Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
38. Tentang Niatan


__ADS_3

Masih tentang kopi, Omong-omong tentang kopi adalah ingatan pahit yang mengendap.


Acapkali kopi terseduh panas tak untuk seketika disesap.


Mengaduknya tatkala suam, tak ubahnya mengaduk.aduk ampas keruh kenangan....


Pahitnya manis, bukan ?


Seti memperhatikan larik kata di diary Asri yang terbuka di meja kedai ikan pulau Drini. Mungkin terlupa atau sengaja digeletakkan begitu saja ketika yang punya bergegas mandi setelah membuatkan kopi tubruk yang masih mengepulkan uap panasnya. Harum kopi mengusik siapa saja untuk berlama-lama meresapi aroma kehangatan itu di dekatnya.


"Kopi dari mana Dib ?" Tanya Seti ke arah Dibyo yang duduk di depannya, "Rasanya seperti kopi warung mbah Jum," lanjutnya lagi sambil meniup gelas kopi panas ditangannya setelah mencicip sedikit.


"Memang dari mbah Jum kata Asri," Dibyo tertawa. "Jadi satu dengan dus belanjaan yang kalian bawa tadi saat aku menanyakannya,"


"Pantaslah rasanya seperti kukenal," Seti ikut tertawa.


"Kurang manis tidak ?" Asri yang selesai mandi mendekat lalu duduk bergabung dengan dua laki-laki itu.


"Pas banget," Dibyo memuji kopi buatan Asri yang barusan duduk menyebelahinya.


Seti melirik wajah kekasihnya yang mengumbar senyum mendengar pujian Dibyo. Melihat senyum itu, lelahnya terasa hilang.


Jika saja kedatangan Seto tidak bersama Bening sebenarnya Seti tidak akan menginap di kedai Drini.


Tak enak menyinggung permintaan Asri untuk membahas ikatan yang lebih jauh tentang kedekatan hubungan mereka dengan Seto saat di Jogja membuat dirinya mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu dengan Seto dulu sebelum membicarakannya dengan Bapak dan Ibu kelak.


Merasa kedai Drini adalah tempat yang pas untuk membicarakan kegundahan isi hatinya dengan kakaknya, Seti memutuskan untuk menginap dulu di Drini mendahului Seto yang akan menyusulnya besok pagi.


Malam ini dibulatkan tekadnya untuk membahas hubungan kedewasaannya dengan Asri.


Walaupun Asri sudah memahami dan tidak mempersoalkan permasalahan skripsinya, tetap saja membuat kepercayaan diri Seti untuk melangkah ke ikatan yang lebih jauh masih hanya sebatas ada di pikirannya saja.


Melihat Asri kekasihnya, Hening, Joe, Doni dan Yuni yang sudah menyelesaikan kuliahnya sebenarnya membuat Seti semakin keras berupaya menyelesaikan ketertinggalan waktu kuliahnya.


Dan tentu saja berharap ada saatnya Seto membantu meringankan kegelisahan isi hati dan beban pikiran pertanggungjawaban kedekatannya dengan Asri.


"Aku mandi dulu Set," suara Dibyo membuyarkan semua yang ada di benak Seti.


"Ya mandilah, ... nanti makan bareng dulu sebelum ke ladang Bapak." Jawab Seti sambil mengingatkan Dibyo yang akan memberitahu kedatangan Seti dan Asri kepada Bapak dan Ibunya yang kebetulan sedang menginap di ladang tak jauh dari kedai Drini.

__ADS_1


...----------------...


"Apakah aku harus secepatnya melamarmu As ?" Seti membuka percakapan tak lama sepeninggal Dibyo.


"Aku ingin selalu bersamamu Set, tak pantas jika kita seperti ini terus-terusan," mata Asri menatap tajam ke arah Seti yang sedang menyalakan rokok.


"Jika saja mas Seto tidak sedang dekat kembali dengan mbak Ning, aku tak akan berlama menunda permintaanmu," Seti mencoba menghindar dari tatapan Asri dengan memainkan rokok di tangannya. "Bagaimanapun juga aku harus menjaga perasaan mas-ku dan mbak Ning, jika aku melamarmu tanpa membicarakan hal itu dulu dengan mereka," ungkap Seti lagi.


"Bagaimana jika tukar cincin dulu sebagai tanda ikatan keseriusan terhadap keluarga kita ?" Asri bergumam lirih, tak ingin kata-katanya semakin membebani Seto.


Mendengar kata-kata lirih Asri barusan, semakin tak karuan isi hati Seti.


Jika tentang semua ubo rampe tukar cincin dalam adat Jawa. Jauh-jauh hari sudah disiapkan Seti ketika Asri diwisuda. Asri juga sudah tahu dirinya membeli dua cincin emas dengan ukiran sederhana nama dirinya dan Asri sebagai hadiah kelulusan kuliahnya sekaligus tanda paningsetan pengikat erat dua pihak keluarga yang berencana bersatu dalam suatu ikatan rumah tangga.


Seti juga paham pertunangan dan lamaran adalah sesuatu yang berbeda. Merasa kedekatan dirinya dengan Asri sudah terlalu jauh, sebenarnya Seti juga tak mau berlama menunda hubungan itu ke arah keseriusan yang lebih bertanggungjawab.


Pertunangan atau langsung melamar Asri sudah dimantapkannya. Sampai kemudian cerita masa lalu Seto dan Bening bersemai kembali di tengah kemantapan keseriusan rencana itu.


Jika hambatan tentang kuliahnya tidak dipermasalahkan Asri dan keluarganya, justru kedekatan kembali hubungan Seto dengan Bening sepeninggal Joko itulah yang merisaukan hati Seti.


