Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
41. Noda Di Hari Minggu


__ADS_3

Seti memperhatikan motor L2 Super butut yang masuk ke halaman kedai ikan Drini. Gulungan besar kayu bakar yang terikat di boncengan sedikit menyulitkan pengendaranya ketika berbelok dan berhenti di depan Seti yang berlari kecil memegang gulungan kayu bakar itu supaya motor itu tidak terguling.


"Mas Seti ?" Pengendara motor itu menyapa.


"Nggih pak Dhe," Seti terheran namanya disebut laki-laki setengah tua di atas motor itu.


"Tadi saya bertemu sama mas Seto waktu berpapasan di jalan," laki-laki itu melanjutkan kata-katanya. "Ban motor mas Seto bocor dekat Kukup. Kebetulan saya lewat sehabis mencari kayu bakar di sana. Mas Seto minta tolong supaya menyampaikan ke mas Seti untuk menyusul menjemput mbak Ning di sana,"


"Oh nggih pak Dhe, maturnuwun," kata Seti. "Ngopi dulu pak Dhe," sambung Seti lagi.


"Maturnuwun mas ... sudah agak siang. Kapan-kapan saja saya mampir lagi," menolak halus permintaan Seti, laki-laki tadi bergegas berpamitan meninggalkan kedai Drini.


"Siapa Set ?" Dibyo yang mengira ada tamu kedai yang datang menyusul ke halaman.


"Orang sini," jawab Seti. "Ngabari mas Seto sama mbak Ning kebanen di Kukup."


"Mbak Ning sopo ? Lah terus piye ?" Tanya Dibyo yang belum pernah bertemu Bening.


"Teman mas-ku ... Dah kamu temani Asri dulu Dib jika dia menanyakanku selesai mandi ... Aku mau nyusul ke Kukup sekalian bawa pompa sama beli ban dalam dulu," Seti bergegas ke sudut kedai tempat biasa menyimpan perkakas.


"Ya, ... Nanti kusampaikan ke Asri,"


Mengambil pompa yang ada di sudut kedai, Seti mengeluarkan si Denok dari gudang merangkap garasi kedai. Menyalakannya lalu secepatnya mengarahkan si Denok menuju pantai Kukup.


Jarak Drini ke Kukup sebenarnya tidak terlalu jauh. Sepuluh menit jika naik motor atau mobil. Hanya saja jika berjalan kaki, jarak sepuluh kilo-an mungkin sekitar satu jam-an baru sampai ke tujuan. Apalagi sambil menuntun sepeda motor yang bocor, Seti bisa membayangkan betapa repotnya Seto.


...----------------...


"Kemana Seti mas ? Aku dengar suara motor-nya keluar," Tanya Asri ke Dibyo tak lama setelah kepergian Seti.


"Nyusul mas Seto sama mbak Ning ke Kukup, ... katanya motor yang dipakai mereka bocor bannya," jawab Dibyo yang duduk di meja depan. "Tadi ada orang sini yang ngasih tahu," lanjutnya.


"Oh ... ," gumam Asri yang lalu duduk menyebelahi Dibyo.


"Kamu kenal mbak Ning ?" Dibyo penasaran dengan teman perempuan Seto.


"Kenal ... kenapa ?"


"Gak papa ... ingin tahu saja,"


"Dia dulu istri kakak-ku sampai berpulangnya mas Joko,"

__ADS_1


"Oh maaf," Dibyo tergagap mendengar jawaban Asri.


"Gak masalah ... mbak Ning juga dekat dengan Seti sejak kami sama-sama SMA dulu. Kebetulan dia juga teman SMA mas Seto," Asri melanjutkan cerita tentang hubungan dirinya, Seti, Bening, dan Seto.


Dibyo menganggukkan kepala mendengar runtutan cerita Asri berikutnya. Semakin paham tentang siapa Bening yang dimaksud Seti tadi.


"Aku ke dapur dulu mas. Mau siapkan nasi buat makan siang nanti," merasa cukup bercerita tentang apa yang ingin diketahui Dibyo, Asri pamit menyiapkan makan siang.


"Ya, aku juga akan siapkan tempat buat duduk-duduk di samping Kedai." Dibyo berjalan ke arah samping kedai.


Ada pelataran berpasir putih yang teduh ternaungi beberapa pohon kelapa dan lamtoro. Dua batang gelondong kayu jati berukuran cukup besar yang tergeletak menjadi tempat favorit siapa saja untuk duduk di atasnya memandang Samudra Hindia dari situ.


...----------------...


Dua mobil yang masuk beriringan ke arah kedai mengalihkan kesibukan Dibyo. Berdiri dari tempatnya berbenah, dia menyambut enam laki-laki yang masuk ke arah kedai.


"Monggo mas... mau pesan apa ?" Suara ramah Dibyo mempersilakan mereka duduk.


"Pesen opo wae dab sak karepmu ...," Laki-laki bertubuh tinggi besar menyuruh yang lain memesan. "Numpang ke WC mas," lalu bertanya ke arah Dibyo.


"Masuk saja mas ...lurus di sebelah kanan dapur," tanpa curiga Dibyo menunjukkan arah kamar mandi di dalam.


"Ikan bakarnya apa saja mas ?" Tanya yang lain ke Dibyo.


