
Waktu adalah suatu dimensi yang bagi setiap manusia bersifat relatif. Ada yang mengatakan betapa waktu cepat berlalu, ada yang merasakan tentang lamanya waktu yang dijalani.
Persinggungan tentang waktu bagi setiap manusia tercatat dalam sejarah jejak hidupnya.
Waktu dalam sejarah bersifat temporal dalam spasi ruang tempat pelakunya, tempat manusia itu berada terbingkai kronologis tentang asal muasal sampai berakhirnya suatu peristiwa dalam hidupnya.
Ada peristiwa lama, baru dan ulangan peristiwa yang lama dalam jejak hidup setiap manusia dalam sejarah hidupnya.
Karena itu, ... jelaslah jika waktu tak akan bisa diabaikan oleh manusia. Masa kanak-kanak, masa remaja, masa muda, masa tua dan berakhir dengan masa kematian adalah niscaya.
Fase sejarah hidup yang dalam filosofi Jawa tersurat dalam guratan huruf "M" di telapak tangan manusia ... Manungsa Mesti Mati ...
Bagi manusia beriman yang menyambut sapaan langitnya karena berhadapan dengan waktu ... ada yang menyebut fase itu sebagai perjalanan hidup. Di mana setiap manusia mempunyai catatan suratan sejarah yang akan dibawanya mati.
Catatan tentang ilmu, nama baik, dan semua tindakan manusia dalam sejarah hidupnya kelak akan dipertanggungjawabkan sesuai adab langitan yang menyapanya ketika berhadapan dengan fase akhir hidupnya.
Lalu bagaimana dengan manusia yang hanya bersandar kepada buminya saja ? Dimana semuanya serba materiil, dan menganggap mati adalah gelap karena tak ada wujud materi setelahnya ? Dan karena itu sah sah saja berbuat semaunya dalam perjalanan hidupnya ? Dimana si kuat dibenarkan memakan si lemah seperti tesis survivalnya Darwin ?
Tak mau larut dalam perdebatan teori langitan dan survival, Seti menyudahi hausya pengetahuan. Menutup buku filsafat tentang waktu yang diberikan Bapak, keingintahuan mengenai faktor kebetulan atau ada yang mengatur waktu dijedanya sejenak ...
...----------------...
Kungkungan beberapa perkara berkaitan dengan kejadian Drini yang mulai terurai satu per satu setidaknya memberikan spasi ruang dan waktu bagi Seti untuk mengerjakan hal-hal lain. Menyerahkan sepenuhnya semua urusan Drini kepada Gunawan dan Santo seiring waktu.
Wisuda yang tinggal beberapa hari lagi kini menjadi prioritas utama Seti. Berencana mengajak Asri melihat gladi bersih wisudanya tak sabar dinantinya.
Asri sementara tinggal di rumah Sokaraja mengikuti saran Ibunya sambil menunggu jawaban lamaran pekerjaan dari beberapa kantor yang membutuhkan karyawan baru.
Nada riangnya ketika ditelpon semakin meyakinkan Seti tentang adanya campur tangan Sang Waktu pertemuan dirinya dengan Asri.
Hubungan cintanya dan segala pernak pernik persinggungan bukanlah suatu kebetulan semata ... Tak ada yang perlu dilawan mengenai jalan hidupnya yang sudah tercatat ... Tinggal siap tidak dirinya menjalani suatu pilihan ...
__ADS_1
Persinggungan masa penuh persangkaan dari Asri di suatu masa menjadi catatan Seti untuk semakin bijak dalam lisan dan tindakan. Beban yang sempat menghimpit dadanya satu-satu mulai berkurang.
Kini tak ada keraguan lagi dari hati Seti untuk mengikat Asri setelah urusan kuliahnya selesai. Pembicaraan antar keluarga rumah Joglo dan rumah Sokaraja yang didengarnya dari Bapak tak dipungkirinya akan menjadi awal pijakan dirinya menjadi laki-laki dewasa.
Betapa waktu tak terasa mengawal masa kecil di rumah Nenek, masa SMA di rumah Joglo, dan masa muda di kost Samirono yang menjadi saksi silih bergantinya perjalanan roda hidupnya melintas di benak Seti.
Berbaring terlentang di tikar pandan kamar kost Samirono, Seti menikmati semua kenangannya itu sambil menunggu kedatangan Seto yang sedang menjemput Asri, Nenek, Ibu dan Bapak untuk mengikuti wisudanya.
Siang terik di rumah kost Samirono terasa sejuk ...
...----------------...
"Nanti kami langsung ke rumah om Rudi," suara Bapak yang menelpon dari HP Seto membangunkan Seti dari baring-baringya.
