Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
31. Tentang Suatu Masa


__ADS_3

"Melupakanmu sungguh tak mudah bagiku .... Jika saat ini kamu berpikir aku pernah menjauh karena kepengecutanku, itu tak semua benar adanya .... Aku menjauhimu, karena aku hanya ingin kamu menyadari sedikit demi sedikit sehingga perlahan kamupun tahu, jika aku dulu bukanlah orang yang mampu membahagiakanmu .... Namun setidaknya aku pernah sebagai penghiburmu pada suatu waktu yang pernah kamu temui dalam cerita hidupmu .... Ceritakan sekarang tentang hidupmu kini. Supaya aku tetap bisa mengingatmu kelak tanpa adanya kesusahan pada dirimu," suara lembut terdengar dari bibir Seto di depan Bening ketika akhirnya keduanya duduk berhadapan di luar ruang rawat Joko.


Ada setengah jam Seto berbicara berdua dengan Joko sebelum berpamit keluar menyusul Bening di luar ruangan.


Asri yang menyadari ada yang akan dibicarakan Seto dan Bening beringsut masuk ke ruang rawat menemani Joko.


"Bukankah dulu sudah pernah kukatakan padamu, jika aku baik-baik saja tanpamu ?" Bening menatap mata Seto.


"Aku tahu kamu semakin kuat sejak kepergianku .... Yang ingin kuketahui kini adalah .... Adakah masalah yang dapat kubantu setelah Joko sakit ?"


"Tak ada .... " Bening menjawab pendek masih dengan tatapan tajamnya.


"Jujurlah padaku Ning .... Kepulanganku kali ini menengok Joko bukan tanpa sebab .... Dan akupun tak ingin menyinggung masa lalu kita lagi .... Aku hanya ingin membantu Joko dengan persetujuanmu. Tadi Joko memintaku untuk bertanya padamu tentang persoalan cicilan pinjaman pembelian mesin bengkel," kali ini nada tegas keluar dari bibir Seto.


Menyadari tak bisa berkelit lagi dari persoalan yang sedang dihadapinya, Bening mengalihkan tatapannya. Air matanya mengalir di depan Seto yang berbalik menatapnya tajam.


Seto membiarkan perempuan di masa lalunya itu terisak. Berharap luapan air mata Bening membuatnya lega dan berterus terang untuk mengatakan sesuatu .... Jika toh nanti akhirnya Bening mau mengatakan tentang kesulitan keuangan yang sedang dihadapi, dirinya sudah bersiap untuk membantu mereka.


Seti memang sempat menyinggung kepada Seto tentang masalah keuangan yang sedang dihadapi Bening di kost Samirono. Tetapi tanpa adiknya menyampaikan masalah itupun, hati kecil Seto sudah merabanya ketika membaca surat Seti yang mengabarkan sakitnya Joko.


Walau keputusan Seto untuk pulang kali ini bersambut linangan air mata Bening bersamaan dengan bibir kelunya yang bercerita tentang kesulitan keuangan yang menghantam rumah tangganya, tak ada rasa penyesalan di hati Seto kali ini.


Keterusterangan Bening membulatkan tekad Seto untuk membantu mencari jalan keluar memecahkan masalah keuangan keluarga Joko.


...----------------...


The changing of sunlight to moonlight


Reflections of my life


Oh, how they fill my eyes

__ADS_1


The greetings of people in trouble


Reflections of my life


Oh, how they fill my eyes ...


Alunan lagu Reflection of My Life-nya Marmalade terdengar di kesejukan sore rumah Joglo.


Seto terlihat menghitung angka-angka yang tercoret di kertas yang ada di meja belajar Seti.


Pulang dari Rumah Sakit, Seto mampir sebentar di rumah Nenek lalu naik ojek ke rumah Joglo.


Ibu yang sudah tahu sejak awal rencana kepulangan Seto menyambut gembira kedatangan anak sulungnya. Menyuruh Seto beristirahat di kamar Seti setelah berbincang tentang pekerjaan dan hal-hal seputar kerinduan ibu anak selama terpisahkan jarak dan waktu.


Sambil menunggu kedatangan Bapak yang masih di luar kota mengantarkan kembang gula orderan pabrik, Seto memutuskan mulai menghitung tabungannya di sela istirahatnya .... Memastikan jika sebagian tabungannya disisihkan untuk membantu keuangan Bening dan Joko, masih ada sisa yang cukup untuk membiayai Seti sampai selesai kuliahnya dan cadangan buat dirinya.


