
Sepanjang jalan pantai Selatan yang terlihat dari Kedai ikan pulau Drini terlihat lenggang dari pagi sampai menjelang tengah hari. Tidak seperti biasanya, hari Minggu itu hanya terlihat satu dua kendaraan yang melintas.
"Sepertinya banyak yang berkunjung ke pulau Timang melihat jelajah alam motor Set," Dibyo mencoba menghubungkan suasana di sekitar Drini yang tidak seperti biasanya dengan ucapan salah seorang pengunjung kedai semalam.
"Tak masalah Dib, malah banyak waktu kita untuk bersantai sambil menunggu mas Seto," jawab Seti yang sedang menyapu halaman. "Lagipula semalam sudah cukup banyak yang singgah."
"Iya sih, ... ada enaknya juga kalau sepi begini," Dibyo mengangkut sampah dedaunan yang di sapu Seti ke lubang tempat biasa dirinya membakar sampah.
"Mas Dib ... lobsternya masih ada ?" Tanya Asri dari dalam kedai.
"Tinggal lima ekor ... Itupun lobster pasir," jawab Dibyo. "Kalau ikan masih cukup buat untuk hari ini," ujarnya lagi.
Asri teringat cerita Dibyo tentang asal lobster pasir yang banyak ditemui di sepanjang pantai selatan Gunung Kidul. Terutama di dekat pulau Timang. Nama Timang menurut Dibyo artinya pemecah lautan.
Ada 2 sisi pantai Timang, di sisi timur dapat ditemui pantai pada umumnya dengan pasir putih yang lembut dan air biru yang jernih. Sisi barat pantai, penuh dengan bukit bebatuan berkarang dan berbatasan langsung dengan lautan.
Lobster pasir yang sering dibawa Dibyo ke kedai Drini tidak terlalu besar karena kebanyakan diambil nelayan dari sisi timur. Kadang Dibyo membawa satu dua lobster mutiara yang diambil dari sisi barat.
Tidak heran harga lobster Mutiara lebih mahal di Timang karena tingkat kesulitan dan bahaya untuk menangkapnya. Hanya satu dua nelayan darat bernyali tinggi yang mau memasang bubu lobster di sisi barat pantai Timang.
Biasanya setiap berakhir pekan di kedai Drini, Asri dan Seti meluangkan waktu bermain tebakan mana lobster jantan dan betina ketika memisahkan ukuran lobster yang dibawa Dibyo. Tidak mudah membedakan mana jantan dan betina ketika lobster yang ada berukuran sama.
Meninggalkan ingatan perkenalannya dengan lobster yang ada di kedai, Asri berjalan ke kotak penyimpanan lobster. Mengecek lagi apa yang disebutkan Dibyo. Mencocokkan dengan daftar belanjaan mingguan yang rutin dilakukannya memudahkan laporan kedai kepada Seto.
...----------------...
Dari Wonosari Seto memacu RX-Spesial ke arah TPI pantai Baron mengikuti permintaan Bening yang ingin tahu dari mana ikan yang dijual di kedai.
Seto sendiri baru sekali ke TPI pantai Baron bersama Dibyo saat kedai ikan Drini baru berdiri. Karena itu dia mempercepat laju motor, paham sesudah jam satu siang tak ada lagi ikan yang dijual di sana.
Jalan yang sepi memudahkan Seto melewat beberapai tikungan tajam memasuki Tanjungsari. Sengaja mengambil jalan mengarah langsung ke pantai Baron yang beraspal mulus.
Mendekati jam 12 siang Seto dan Bening sampai di TPI pantai Baron. Untungnya masih ada beberapa penjual ikan di TPI.
Melihat kedatangan Seto dan Bening, merela berebut menghampiri menawarkan sisa ikan yang belum terjual.
"Kelihatannya enak kalau dibakar," dua ekor ikan tengiri sebesar betis laki-laki dewasa menarik perhatian Bening yang lalu berjalan menghampiri keranjang bakul ikan yang tergeletak tak jauh dari parkiran motor.
__ADS_1
"Tawar saja kalau kamu mau Ning," Seto mengikuti Bening.
Tak mau berlama-lama, Bening menuruti kata Seto. Memegang dan memeriksa kesegaran ikan yang diincarnya, tak lama berlanjut tawar menawar harga dengan si mbok penjual ikan.
Seto tersenyum melihat kesepakatan harga yang cukup alot dari dua perempuan di depannya.
Memilih merokok tanpa mencampuri urusan itu, dia beranjak memesan dua kelapa muda dari warung es tak jauh dari TPI. Menunggu pesanan kelapa muda dan urusan tawar menawar ikan selesai, Seto lalu duduk di warung es itu.
"Monggo mas," kakek penjual kelapa muda menyuguhkan dua kelapa muda yang dipesan tak lama setelah rokok di tangan Seto habis.
"Matur nuwun mbah," jawab Seto sambil tersenyum.
Beberapa kali persinggahannya ke Gunung Kidul terutama di Tepus dan Tanjungsari membuat Seto hapal dengan karakter dan keramahan penghuninya.
