Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
32. Kembali Ke Banjarejo


__ADS_3

Sang Waktu terus berjalan dengan keangkuhan teka-teki hari esok yang rumit. Esok penuh tawa, esok penuh tangis, esok penuh amarah adalah keniscayaan yang bisa saja salah satunya menyentuh seseorang. Tinggal siap atau tidak menghadapinya.


Hari-hari Seti di Jogja juga bersinggungan dengan ketidakterdugaan tentang hari esok. Tak menyangka Seto akan mengunjunginya lagi di Jogja setelah kepulangannya tahun lalu.


Jika tahun lalu kepulangan kakaknya untuk menengok Joko, kali ini Seto mengajaknya mencari tempat untuk membuka rumah makan kecil-kecilan di dekat pantai yang masih sepi.


Seto yang semula hanya akan mendaftar kuliah di Purwokerto seperti rencananya jika kapal tempatnya bekerja naik dok dan bertepatan dengan selesainya kontrak kerjanya akhirnya tertarik dengan cerita Seti tentang pulau Drini dan pantainya setelah dirinya berpikir keras bagaimana caranya supaya sisa tabungannya cukup untuk membiayai kuliah dirinya dan Seti.


Membuka rumah makan spontan saja ada di kepala Seto ketika Seti mengajaknya melihat pantai Parangtritis setahun yang lalu saat berkunjung ke Jogja menemui Seti.


Sempat menengok Joko dan Bening di rumah Jengki, niat hati Seto untuk menyinggung uang yang masih dipakai Joko diurungkan setelah melihat kondisinya yang belum pulih.


Memang saat itu Joko menawarinya untuk ikut andil mengelola bengkel Sokaraja setelah mendengar Seto akan kuliah lagi di Purwokerto. Tak langsung mengiyakan permintaan itu, Seto hanya berjanji akan menjawabnya setelah melihat-lihat pantai di pelosok Gunung Kidul menuruti ajakan Seti.


...----------------...


Kanan kiri rumah Dibyo tampak sepi di siang menjelang tengah hari ketika Seti dan Seto sampai ke rumah Banjarejo. Masih terlihat seperti dulu seperti yang dilihat Seti saat terakhir singgah. Tiang jati tua yang menopang atapnya masih kokoh tanpa polesan pelitur. Keempat tiang ini biasa disebut dengan soko guru. Menggambarkan kekuatan dari empat penjuru mata angin yang melindungi ketika ada bencana datang.


Tak berapa lama setelah mengetuk pintu, Dibyo keluar menyambut keduanya dengan senyum ramahnya. Mengajak keduanya masuk lalu masuk ke dalam rumah membiarkan Seti dan Seto beristirahat dulu sejenak di ruang tamu.


Seto menyapukan pandangan ke setiap sudut ruang tamu rumah Banjarejo ketika memasukinya. Mengagumi arsitek rumah kayu itu yang sangat menguasai filosofi rumah jawa yang terbuat dari kayu. Mengingatkannya dengan konstruksi rumah Joglo di Purbalingga.


Angin bertiup masuk dari pintu utama yang terbuka lebar membawa kesegaran yang menghilangkan rasa lelah kakak beradik itu setelah perjalanan dari Jogja. Seti yang sudah merasa menjadi bagian dari rumah Banjarejo tiduran merebahkan badan menikmati kesejukan udara siang Banjarejo.


"Teh keroncong mas," Dibyo yang masuk membawa nampan dan ceret teh menyapa Seto yang sedang memandang ke arah deretan pohon jati di luar rumah.


"Ya, suwun," Seto mengalihkan pandangannya ke arah Dibyo.


"Kalau tidak datang mendadak sudah kucarikan belalang buat teman minum teh mas," Dibyo menuangkan isi ceret ke gelas yang ada di meja. "Ini ada gaplek sisa panen kemarin," lanjut Dibyo lagi sambil menyodorkan piring berisi gaplek ke arah Seto.


Harum aroma gaplek yang masih panas menggoda Seto untuk mencicip penganan yang baru dilihatnya. Merasa pas dengan rasanya, Seto mengambil segenggam lagi dari piring sambil memperhatikan Seti dan Dibyo yang sedang berbincang tentang maksud kedatangan mereka.

__ADS_1


Kebetulan Bapak dan Ibu sedang di ladang, jadi kita bisa nginap di pondok sepulang dari Drini," Dibyo mengajak Seti dan Seto untuk menginap di ladang.


"Sedang musim apa sekarang di ladang ?" Tanya Seti.


"Semangka dan sedikit bawang merah bawang putih," sahut Dibyo.


"Ada singkong ?" Seto menyela, ingin tahu tanaman lain di ladang.


"Tinggal beberapa mas, sisa panen bulan lalu," Dibyo mengalihkan pandangan ke arah Seto.


"Bagaimana hasil panennya ?" Seti nimbrung lagi di percakapan yang semakin akrab.


