
"Mau ke mana To ?" Nenek menegur Seto yang yang terlihat rapi.
"Ke Hopan Nek ... rumah teman,"
"Perempuan ?" Nenek terseyum ke arah Seto.
Seto membalas senyuman Nenek yang terlihat senang. Sejak tinggal di rumah Nenek untuk kuliah, berkali-kali Nenek menanyakan siapa teman perempuannya. Dan baru kali ini dirinya mengangguk menjawab pertanyaan Nenek.
Seto berjanji datang ke rumah Jengki menghadiri selamatan mendak pindho setelah dua tahun kepergian Joko ketika Bening memberitahu di bengkel Sokaraja. Dalam tradisi Jawa ritiual selamatan mendak pindho adalah tradisi megirim doa untuk orang yang meninggal supaya diampuni semua kesalahan dan dosa-dosanya serta dimudahkan jalan menuju Surga.
Seto bekerja membantu di bengkel setelah menuruti permintaan Joko sepulang dari rumah Banjarejo dulu di sela-sela kuliahnya.
Dari saat Joko masih dirawat di Rumah Sakit sampai meninggalnya, Seto tahu betul apa keinginan Joko dan apa yang harus dikerjakannya .
Pengalamannya selama bekerja mengurusi mesin kapal membuat Seto tak perlu berlama menguasai alat-alat bengkel Sokaraja yang dibeli Joko.
Perlahan kondisi keuangan bengkel membaik. Angsuran bank yang awalnya sempat ditalangi Seto mulai bisa tertutup dari pemasukan bengkel.
Ada binar kelegaan Joko saat pertama kali mendengar kondisi bengkel yang membaik dari cerita Bening istrinya.
Tuhan mengatur jalan semesta dengan kerumitan masing-masing penghuninya. Mendengar cerita bengkel modern yang diidamkannya akhirnya berjalan sesuai rencana, Joko merasa senang di saat-saat terakhirnya. Kehadiran Seto membuatnya berpulang dengan rasa damai.
...----------------...
Masuk ke halaman rumah Jengki setelah sekian lama membuat degup jantung Seto tak beraturan. Bagaimanapun banyak cerita tentang dirinya di rumah itu yang sangat membekas.
Menyalami beberapa tetangga yang sudah lebih dulu duduk di atas tikar, Seto menyandarkan punggungnya di tembok. Melempar senyum ke arah Bapak Joko dan beberapa karyawan bengkel yang duduk tak jauh di hadapannya.
Menunggu Modin Desa yang akan memimpin doa datang, Seto berbincang dengan tetangga rumah Jengki yang duduk di sebelahnya. Sesekali pandangan mata Seto mengarah ke dapur yang terlihat dari tempatnya duduk.
Melihat Bening yang membalas menatapnya dari dalam dapur, ada rasa tenang di hati Seto.
Dari tatapannya itu, Seto merasakan Bening sudah merelakan kepulangan Joko. Hanya saja permintaan Bening untuk berbicara berdua dengannya setelah acara selamatanlah yang menjadikan hati kecil Seto bergemuruh dipenuhi berbagai macam pertanyaan.
__ADS_1
Tidak ada pesan terakhir Joko membebani pikiran Seto. Permintaan Joko untuk ikut membantu membesarkan bengkel juga sudah diturutinya.
Tentang uang yang dipakai Joko juga tidak pernah dipikirkan dan ditanyakannya kepada Bening sepeninggal Joko.
Ucapan salam Modin Desa dari pintu masuk rumah Jengki mengalihkan berbagai pertanyaan yang ada di benak Seto. Membalas salam Modin Desa dan menyalaminya membuat pikiran Seto kembali tertuju kepada ritual mendak pindo yang akan dimulai setelah suasana rumah Jengki menyepi.
...----------------...
"Kamu keberatan menemaniku To ?" Bening memulai percakapan di teras belakang rumah Jengki dengan Seto setelah selamatan usai.
Menggelengkan kepala, Seto menatap tajam mata Bening. "Apa yang ingin kamu katakan Ning ?" Selanya kemudian.
"Aku hanya ingin meminta waktu untuk mengembalikan uang yang kamu pinjamkan kepada Joko," Bening menjawab langsung kegundahan hatinya.
Sedikit terkejut, Seto berpikir sejenak untuk membalas kata-kata Bening yang di luar dugaannya. Tentang uang yang dipakai Joko untuk angsuran bengkel sama sekali tidak pernah dipikirkan dan ditanyakannya kepada Bening.
"Darimana kamu menyimpulkan aku memintamu untuk mengembalikan uang itu ?" Mencoba membaca arah pembicaraan, Seto bertanya lagi.
