
Bening menyeka bibir Joko yang setengah terpejam menahan sakit. Efek kemoterapi membuat bibir Joko terkena sariawan dan merasakan mual di perutnya. Hanya dapat berbaring lemah selama dua bulan di rumah sakit membuat Joko tergantung sepenuhnya kepada Bening untuk mengurusnya.
Bening memutuskan cuti dari pekerjaannnya bulan lalu, supaya lebih fokus mendampingi Joko.
Sakit Joko yang serius mau tidak mau membuatnya memutuskan pilihan untuk selalu lebih dekat dengan Joko.
Kehadiran Asri yang sudah lebih dari satu minggu menemaninya sedikit meringankan beban pikiran dan kegelisahan tentang sakit Joko.
Obrolan ringan dengan Asri saat bersama-sama menunggu Joko menyejukkan perasaannya. Bagaimanapun juga dua perempuan itu sama-sama merasakan ada yang hilang selama Joko sakit. Kedekatan keduanya dengan Joko. menjadikan mereka semakin dekat dan saling menguatkan hati masing-masing.
Menatap lekat wajah suaminya, mata Bening mulai berlinang air mata. Masa indah bersama Joko masih terbayang jelas setelah pernikahan mereka. Kehadiran Joko menghidupkan lagi rasa cinta di hatinya yang pernah tergores sembilu cinta.
Ada penyesalan di hati Bening tentang ketidakterusterangannya mengenai Seto yang masih disembunyikannya kepada Joko. Jika saja Joko tidak pernah bersinggungan dengan Seto di suatu masa, dirinya tak akan menyimpan rahasia kisah cinta masa lalunya itu.
Kepada Hening, Asri, dan Seti dia juga meminta mereka untuk jangan pernah menyinggung kisah itu kepada Joko.
Memilih Joko sepenuh jiwa sudah menjadi ketetapan hati Bening untuk berdamai dengan masa lalunya, menutup rapat kisah kebersamaan dengan Seto. Sampai kemudian Hening yang menemaninya menunggui Joko pernah menanyakan apakah dirinya berkenan jika Seto menengok Joko setelah mengetahui sakitnya Joko dari Seti.
Pertanyaan Hening belum dijawabnya waktu itu. Dan akhirnya Bening memutuskan untuk menjawabnya nanti setelah bertemu Hening.
...----------------...
Suara ketukan pintu, mengalihkan tatapan Bening dari Joko. Membalas senyuman Asri yang kemudian masuk setelah pintu terbuka.
"Selamat pagi mbak Ning," Asri menyapa Bening sambil meletakkan kotak sarapan di dalam lemari kecil dekat tempat tidur Joko.
"Pagi As," Bening membalas sapaan Asri lalu mencium pipinya.
"Bagaimana istirahat mas Joko mbak Ning semalam ?" Asri membantu Bening menyingkirkan sisa kapas pembersih bibir Joko yang berserakan di dekat bantal.
__ADS_1
"Mas Joko belum bisa tidur pulas," bisik Bening. Matanya menatap dalam ke arah Joko yang masih terpejam.
Asri hanya terdiam mendengar jawaban Bening. Dia tahu kondisi Joko masih belum memungkinkan untuk dapat beristirahat total. Tak mau Bening nanti ikut sakit karena terlalu lelah dan terlalu memikirkan Joko, setiap hari dia menemani Bening di rumah sakit setelah libur semesternya tiba.
Pagi ini Asri tahu Hening akan ke rumah sakit. Semalam Bening menceritakannya padanya. Mendengar Hening singgah dulu di Jogja, hati kecil Asri merasa berdosa dan menyalahkan dirinya yang belum juga berani menceritakan persoalan hubungan lebih jauhnya dengan Seti.
"Mandi dan makan dulu mbak, biar gantian aku menemani mas Joko," tak mau larut dalam banyak perandaian antara Seti dan Hening selama di Jogja mengganggu benaknya, Asri mengalihkan perhatiannya ke arah Joko dan berbincang dengan Bening.
Bening tak membantah kata-kata Asri, "Makasih As, jaga mas Joko sebentar ya," lalu beranjak ke kamar mandi meninggalkan Asri dan Joko.
Joko tersenyum ke arah Asri setelah membuka matanya. Tak ada kata dari kakak beradik itu seperti masa lalu. Saling senyum tampaknya sudah cukup melegakan keduanya. Asri memeluk tangan Joko. Mendekatkan ke bibirnya, dan mengecupnya pelan. Tubuh Joko yang semakin terlihat kurus menyesakkan dada Asri.
