Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
36. Awal Cobaan


__ADS_3

Mbah Jum meminta Seti untuk menunda keberangkatannya besok pagi ke kedai ikan pulau Drini setelah mendengar rencana Seti yang akan menemani Seto ke sana.


Menurut mbah Jum, hari Minggu Pahing dalam hitungan kalender jawa adalah hari yang tidak baik untuk bepergian. "Mending diundur Senin saja le kalau mau ke tempat Dibyo," ujar mbah Jum meneruskan pembicaraan dengan Seti yang sedang menemaninya di warung di hari Sabtu siang pertengahan Februari 1995.


"Coba lihat nanti mbah. Kalau aku sih terserah bagaimana mas Seto saja. Aku kan cuma pegawainya," jawab Seti.


"Mas-mu datang jam berapa nanti ? Biar mbah kasih tahu. Hati si-mbah kok gak enak kalau kalian pergi jauh-jauh besok Minggu," Mbah Jum menatap Seti dengan wajah mengharap permintaannya dituruti.


"Nanti siang mbah, bareng temannya. Gak tahu nanti langsung ke sini atau singgah dulu mengantar temannya ke Wirobrajan," Seti merasakan kegelisahan mbah Jum tentang rencana keberangkatannya ke kedai ikan pulau Drini bersama Seto.


Hati kecil Seti sendiri sebenarmya juga bertanya-tanya apa maksud kedatangan Seto yang kali ini mengajak Bening menyusul Hening ke rumah Wirobrajan dulu sebelum ke Drini.


Hening dan Yuni sudah sampai di rumah Wirobrajan sejak kemarin. Menemani mereka dengan segala cerita menyenangkan bersama Asri, Joe dan Doni membuat waktu berlalu begitu cepat. Apalagi om Rudi bapak Yuni ikutan nimbrung di tengah obrolan.


Menjelang jam tiga pagi barulah Seti, Joe dan Doni undur diri dari rumah Wirobrajan. Asri menginap di rumah Wirobrajan menemani Hening dan Yuni.


Pulang dari rumah Wirobrajan, Seti masih memikirkan kedatangan Seto yang akan menemani Bening. Tak banyak kata-kata Seto yang menjelaskan maksud kedatangannya ke Jogja kali ini selain hanya ingin menemani Bening menemui Hening.


Bangun agak siang dan menceritakan tentang kisah masa lalu Seto dan Bening membuat mbah Jum menanyakan hari kelahiran Seto dan Bening. Permintaan untuk menunda keberangkatan ke kedai ikan pulau Drini menurut mbah Jum juga tak lepas dari hitungan Jawa-nya setelah mendengar masa lalu Seto dan Bening.


Walau tak mempercayai mitos yang disampaikan mbah Jum, Seti berjanji akan menyampaikan pesan mbah Jum kepada Seto untuk menunda rencana keberangkatan ke Drini.


...----------------...


Lapak Malioboro berdandan genit. Menebar godaan ke arah mata pengunjung yang meliriknya agar mau singgah. Tidak masalah jika rutinitas tadi berakhir hanya dengan pengunjung yang sekedar menawar lalu meninggalkannya tanpa membeli. Toh selalu ada kesenangan masing-masing jika tawar menawar alot akhirnya menjadi kesepakatan harga suatu barang.


Seperti pengasong lain, Doni terlihat sedang bergegas mengatur letak barang jualan di lapak-nya. Joe bolak balik membantu mengangkat kardus kardus berisi barang jualan dari tempat penitipan tak jauh dari lapak.


Setengah jam berkemas, lapak sudah terlihat rapi dengan deretan barang jualannya. Joe duduk menyebelahi Doni setelah meletakkan dua gelas kopi panas di meja kecil belakang lapak. Menyalakan rokok, keduanya terdiam menikmati kehangatan kopi di sela hisapan rokoknya.


"Jam berapa Joe ?" Doni memulai percakapan setelah keterdiaman tadi.

__ADS_1


"Dua," Joe memainkan rokoknya.


"Kok Seti belum datang ya,"


"Mungkin jemput Asri dulu di Wirobrajan,"


Keduanya kembali terdiam. Berjanji datang ke lapak Malioboro dulu, Seti belum terlihat seperti kebiasaannya yang selalu tepat waktu. Seharusnya Seti sudah ada di lapak Malioboro sejak satu jam yang lalu untuk bergantian menjaga lapak saat Joe dan Doni pergi ke Stasiun.


Di sela obrolan rumah Wirobrajan semalam, ada bagi-bagi tugas mendengar Seto akan datang bersama Bening. Seti dan Asri kebagian belanja untuk masak makan malam. Yuni dan Hening yang akan memasak. Joe dan Doni menjemput dari stasiun dan mengantar Seto dan Bening ke rumah Wirobrajan.