"Apa hubungan semua ini dengan Hening ?" Seto masih mencoba mencari tahu lagi.
Terdiam sejenak masih dengan isakannya, rangkaian kata kemudian mengalir pelan dari bibir basah Bening. Tentang rasa lelahnya dengan kematian di rumah Jengki.
"Aku akan meninggalkan rumah ini jika Hening menyetujuinya,"
"Maksudmu ?" Seto terperanjat. Jari tangannya menggenggam erat telapak tangan perempuan yang mencoba membuka tabir kepedihan hati.
"Temani aku pergi kali ini To," sentuhan jemari tangan Seto dinikmati betul oleh Bening, "Aku akan menemui Hening di Jogja minggu depan ... membicarakan penjualan rumah ini." Nada lirih terus berlanjut dari bibirnya.
Jika meninggalnya Bapak dan Ibunya menjadikan kewanitaan Bening menjadi kuat dan mandiri sesudahnya. Tidak dengan kematian Joko. Kali ini kewanitaannya merapuh. Memilih meninggalkan rumah Jengki melupakan retakan hatinya yang dirasakannya akan menjadi kepingan tak tersatukan.
"Aku tak berhak masuk terlalu jauh ke dalam hubunganmu dengan Hening. Tapi tentang permintaanmu untuk menemanimu, aku berjanji tak akan membiarkanmu pergi dengan segala keresahanmu," Seto mendekap erat Bening, "Kumohon singkirkan pikiranmu tentang uang yang dipakai Joko," bisiknya kemudian.
"Jadi kamu berjanji akan menemaniku pergi kemanapun kali ini ?" Isak bening menghilang. Merasakan degup jantung laki-laki yang mendekap tubuhnya, mencoba menghangatkan jiwa rapuhnya.
__ADS_1
Mengangguk ke arah Bening ... satu tangan Seto erat memeluk, dan satu tangan yang lain memainkan rambut Bening ... Rumah Jengki lalu terdiam ...
...----------------...
Jam sebelas malam Seto masuk rumah Nenek. Tivi ruang tengah masih menyala. Mas Sarno terlihat pulas tertidur di depan tivi itu. Tak mau mengganggu lelapnya, Seto membiarkan mas Sarno. Beringsut perlahan ke arah dapur membuat kopi.
Lampu kamar Nenek menyala saat Seto mengaduk gelas kopinya. Tampaknya suara adukan sendok menyadarkan Nenek dari istirahatnya.
"Sudah pulang To ?" Suara Nenek menegur Seto terdengar dari dalam kamar.
"Ya mbah," Seto mendekat lalu masuk ke kamar Nenek.
Meletakkan gelas kopi di meja kamar. Seto duduk di karpet, mulai memijat lembut kaki Nenek yang duduk di pembaringan.
"Tumben kamu pulang malam ?" Nenek memejamkan mata menikmati pijatan Seto, "Pacaran ya ?" Lanjut Nenek lagi. Kali ini mulai terkekeh menggoda cucu lelaki tertuanya.
"Ah si Mbah... aku masih mandita loh," Seto ikut tertawa kecil menanggapi godaan Nenek.
Jika Nenek tidak terbangun, sebenarnya Seto akan menelepon Seti. Mengabarkan rencana kedatangannya ke Jogja minggu depan. Komunikasi dengan Seti semakin mudah setelah dirinya memasang telepon di kost Samirono berbarengan dengan sambungan telepon rumah Nenek dari uang pesangon yang disisihkannya.
Uang pesangon itu diberikan perusahaan setelah Seto akhirnya memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak berlayarnya tak lama setelah kedai ikan pulau Drini mulai ramai. Apalagi Bapak dan Ibu tidak mempermasalahkan keputusannya.
Bapak dan Ibu tahu betul jika dirinya sedang serius di bengkel Sokaraja dan kampus dengan kewajiban kuliahnya. Tak mungkin terbebani lagi dengan urusan berlayarnya.
"Sudahilah bertapamu ... ndang kawin," Nenek meneruskan menggoda Seto.
Tawa Seto semakin keras. Mencoba menutupi rasa kelelakiannya yang kembali terusik setelah hampir dua jam percakapan di rumah Jengki dengan Bening tadi.
Membiarkan dan mendengarkan segala keluh kesah Bening, kali ini kelelakian Seto semakin dewasa. Membiarkan Sang Waktu menuliskan lagi lanjutan cerita hidupnya tanpa ada keraguan ...
-----------
Modin : Perangkat Desa yang mencatat dan mengurus kematian
__ADS_1