"Ya lumayan. Paling tidak buat bayar semesteran dan kostku sudah ada Set," Dibyo tersenyum senang menceritakan hasil panen singkong.


Seti ikut tersenyum mendengar cerita Dibyo. Tidak terasa sudah tiga tahun dilewatinya bersama Dibyo dan Muji di kost Samirono. Muji yang sudah jadi sarjana juga masih tinggal di kost Samirono sambil bekerja di sebuah lembaga bimbingan pelajar. Besok pagi-pagi Muji akan menyusul ke rumah Banjarejo dengan motor kantor.


"Bagaimana kabar lapak dan Asri ? Baik-baik saja kan ?" Dibyo mengalihkan percakapan.


"Asri ?" Dibyo mengulang pertanyaannya ke arah Seti.


"Lagi balik ke Purwokerto. Minggu depan ke Jogja lagi persiapan KKN,"


"Oh, ... aku malah belum bisa KKN Set, belum ada uang," kali ini nada bicara Dibyo terdengar lirih.


"Kenapa tidak kamu ceritakan padaku ?" Seti terkejut mendengar keluhan Dibyo.


"Ah gak perlu, toh tahun depan aku bisa ikut. Mbak-ku mau jual simpanan kayu jatinya," jawab Dibyo sambil tersenyum.


Percakapan rumah Banjarejo terus mengalir. Sesekali Seto menghibur Dibyo dengan cerita masa lalunya. Bahwa tidak ada yang perlu dikuatirkan jika seseorang yang akhirnya menyadari kekurangannya mau berubah. Menyinggung rencananya untuk membuka rumah makan kecil-kecilan jika pulau Drini dirasa Seto cocok dengan keinginannya membuat Dibyo semakin bersemangat untuk menemani Seto ke pulau itu.


...----------------...

__ADS_1


Jam delapan pagi, telaga di belakang Balai Desa Banjarejo terlihat ramai saat Dibyo mengajak Seti dan Seto mandi. Beberapa tetangga menegur ramah ke arah ketiganya. Apalagi setelah mengetahui Seti dan Seto adalah tamu pak Kades yang menginap di rumah Banjarejo.


Beberapa perempuan muda yang sedang mandi terdengar tertawa cekikikan sambil berkali-kali mencuri pandang ke arah Seti dan Seto yang hanya bercelana pendek. Air telaga yang mulai surut dan agak keruh tak dihiraukan kedua kakak beradik itu. Mengikuti Dibyo yang sudah menceburkan diri, keduanya terlihat menikmati air telaga itu sambil membasuh tubuh liatnya.


Ada seperempat jam ketiganya berendam di telaga. Merasa cukup, ketiganya meninggakan telaga sambil membalas teguran beberapa warga sekitar yang mulai berdatangan. Keramahan tanpa basa basi warga Banjarejo menyenangkan hati Seti dan Seto.


"Kamu terkenal juga Dib," kata Seti "Jangan-jangan banyak yang antri menjodohkan anak gadisnya dengan anak pak Kades yang calon sarjana," Seti menggoda Dibyo.


"Hahaha ... bisa kuliah sampai kelar saja sudah bersyukur, kok mikir jodoh-jodohan... Bisa ngamuk keluargaku kalau kuliahku gagal gara-gara perempuan," Dibyo terbahak mendengar olok-olok Seti.


"Benar Dib ... jangan kayak Seti ... pacaran terus," Seto yang sudah merasa akrab membela Dibyo, berganti menggoda adiknya.


"Ah mas Seto ... apa yang salah tentang hubunganku dengan Asri ?" Seti mencoba membela dari godaan kakaknya. "Lagipula Bapak, Ibu dan mas Seto sendiri gak pernah mempersoalkan itu selama kuliahku baik-baik saja," ujarnya lagi setengah merajuk.


"Ah dasar play boy ... hahaha ..." Seto masih mengolok Seti.


Perdebatan tentang perempuan dan kuliah terus bersahutan dari mulut ketiganya sampai suara RX-Spesial yang meraung raung menghentikan perbantahan akrab itu tepat di depan rumah Banjarejo.


Masih dari atas motor itu, sosok tinggi kurus dengan jaket hitam melemparkan senyum.


"Halo dab ... ," logat medok dari sosok laki-laki itu membuat Dibyo terpingkal.


"Wah kurang sangar dab gayamu," Seti mengomentari penampilan Muji yang lain dari biasanya.


Celana jeans ketat, jaket kulit hitam, kacamata rayban, sampai sepatu boot kickers yang dipakai Muji berulangkali dipelototi Seti dan Dibyo sambil menggelengkan kepala. Masih tak percaya pelanggan bioskop Royal mencoba berpenampilan penonton bioskop Empire.


"Masuk dulu, sebentar kusiapkan sarapan sebelum kita berangkat," Dibyo mengajak masuk setelah percakapan riang itu.


Tak membantah, ketiganya mengikuti langkah Dibyo masuk ke rumah Banjarejo.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2