Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
42. Tentang Ruang Dan Waktu


__ADS_3

Setiap manusia tanpa kecuali pasti ingin menikmati hidup. Menikmati hidup berarti menikmati setiap saat, setiap detik yang terbang menghilang entah kemana.


Tentu saja menikmati hidup tidaklah sama bagi setiap manusia. Membayangkan hidup di suatu tempat yang indah, seperti pantai, gunung, sawah atau rumah bisa saja menjadi idaman manusia yang hidup di tengah hiruk pikuk dan kerasnya kompetisi survival di kota besar.


Sebaliknya, keheningan manusia di tengah kesunyian monoton alam pedesaan membuatnya berpikir untuk kelak mencari suatu kenikmatan yang lain di perkotaan.


Apapun perbedaan pandangan tentang kenikmatan hidup, tak bisa dipungkiri selalu melibatkan dua dimensi mendasar yang hampir selalu dikaitkan dengan itu.


Pertama adalah dimensi ruang atau tempat manusia ingin menikmati hidup, dan yang kedua adalah dimensi waktu, suatu masa kala manusia ingin menikmati hidup itu.


Dimensi ruang bukanlah sekedar panjang, lebar, dan tinggi tentang suatu tempat. Pujangga India Rabindranath Tagore menyinggung tentang dimensi ruang dengan kata kiasan-nya yang terkenal, "Pergi dan carilah hidup di tempat hidup itu terasa indah." Jika didalami lebih jauh maknanya, sepertinya Tagore berpendapat jika tempat hidup terasa indah itu berada dalam kehendak diri.


Tak perlu ke mana-mana jika ruang kedamaian sudah disediakan Sang Khalik lewat kata hati. Suatu jalan penuh lika liku yang berujung oase kesejukan abadi jika manusia mau berdamai dengan kata hatinya.


Tentang dimensi waktu juga sering terdengar, "Hiduplah pada saat ini." Singkirkan pikiran tentang masa lalu dan ketakutan masa datang maka hidup terasa indah.


Semudah itukah menikmati hidup ? Cukup berdamai dengan ruang dan waktu maka kenikmatan tadi menjadi terwujud ?


Tahukah ada campur tangan keniscayaan dalam kenikmatan hidup manusia ? Banyak yang menyebut dan bersimpuh dengan istilah ketidak tahuan. Pernahkah mendengar orang baik di tempat yang salah atau sebaliknya, orang jahat di tempat yang benar ? Tidak ada yang tahu pasti... kapan ruang dan waktu tersedia pada saat yang tepat untuk menikmati hidup ...


...----------------...


Dalam ketakutan dan ketidakberdayaan yang amat sangat, rangkaian pertanda dari mbah Jum terngiang di benak Asri. Entah kebetulan atau tidak ... Peringatan mbah Jum tentang hari naas yang diabaikan kini dihadapi-nya ...


Tak ada lagi tenaga yang tersisa pada diri Asri. Sekujur tubuhnya terasa kaku. Bahkan untuk mengucapkan permohonan belas kasihan kepada Sigit juga tak mampu.


Bayangan hari indah dan kata bijak yang diharapkan Asri akan terdengar dari mulut Seto dan Seti di kedai ikan Drini terhempas dalam sekejap saat keberingasan Sigit yang semakin leluasa menjamah tubuh tanpa daya-nya.


Pudar sudah pijar api lentera penghangat jiwa yang selama ini selalu berusaha disematkan Asri kepada Seti ... Dan sekarang, ... Belahan jiwanya itu entah kemana...


Hanya ada rasa dingin yang dirasakan ... lalu semuanya menjadi gelap.

__ADS_1


...----------------...


"Dah mas, ..." Seti selesai memompa ban belakang motor Muji.


"Tadi beli di mana ban-nya ?" Tanya Seto.


"Gak beli mas. Dipinjami tetangga Dibyo,"


"Nanti beli di Tanjung Sari atau Tepus buat ganti,"


"Ya mas, ..." Jawab Seti sambil berbenah.


"Yuk jalan bareng ke Drini dulu, siapa tahu dandanan-mu gak beres ... Malah bocor lagi," Seto tertawa.


Bening tersenyum ke arah Seti. Paham jika Seto sekedar menggoda adik-nya.Merasa tak ada barang yang tertinggal, suara motor yang dihidupkan terdengar perlahan meninggalkan tepi jalan pantai Kukup ke arah Drini.


