
Pasar Beringharjo di pagi hari awal tahun 1995 terlihat ramai. Tetesan sisa air hujan semalam yang mengguyur Jogja tampak menetes dari sela-sela atap terpal yang menaungi los penjual jajanan di sebelah depan pintu masuk.
Di tengah kesibukan masing-masing los pasar tradisional itu dua pasang kaki terlihat lincah menghindari beberapa genangan air yang menggenang di lantai. Melangkah cepat ke dalam pasar.
Beberapa ibu-ibu penjual jajanan menyapa sepasang laki-laki dan perempuan muda yang sedang bergegas tadi dan merayunya untuk membeli dagangan yang digelar. Seti dan Asri sepasang muda-mudi itu membalasnya dengan senyum ramah. Keduanya meneruskan langkahnya di tengah geliat pagi Beringharjo yang mulai menghangat.
Beringharjo konon berasal dari kata Bering yang berarti hutan beringin, dan Harjo atau kesejahteraan. Nama ini memiliki arti wilayah yang sebelumnya hutan beringin diharapkan dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sebagai pusat jual beli kebutuhan sehari-hari yang keberadannya tidak lepas dari eksistensi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Semula Sultan HB I membangun sarana perdagangan melalui pasar tradisional berupa deretan lapak-lapak sederhana yang kemudian berkembang bersamaan dengan semakin ramainya ibu kota Kesultanan Yogyakarta ketika pemerintah Hindia Belanda mulai mengembangkan pemukiman orang Belanda beserta fasilitas publik lainnya di sekitar kawasan pasar tersebut, yang diikuti pula oleh orang-orang Tionghoa.
Sultan HB I menangkap situasi tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan pasar yang masih sederhana tapi luas dan ramai itu. Pada tanggal 24 Maret 1925, Sultan HB I memberikan proyek pembangunan los-los pasar kepada Perusahaan Beton Hindia Belanda atau Nederlandsch Indisch Beton Maatschappij. Pada akhir Agustus 1925, 11 kios telah terselesaikan, dan kemudian yang lainnya menyusul secara bertahap. Pada akhir Maret 1926, pembangunan pasar bergaya arsitektur Art Deco selesai dan mulai dipergunakan sebulan setelah itu untuk melengkapi pembangunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak tahun 1758.
Sesuai dengan pola tata Kasultanan Yogyakarta yang disebut dengan catur tunggal, Keraton dibangun sebagai pusat pemerintah dilengkapi dengan Alun-alun sebagai ruang publik, Masjid Gede Kauman sebagai tempat ibadah, dan Pasar Beringharjo sebagai pusat transaksi ekonomi. Nama Beringharjo berasal dari kata bering yang berarti beringin dan harjo yang berarti kesejahteraan. Pasar Beringharjo dibangun diatas bekas lahan hutan beringin yang diharapkan dapat memberikan kesejahteraan. Pembangunan Pasar Beringharjo yang modern mulai dilakukan pada 24 Maret 1925 oleh perusahaan beton dari Hindia Belanda. Interior Pasar Beringharjo merupakan perpaduan antara gaya khas Jawa dan kolonial.
Asri yang sudah berkali-kali masuk ke Beringharjo masih menikmati betul persinggahannya. Tidak seperti bayangan tentang pasar tradisional yang pernah dikunjunginya, kali ini selain berbelanja kebutuhan, selalu ada suasana wisata kegembiraan hati melepaskan segala kepenatan hanya dengan melihat-lihat segala macam dagangan yang tergelar di Beringharjo.
...----------------...
Asri menatap punggung tegap kekasihnya yang menggandeng tangannya dari depan. Genggaman erat tangan keras itu mengingatkan dirinya saat wisuda tahun lalu saat sentuhan mesra Seti merengkuh tangannya. Membagi rasa kebahagiaan kelulusannya saat mendampingi wisudanya.
Lima tahun sudah dilalui Asri bersama Seti di Jogja. Tak ada kebahagiaan lain di hari itu ketika kuliahnya akhirnya selesai di tengah badai keuangan keluarganya. Joko yang berpulang tepat satu tahun setelah berulang kali keluar masuk ruang perawatan Rumah Sakit sempat membuat Asri berpikir untuk cuti dari kuliahnya.
Jika tak ada Seti yang menopang biaya hidupnya selama di Jogja dan Seto yang membantu memulihkan keuangan bengkel, bisa jadi Asri belum menyelesaikan kuliahnya tepat waktu.
