
Salah satu organ yang fungsinya sangat vital bagi manusia adalah otak. Otak adalah salah satu organ yang paling kompleks dalam tubuh manusia.
Sang Khalik melindunginya dengan tameng kokoh berupa selaput dan tulang tengkorak, untuk melindungi susunan sejumlah jaringan pendukung dan miliaran sel saraf yang saling terhubung dalam otak serta terkoneksi ke susunan saraf tulang belakang yang tidak kalah rumitnya.
Bersama saraf tulang belakang, otak berperan sebagai pusat kendali tubuh yang kemudian bekerja sama dengan sistem saraf tepi untuk memberi kemampuan manusia dalam melakukan berbagai aktivitas untuk bertahan hidup sesuai kodratnya ... Tak mau mati dan ingin hidup ...
Wujud dua kodrat manusia tak mau mati dan ingin hidup ini dalam teori survival termanifestasi ketika manusia melalui naluri dan instingnya pertama kali mencari makan dan menghindar dari marabahaya atau penyakit. Ya ... naluri dan insting adalah karunia rumit dan primitif dari setiap manusia yang dibawa sejak lahir sebelum mengenal pikir dan logika untuk bertahan hidup ...
Manusia dewasa yang sehat dalam setiap tindakannya tentulah sudah melalui logika dan pikir yang dikenalnya. Tidak melulu sekedar naluri dan insting saja.
Ada adab-adab yang membatasinya seiring pengalaman hidupnya.
Lalu bagaimana jika fungsi otak terganggu ? Seperti akibat perkelahian di Drini yang melukai kepala Seti ? Apakah kepergian Seti meninggalkan Asri, Dibyo, Seto dan Bening tanpa melalui pikir dan logikanya dan melulu hanya karena mengikuti naluri dan insting kemarahannya ?
...----------------...
Rumah ber-arsitek seperti huruf A dengan dua kamar khas romo Mangun di pinggiran kali Code menyala terang di salah satu kamarnya. Suara pintu yang didorong membangunkan sosok yang sedari tadi terlelap.
"Bagaimana pusingmu ?" Laki-laki yang barusan masuk meletakkan perban dan air hangat di meja kecil.
"Sudah mendingan mas, ... "
"Jangan paksa bangun dulu !" Tangan laki-laki tadi sigap menahan lawan bicaranya untuk tetap berbaring.
Seti mengurungkan niatnya. Menuruti mas Gun yang menemani dan merawatnya sejak dua hari lalu.
...----------------...
Minggu tengah malam Seti sampai ke kampung di pinggiran kali Code. Susah payah menuntun si Denok ke arah rumah paling ujung. Beberapa pemuda yang ada di depan rumah itu mendekat dan menolongnya, ketika memperhatikan Seti yang kerepotan meletakkan si Denok.
Mas Gun bergegas berdiri dari teras ikut mendekat ketika berpaling ke halaman rumah kali Code mendengar suara ribut yang terjadi.
Terkejut mengenali Seti dan melihat luka di kepalanya setelah mendekat, mas Gun bergegas menarik masuk ke dalam rumah kali Code. Menghindari beberapa pertanyaan yang bisa saja muncul dari pemuda setempat yang merubung.
__ADS_1
Belum mau menikah dan tinggal sendirian di rumah kali Code menjadikan mas Gun dituakan oleh pemuda setempat. Rumahnya hampir setiap malam selalu menjadi tempat singgah warga kampung. Terutama pemudanya.
Tidak mudah bagi Seti sampai di rumah kali Code. Entah naluri atau insting-nya yang menuntun dirinya ke rumah kali Code. Sakit di kepalanya mulai terasa ketika mengabari kejadian di Drini kepada keluarga Dibyo di ladang dekat kedai.
Berbicara seperlunya dan tergesa dengan keluarga Dibyo, Seti lalu bergegas mengarahkan si Denok ke arah Polsek Tanjung Sari walaupun ibu Dibyo berusaha mencegahnya.
Lalu tiba-tiba muncul sosok mas Gun di benak Seti ketika sudah mendekati Polsek Tanjung Sari.
Membatalkan niat melaporkan keributan yang baru dialaminya, Seti memacu si Denok mencari Wartel terdekat. Berniat mengabari Nenek, Bapak dan Ibu lewat mas Sarno dari telepon.
Tidak ada beban ketika menceritakan apa yang baru saja dihadapinya dengan mas Sarno. Sampai kemudian mas Sarno menanyakan keadaan Asri ... Pertanyaan yang lalu membuat Seti tak bisa menanggapinya. Teringat ada yang terlewat untuk diberitahu. Kepalanya dipenuhi dengan berbagai konsekuensi yang niscaya akan dihadapinya.
