Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
66. Kelegaan Perpisahan


__ADS_3

Antrian panjang di pom bensin Berkoh membuat Seti membatalkan mengisi bensin si Denok. Isu kenaikan harga bensin dari 700 rupiah jadi 1.500 rupiah membuat motor dan mobil berebut memenuhi tangki bahan bakarnya di pom itu.


"Huuuft .... Kita ke Kantor Pos dulu As," Seti menghela nafasnya.


"Masih cukup bensin-nya ?" Tanya Asri ragu.


"Cukup .... Aku pikir tidak sepanjang ini antrian-nya," Seti menepis kekuatiran Asri yang membonceng.


Tak mau membuang waktu, si Denok berputar balik membawa Seti dan Asri menyusur jalan Sudirman ke arah Kantor Pos Besar di Brubahan.


Seti tak mau menunda mengirim lamaran kerja yang tadi dibuatnya di rumah Nenek. Benaknya dipenuhi pertanyaan seputar dunia kerjanya nanti.


Dunia baru yang kelak akan membuka bingkai pembatas kompetisi hidupnya.


Tahu diri jika kini Seto sudah tidak sendirian, Seti sebisa mungkin tak mau merepotkan kakak-nya itu lagi untuk urusan keuangan yang menyangkut kebutuhan dirinya.


Roda hidup terus bergerak ke depan. Saat yang tepat bagi Seti untuk melepas ketergantungannya kepada Seto seiring dua puluh enam tahun hembusan nafas hidupnya.


"Terus bergerak Seti ..... Jangan berdiam untuk esok hari !" Gumam hati kecil Seti.


...----------------...


Mendekati Kantor Pos Besar, Seti melambatkan laju si Denok.


Menengok ke arah tempat billiard di sebelah deretan gedung bioskop Nusantara yang terlihat gelap.


Ingatan-nya kembali ke masa SMA-nya bersama Joe dan geng Warung Bango. Masa-masa tanpa beban yang sangat membekas di tempat itu.


Tak ada yang menyangka era kejayaan komplek pertokoan itu tergerus jaman. Dimana era serba analog tergantikan digital.


Toko kaset Nusantara tempat Seti dan Joe dulu selalu merekam ulang lagu-lagu yang ngetop di kaset kosong tak terlihat lagi.


"Tuh tempat aku dulu nongkrong bersama Joe." Seti menunjukkan komplek pertokoan Nusantara tadi ke arah Asri.


"Ih seram ... ," Asri merapatkan tubuhnya.


Pelukan hangat Asri menyingkirkan kenangan Seti tentang kehangatan dan kegembiraan masa lalu komplek pertokoan itu.


Lalu diceritakannya juga tentang bagaimana polah Joe yang selalu mengikuti dirinya setelah menguangkan wesel pos yang diterimanya dari Seto di Kantor Pos Besar.


"Pokoknya jika itu tentang wesel ... si pelok itu pasti sigap mengikutiku," Seti berganti cerita tentang masa lalunya bersama Joe.


"Pantaslah kamu selalu mengabaikan diriku," Asri mencubit mesra pinggang Seti. "Ternyata duniamu dulu sebatas bersenang-senang dengan Joe."


"Tidak seperti itu As .... Aku belum mengenalmu sedekat aku mengenal Joe. Bagaimanapun juga dia kawan kecilku yang tahu persis tentang semua impianku,"

__ADS_1


"Apa yang dulu kamu impikan ?" Kali ini Asri ingin tahu apa yang dicari Seti lewat mimpinya.


"Cari uang untuk membalas kebahagia-an kepada semua orang yang telah menjadikanku seperti sekarang."


"Ehem .... Apakah uang menjadi ukuran kebahagiaan ?" Asri mengejar lagi.


"Itulah bahagiaku, jika aku sudah bisa mendapatkannya dari hasil kerja kerasku."


Si Denok berhenti di depan Kantor Pos Besar, menunda sejenak percakapan dua isi hati dengan impian tentang kebahagiaan versi masing-masing ....


...----------------...


Kantor Pos Besar tidak seperti biasanya. Malam itu terlihat sepi. Beberapa karyawan yang shift malam terlihat merubung tivi yang sedang menyiarkan keadaan Jakarta ketika Seti mendatangi loket.


"Kilat khusus ke Kulon Progo mas" kata Seti kepada pegawai pos yang menghampirinya.


"Besok nyampe mas," ujar pegawai pos itu setelah menimbang amplop besar berisi surat lamaran kerja Seti. "Yang susah diprediksi kalau ke arah Jakarta. Macet ... banyak demo di sana." Sambungnya lagi.


"Iya mas .... Kelihatannya semakin ke sini semakin banyak yang turun ke jalan." Seti berbasa basi menanggapi situasi politik yang memanas di Jakarta.


Mendengar Hening dan Yuni minggu depan meninggalkan Jakarta setidaknya membuat Seti tak terlalu mengkuatirkan keduanya terlalu jauh. Memilih lebih fokus dulu menyelesaikan urusan kerjaan di Kulon Progo.


