaf tadi banyak orang waktu aku pergi membelinya." kata Seti.


"Kupikir kamu kemana." tangan Asri mengambil satu cup coklat panas yang diulurkan Seti ke arahnya. Mencicip isinya sedikit. Kelegaan terlihat di wajah Asri yang tersorot lampu jalan. Merasa senang Seti sudah ada di sampingnya lagi.


Joe berdiri, membiarkan Seti mengambil duduknya lalu kembali berteriak-teriak  merayu pembeli yang melintas.


Lapak Joe kelihatan lumayan ramai malam itu. Senyum yang lebar dan teriakan Joe kelihatannya memikat pengunjung. Satu dua orang menghampiri.


Mendekati jam delapan malam, trotoar Malioboro semakin meriah.  Sebelah Timur warung lesehan dengan suara jrang jreng  gitar pengamen jalanan yang mengantri mencari receh. Di Barat dengan teriakan masing-masing lapak dagangan khas Jogja.


Tertarik cara Joe merayu pembeli, Asri  berdiri mendekat. Iseng ikut menawarkan gelang dan kalung monel lapak itu.


Tak menyangka akan ada yang menanggapi. Asri sedikit canggung saat beberapa pelancong laki-laki tertarik dan berhenti mengamati pernak pernik yang ditawarkannya. Mungkin juga sekedar ingin mengamati  kecantikan Asri dari dekat.


Joe dan Seti yang sedang memoles dompet tertawa senang melihat Asri tersenyum memamerkan selembar sepuluh ribuan keberhasilannya menjual dua kalung monel.


"Cocok kamu jadi SPG lapak ini As," goda Joe. "Minta gaji berapa ?" ujarnya lagi sambil terkekeh.

__ADS_1


"Gombaaal ..." seru  Asri masih tersenyum riang, menyerahkan uang tadi ke Joe. Duduk lagi menyebelahi Seti yang masih asik memoles dompet dagangan.


"Bakat juga kamu berdagang." Seti menyanjung Asri.


"Kebetulan saja. Mungkin rejeki Joe juga." Asri melongok ke arah kardus di depan Seti. Ingin tahu dompet-dompet kulit motif etnik yang terlihat cantik bertumpuk di dalamnya.


"Aku ingin tahu kost-mu," Asri mengalihkan topik. Penasaran di mana Seti tinggal.


"Sekarang ?" Seti sedikit terperanjat. Tak menyangka akan ada pertanyaan itu dari Asri.


"Menurutmu ?"


"Jangan sekarang. Sudah terlalu malam. Besok pagi saja bagaimana. Kita mancing di Timoho. Kalau dapat, kita masak di kost-ku. Sekalian kukenalkan dengan teman dan yang punya kost."


"Janji loh." 


"Iya pasti. Jam sembilan pagi kujemput."


Mengangguk, Asri menghabiskan isi cup coklat yang sudah mendingin. Wajahnya terlihat semakin berbinar menikmati sensasi malam minggu Malioboro.


Seti meletakkan dompet-dompet yang sudah selesai dipolesnya ke rak dagangan Joe. Menyapunya dengan kemoceng bulu ayam memastikan tak ada debu yang melekat.


Joe menanyakan jam ke arah Seti. Keasikan dan keriangan lapak melupakan waktu. Teringat kost Mantrijeron, Seti berpaling ke arah Asri. "Sebaiknya aku antar kamu balik dulu As. Jangan sampai aku kena semprot mbak Yem lagi." kata Seti setelah melihat jam di arlojinya.


"Tapi masih sempat mampir ke angkringan  kemarin kan?" Asri berdiri dari duduknya. Menyadari waktu yang diingatkan Seti.


" Hahaha... ayo kalau itu mau-mu." Set bergegas berdiri. Berteriak pamit ke Joe yang lalu mendekat.


Melihat Joe menyelipkan selembar lima ribuan ke saku Seti, kedekatan mereka semakin dimengerti Asri. 


Kesenangan itu tidak harus melulu tentang apa yang didapat, tetapi lebih ke cara mendapatkan dan membaginya. Di Malioboro Asri mendapatkan kesenangan pertamanya. 


Asri menggenggam erat tangan Seti saat meninggalkan lapak Joe yang mengawasi dari belakang. Ada kepuasan di hatinya tentang persinggahan pertamanya di Malioboro bersama Seti dan Joe.                          


...----------------...


Jam sembilan kurang seperempat Seti dan Asri sampai di kost Mantrijeron. Untungnya tadi tidak berlama-lama di angkringan. Hanya memesan teh jahe dan empat iris ketan bakar.


Sedikit memaksa, Asri mengajak Seti duduk menemaninya sebentar di teras "Terimakasih Set. Aku senang di lapak Joe tadi. Nanti kalau pas balik dari Purwokerto aku pasti mampir lagi. Tinggal jalan kaki dari stasiun."


"Sama-sama."


"Kost-mu berapa orang Set ?" lanjut Asri. Masih penasaran Ingin tahu lagi tentang kost Seti.


"Cuma tiga kamar. Kost sederhana tapi enak buat belajar."


"Galak tidak yang punya kost ?"


"Emangnya kost-mu ... Ada mbak Yem," Seti tertawa."Baik kok yang punya kost. Besok kan kamu tahu."


Asri tertawa  mendengar Seti menyebut mbak Yem. Keduanya tergelak.                  


 -----------------


*Andong : pedati beroda empat yang ditarik dua ekor kuda.

__ADS_1


*Gombal : kain usang dalam bahasa Jawa.


__ADS_2