...----------------...


Seto menggandeng erat tangan Bening setelah memutuskan meninggalkan stasiun ke arah Malioboro. Bening yang terlihat cantik menikmati betul genggaman tangan Seto. Kaki jenjangnya ringan mengikuti langkah Seto.


Berjalan menyeberang jalan Pasar Kembang, Seto sesekali melirik sosok perempuan yang sekarang ada di sebelahnya.


Tak banyak kata yang keluar. Seto dan Bening menikmati sudut Malioboro yang mulai terlihat di depan. Rayuan beberapa pengasong mulai terdengar di sela langkah mereka. Jogja yang baru pertama kali dikunjungi Bening mulai meninggalkan kesan di hatinya.


"Tuh di depan," Seto menunjuk ke arah lapak di depan Apotek Kimia Farma tak jauh dari tempat mereka.


...----------------...


Joe dan Doni terkejut mendengar suara Seto yang menyapa dari depan lapak. Bergegas berdiri dari dingklik, keduanya beranjak menyambut Seto dan menyalaminya.


"Selamat sore mbak Ning... Selamat datang di Jogja," Joe menyapa Bening yang terlihat sedang mengagumi barang dagangan yang ada di lapak.


"Sore Joe,... makasih sambutannya," ada tawa kecil dari bibir tipis Bening. Suasana hatinya mulai riang.


"Seti mana Don ?" Seto menanyakan adiknya tak lama setelah duduk di sudut belakang lapak.


"Gak tahu mas,... tidak seperti biasanya dia telat datang ke lapak," jawab Doni.

__ADS_1


"Pantas kami tidak ada yang jemput di stasiun," Seto melirik ke arah Bening. Seperti meminta maaf karena mengajaknya berjalan dari stasiun.


"Ah gak papa Don, ... aku malah senang jalan kaki. Jadi bisa lihat lebih dekat mengamati Malioboro," Bening menyela percakapan. Mencoba mengakrabkan dengan Doni yang baru dikenalnya.


"Maaf ya mbak ... Gak ada yang jaga lapak kalau kami pergi mengantar motor ke stasiun tadi." Doni menanggapi Bening.


Jika Seti tepat waktu ke lapak Malioboro, Doni akan memakai RX-S Muji yang dipinjamnya, dan Joe memakai si Denok menjemput Seto dan Bening di stasiun kemudian mengantarnya ke rumah Wirobrajan.


Untungnya Seto sudah tahu lapak Malioboro dan memutuskan singgah dulu di sana sebelum ke rumah Wirobrajan mengantarkan Bening.


"Minum panas atau dingin ?" Joe menawarkan minuman ke Seto dan Bening yang duduk bersebelahan.


"Jeruk hangat kalau tidak merepotkan Joe," jawab Bening. Kepalanya bersandar di bahu Seto. Tak ada kecanggungan lagi di dirinya untuk memperlihatkan suasana hatinya di hadapan Joe dan Doni.


"Aku kopi panas Joe, ... sekalian belikan rokokku dan rokok kalian." Seto menyerahkan selembar lima puluh ribuan ke arah Joe.


Tak berlama, Joe beranjak meninggalkan lapak setelah menerima uang dari Seto.


...----------------...


Cerita Doni tentang Sanggar Taji terputus ketika melihat Seti dan Asri di seberang Malioboro. Seto dan Bening berpaling mengikuti pandangan Doni.


Setelah merangkul erat kakaknya, Seti lalu menyalami Bening. Di belakangnya Asri menyalami Seto lalu beralih ke arah Bening dan Doni.


"Maaf ban si Denok bocor," Seti membuka percakapan setelah duduk di depan Seto dan Bening. Sadar ada Asri di depannya. Bening sedikit menjauhi Seto.


"Sudahlah mbak Ning, aku gak apa-apa, ... selama mbak Ning bahagia, aku ikut bahagia." Asri mencoba menghilangkan kekakuan Bening terhadapnya.


Sejenak lapak terdiam mendengar kata-kata Asri barusan. Untungnya Doni membaca suasana itu. Tak ingin ketidaknyamanan Bening dan Asri berlanjut, Doni menanyakan Hening dan Yuni di rumah Wirobrajan kepada Asri yang semalam menginap di sana.


Obrolan lapak Malioboro mengalir lagi. Menyenangkan ketika kemudian Doni mengucapkan terimakasih kepada Bening. Sebab lewat Hening adiknya, Doni menemukan Yuni cinta pertamanya, sekaligus berlanjut dengan hubungan pekerjaan. Jalinan perjalanan lapak Malioboro dan Sanggar Taji sejauh ini semakin berkembang. Tidak melulu tentang cinta saja. Ada pertanggungjawaban pekerjaan di dalamnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2