
Dalam Ramayana, harga diri seorang perempuan digambarkan dengan sangat apik melalui penokohan Sintha.
Bagaimana ujian harga diri perempuan seperti Sintha dideskripsikan oleh Walmiki lewat ujian pati obong yang dijalani Sintha ketika Rama meragukan kesuciannya setelah bertahun-tahun Sinta dalam cengkeraman Rahwana.
Bahkan ketika ujian itu terlewati, Sintha masih menghadapi desas desus istana tentang anak yang dikandungnya. Membuatnya kembali mengasingkan diri dari kerajaan Ayodhya demi harga dirinya.
Selesaikah ujian kesucian Sintha setelah menyepi sekian tahun di hutan sampai melahirkan anaknya ?
Ternyata tidak semudah itu pengorbanan Sintha untuk membuktikan kesucian sekaligus harga dirinya.
Sekembalinya ke istana Ayodhya desas desus itu justru berhembus semakin kencang. Pergunjingan tentang dirinya membuat Sintha kembali melakukan pembuktian terkait kesuciannya dengan meminta kepada Dewi Bumi untuk menyembunyikannya jika memang ia masih suci dan setia kepada Rama.
Dewi Bumi lalu terbelah yang kemudian mengabulkan permohonan Sintha, menelannya ke dalam perut bumi.
Tentu saja banyak versi sudut pandang tentang pengorbanan Sintha yang dibalas Rama dengan keraguan-nya.
Ada yang lalu menyayangkan pengorbanan Sintha, ada juga yang menyayangkan keraguan Rama setelah bersentuhan dengan kisah Ramayana-nya Walmiki.
Seperti dongeng Ramayana. Asri berhadapan dengan harga dirinya yang tergores luka Drini. Tersadar di atas ranjang rumah sakit mengingatkan apa yang telah dialaminya.
Rasa pedih dan sakit di sekujur tubuhnya tak begitu menyiksa Asri ... Dirinya lebih tersiksa dengan harga diri kewanitaannya yang tergores noda luka membekas di Drini.
Awal-awal terbaring lemah di rumah sakit. Hari-hari Asri lebih banyak dihantui dengan kekuatiran dan ketakutan mengenai rencana ikatan hubungannya dengan Seti.
Bagaimana menghadapi gunjingan banyak mulut jika kelak rencana itu terwujud hanya sebab untuk menutupi petaka yang menimpa dirinya di Drini menjadi teror yang sangat mengganggu dirinya.
Tidak mudah memang menghadapi petaka yang menyangkut harga diri dan kehormatan kewanitaan seseorang.
Jika Sintha menghadapi semua pergunjingan sendirian dengan Rama yang meragukan apa yang dialami. Untungnya tidak dengan Asri.
Sempat ada keraguan di hatinya mengenai kesungguhan Seti untuk terus mendampinginya akhirnya tertepis.
Orang baik di sekelilingnya yang bergantian menemani dan mendukungnya, pelan-pelan menyingkirkan semua prasangka yang ada dari dalam pikiran Asri.
Sempat berniat untuk menghilang, ... membiarkan dan melupakan kejadian Drini. Akhirnya keberanian untuk melawan ketidakberdayaan yang melukai kewanitaan-nya muncul di hati Asri.
__ADS_1
Kepercayaan diri Asri semakin pulih melihat kesungguhan dan ketegasan Seti selama mendampingi hari-hari beratnya.
Keluar dari kesunyian sakitnya untuk berhadapan dengan publik akhirnya menjadi ketetapan hati Asri.
Kepercayaan bahwa Seti tak akan membiarkannya sendirian menghadapi dan membuka tabir kejadian Drini setidaknya menjadi awal keberanian perlawanan Asri terhadap apa yang telah dialaminya. Luka itu perlahan menjadikan sisi kewanitaannya menguat.
Apapun pergunjingan media ketika pintu membuka diri terbuka lebar adalah suatu konsekuensi yang siap dihadapinya.
Kelulusan Seti dan kejelasan arah hubungan dirinya dengan Seti seperti yang didengar dari kata-kata tegas Seti datang pada saat yang tepat... Semakin mengobati dan memulihkan sakit batin akibat harga diri kewanitaan Asri yang terluka di Drini ...
...----------------...
"Jika itu kehendakmu, ... aku akan selalu di sampingmu," Seti memeluk erat Asri di sela gemuruh dadanya yang mereda setelah mendengar keluh kesah Asri tentang Drini.
"Tidak baik aku membiarkannya berlama-lama. Semua orang harus tahu apa yang kualami di Drini ... untuk apa aku memendamnya jika semua orang toh akhirnya akan menyinggungnya ... Entah di depan atau di belakangku," Asri menikmati pelukan Seti. Ada kelegaan dari nada bicaranya yang kini tenang.
Kanopi pohon mangga teras kost Mantrijeron meneduhi pembicaraan serius sepasang kekasih itu.