Si Denok berjalan pelan di depan Rx-Spesial yang mengekor. Keduanya seperti ingin memamerkan lidah gelombang pantai selatan ke arah Bening yang baru kali ini menyaksikan kebenaran cerita Seto tentang keindahan patahan lukisan alam pantai selatan.


"Benar jika memakai baju hijau tidak boleh dekat-dekat ke sana To ?" Asri menunjuk pantai yang terlihat dari jalan.


Seto yang lama bersinggungan dengan laut tentu saja tidak percaya dengan mitos. Walaupun dari mitos yang ada justru bisa memperkuat sains.


Tentang sebaiknya tidak berpakaian hijau ketika di laut sebenarnya dari sudut pandang sains lebih sekedar berjaga jika tergulung ombak. Warna hijau yang berada di antara warna biru air laut dan hijau rumput laut akan menyulitkan penyelamatan jika terjadi sesuatu.


Sains juga menjelaskan, air laut memang tampak berwarna biru. Tetapi dasar laut yang terdiri atas karang, rumput laut, hingga pasir yang terkena sinar matahari akan membuat air laut berubah terlihat keruh ketika ombak besar hingga berwarna kehijauan.


Warna pantai laut selatan berbeda dengan warna laut lainnya yang kebanyakan berwarna biru bersih. Pantai selatan didominasi oleh ombak laut yang tinggi dan besar. Karena itulah warna hijau dominan di sepanjang pantai selatan.


"Yang berbahaya di situ justru arus pecah." Seto meneruskan ceritanya.


"Apa itu ?"

__ADS_1


"Gelombang laut yang berbalik setelah menghantam tepi pantai," jawab Seto. "Sepanjang pantai di sini terjal dan membalikkan arus gelombang yang menghantamnya. Menghisap dan menyeret apapun yang dilewatinya ke tengah laut." Pungkasnya.


"Jadi Nyi Roro Kidul cuma sekedar mitos ?" Bening semakin ingin tahu pendapat Seto tentang hal mistis yang sering didengarnya tentang penguasa laut selatan.


"Ahahaha ... kalau tentang itu nanti kamu tanyakan saja ke Dibyo langsung ... Aku kurang menguasai legenda Jawa,"


"Siapa Dibyo ?" Bening mengernyitkan dahi.


"Anak sini. Sekarang bantu-bantu kerjaan kedai. Lulusan sastra jawa, dulu satu kost dengan Seti."


Sebenarnya Seto ingin bercerita hubungan mitos Nyi Roro Kidul dengan perang Mataram dan Pajang yang berujung kekalahan Pajang akibat gunung meletus dan gelombang besar dan tsunami sekitar 400 tahun lalu. Tetapi dipendamnya dalam hati. Berharap supaya Dibyo yang menceritakannya langsung kepada Bening nanti sesampai di Drini.


"Pantaslah kamu betah di sini," Bening mencubit perut Seto.


"Apa hubungannya denganku ?"


"Laut !!! ... Itu yang kamu cari ... Kamu mencintai laut," Bening tertawa keras lalu merapatkan tubuhnya.


Tak membantah, Seto terdiam. Merasakan hembusan nafas wangi perempuan yang melingkarkan tangan di perutnya membuat Seto mempercepat laju motor. Ingin secepatnya menyegarkan diri. Berendam di laut sekitar keteduhan pulau Drini setelah cukup jauh menuntun motor pasti akan terasa menyenangkan pikirnya lagi.


...----------------...


"Tuh warungku ... " Seto menunjuk atap kedai ikan Drini yang terlihat dari tikungan terakhir dekat kedai ikan Drini.


"Sepertinya ramai To," Bening menanggapi tempat yang ditunjuk Seto.


Dari kejauhan terlihat beberapa orang mendekati mobil yang terpakir di depan kedai. Sepertinya mereka akan meninggalkan tempat itu.


Si Denok sepertinya juga tak sabar ingin secepatnya sampai. Entah kenapa perasaan hati Seti merasa tak enak ketika melihat salah satu mobil yang ada di depan didorong beramai-ramai. Sepertinya pengemudi mobil itu terburu-buru menekan pedal gas ketika akan memajukan mobilnya.


Salah satu sebab mobil terperosok dan terjebak di pasir pantai adalah karena gas mobil yang diinjak secara mendadak dan penuh. Akibatnya putaran roda mobil seperti ayunan cangkul. Semakin berputar cepat akan semakin dalam lubang yang tergerus.

__ADS_1


Seti semakin dekat ke arah kedai. Berniat membantu pengemudi mobil itu dari jebakan pasir halaman kedai ikan Drini ...


...----------------...


__ADS_2