
Para penikmat senja tak membantah ada ketenteraman dan kedamaian hati, tatkala berlama-lama memandang semburat itu di tepi barat cakrawala.
Jika langit cerah menjadi merah lalu menggelap berganti kerlip bintang, ... tak ayal serasa menjadikan penikmat senja seperti butiran debu semesta yang tak berarti.
Kesombongan duniawi yang menganggap dirinya paling hebat, dengan segala rasa kelebihan diri tertekuk di hadapan senja.
Masih berani menganggap diri adalah segalanya jika senja-pun menerima langit apa adanya ? Tunduk dan rebah dalam dekapan-nya ?
Senja mengajarkan penikmatnya untuk berpamitan dengan cara yang menyenangkan.
Jika ada awal tentulah ada akhir. Seperti itulah kira-kira sapaan senja ketika langit bermurah menerimanya tanpa tertutup mendung dan basah kemuraman.
...----------------...
"Masih ingin di sini ?" Seti berpaling memandang wajah Asri saat langit mulai gelap.
Menyandarkan kepalanya di bahu Seti sepertinya menunjukkan Asri masih ingin berlama-lama bersama lelaki tercintanya.
Hari-hari penuh kesibukan mengurus ijasah dan berujung acara pernikahan Seto dan pertunangan dirinya tiba-tiba saja menyadarkan Seti tentang waktu berduanya dengan Asri yang lama terjeda.
Meninggalkan sejenak segala urusan di Jogja dan Gunung Kidul lalu untuk sementara kembali tinggal di rumah joglo sambil mulai mencari info pekerjaan dijalani Seti berdampingan dengan kegaduhan di luar yang menjadi menu sarapan dan makan malam semua orang.
Untungnya rumah joglo tak larut dalam kegaduhan politik. Bapak memutuskan tak menggunakan hak-nya di pemilu setelah kerusuhan partainya yang berdarah-darah di Jakarta 27 Juli 1996.
Seto fokus meneruskan kuliahnya dan tinggal di rumah Nenek bersama Bening setelah keduanya menikah.
Sanggar Tajii akhirnya juga harus menghitung ulang semua rencana penjualannya. Masalah keamanan ekspedisi di Jakarta tak bisa dikesampingkan. Banyak pesanan yang tertunda pengirimannya karena kemacetan jalanan Jakarta.
Lapak Malioboro ikut kena imbas. Doni dan Joe mulai jungkir balik meluangkan waktu untuk mencari bahan baku kulit yang semakin mahal dan langka. Berpikir keras untuk mempertahankan kelangsungan hidup lapak Malioboro.
Telepon yang mengabarkan jika Asri diterima bekerja di Surabaya menghilangkan semua kegaduhan di luar yang menyesaki rongga dada Seti .... Mengingatkan jika ada yang lebih membutuhkan dirinya untuk berbagi cerita.
Itulah kenapa sedari siang tadi Seti mengajak Asri ke saung tepi sawah sekalian menengok Nenek, Seto dan Bening.
Memilih menyepi berdua di saung itu untuk menikmati senja, ... Seti tak mau terburu-buru menanggapi pekerjaan yang disinggung Asri dalam pembicaraan telepon tadi.
...----------------...
Senja yang tertidur menyisakan cerita Seti dan Asri sebelumnya ....
Lima menit berjalan dari rumah Nenek yang penuh dengan cerita Seti tentang senja yang menahun tak disapanya dari saung tepi sawah milik Nenek.
Naungan kerimbunan bambu memayungi langkah riang Seti dan Asri dari terik matahari ketika keduanya beranjak ke saung untuk melepas kerinduan senja.
Gemericik suara aliran kali Kranji yang berbatu setelah kerimbunan pohon bambu terlewati mengingatkan Asri tentang segala persangkaan-nya dulu yang sempat berputar lagi di benaknya.
Kali ini tanpa mengganggu ....
Seti yang ada di depan menggenggam erat tangan Asri saat keduanya menyeberangi kali.