"Mas Joko, jangan marah ya kalau Asri sudah punya pacar," akhirnya Asri mencoba menggoda Joko. Berbisik pelan di telinga kakaknya.
Mendengar bisikan adik yang disayanginya, senyum Joko lebar, "Seti ya pacarmu ?" Joko bergumam pelan masih dengan senyuman lebarnya. Tangannya mencoba membelai rambut Asri.
Asri mengangguk, membiarkan Joko membelai rambutnya, menikmati belaian itu. Sejak Joko menikah dengan Bening, belum pernah Joko membelai rambutnya seperti kebiasannya dulu.
Joko menggeleng masih dengan senyum sayangnya ke arah Asri. Membiarkan dan menyetujui adiknya tumbuh menjadi perempuan yang mengenal rasa cinta. Mengenal dan mendengar tentang sosok Seti dari cerita Bening membuat Joko mudah menebak siapa laki-laki yang membuat Asri jatuh cinta.
Asri merasakan pipinya panas ketika Joko memuji pilihan hatinya saat bergumam lagi tentang Seti. Keduanya saling bertatapan dengan kelegaan masing-masing.
...----------------...
"Siapa yang masak As ?" Tanya Bening setelah menghabiskan nasi sarapan yang dibawa Asri.
"Aku mbak," jawab pelan Asri dari sebelah Joko yang mulai terpejam lagi.
"Rasanya enak," bisik Bening, "Jadi selama ini kamu yang memasak ?" lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Iya mbak, ... belajar dari Ibu,"
Suara ketukan yang terdengar mengalihkan percakapan Bening dan Asri ke arah pintu. Sosok Hening yang semakin dewasa dan cantik tersenyum ke arah Asri setelah masuk. Mencium pipi Bening dan mendekat ke arah Asri, lalu mencium pipinya.
"Kenalkan ini Yuni teman kuliahku, " kata Hening ke arah Bening dan Asri, "Ini mbak Ning kakakku, dan itu Asri adik mas Joko suami mbak Ning," lanjutnya berbalik mengenalkan Bening dan Asri ke arah Yuni yang ikut menemaninya ke rumah sakit.
Yuni memperhatikan wajah Bening dan Asri bergantian setelah perkenalan mereka barusan.
Hati kecilnya membenarkan cerita Hening tentang kedekatannya dengan kakaknya sekaligus memuji kecantikan Asri yang sering didengarnya dari mulut Hening.
Tak berapa lama Hening mengajak Bening ke luar ruangan. Asri dan Yuni hanya memandang keduanya meninggalkan ruang rawat inap itu, membiarkan kakak beradik itu membicarakan urusan pribadi mereka.
...----------------...
"Kapan dia akan ke sini ?" Tanya Bening setelah mendengarkan penuturan adiknya tentang rencana kepulangan Seto untuk menengok Joko.
"Kata Seti kalau mbak Ning berkenan, secepatnya mas Seto akan ke rumah sakit. Kebetulan kapal mas Seto sedang bersandar di Batam," jawab Hening, "Tinggal mbak Ning mengijinkan mas Seto tidak untuk mengunjungi mas Joko," ujarnya lagi sambil menatap lembut wajah kakaknya. Kewanitaannya merasakan ada keraguan yang dalam diri Bening.
Setelah terdiam sejenak akhirnya Bening menjawab lirih mengiyakan permintaan Seto yang disampaikan Hening.
Kedekatan masa lalu Seto dan Joko tak mau diputuskannya begitu saja hanya sebab cerita cinta masa lalu yang masih disembunyikannya dari Joko. Apalagi Joko yang sedang sakit serius sangat membutuhkan dorongan semangat untuk sembuh dari orang terdekat dan disayanginya.
Hening tersenyum lega, memeluk erat Bening. Tahu betapa kedekatan masa lalu Bening dan Seto bisa saja membuat kondisi Joko memburuk jika kedatangan Seto nanti malah membuat tabir masa lalu kakaknya terbuka.
Setelah beberapa saat saling melepaskan perasaan masing-masing tanpa perlu mengeluarkan banyak kata, keduanya melepaskan pelukan eratnya perlahan.
Sapaan lembut Dokter dan Perawat yang akan melakukan visite pasien menyadarkan Bening dari lamunan masa lalunya. Berdiri lalu meninggalkan Hening masuk ke dalam ruangan untuk mendampingi Joko.
Hening yang masih mengawasi langkah kakaknya tertegun tak lama setelah melihat Asri dan Yuni keluar ruangan menuju ke arah duduknya. "Bagaimana aku menjelaskan kepada Asri jika selama di Jogja kemarin, Seti menemaniku ?" Tanya hati kecilnya kemudian ...
__ADS_1
...----------------...