Baru kali ini Seto menghitung penghasilan kerjanya yang disisihkan untuk ditabung setealah hampir tujuh tahun kerja di kapal ekspedisi asing.


Segala macam kesenangan masa SMA tanpa berpikir resiko hari esok disingkirkan Seto selama dirinya bekerja di kapal.


Jika banyak teman kapalnya sibuk menyenangkan diri di bar atau bermain perempuan setiap kapal bersandar, Seto memilih untuk tetap di kapal menghabiskan waktunya dengan menulis dan bertanya kabar lewat surat menyurat dengan Seti.


Tak heran Seto masih tak percaya tabungannya lebih dari cukup untuk membantu Joko, ketika sahabatnya itu meminta tolong untuk membantu keuangan bengkelnya dan menyebutkan sejumlah uang yang akan dipinjam dari dirinya.


Tak mau Bening terbebani dengan niatnya membantu, Seto menyanggupi permintaan Joko saat berbincang serius tentang masalah itu di Rumah Sakit jika Bening mengetahui dan menyetujui kehendak itu.


Kelegaan Seto saat Bening mengijinkan dan tak menolak bantuannya membuat Seto segera meninggalkan Rumah Sakit untuk membicarakan dengan Bapak dan Ibu.


Bagaimanapun Seto tak ingin Bapak dan Ibu mengkuatirkan biaya kuliah Seti adiknya yang sudah menjadi tanggungjawabnya.


...----------------...

__ADS_1


"Bapak tak berhak melarang keputusanmu To ... selama dirimu tak terbebani," Bapak memulai percakapan di teras rumah Joglo setelah Seto menceritakan keputusannya membantu Joko.


"Ibu sendiri mengijinkan tidak ?" Seto beralih bertanya ke arah Ibu yang duduk di sebelah Bapak.


"Kalau Bapak mengijinkan, dan itu sudah menjadi kehendakmu, kenapa Ibu harus melarangnya," suara lembut Ibu menyenangkan hati Seto. "Ibu hanya berharap Joko temanmu tak berlarut sakitnya." Lanjut ibu.


"Bagaimana si Seti saat kamu tengok di Jogja ?" Bapak mengalihkan topik pembicaraan.


"Baik pak. Gak macam-macam ... Waktu liburannya dihabiskan untuk jualan bareng temannya di Malioboro," Seto menjawab sambil menyalakan sebatang rokok.


"Jualan apa kok liburan malah gak pulang," Ibu nimbrung sambil mengaduk gelas kopi untuk Bapak dan Seto.


"Banyak bu,... tas, dompet, gelang, kalung," Seto menjawab sambil menyeruput gelas kopi yang disodorkan Ibu.


"Laku ?" Ibu menimpali lagi sambil melirik ke arah Bapak.


"Aku lihat laku bu .... Selama tidak mengganggu kuliahnya aku mendukungnya," Seto tersenyum menanggapi kekuatiran Ibu.


"Pantas sudah lama anak itu tidak pernah meminta uang ke rumah. Rupanya sudah gajian dia ... hahaha ... "Bapak tertawa,"Ati-ati To... bentar lagi kamu dilangkahi kawin loh," Bapak semakin terbahak. Kali ini mengolok Seto.


Ibu yang mendengar Bapak menggoda Seto mencubit tangan Bapak yang tetap saja mengolok Seto. "Endi pacarmu To ... hahaha ..."


Seto ikut tertawa mendengar olok-olok Bapak .... Bayangan Bening melintas lagi di kepalanya.


Kali ini bukan lagi tentang hasrat memilikinya. Tetapi lebih kepada rasa bangga dirinya yang akhirnya sanggup memberikan sesuatu yang akan selalu diingat Bening setelah kepedihan roman percintaan masa lalu akibat ketidakmampuannya melawan kehendak.


Semakin malam teras rumah Joglo semakin hangat dengan perbantahan masing-masing.


Seto masih berkelit bahwa urusan perempuan yang akan dinikahinya kelak masih belum ada di pikirannya saat ini .... Bapak masih dengan olok-olok tentang kenakalan masa lalu Seto .... Dan Ibu dengan perasaan keibuannya yang tak henti mengingatkan Seto untuk selalu berhati-hati dengan pekerjaan dan temannya.


 ----------------

__ADS_1


Endi : Mana dalam bahasa Jawa


__ADS_2