Butiran pasir dan batu andesit yang menggelitik telapak kaki telanjang Asri yang terendam kesejukan air sungai yang jernih menyenangkan hatinya.
__ADS_1
Seti berhati-hati memegangi Asri ketika keduanya sampai di seberang sungai.
Naik ke batas pematang sawah Nenek dengan kali, ... mendekat ke arah saung yang masih terlihat berdiri kokoh.
Sepertinya mas Sarno merawat saung itu dengan penuh perasaan. Terlihat dari resik berkilat bambu penopang dan plupuh tempat berbaring saat Seti dan Asri masuk ke dalamnya.
Terik matahari yang terpayungi keteduhan atap welit tak terasa setelah ada dalam saung.
Hijau hamparan padi yang selesai ditanam dan kemegahan gunung Slamet memanjakan mata Asri. Membuat keterikatan dirinya dengan Seti semakin menguat.
Membenarkan kata-kata Seti untuk tak perlu merayakan sesuatu dengan berlebihan.
Warung angkringan, kedai sroto Sokaraja, jajanan kaki lima Malioboro, warung makan mbah Jum menjadi jejak kegembiraan di wajah Seti setiap kali Asri mengiyakan permintaan-nya ke tempat-tempat sederhana itu setiap kali makan atau ada hal yang perlu dibicarakan dan dirayakan.
Kali ini ajakan ke saung tepi sawah di pinggiran Selatan Purwokerto juga dirasa Asri pastilah karena ada sesuatu hal yang akan dibicarakan Seti.
"Berenang yuk," ajak Seti setelah matanya terasa segar dan sejuk memandang sekitar saung.
"Di kali ?" Tanya Asri heran.
"Ahahaha .... Iyalah .... Ada tempat berenang yang enak di balik tebing itu," Seti menunjuk tebing batu andesit yang terlihat di kelokan kali tak jauh dari saung.
"Aku tak bisa berenang .... Lagi pula pakaian gantiku ada di rumah Nenek" Asri tak langsung mengiyakan ajakan Seti, walaupun sebenarnya hatinya senang dengan ajakan Seti.
"Ah gampang ... Nanti pakai kaosku dulu ... Atau kita berenang telanjang ahahaha.... " Goda Seti.
Asri tertawa mendengar godaan Seti ... Kewanitaan-nya merasakan panas melihat dada liat Seti saat melepas kaos di hadapan-nya. Hanya bercelana pendek, Seti bersiap mengajaknya ke kali.
Dulu, ... mandi di kali itu menjadi pemandangan yang biasa ketika aliran PAM belum masuk ke kampung Nenek.
Setelah PAM masuk hanya anak kecil yang sesekali berenang dan bermain di kali itu. Terutama ketika panas terik kemarau terasa menyengat.
Sekarang tak banyak anak kecil lagi yang ada di kampung Nenek yang mau bermain di kali dan sawah. Menjadikan kali itu sepi, terutama setelah musim menanam padi selesai.
Asri yang penasaran dengan ajakan Seti, lalu mengikutinya ke arah kali dan berhenti tepat di atas tebing batu.
Seti menyuruhnya untuk melepas celana jeans dan kaosnya di balik tebing lain yang mampu menyembunyikan siapa saja di baliknya.
Tebing itu dulu dipakai bersalin pakaian setelah orang selesai mandi di kali yang berada di bawahnya.
Aliran darah di tubuh Asri terasa panas ketika Seti memperhatikan sekilas ke arah dirinya setelah berganti, lalu menggandengnya turun ke arah kali.
Kejernihan aliran air yang tadi sempat dilewatinya membuat Asri tak ragu untuk mencoba mandi di kali itu.
Sesuatu yang belum pernah dilakukan-nya sedari kecil ....
...----------------...
Cebakan kali setinggi leher Seti yang terlindung tebing batu sepanjang kali, membuat tempat itu pernah menjadi favorit orang kampung sekitar untuk mandi.
