Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
48. Awal Hari Baru


__ADS_3

Istilah putus asa sering terdengar. Suatu benturan peristiwa hebat yang menghempaskan suatu harapan pada titik yang paling rendah dalam hidup. Kehilangan semangat sebab jiwa merapuh dan hanya termangu pasrah kepada keadaan adalah cermin keputus asa-an.


Lalu bagaimana dengan jiwa yang kuat jika terbentur titik terendah tadi ? Tidak seperti jiwa rapuh yang hanya pasrah kepada keadaan ... Jiwa kuat akan tetap hidup dan berserah pada Pemberi Hidup. Sesulit apapun keadaan, api semangat tak akan meredup dan padam untuk melawan keadaan. Jiwanya semakin kuat seiring perjalan pengalaman hidupnya.


Seperti itulah jiwa Seti muda yang kini semakin menguat. Memang ada sesak di dadanya setiap teringat Asri. Hari-hari penuh cerita dengannya tentang esok tertepikan sejenak.


Tahu diri banyak sebab keadaan Asri adalah juga salahnya, Seti lebih banyak meluangkan waktunya dari rumah Wirobrajan dan Rumah Sakit Bethesda selama menunggu pengumuman ujian skripsinya. Rumah Wirobrajan yang tenang menjadi sedikit ramai jika Bapak dan Ibu atau kerabat Asri datang ke Jogja menengok Asri.


Sebenarnya untuk ke Bethesda lebih dekat jika dari kost Samirono. Tetapi om Rudi yang tinggal sendirian di rumah Wirobrajan juga menawarkan rumahnya sebagai tempat transit saat Bapak dan Ibu Asri atau kerabatnya mencari tempat untuk beristirahat menunggu jam bezuk Rumah Sakit.


Kost Samirono sementara ini hanya ada Muji di sana selama Seti bolak balik Bethesda rumah Wirobrajan. Sesekali Seti dan Gunawan bertemu Muji jika mereka berdua menengok mbah Jum.


Seto juga lebih banyak di Purwokerto sibuk mengejar ketertinggalan kuliahnya sambil mengurus bengkel Sokaraja selama perkara Drini masih berproses.


Nenek meminta Seto tinggal di rumahnya sampai kelar semua urusan. Terutama kejelasan hubungan Seto dan Bening yang akan menikah dalam waktu dekat. Nenek berharap satu-satu permasalahan akan terselesaikan dengan segala upaya dan tentu saja berserah diri pada Sang Khalik.


Nenek menyuruh Seto membelikan hand phone untuk Seti. Bagaimanapun juga komunikasi keduanya tentang perkara Drini tak boleh terabaikan


Bening diminta Hening dan Yuni membantu pembukuan sanggar Taji di Jakarta yang semakin kerepotan melayani pesanan tas-tas kulit buatan Doni untuk ekspor sambil menunggu waktu pernikahan dengan Seto.


...----------------...


"Bagaimana ujian skripsimu ?" Doni membuka percakapan di depan kamar rawat Asri.


"Minggu-minggu ini pengumuman Don. Semoga sesuai harapan, " jawab Seti. Dari duduknya tatapan mata Seti memperhatikan Yuni dan Doni yang ada di depannya. Ada rasa yang hilang melihat kedekatan keduanya.


"Sukurlah," gumam Doni.


Kemarin Yuni datang di Jogja memastikan pesanan sanggar Taji yang dikerjakan Doni sesuai dengan contoh pameran yang dipesan pembeli dari Perancis sekalian membawa kardus packing. Jika tas kulit pesanan tak ada yang perlu direvisi lagi, rencananya akan dikirim lewat Jogja.


Bagusnya Doni benar-benar menjaga mutu tas kulit buatan tangannya. Semakin suka Yuni dengan kemahiran dan ketelitian Doni yang selalu memperhatikan kualitas semua kerajinan kulit yang dibuat dengan sepenuh hati.

__ADS_1


Selesai urusan pesanan sanggar Taji, Doni mengajak Yuni menengok Asri yang kebetulan sedang ditunggui ibunya dan Seti.


"Kabar Dibyo bagaimana Set ?" Yuni mengalihkan pembicaraan. Walaupun belum mengenal dekat Dibyo, melihat teman dekat Seti dan Asri tergolek lemah saat menengoknya setelah kejadian Drini, Yuni berharap Dibyo semakin pulih.


"Sudah di rumah. Hanya seminggu sekali masih periksa ulang lukanya ke rumah sakit,"


"Sabar ya Set ... kami pasti bantu sebisanya jika nanti ada apa-apa," Doni mengulurkan tangan menyalami Seti. Amplop tebal berisi uang di genggamannya diberikan kepada Seti.


"Apa ini ?" Ada rasa sungkan di hati Seti menerima pemberian itu.