Apalagi keduanya tadi mengabarkan keadaannya baik-baik saja setelah Asri menelepon selesai makan malam di rumah Nenek.


Meninggalkan loket setelah membayar, Seti beranjak menuju ke arah Asri yang duduk menunggunya. Masih ada waktu untuk meneruskan pembicaraannya tadi dengan Asri sebelum mengantarnya pulang ke rumah Sokaraja.


...----------------...


"Aku besok ke Jogja dulu sebelum ke Kulon Progo," kata Seti saat beranjak meninggalkan Kantor Pos Besar.


"Naik si Denok ?"


"Iya," jawab Seti.


"Ikut .... " Ada nada tak mau berpisah dari bibir Asri.


"Sabarlah .... Banyak yang harus kukerjakan dulu di sana."


Waktu berdua seharian tadi sepertinya belum terasa cukup bagi Asri untuk membiarkan Seti pergi mencoba peruntungannya.


Campur aduk perasaan hatinya masih ingin lebih lama dibagikannya kepada Seti.


Senang mimpi kekasihnya perlahan terwujud, sekaligus ada kerisauan sebab jarak yang akan memisahkan tak mampu dikeluarkan Asri lewat kata-kata.


Dari tatapannya, Seti paham kegundahan Asri.

__ADS_1


"Yuk jalan dulu."


"Jangan pulang dulu Set ...."


"Ke mana kita ?"


"Ke mana saja .... Aku masih ingin lebih lama bersamamu .... "


Ikatan batin Seti kepada Asri terpahat kuat. Tak mau membiarkannya berlarut dalam kegundahan. Seti mengajak Asri mengitari lorong-lorong persinggahan masa lalunya bersama belahan jiwanya itu. Berharap kegundahan-nya mereda ....


...----------------...


Dari Brubahan Seti mengarahkan si Denok ke alun-alun. Berhenti di depan salah satu pedagang wedang ronde yang sering dikunjunginya dulu semasa SMA bersama Joe dan gerombolan geng Warung Bango.


Memilih duduk berdua di atas tikar lesehan trotoar alun-alun. Seti lalu memesan wedang ronde yang dirasanya pas untuk mengurangi hawa dingin malam yang mulai terasa.


"Sepertinya enak Set," Asri memperhatikan mangkok berisi kuah panas yang tersaji dengan bola ketan dan irisan roti tawar di atasnya yang baru pertama kali dilihatnya.


"Cicip dulu untuk menghangatkan badan .... Kalau pengin lebih legit tambahkan susu,"


Wajah Asri terlihat tak lagi menampakkan kegundahan ketika tak sengaja tersorot lampu mobil yang melintas.


Kata-kata Seti tentang perpisahan sepanjang jalan tadi sepertinya mengena betul di hati Asri.


"Bukankah kelak tubuh kita akan berpisah dengan jiwanya ? Menua dan merenta tergerus umur ? Sayatan kepedihan itu untuk jiwa rapuh .... Aku percaya jiwaku tak akan terpisahkan dengan jiwamu .... Bahkan ketika kita menua bersama."


"Jika legam rambutmu kelak memutih akupun tak akan memudarkan gairah jiwaku .... Jadi untuk apa tersayat perpisahan esok yang hanya sementara jika kelak jiwa kita akan abadi ?"


"Aku pergi untuk kembali .... Dan tak akan membiarkanmu menanggung kewajibanku sebagai laki-laki yang akan menghidupi-mu."


Rasa hangat bercampur manis dari wedang ronde yang dirasakan Asri sambil mengingat kata-kata Seti tadi tak ayal membuat suasana hatinya tak lagi bergolak gundah.


Kali ini Asri mencuri pandang ke arah Seti. Tak hanya degup jantung, hembusan nafas, dan keringat tubuh Seti saja yang sudah dirasakannya dengan gairah menggebu .... Tetapi juga betapa Seti kini sudah siap menjadi laki-laki yang sesungguhnya bagi dirinya sangatlah membuka sudut pandang dirinya.


"Enak As ?" Seti yang menyadari sepasang kejora memperhatikannya dari tadi tersenyum ketika berpaling dan balas menatap ke arah Asri.


Anggukan dan balasan senyum Asri menyenangkan hati Seti. Semakin membakar hasratnya untuk secepatnya berangkat ke Kulon Progo.


Apalagi Seto dan Nenek tadi juga memberi masukan kepadanya untuk tak membiarkan Asri ke Surabaya dulu dengan berita simpang siur tentang gejolak politik dan keamanan di berbagai daerah.


Merasa tak ada lagi yang membebani hatinya, Asri tak menolak ketika Seti mengajaknya pulang.


Dekapan erat Asri sepanjang jalan Sudirman ke arah rumah Sokaraja sepertinya akan menjadi kenangan indah keduanya kelak ....


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2