Berpesan kepada mas Sarno agar masalah di Drini disampaikan dengan hati-hati, Seti menutup gagang telepon.
Sekarang tinggal memberitahu tentang motor Muji yang dibawa kabur Sigit. Dari situlah mas Gun muncul di benak Seti ... yang membuatnya menuju Jogja ...
...----------------...
Hari pertama Seti di rumah kali Code sempat membuat bimbang mas Gun. Antara membawanya ke rumah sakit atau memanggil mantri yang dikenalnya untuk memeriksa dan merawat Seti yang berulang kali menggigau di sela tidurnya.
Mendengar Seti menggigau dan berulang kali menyebut nama Asri dan Sigit, pahamlah ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Sebab itulah mas Gun akhirnya memanggil kenalan mantri-nya untuk memeriksa dan merawat Seti. Tak mau keberadaan Seti diketahui banyak orang sebelum dirinya tahu persis apa yang sebenarnya terjadi ...
...----------------...
"Terima kasih mas, ..." Seti menatap mas Gun.
"Sudahlah ... kamu pulihkan dulu kondisimu, sambil ceritakan apa yang terjadi padamu," kata mas Gun.
Terdiam sejenak menunggu debar jantungnya normal, cerita kejadian Drini mengalir pelan dari mulut Seti ke arah mas Gun yang menyimak secara seksama.
Beberapa runtutan cerita Seti kadang dimintanya untuk diulang. Memastikan cerita Seti logis dan konsisten.
"Ini hari apa mas ? ...Aku sudah berapa lama di sini ?" Akhirnya Seti tersadar waktu yang dilewatinya sejak meninggalkan Drini.
__ADS_1
"Selasa... Sudah dua hari kamu di sini ..." Jawab mas Gun sambil masih mencoba merangkai kesimpulan cerita Seti.
"Aduuuh aku harus pergi mas ..." Seti mencoba bangkit mendengar jawaban mas Gun.
"Sudah kubilang ... Kamu disini dulu pulihkan kondisi... Biar aku yang cari tahu berita di luar sana !" Kali ini ada nada tegas dari mulut mas Gun.
Sepertinya dia sudah tahu di posisi mana Seti. Apalagi tentang motor Muji yang dibawa kabur Sigit dari cerita Seti membuatnya sudah bisa mengambil sikap.
Tak berani membantah dan membenarkan kata-kata mas Gun membuat Seti tak jadi beranjak dari dipan.
Ada setengah jam mas Gun dan Seti berbicara lebih dalam. Seti tak menyangka persinggungan dirinya dan Asri dengan mbah Jum di kost Samirono mengikat kedekatan persaudaraan yang lebih dalam lagi dengan mas Gun.
Kelegaan diri Seti lebih kepada ada seseorang yang membantu menghadapi masalah yang dihadapinya.
Seseorang yang disesalinya tidak berusaha didekati ketika dirinya tidak dalam masalah. Seseorang yang karena stigma lingkungan hitam kali Code membuat sebagian orang termasuk dirinya memberi label mas Gun sebagai sisi gelap Jogja.
Merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, mas Gun menyelimuti Seti. Setelah memastikan ada yang menemani Seti ketika mengintip ke arah teras rumah kali Code. Mas Gun lalu meninggalkan Seti.
...----------------...
Sebenarnya sejak perselisihan lapak Malioboro yang berlanjut di billiard Nusa Indah, mas Gun sudah menduga akan ada imbas yang terjadi di kemudian hari.
Hanya saja kenapa jauh di Drini, Gunung Kidul yang diluar dugaannya membuat mas Gun suka tidak suka harus mengurainya lagi untuk membantu Seti.
Tak bisa dibayangkan kesedihan dan kecewanya mbah Jum jika nanti tahu apa yang terjadi pada Seti dan Asri. Berulang kali mbah Jum bercerita kepada dirinya tentang kedua-nya yang sudah dianggapnya sebagai anak, lalu meminta dirinya untuk menjaga keduanya selama di Jogja setelah ada masalah lapak Malioboro.
Dari kali Code, mas Gun sengaja berjalan kaki ke arah Kota Baru menemui temannya yang tahu benar tentang siapa Sigit. Dari sana barulah ke lapak Malioboro untuk menemui Doni dan Joe.
Sudah pasti orang yang paling dicari saat ini kaitannya dengan kejadian di Drini pastilah Sigit dan Seti. Hanya saja jika Seti sampai tadi belum ada yang mengetahui keberadaannya, di sisi lain mas Gun belum tahu berita tentang Sigit.
Jika saja Seti tetap sadar dan menceritakan sejak awal, mungkin dari kemarin dia sudah mendengar kelanjutan penyelesaian kejadian di Drini ...
...----------------...
__ADS_1