"Pegang saja Set ... jangan kamu tolak ... Itu pemberian dari teman-teman SMA-mu ... Hening dan Joe selama ini diam-diam menggalang dana untuk membantu masalah kalian di Drini," Yuni menatap Seti yang mencoba mengembalikan amplop tebal yang diberikan Doni. "Salam dari geng Warung Bango," lanjut Yuni lagi.


Mendengar geng Warung Bango disebut Yuni barusan. Kesungkanan Seti berkurang. Bayangan indah penuh canda, tawa, amarah, dan suka cita SMA-nya dengan geng itu melintas sekilas di benaknya.


"Ah ... waktu cepat berlalu ... Dan aku belum bisa menjadi sesuatu," Seti bergumam lirih. "Sampaikan salamku kepada mereka Don,"


"Pasti ... Nanti ada saatnya Joe dan Hening membicakan kabar geng SMA-mu itu jika kondisi Asri semakin baik," kata Doni.


...----------------...


Tak menunggu lama, Seti berdiri dan mempercepat langkahnya ke arah Asri terbaring. Betapa kerinduan mendengar kata-kata Asri yang tak pernah terucap selama dia terbaring membuat dirinya ingin segera mengurangi rasa sesak di dada yang menghimpit.


Ibu Asri menatap Seti yang masuk ke dalam mengikuti permintaannya. Doni dan Yuni menebak ada kabar yang menyenangkan ketika menatap wajah senang ibu Asri yang duduk menemani keduanya.


...----------------...


"Kamu sudah lama Set ?" Bibir tipis itu mengucap kata melihat sosok yang dicarinya ada di hadapannya.


Seti meraih dan menggenggam erat telapak tangan Asri yang terulur menyambut dirinya.


Tak perlu banyak kata untuk menjawab pertanyaan kekasihnya itu. Balasan genggaman erat Asri menghilangkan sesak di dada Seti.

__ADS_1


Gemuruh hatinya lebih kepada kegembiraan mendengar kata Asri yang barusan terucap di hadapannya setelah sekian lama keterdiaman yang menyesakkan.


Kejora itu perlahan mengeluarkan binarnya lagi ...


Saling menatap sungguh meneduhkan dua jiwa yang sedang mencari cara untuk dipersatukan. Cara yang sungguh rumit dan penuh lika liku menjadikan warna kisah kasih keduanya semakin tak terpisahkan dan berharap kelak menjadi catatan cerita roda hidup kebersamaan.


Betapa kerinduan Seti akan binar itu akhirnya terobati ketika menatap Asri yang membalas tatapannya ... Sungguh tatapan teduh itu perlahan mendinginkan gejolak dendamnya.


"Kamu semakin cantik," Seti mengalihkan pertanyaan kekasihnya ... mengecup lembut tangan di genggamannya. Bekas luka Drini di tangan itu terlihat jelas ketika Seti merasakan kehangatan aliran darah kewanitaan Asri di sela hembusan nafasnya.


Kali ini ada senyum di bibir Asri mendengar pujian Seti. Menarik tangannya pelan tanpa mau melepaskan genggaman Seti. Asri balas mendekatkan tangan Seti di dadanya. Ada rasa aman dan nyaman di dada Asri merasakan lelakinya kini ada di dekatnya ...


...----------------...


"Gusti mboten sare," Ibu Asri terlihat semakin senang ketika Asri menghabiskan suapan sop ayam terakhir yang disuapkan Seti.


Rona kebahagiaan juga terlihat jelas dari wajah Yuni dan Doni yang takjub memperhatikan sahabat suka dan dukanya terlihat semakin pulih.


Mencoba menghangatkan hari tersadarnya Asri dari mimpi buruknya, Seti memanggil ibu Asri, Yuni dan Doni setelah merasa ruang dan waktu keberduaannya dengan Asri cukup. Tidak ada yang lebih menyenangkan diri Seti ketika Asri langsung mengenali sembari menyapa Yuni dan Doni.


Tiga bulan lebih terdiam tanpa kata dan hanya tatapan kosong sempat membuat siapapun yang dekat dengan Asri tidak terlalu berharap Asri akan langsung pulih luka batinnya secepat itu. Dokter yang merawat Asri juga menyampaikan untuk bersabar menunggu kepulihannya.


Langsung mengenali orang terdekatnya sangat menyenangkan semua yang ada dalam ruang rawat Asri. Cerita yang menyenangkan terus mengalir tanpa ada yang menyinggung kejadian Drini.


Hati masing-masing yang menemani Asri sepertinya sepakat untuk membekukan kisah menyakitkan itu dari hadapan Asri.


Seto yang mendengar tentang kemajuan kondisi Asri lewat hand phone Seti ikut senang ketika Asri menjawab sapaannya.


Tidak ada yang lebih menghidupkan suasana hati Seti di hari itu. Saat yang dicatatnya dalam hati ... Untuk tidak akan membiarkan Asri tersakiti lagi oleh siapapun ...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2