Kebetulan penghuni kost yang lain pulang ke kota asalnya setelah ujian semester di kampus masing-masing.
Tak ada yang berubah dari kost Mantrijeron selain penghuninya yang datang dan pergi seiring waktu. Kebanyakan betah di kost itu sampai selesai urusan kuliahnya. Jika bukan karena Seti, sebenarnya Asripun berniat akan meninggalkan kost itu setelah kelulusan kuliahnya.
Kedekatannya dengan mbak Yem dan Sri anaknya membuat dirinya diperbolehkan tetap kost di situ setelah kelulusan kuliahnya.
"Bagaimana kabar Sri ?" Seti menanyakan Sri anak mbak Yem setelah dirinya merasa tak akan ada lagi kebimbangan Asri tentang urusan perkara Drini.
"Tambah lucu dan pintar ... sekarang sudah kelas satu," jawab Asri, "Tiap malam dia pamer pelajaran sekolahnya ke Ibu," lanjutnya sambil tertawa kecil.
Mendengar tawa lepas yang keluar dari bibir Asri, semakin yakin hati Seti jika sebagian beban pikiran kekasihnya itu sudah tergantikan dengan suasana lain yang lebih menyenangkan hatinya.
Perbincangan hangat yang sempat tertidur sekian lama terbangun lagi... Dua jiwa itu semakin menguat tak terpisahkan cerita masa lalu yang sempat mengganggu keduanya dengan keras.
Cerita tentang mbak Yem dan Sri semakin menghidupkan teras kost Mantrijeron. Tawa Asri semakin lepas ketika Seti menyinggung kegalakan mbak Yem di awal persinggahan Seti di kost Mantrijeron.
"Nanti kalau mbak Yem mendengar kamu lulus, pasti dia akan ikut senang," Asri mengerling manja. "Cuma kamu loh Set laki-laki yang sering ditanyakan mbak Yem dari awal kedatanganmu sampai tadi malam,"
__ADS_1
"Apa yang ditanyakannya ?"
"Kapan kamu menikahi aku ... hihihi ... "
Godaan Asri semakin menunjukkan suasana hatinya yang sudah kembali membaik.
"Ahahaha ... yakin kamu mau menerima lamaranku ?" Seti balas menggoda Asri.
Asri hanya tertawa kecil, lalu mencubit keras lengan Seti yang melingkar memeluk pinggang ramping-nya.
"Selesaikan dulu urusan wisudamu dan temani aku menyelesaikan urusan Drini,... Aku pasti siap menjadi istrimu ..."
...----------------...
"Om Setiiiii ...!" Teriakan bocah perempuan dari depan pintu pagar kost Mantrijeron mengalihkan Asri dan Seti dari pembicaraan keduanya.
"Halo anak cantiiik ... " Seti membalas teriakan itu sambil melambaikan tangan ke arah pagar.
Sri bocah lucu itu berlari ke arah Seti. "Sri sekarang sudah kelas satu... sudah bisa baca cerita om," bocah itu melanjutkan tingkah lucunya. Berputar-putar di depan Seti memamerkan baju SD-nya yang sedikit kebesaran.
"Jangan nakal ya..." Mbak Yem yang mengikuti Sri mengingatkan anak perempuannya setelah menghampiri Seti dan menyalaminya.
Baru kali ini Seti bertatap muka dengan Sri sejak Asri pulang dari rumah sakit ke kost Mantrijeron. Tingkah bocah itu memamerkan segala yang baru ditemuinya di kehidupan sekolah barunya tak henti diceritakannya kepada Asri dan Seti.
"Itu apa tante ?" Perhatian Sri beralih ke arah keranjang buah manggis yang tergeletak di meja.
"Ini namanya buah manggis," Asri mengelus kepala Sri, memberikan sebiji manggis yang tadi dibawa Seti. "Coba tebak ada berapa isinya ?"
Mengajari bocah kecil seperti Sri dengan hal-hal yang baru dikenalnya seperti cara menebak isi buah manggis sangat menyenangkan. Terutama ketika ada raut kepuasan dari ketidaktahuan-nya menjadi suatu pengetahuan dari si bocah.
Begitu juga dengan Asri ... Mengetahui perjalanan hidup yang paling menyenangkan dirinya adalah ketika dua jiwa yang sudah saling berjanji akan bersatu tidak terpisahkan oleh suatu sebab apapun selain kematian ...
Berharap lika liku perjalanan hidupnya akan berakhir dengan tanpa saling kehilangan seperti semestinya ketika suatu persoalan menimpa menenangkan hati Asri ketika memahami Seti setia mendampinginya.
Kebulatan tekad Asri untuk menyelesaikan urusan perkara Drini bersama Seti setidaknya menegaskan dua belahan jiwa itu semakin kokoh untuk dipersatukan...
__ADS_1
...----------------...