Selain dari lapak Malioboro, Seti mendapatkan penghasian tambahan yang diberikan kepada Asri dari kedai ikan milik Seto di pantai Drini yang akhirnya berdiri setelah Dibyo mau membantu lebih dulu setlah kuliahnya selesai dua tahun lalu.
__ADS_1
Semula kedai berdinding kayu sederhana dengan lantai berpasir yang berdiri di tepi jalan dekat ladang pak Slamet bapak Dibyo hanya sesekali disinggahi pembeli. Letaknya yang strategis dan Dibyo yang membantu memasok ikan laut dari pertemanannya dengan nelayan yang singgah pulau Drini perlahan menjadikan kedai ikan Seto menjadi besar.
Harganya yang terjangkau dan kesegaran ikan yang disajikan menjadikan kedai ikan Seto semakin dikenal dari mulut ke mulut. Semakin hari semakin banyak yang berkunjung ke kedai ikan itu, terutama di saat akhir pekan dan hari libur kalender.
"Kenapa melamun ?" Seti tertawa kecil lalu menegur pelan Asri yang tidak memperhatikan genangan air.
Teguran Seti dan sepatu kets-nya yang menginjak genangan air menyadarkan Asri dari lamunannya. "Ah ... sial," Asri terkikik menyadari sepatunya yang basah sebelah.
Menarik Asri ke arahnya, Seti memastikan kekasihnya menjauhi genangan air tadi, "Basah ?"
"Sedikit, ... gak apa-apa ... Nanti bisa ganti sendal di kost mu setelah selesai belanja." Jawab Asri.
Berbelanja beras, gula merah dan kecap di Beringharjo setiap pagi menjelang akhir pekan menjadi rutinitas baru Asri sambil menunggu jawaban lamaran pekerjaan yang dikirimkannya.
Dari Beringharjo bersama Seti singgah dulu ke kost Samirono menengok mbah Jum. Barulah menjelang sore berboncengan dengan Seti mengantarkan belanjaan ke kedai ikan pulau Drini yang ditunggui Dibyo.
...----------------...
"Eh cah ayu," suara mbah Jum ramah melihat Asri berdiri di pintu masuk warungnya.
"Sehat mbah ?" Asri beranjak masuk lalu mencium tangan mbah Jum.
"Sehat ... kowe sehat juga to ?" Mbah Jum balik bertanya, "Seti mana ?" Tanya mbah Jum lagi.
"Sehat mbah ... Seti lagi ngobrol sama mas Muji, nanti nyusul ke sini,"
__ADS_1
"Oh... buatkan kopi sana buat Seti,"
"Ya mbah." Asri masuk ke arah dapur, mengambil air panas yang mendidih di atas ceret untuk menyeduh kopi.
Tak lama Seti dan Muji menyusul masuk ke warung, lalu duduk di kursi makan dekat mbah Jum.
"Kopinya satu lagi As ... buat Muji," pinta mbah Jum ke arah Asri.
"Ya mbah," sahut Asri dari arah dapur.
Tak lama warung mbah Jum ramai dengan perbincangan akrab setelah Asri mengantarkan dua gelas kopi di meja.
"Kamar mas-mu sudah dibersihkan Set ?" Mbah Jum mengingatkan Seti untuk membersihkan kamar Seto.
"Sudah mbah." Jawab Seti.
Setelah diterima kuliah di Purwokerto dan kemudian mulai mendirikan kedai ikan di pulau Drini, akhirnya Seto kost di Samirono menempati bekas kamar Dibyo untuk transit selama bolak balik Purwokerto-Gunung Kidul di awal berdirinya kedai ikan pulau Drini. Sekarang hanya setiap awal bulan saja Seto menempati kamar itu, sebelum ke Gunung Kidul menengok kedai ikan pulau Drini.
Seto yang akhirnya semakin akrab dengan Muji di kost Samirono banyak berpesan kepada Muji untuk selalu mengingatkan Seti tentang kuliahnya.
Tak mau adiknya terbebani apabila diriya menyampaikannya langsung, lewat Mujilah Seto banyak menitipkan setiap keinginannya.
Muji yang tahu persis kedekatan kakak beradik itu mengiyakan permintaan Seto. Sepertinya Seto berharap Seti segera menyelesaikan kuliahnya, sehingga waktu buat menemani Asri semakin banyak.
Pembicaraan Muji dengan Seti tadi juga tak jauh tentang kuliah Seti yang menginjak semester sepuluh dan sepertinya Seti sedang kesulitan dengan materi skripsinya. Tidak seperti Joe dan Doni yang tinggal menunggu wisuda, Seti masih disibukkan dengan urusan konsultasi Tugas Akhirnya.
__ADS_1
...----------------...