
"Sebenarnya aku sedang berusaha menjual rumah ini As," akhirnya Hening mengeluarkan kegalauan isi hatinya.
"Kenapa kamu malah mengatakannya padaku ? Aku tak berhak ikut campur jika tentang urusan itu," Asri mengernyitkan dahinya. "Bukankah ada mbak Ning ?" Tanya Asri balik.
"Sudah .... Mbak Ning menyerahkan sepenuhnya kepadaku,"
"Lalu untuk apa kamu berniat menjualnya ?" Jika sebelumnya dirinya mendengar Bapak yang akan menjual mobil kesayangannya, kali ini Asri malah dihadapkan dengan persoalan Hening berniat menjual rumah jengki.
"Banyak pertimbangan yang sudah kupikirkan sebelumnya .... Tentu saja selain masalah keuangan, ada hal lain yang menjadi sebab keputusanku itu,"
"Tentang apa itu, jika aku boleh tahu ?" Asri merangkulkan kedua tangannya ke pundak Hening.
"Aku mungkin akan ke Belanda dalam waktu dekat ini ...." Saling berhadapan, Hening menatap tajam Asri.
"Belanda ...?" Asri terhenyak mendengar penuturan Hening.
"Ya .... Ada pelanggan sanggar Taji yang mau mensponsoriku jika aku dapat diterima di Koninklijke Academie van Beeldende Kunsten,"
"Kamu mau sekolah lagi ?"
"Kurang lebih seperti itu,"
"Kenapa harus ke Belanda ?"
"Entahlah, ... tiba-tiba saja peluang itu datang padaku." Hening membiarkan Asri memeluknya erat.
Asri terdiam. Ada rasa yang sama seperti ketika mendengar Seti berpamitan ke Kulon Progo. Kali ini kisah itu akan terulang. Jarak dan waktu akan membatasi dirinya dengan Hening.
Melepaskan pelukan eratnya, pandangan Asri beralih menyapu ke setiap sudut teras belakang rumah jengki.
Hening menyalakan rokoknya. Membiarkan Asri sejenak dengan pikirannya ...
...----------------...
Kehadiran seseorang akan terasa begitu membekas ketika lalu ada perpisahan di antaranya. Jika waktu, jarak, dan tempat adalah sumbu perpisahan sementara, maka maut adalah keniscayaan suatu sebab perpisahan yang tak bisa dihindari.
Ada rasa kehilangan yang menyesakkan sebab perpisahan. Itulah yang dirasakan Asri kini.
Jika kehilangan Joko sudah dipahami Asri sebagai jalan hidup. Kini hatinya terusik lagi mendengar rencana kepergian Hening.
Ada banyak pertemuan yang akan berakhir .... Setelah kepergian Seti, lalu Kijang kotak merah, rumah jengki yang akan dijual, dan kini rencana kepergian Hening beruntun mencoba dipahami Asri.
__ADS_1
"Mungkin tiga bulan ini aku di Jogja dulu As. Bahasa belandaku harus kukuasai benar sebelum berangkat jika aku lolos seleksi masuk," Hening menghembuskan asap rokoknya.
"Aku akan sangat kehilanganmu .... " Gumam Asri.
"Ah cuma sementara waktu, ... itupun kalau aku diterima," sela Hening. "Yang kupikirkan justru jika aku tak diterima," kali ini Hening tertawa.
"Ah jangan pesimis, ... kamu pasti diterima. Aku tahu kemampuanmu,"
"Karena itu aku ingin kamu menemaniku mencari tempat kursus bahasa Belanda di Jogja."
"Kenapa tidak kamu ceritakan sejak awal ? Aku pikir rencanamu ke Jogja nanti hanya untuk liburan akhir tahun saja,"
"Tadinya akan kuceritakan setelah di Jogja saja. Tetapi setelah mengobrol dengan mbak Ning tiba-tiba saja aku teringat dirimu yang hapal pelosok Jogja. Barangkali dirimu tahu tempat kursus mana yang harus kuikuti."
"Uuuh.... Kursus bahasa Belanda ?" Asri mencoba mengingat tempat yang dimaksud Hening. "Sepertinya yang lebih tahu tempat yang kamu maksud itu mas Muji," celetuknya kemudian.
"Karena itulah aku memintamu untuk menemaniku selama di Jogja ...." Pungkas Hening.
...----------------...
Andai saja perkara Drini tidak lagi menjadi beban dan situasi politik negara yang tidak bergejolak tentu saja permintaan Hening akan dituruti Asri tanpa perlu berpikir panjang.