Suara obrolan membuat Asri penasaran dengan keramaian dari arah depan kedai. Berpikir bahwa Seto dan Bening sudah sampai di kedai, dirinya beranjak ke arah meja tamu.


Serasa terbang jantung Asri ketika hampir bertabrakan dengan laki-laki yang sedang berjalan masuk ke arah kamar mandi.


"Kamu rupanya," mata laki-laki tadi menatap tajam Asri.


"Iya mas ... permisi saya ke depan dulu," Asri bergegas ke arah depan berusaha meninggalkan laki-laki yang membuat hatinya merasa tak karuan.


"Tunggu dulu, ..." tangan laki-laki itu tiba-tiba saja mencengkeram erat tubuh Asri yang berusaha meninggalkan dapur.


Entah apa yang ada di dalam pikiran Sigit, laki-laki yang sedari dulu mengincar Asri. Bertemu dengan perempuan yang menarik hasrat kelelakiannya di tempat yang tak diduga membuat Sigit merasa leluasa untuk melampiaskan keinginannya saat itu juga.


Menarik keras tubuh Asri ke pelukannya. Sigit semakin tak terkendali.


Asri yang meronta dan melawan sebisanya justru membuat Sigit semakin liar. Bau minuman keras yang keluar dari mulutnya tercium oleh Asri yang semakin berontak sekuat tenaga.


Kali ini Asri berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Sigit. Berlari ke luar kedai sambil menutupi kancing bajunya yang terlepas dan meminta tolong ke arah Dibyo.

__ADS_1


Dibyo yang terkejut dengan teriakan Asri berpaling ke arah keributan. Berlari mendekat ke arah dapur mencoba mencari tahu apa yang terjadi.


Belum hilang keterkejutan Dibyo, matanya terasa gelap ketika membiarkan Asri berlari dan berlindung di balik punggungnya.


Jatuh terlentang merasakan kepalanya yang seperti tertumbuk palu besi Dibyo mengerang. Antara sadar dan tidak Dibyo merangkak meraih kaki yang melangkahi dirinya.


Sigit terjatuh akibat tangan Dibyo yang menarik kakinya ketika mengejar Asri.


Merasa pukulannya tidak membuat takut Dibyo, kali ini Sigit menendang kepala Dibyo saat berdiri dari jatuhnya.


"Jangan mas... jangan pukuli mas Dibyo ...!!!" Asri menjerit mencoba menghentikan amukan Sigit.


"Antemi terus dab... ," bukannya melerai. Laki-laki bertato yang mendekat dan juga dikenal Asri malah tertawa menyuruh Sigit meneruskan amuk-nya.


"Tolonglah mas Sigit... hentikan ...!!!" Tangis dan teriakan Asri semakin keras mengiba.


Kedai ikan Drini yang agak jauh dari jalan raya yang sepi menyembunyikan suara keributan yang terjadi. Teriakan memelas Asri juga tertelan gemuruh ombak pantai selatan di dekat kedai.


Tingkah liar Sigit dan gerombolannya tak berhenti setelah Dibyo tak berdaya. Kali ini Sigit mendekat ke arah Asri yang masih memeluk Dibyo yang tergeletak pingsan.


Menariknya keras dan menyeretnya ke arah bale-bale yang ada di sudut kedai. Menelentangkan tubuh tak berdaya Asri dan mencoba menindihnya di hadapan gerombolannya yang bersorak sorak menganggap itu adalah hal yang biasa.


...----------------...


Sejak pagi Sigit sudah kesal di pantai Timang. Ajang off road motor yang baru di adakan di sana tidak berjalan sesuai keinginannya.


Dua motor yang akan diikutkan terlambat datang. Lobi yang diupayakan untuk menambah jeda waktu start menunggu kedatangan motor tim-nya tak diindahkan panitia.


Jauh-jauh datang dari Jogja tanpa dapat mengikuti even itu dilampiaskan Sigit dengan mengajak kru dan temannya minum minuman keras sepanjang gelaran even. Sesekali umpatan dan makian kasar dilontarkan jika beradu pandang dengan panitia yang kebetulan lewat di depan kerumunan mereka.


Beberapa pemuda setempat yang menjadi panitia merasa risih dengan polah Sigit dan gerombolannya hampir saja mengeroyok jika tak dilerai keamanan setempat yang kebetulan melintas.


Perbantahan dan adu mulut serta saling mengancam tak berlanjut menjadi perkelahian ketika Sigit dan gerombolannya merasa kalah jumlah dan menyingkir meninggalkan pantai Timang.


Saat perjalanan pulang ke Jogja dari pantai Timang itulah Sigit melihat kedai ikan Drini. Merasa lapar dan ingin meredakan kejengkelannya di kedai itu. Dia berhenti di situ.


Bertemu Asri yang sama sekali tak diduga-nya di kedai ikan Drini dan pengaruh alkohol membuat akal sehat Sigit hilang. Menjadi agresif ketika merasa Dibyo menghalangi keinginan hasrat kelelakian yang muncul ketika melihat Asri ...


 -------------


Kebanen : Ban motor bocor dalam bahasa Jawa.

__ADS_1


Pesen opo wae dab sak karepmu : Pesan apa saja semaumu dalam bahasa Jawa.


Antemi : Pukuli dalam bahasa Jawa.


__ADS_2