Dirinya tak mau mendahului Seto dalam urusan keseriusan hidup berumah tangga. Bagaimanapun ada ketidak nyamanan adab di dirinya jika melangkahi kakaknya dalam urusan itu.


"Besok aku akan membicarakannya dengan mas Seto dulu," Seti mengelus lembut rambut Asri yang bersandar di bahunya. "Aku yakin apapun yang mas Seto kehendaki pastilah yang terbaik bagi hubungan kita." Bisik Seti pelan di sela elusan lembut tangannya.


Suara beberapa sepeda motor yang berhenti di depan kedai menepikan kemesraan sepasang kekasih itu.


Seperti akhir pekan yang lalu-lalu, kedai ikan pulau Drini mulai mengusik rasa lapar pelintas pantai selatan Gunung Kidul untuk melepaskan hasratnya.


Dibyo yang mendengar suara kesibukan kedai bergegas menyiapkan bakaran ikan di samping kedai. Seti menyiapkan kopi dan teh panas pesanan pengunjung kedai yang masih memilih milih ikan yang ditawarkan Asri.


Sejenak pembicaraan roman Seti dan Asri terjeda rutinitas kedai ikan Drini yang menyenangkan ...


...----------------...


Hampir tiga jam kedai ikan pulau Drini ramai dengan celotehan pengunjungnya. Tentu saja ada godaan canda laki-laki ke arah Asri yang menanggapinya dengan keriangan yang seperlunya. Sebatas menyenangkan hati pengunjung kedai.


Seti sesekali ikut tertawa memperhatikan keriangan itu sambil mengantarkan ikan yang selesai dibakar Dibyo.


Bakaran ikan dan lobster Dibyo memang menjadi andalan kedai ikan pulau Drini.

__ADS_1


Pengunjung yang menyempatkan waktunya untuk mencicipnya pasti menceritakan kepada yang lain sepulang dari tempat itu. Tak heran selain harganya yang terjangkau, tentang rasa bakaran ikan juga menjadi nilai tambah kepuasan pengunjungnya.


Seti-lah yang pertama kali merasakan bakaran ikan Dibyo saat singgah di Drini dulu. Tidak sia-sia dirinya mengusulkan Dibyo kepada Seto untuk mengurus bakaran ikan ketika kedai mulai berdiri.


Dari percakapan pengunjung kedai, Seti mendengar besok pagi akan ada even lintas alam motor ke arah pulau Timang. Pulau terpencil tempat nelayan darat setempat mencari lobster.


Tidak mudah menuju tempat itu. Sekitar 10 km jalan berbukit kapur yang menanjak dan berliku. Butuh keahlian dan keberanian pemotor off road untuk melintasinya dari jalan raya pantai selatan yang beraspal.


Seti pernah ke pulau Timang bersama Asri dan Dibyo. Membenarkan cerita pengunjung kedai ikan pulau Drini tentang sulitnya medan. Apalagi jika musim penghujan. Hampir tidak ada akses ke pulau itu.


Tak heran harga lobster di sana sangat murah karena banyaknya tangkapan tanpa bisa membawanya ke luar.


Beberapa saudara Dibyo tinggal di sana. Kedekatan itulah yang membuat harga lobster dan ikan bakar kedai pulau Drini menjadi terjangkau. Jika Seti dan Asri memasok beras dan bumbu-bumbu setiap minggu dari Jogja, maka rutinitas ke pulau Timang untuk membeli lobster dilakukan Dibyo untuk kedai ikan pulau Drini.


Tak terasa hampir jam sebelas malam. Pengunjung terakhir meninggalkan kedai ikan pulau Drini. Biasanya mereka mendirikan tenda di sepanjang pantai atau menumpang menginap di tetua kampung yang dilewati untuk menghabiskan malam panjangnya menunggu matahari terbit di pantai selatan yang masih alami.


"Nanti pinjam si Denok buat ke ladang Set," kata Dibyo di sela suapan makan malamnya yang tertunda dengan kesibukan kedai.


"Jangan lupa siapkan gaplek buat mas Seto besok," Seti mengingatkan pesanan kakaknya.


"Ya ... Ibu tadi pagi sudah menyiapkannya," Dibyo bergegas menyelesaikan makannya. "Nanti lampu minyak luar jangan dimatikan dulu. Sekali-kali kedai ini biar terlihat terang semalaman menemani obrolan kita," lanjutnya sambil meninggalkan meja makan.


"Biarkan saja piring dan gelasnya mas Dib, nanti aku cuci," sela Asri melihat Dibyo akan membawa piring dan gelasnya ke dapur.


"Sip sip sip ... ok aku jalan dulu ya," Dibyo pamit meninggalkan kedai menuju ladang Bapaknya.


Asri membereskan sisa makan malam sepeninggal Dibyo, membawanya ke dapur.


Seti menutup jendela lalu ke luar memastikan api sisa bakaran ikan telah padam.


Menggelar tikar di atas pasir hangat setelahnya. Seti duduk memandang garis pantai yang entah kenapa langit berbaik hati menyingkirkan mendung yang menutupinya. "Semoga besok pagi cuaca cerah," gumam Seti dalam hati. Teringat niatnya bercerita banyak dengan Seto.


"Selimut Set," Asri menyusul Seti tak lama kemudian dengan selimut dan secangkir besar teh jahe hangat kesukaannya.


Menerima uluran selimut. Seti membiarkan Asri rebah di pangkuannya. Menyelimuti tubuh kekasihnya hati-hati dari serpihan pasir pantai.


Tak ada kata yang terucap. Masing-masing menikmati sentuhan kedewasaan dan tatapan mata tentang isi hati ...


 ------------

__ADS_1


Ubo rampe : pernak pernik syarat suatu upacara adat Jawa


__ADS_2