Siapa sih yang tidak senang ketika menghabiskan akhir tahun dengan kekasih dan orang-orang terdekatnya ?
Apalagi tinggal lagi di sana menemani Asri menyelesaikan kursusnya.
Jika tinggal di rumah Wirobrajan bersama om Rudi yang sudah sangat dikenal Bapak dan Ibu-nya selama menemani Hening, tak ada keraguan untuk meminta ijin ke Bapak dan Ibu.
Yang dikuatirkan Asri lebih ke masalah Drini.
Orang tua mana yang akan membiarkan anak perempuan-nya yang baru saja pulih, kembali ke kota tempat sebab muasal sebuah luka berawal ?
...----------------...
Suara motor yang terdengar memasuki halaman rumah jengki menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di benak Asri.
"Panjang umur.... Tuh mas Seto dan mbak Ning datang," kata Hening ke arah Asri sambil beranjak membukakan pintu.
"Kalian semakin segar saja," Bening merangkul akrab Asri dan Hening setelah masuk.
Seto yang menyusul masuk mengelus rambut Asri setelah membalas jabat tangannya. Ada rasa senang melihat raut kegembiraan kedua perempuan yang sudah menjadi bagian keluarganya.
__ADS_1
"Sudah lama As ?" Tanya Seto setelah duduk di kursi rotan ruang tamu.
"Lumayan mas ... Dah habis segelas teh sama dua batang rokok, ... hihihi,"
"Kamu sekarang merokok ?" Seto terheran mendengar kata Asri.
"Bukan aku .... Tapi dia ....," Asri tertawa lepas sambil menunjuk ke arah Hening yang mendelik ke arahnya.
"Gak mas .... Dia yang habis empat batang," Hening balik menunjuk Asri yang bersembunyi di balik punggung Bening.
"Sudah ... sudah .... Kalian berdua saja .... Gak bisa anteng !" Bening ikut tertawa sambil pura-pura mengomel mendengar perbantahan kedua perempuan muda yang mengerubutinya.
Dari duduknya Seto memperhatikan tingkah tiga perempuan yang masih saling berbantahan manja. Bening istrinya sepertinya menjadi tumpahan pelepasan kedekatan perempuan yang lama terjeda di rumah jengki.
"Woy masku yang ganteng jangan melamun ... Mau kopi atau Jack Daniel ?" Setelah merasa puas bersenda gurau dengan kakaknya, Hening beralih menggoda Seto.
"Mas kalian sedang pusing .... Sebentar lagi jadi bapak," Bening menimpali godaan adiknya.
"Wah yang bener mbak ?" Tanya Asri mendengar kata-kata Bening.
"Bener As," Bening tertawa senang lalu melirik ke arah Seto.
"Selamat ya mbak... Mas .... " Hampir berbarengan Asri dan Hening memeluk Bening.
"Yups .... Makasih ucapannya," Seto tersenyum lepas, "Buatin kopi spesial Hen, ... kata mbak-mu kamu bawa kopi kiriman dari teman Belanda-mu," pintanya kemudian.
"Wah pantesan ada yang pingin cepat-cepat ke Belanda," Asri menatap Hening. "Siapa dia Hen ?" Tanyanya lagi mencoba menerka seseorang yang dekat dengan Hening.
"Yang jelas dia pasti ada maunya .... Hihihi ...." Kali ini Bening meledek adiknya.
Tersipu malu, Hening menghindar beringsut ke dapur," Mbak Ning teh atau susu ?"
"Teh tawar saja Hen, ... gak pake lama," jawab Bening sambil masih menggoda adiknya.
"Pasti laki-laki ya mbak teman dekat Hening ?" Asri duduk merapat ke arah Bening sepeninggal Hening.
"Tanya saja sendiri .... Hihihi ...." Bening mencubit hidung Asri yang semakin penasaran.
Jika benar dugaannya, sebab Hening berkeras untuk ke Belanda sebab kedekatan dengan seorang laki-laki, ... maka perpisahan itu tak akan menyesakkan hati Asri.
Selama ini Asri sungkan mengungkit secara terbuka mengenai kedekatan Hening dengan seseorang jika itu menyangkut perkara asmara. Bahkan Joe dan Yuni yang juga dekat dengan Hening tak pernah menyinggung masalah itu kepada dirinya.
__ADS_1
"Pantaslah dia memintaku menemaninya selama di Joga." Gumam hati kecil Asri ....
...----------------...