Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
37. Rangkaian Pertanda


__ADS_3

Bening semakin menikmati keriuhan Malioboro ketika Joe yang datang membawakan minuman yang barusan dibelinya kemudian beranjak ke depan lapak merayu pengunjung Malioboro yang melintas di depan lapak.


"Laris manis,... Cantiiiik ... tolong bungkuskan buat mas ganteng ini," Joe berpaling ke arah Asri setelah rayuannya berhasil. Memintanya membungkuskan dua buah dompet kulit buatan Doni yang akhirnya dibeli dua orang laki-laki muda yang singgah di lapak setelah tawar menawar penuh adu siasat.


Asri tertawa kecil menuruti perintah Joe. Bergegas mengemas dompet itu ke dalam kemasan karton yang ada di dekatnya. Kedua laki-laki muda tadi memperhatikan logo Sanggar Taji yang diterima dari tangan Asri. Sepertinya mereka senang dan puas dengan kemasan ramah lingkungan tadi.


"Terimakasih mbak," ujar pembeli yang bertubuh tinggi.


"Sama-sama mas. Jangan sungkan mampir ke sini lagi," Asri seperti biasa berusaha meninggalkan kesan hangat tentang lapak Malioboro kepada siapapun yang singgah.


Dua perempuan yang lalu duduk bersebelahan di dingklik setelah pembeli tadi meninggalkan lapak membuat Seto yang sejak tadi memperhatikan lalu lalang pelancong Malioboro mengalihkan pandangannya ke arah Bening dan Asri.


...----------------...


"Jadi ke Wirobrajan dulu atau Samirono mas ?" Seti mendekat ke arah Seto.


"Rencanaku antar Bening dulu ke Wirobrajan," Seto mengalihkan pandangan ke arah adiknya.


"Nginap di sana ?"


"Entahlah, aku sih pinginnya malam ini nginap di Samirono dulu sebelum pagi-pagi berangkat ke Drini,"


"Mbak Ning ikut ke Drini ?" Tanya Seti lagi.


"Aku belum tahu,"


"Nanti sore mungkin aku dan Asri ke Drini dulu mengantar belanjaan dapur sambil menyiapkan tempat menginap jika mbak Ning ikut," kata Seti.


Seto mengangguk ke arah adiknya. "Menurutmu, ... sikap Asri terhadapku bagaimana Set ? Melihat aku dekat dengan Bening lagi," Seto ingin tahu lebih jauh tentang sikap Asri lewat adiknya.


Ada rasa sungkan melihat kecanggungan Asri dan Bening. Seto tahu kedua perempuan itu dulu sangat dekat dengan almarhum Joko. Seto tak mau kedekatannya dengan Bening membuat jarak dengan Asri kekasih adiknya.


"Setahuku sih tidak ada masalah. Toh Asri juga sudah tahu tentang hubungan mas dengan mbak Ning sebelumnya. Menurutku juga tidak ada yang perlu dipermasalahkan jika sekarang mas Seto dan mbak Ning dekat kembali," Seti melirihkan nada bicaranya menyadari Bening yang sedang mendekat dari depan lapak.


"Sekarang kita ketemu Hening dulu To ?" Ajakan Bening setelah ada di dekat Seto menjeda percakapan Seto dan Seti.


"Habiskan minummu dulu," Seto berdiri dari duduknya.


"Nanti biar Joe dan Doni yang mengantar ke Wirobrajan mas," Seti menyela. "Biar aku dan Asri saja yang jaga lapak," lanjutnya.


"Tidak merepotkan kalian kan ?" Bening menatap Seti.


"Tidak mbak. Lagipula tempat Hening menginap tidak jauh dari sini," Seti membalas tatapan Bening.

__ADS_1


Binar mata indah dan senyum mengembang Bening menyenangkan hati Seti. Setidaknya dirinya merasakan perempuan cantik itu semakin tangguh. Apalagi kini ada Seto kakaknya yang menemani Bening. Keyakinan Seti semakin kuat. Perempuan itu pasti mampu melewati kepedihan cerita hidupnya.


...----------------...


"Kamu baik-baik saja As ?" Seti menepuk pelan pundak Asri yang terlihat sedang memikirkan sesuatu sesuatu setelah Seto, Bening, Joe dan Doni ke rumah Wirobrajan.


"Ah ... aku baik baik sajalah," Asri tertawa kecil.


Seti terdiam. Bagaimanapun tawa kecil Asri tak mampu menyembunyikan sesuatu yang sedang coba diketahuinya.


"Katakan saja jika ada sesuatu yang membuatmu terganggu," tak tahan berdiam terlalu lama, Seti melanjutkan kata-katanya lagi.


Semalam Asri yang menginap di rumah mbah Jum tidak terlalu antusias seperti biasanya menanggapi Seti yang mengajaknya ke kedai ikan pulau Drini. Walaupun akhirnya Asri tetap mengikuti ajakan Seti, obrolan semalam lebih membahas kepada kelanjutan arah hubungan mereka.


Hampir lima tahun bersama di Jogja dengan segala persoalan di antara mereka, Asri meminta Seti untuk menjelaskan ada kendala apa dengan skripsinya. Tak mau masalah skripsi membebani hubungan mereka, Asri juga menyinggung Bapak dan Ibunya yang tak keberatan andai Seti melamarnya jika dirinya diterima bekerja dalam waktu dekat ini.