Pasir hitam dan batuan kecil terlihat jelas dari atas kejernihan airnya.
__ADS_1
Ada tebing lain tempat pakaian yang digeletakkan di atasnya, menjadi tanda jika ada yang sedang mandi di bawahnya.
Dulu, orang-orang mengobrol di atas batuan yang ada sambil menunggu giliran mandi-nya ketika melihat tumpukan pakaian di atas tebing.
Seti menaruh pakaian Asri dan pakaiannya di atas tebing tadi sebagai tanda seperti kebiasaan masa kecilnya dulu, ... lalu tiba-tiba saja terjun ke cebakan kali yang sudah sangat dihapalnya.
"Tunggu Set ...!" Teriak Asri yang terkejut ditinggal Seti.
"Loncat saja As ... Aman !" Balas Seti setelah beberapa saat menyelam di kedalaman kali.
Menutup hidungnya dengan tangan, akhirnya Asri mengikuti Seti... Terjun ke kali sambil memejamkan mata ... Mempercayai Seti yang tak akan membiarkannya begitu saja setelah dirinya nanti ada di dalam sungai.
Sedikit gelagapan ketika masuk ke kali, ... kaki Asri menyentuh pasir yang ada di dasar sungai.
Tetap tenang seperti yang diajarkan Seti tadi .... Pelan-pelan dijejakkan kakinya, ... mendorong badan Asri berdiri ke atas permukaan air.
Asri membuka matanya yang sedari tadi terpejam. Lega melihat tawa Seti ada di hadapannya.
Tak seperti yang dibayangkannya .... Air kali itu terasa hangat ... Kekuatiran tenggelam juga menghilang ketika menyadari tinggi air kali yang hanya sebatas dagunya. Membuat diri Asri nyaman di dalam kejernihan cebakan kali.
Saling menatap setelahnya .... Asri tak tahan memeluk kencang Seti yang ada di depannya .... Mencium bibir Seti dalam-dalam yang lalu juga membalasnya dengan hembusan kelelakiannya ....
...----------------...
Ada setengah jam Seti mengajari Asri mengapung di air setelah kemesraan tadi.
Mengajari Asri cara terlentang di permukaan air supaya tetap mengapung.... Cara yang sama diajarkan Seto dulu ketika mengajari Seti berenang di tempat yang sama.
Memandang wajah Asri yang penuh kegembiraan dan rasa percaya diri ketika mampu mengapung tanpa bantuan dirinya sangat menyenangkan hati Seti.
Semakin meyakinkan bahwa kekasihnya itu kini tak terbebani dengan kisah gelap Drini lagi.
Kilap basah kulit putih bersih Asri terlihat jelas saat duduk berjemur di atas batu besar setelah puas berendam di kejernihan kali.
Kaos putih basah Asri jelas memperlihatkan lekuk tubuh laksana dewi yang menggoda kelelakian Seti.
Keduanya masih betah berlama-lama menikmati kehangatan matahari sore.
"Kapan kamu ke Surabaya ?" Akhirnya Seti membuka percakapan.
"Bulan Januari ... Itupun kalau dirimu mengijinkan,"
"Jika keadaan di luar tidak seperti ini, aku tak akan menghalangimu ... Hanya saja sepertinya rusuh di mana-mana," ujar Seti. "Hening juga katanya akan pulang dulu ke rumah jengki menunggu Jakarta tenang."
"Aku paham .... Karena itulah aku meminta pendapatmu .... Jika memang dirimu keberatan, biar kubatalkan panggilan kerja itu."
Seti merangkul Asri. "Sebaiknya ganti pakaian basahmu dulu ... Nanti kita lanjutkan di saung,"
Asri tak membantah. Menerima uluran pakaian yang diambil Seti dari atas tebing, ... lalu beranjak ke arah tebing lain tempat dirinya tadi bersalin pakaian.
Memastikan tak ada yang tertinggal, keduanya berbalik arah ke saung .... Untuk menikmati senja seperti cerita di awal ...
__ADS_1
...----------------...