"Iya pak, ... sekarang sudah sampai mana ?" Seti berdiri bersiap mandi di sela perbincangan HP.
"Wates, ... nanti kamu ambil oleh-oleh buat mbah Jum ya," jawab Bapak.
"Ya pak ... hati-hati ... Salam." Mengakhiri perbincangan, Seti bergegas bersiap mandi.
Keramaian pembicaraan suatu masa dari orang spesial yang lama tak diikutinya menjadikan hati Seti dipenuhi rasa rindu masa-masa itu.
Masa lalu sangatlah menyenangkan untuk dibahas jika masing-masing menyadari kekurangan dan kelebihan pelaku masa itu.
Tak dibantahnya, pembicaraan kapan waktu pertunangan dengan Asri juga ingin secepatnya di dengar dari Bapak dan Ibu. Yang jelas, Bapak hanya menyinggung waktu pernikahan Seto dan Bening setelah dirinya diwisuda.
Seto sendiri juga sudah berkali-kali menyinggung rencana pernikahannya sesegera mungkin setiap mengobrol dengan Seti di kost Samirono.
Menganggap Seti sudah saatnya diajak membicarakan hal-hal kedewasaan laki-laki, Seto juga tak sungkan membicarakan tentang keadaan keuangannya yang semakin menipis... Tak akan ada pesta besar di pernikahan Seto ...
Untungnya lapak Malioboro dan sanggar Taji baik-baik saja dan tak terganggu persoalan perkara Drini yang sangat menguras pikiran dan biaya.
__ADS_1
Sang Waktu bermurah hati memberikan jalan keluar di saat yang tepat. Ada saja pesanan dan pembelian tunai di lapak dan sanggar itu di saat-saat awal perkara Drini yang sangat membutuhkan biaya.
Kehadiran sentuhan Yuni, Bening, Hening, Joe, dan Doni lewat perantaraan lapak Malioboro dan sanggar Taji benar-benar menjadikan sebagian beban kesusahan mengenai persoalan materi itu tertutup. Jika itu disebut karunia ... Seti tak memungkirinya.
Waktu jugalah yang kelak akan menjawab tentang apa maksud adanya kegembiraan dan kesusahan yang datang silih berganti memayungi roman percintaan setiap manusia yang terkena panah panca wisaya-nya Kamajaya... Seti salah satunya ...
Konon siapapun yang terkena panah panca wisaya akan merasakan rindu pada suara merdu, rindu pada rasa enak, rindu pada belaian kasih sayang dan rindu pada bau yang harum.
Pecahan mozaik waktu Seti dan Asri menunggu disatukan ...
...----------------...
Merapikan kamarnya selesai mandi, lalu mengepelnya tak terasa berat di penghujung siang itu bagi Seti. Pikirannya dipenuhi rasa rindu kepada Asri yang tergerus waktu setelah kepulangan mereka dari rumah Banjarejo.
Ada yang hilang sejak kepulangan Asri ke Sokaraja setelah sekian lama kedekatan keduanya di rumah sakit dalam suasana yang tak mengenakkan.
Kesusahan itu mengganggu , ...tetapi tidak mematikan, ...dan justru menjadikan titik awal ucapan janji sehidup semati dari Seti dan Asri.
Perasaan bersalah atas apa yang dialami Asri sebenarnya sempat berhari-hari menghantui benak Seti. Membodohkan dirinya sebagai sebab pemicu apa yang telah terjadi di Drini.
Peringatan mbah Jum yang diabaikannya, dan keteledorannya meninggalkan Asri sangatlah menyiksa hari-harinya.
Serba salah menghadapi keterdiaman Asri selama masa-masa suram itu jauh lebih menyiksa diri Seti dibandingkan rasa sakit pukulan balok di pelipis yang diterimanya di Drini.
Andai saja masa lalunya tak ada yang membekas di hati orang terdekatnya, belum tentu Seti mampu melewati ujian kesabaran itu.
Joe dan Doni lah yang tak segan membangunkan keterpurukan Seti. Mereka tahu apa yang dibutuhkan Seti sebab keterikatan batin masa lalu yang sangat membekas dalam perjalanan kedewasaan mereka.
Aaaah ... andai bisa terulang, tak segan Seti kembali ke masa itu. Masa yang penuh dengan lika-liku persimpangan jalan hidup masing-masing ... Tanpa ada luka ...
Sapuan kain lap terakhir di lantai kamarnya menghilangkan bayangan masa lalu Seti yang berputaran di pikirannya.
__ADS_1
Memastikan tak ada yang terlewat, Seti mengunci kamarnya ... berjalan ke arah si Denok terparkir ... Rumah Wirobrajan tak sabar segera dikunjunginya ...
...----------------...