Laut Selatan yang bergelombang keras, tanah ladang tadah hujan berbatu koral menjadikan dirinya paham kenapa kebanyakan penduduk yang bersinggungan dengannya mayoritas berusia lanjut.
Alam yang tidak ramah memaksa tenaga produktif meninggalkan Gunung Kidul mencari penghidupan yang lebih ramah dan layak ke kota di sekitarnya. Kebanyakan anak muda laki-laki di situ mengadu nasib mengandalkan kekuatan otot menjadi buruh di Jogja. Yang perempuan menjadi pembantu rumah tangga.
Angka putus sekolah dan paksaan nikah muda karena sebab ekonomi tak jarang menjadi sebab pemantik pemberontakan hati jiwa muda yang masih labil.
Sedangkan bagi jiwa tua yang kesepian memacu keputus asaan. Tak heran angka bunuh diri di Gunung Kidul menjadi catatan kelam yang rutin terdengar di media.
Dari situlah muncul ide dari dirinya untuk mencari celah perlawanan ketika melihat potensi lain dari pantai selatan Gunung Kidul yang tidak dapat ditemui di tempat lain.
Seto percaya polesan wisata di pelosok itu kelak akan menjadi andalan penghidupan warga sekitarnya.
Naluri usahanya memutuskan untuk mendirikan kedai ikan di Drini ...
...----------------...
"Masih jauh ke kedaimu To ?" Tanya Bening setelah urusan ikan-nya selesai dan menghampiri Seto.
"Paling lima menit lagi dari sini," jawab Seto. "Dapat ikannya ?" Tanyanya kemudian.
"Dapatlah," Bening tertawa kecil. Wajahnya terlihat puas mendapatkan ikan yang diincarnya.
"Nanti kita bakar, ... minumlah air kelapa ini dulu biar badanmu tetap segar jika sampai ke Drini."
__ADS_1
"Kok nama pantai ini mirip nama bule ya ?" Tanya Bening di sela tegukan air kelapa muda yang tersaji di hadapannya.
Sedikit mengerutkan dahi, Seto tak menyangka pertanyaan Bening.
Untungnya, Dibyo selalu menjelaskan secara detail tempat-tempat yang di anggap menarik keingintahuan dirinya setiap kali berkeliling pantai-pantai di sekitaran Drini.
Cerita tentang asal usul nama pantai Baron dari Dibyo lalu diteruskan lagi dari mulut Seto ke arah Bening.
Tentang berbagai versi nama Baron, Dibyo sendiri tidak secara tegas menyebutkan mana versi yang paling benar.
Hanya karena Dibyo yang sarjana Sastra Jawa, tentu saja ada dua versi cerita tentang asal usul nama pantai Baron. Dari versi budaya Jawa berupa kethoprak Mataram, nama pantai Baron konon berasal saat Baron Skeber seorang bule yang konon sakti singgah di situ sebelum bertarung melawan Panembahan Senapati pendiri kerajaan Mataram.
Sedangkan versi sejarah yang diceritakan Dibyo, pantai itu konon dinamakan Baron untuk menghormati Baron Skeber seorang bangsawan Belanda ketika pantai itu menjadi markas Belanda pada tahun 1930.
Wajah Bening berbinar mendengar runtutan penjelasan Seto. Jantungnya semakin cepat berdetak tak beraturan setiap kali memandang tarian bibir Seto ... "Ah isi kepala si Bad Boy-ku ternyata seluas penjelajahan samuderanya," gumam hati kecilnya.
Dari sisi lain, mencuri pandang ke arah perempuan cantik yang kali ini semakin membuat dirinya betah berlama-lama meluangkan waktunya. Semakin memantapkan isi hati Seto tentang pilihan jalan hidupnya ...
...----------------...
Belum jauh meninggalkan pantai Baron setelah puas melihat-lihat apa yang diinginkan Bening, Seto merasa ada yang tidak beres dengan motornya. Ban belakang motor yang terasa bergoyang keras memaksanya menepikan motor.
"Wah bocor ban-nya," keluh Seto saat memeriksa roda belakang.
"Ada tambal ban dekat sini ?" Tanya Bening yang ikut berjongkok di sebelah Seto.
"Setahuku tidak ada," jawab Seto. "Jadi ingat waktu di gunung Slamet dulu... waktu aku pertama mengenalmu. Bedanya kita sekarang tersesat karena ban bocor di tepi laut," Seto mencoba mengalihkan kekuatiran Bening.
Bening tertawa keras mendengar kata-kata Seto. Tangannya mencubit pelan Seto.
Usikan kenangan masa lalunya bersama Seto tergambar lagi di benaknya.
"Dah kita tuntun motor ini sambil jalan saja To ke kedaimu," masih tertawa kecil, Bening mengajak Seto menyusuri jalanan sepi ke arah Drini.
Tak membantah ajakan perempuan yang pernah ditemaninya di lereng gunung Slamet, Seto mendorong motor Muji ke jalan beraspal. Menuntunnya ke arah Drini. Tawa keduanya sepertinya tak mempersoalkan kesialan siang itu.
--------------
__ADS_1
Monggo : silahkan dalam bahasa Jawa.
Kethoprak : seni drama Jawa