"Jadi kita tetap ke Drini sore nanti ?" Suara lembut Asri membuyarkan ingatan Seti tentang obrolan semalam.


"Menurutmu bagaimana ?" Seti bertanya balik teringat keraguan Asri semalam. "Kalau kamu keberatan kita tunda saja rencana ke Drini," lanjutnya sambil menatap Asri.


"Kita berangkat saja setelah Joe dan Doni datang," Asri membalas tatapan kekasihnya.


"Obrolan semalam kita bahas lagi setelah kita sampai di sana As." Seti menyinggung lagi obrolan semalam yang belum selesai.


Berbicara mengenai pernikahan memang tidak ada habisnya. Setiap orang pasti tahu apa itu pernikahan, tetapi hanya sebagian orang yang paham makna dari sebuah pernikahan dan kehidupan setelahnya.


Kerumitan keseimbangan peran antara pria dan wanita dalam kedudukan rumah tangga, kesiapan bersosialisasi dengan masyarakat dan lingkungan sekitar, kemampuan melindungi keluarganya dari segala marabahaya sampai kemauan menjauhkan diri dari hasrat godaan pria maupun wanita lain adalah sebagian konsekuensi dari suatu pernikahan.


Sesuatu yang mudah diucapkan dan menjadi kendala ketika dilaksanakan. Tak heran ritual suci pernikahan menjadi kandas ketika seseorang tidak memahami konsekuensi suatu pernikahan.


...----------------...


"Tuh mereka datang," Asri menunjuk ke arah Joe dan Doni yang terlihat sedang menyeberang tak jauh dari lapak.


Mengikuti arah yang ditunjuk Asri, dari duduknya Seti membalas senyuman dua karibnya yang bergegas mendekat. Wajah Doni terlihat paling berbinar. Barangkali karena sudah bertemu Yuni.


"Jos Set ..." Joe seperti biasa mulai membuat lapak ramai dengan kata-katanya.


"Kenapa ?" Seti berdiri mendekat.


"Doni main catur sama Bapaknya Yuni,"


"Memang kamu bisa catur Don ?" Seti melirik ke arah Doni yang setahunya tak bisa memainkan bidak catur.

__ADS_1


"Nah itu masalahnya Set," Joe meneruskan obrolan, "Dua-duanya ternyata gak bisa main catur," Joe terbahak.


"Lalu ?" Asri ingin tahu.


"Yuni akhirnya mengajari Doni, mas-mu Seto mengajari Bapak Yuni," kata Joe sambil menyeruput kopi di meja lapak.


"Pantaslah Doni bahagia," Seti ikut tertawa.


"Yo'i ... apalagi nanti malam Bapaknya Yuni menantang Doni lagi ... bakalan seru nih malam minggunya ... malam mingguan bersama bapak pacar tersayang judulnya, " Joe terbahak, mulai mengolok Doni.


Seti dan Asri menikmati perbantahan Doni dan Joe di lapak yang semakin ramai dengan olok-olok.


Setengah jam saling olok penuh tawa akhirnya terhenti saat Asri mengingatkan Seti untuk berkemas ke Drini. Seti melirik arlojinya.


"Maaf teman, aku harus ke Drini dulu. Gak enak kalau besok mas Seto ke sana tempat belum rapi," Seti berdiri menggandeng Asri.


"Salam buat Dibyo," kata Doni.


"Pasti kusampaikan," jawab Seti sambil mengancingkan jaket kulit yang sedang dikenakan Asri.


"Langsung ke Drini Set ?" Tanya Joe.


"Ke kost Samirono dulu ambil tas,... sekalian pamit ke mbah Jum." Jawab Seti sambil bergegas meninggalkan lapak bersama Asri.


...----------------...


Wajah mbah Jum entah kenapa menunjukkan kegundahan hatinya saat Seti dan Asri menemuinya di warung untuk berpamitan ke Drini.


"Jadi tetap berangkat hari ini le ?" Tanya mbah Jum ke arah Seti yang berdiri di depannya.


"Iya mbah... mas Seto menyusul besok pagi. Entah dari Wirobrajan atau dari sini," Seti merasakan nada tak biasanya dari mbah Jum.


Sepertinya mbah Jum berusaha dengan segala cara mencegah rencana kepergian ke Drini.


"Ya sudah jika memang tak bisa ditunda ... mbah weling jangan jauh-jauh dari Asri di sana," entah kenapa mbah Jum mengingatkan Seti tentang Asri.


"Ah si mbah ... pasti gak akan jauh, kan cuma di warung nunggu mas Seto datang sambil bakar ikan," Seti memperhatikan lagi sikap mbah Jum yang tidak seperti biasanya mencium pipi Asri berulang-ulang.


"Hati-hati le," mbah Jum melepas kepergian Seti dan Asri dari depan pintu warung. Pandangannya tak mau lepas dari sosok sepasang kekasih itu yang lalu menghilang di balik dinding kamar kost Samirono di depan warungnya.


Suara si Denok yang menjauh dari kost Samirono berbarengan dengan mbah Jum yang beringsut masuk ke warungnya. Doa dalam bahasa Jawa terdengar lirih dari mulut mbah Jum.


 --------------

__ADS_1


Weling : Mengingatkan dalam bahasa Jawa


__ADS_2