
Seperti apakah wujud cinta ? Bukankah dia fana ? Seputih kapas karena ada kejujuran di dalamnya ... Atau sehitam jelaga periuk nasi rumah Banjarejo ketika ada yang tersembunyi di dalam lubuk hati ?
Banyak yang sepakat jika cinta itu tidak dapat direncanakan ... Bisa datang dan pergi kapan saja tanpa pernah mau tahu ada kebahagiaan atau luka karenanya.
Begitulah perdebatan rumit tentang cinta yang muncul begitu saja dalam hati Asri setelah mengikuti wisuda Seti ....
Jika cinta itu tentang kebahagiaan, Asri tak membantah rasa itu ada dalam dirinya ... Tetapi ketika cinta itu juga bisa melukai, dirinya juga membenarkan pendapat itu ... Keduanya datang silih berganti ketika tersapa cinta.
Mengajarkan Asri untuk bersiap mengolah rasa itu yang sudah menyentuh perjalanan cintanya bersama Seti.
...----------------...
Berkumpul di bawah selasar rumah Wirobrajan setelah wisuda Seti usai, menggembirakan semua yang ada di bawahnya.
Tak ada yang salah untuk melampiaskan kegembiraan tanpa perlu memamerkan keriuhan sorak sorai berkepanjangan .... Melupakan sejenak segala luka yang menyakitkan tetapi tak mematikan.
Jika Seto dan Bening berujung kebahagiaan pernikahan setelah lika liku jalinan roman mereka. Rasa itu juga ada pada diri Asri setelah keluarga besar Seti menerimanya menjadi belahan jiwa Seti ketika Bapak Seti menyampaikan akan singgah ke rumah Sokaraja membahas ikatan pertunangan dirinya dan Seti sepulang dari rumah Wirobrajan.
Gunawan dan Santo dari LBH Junjung Keadilan yang ikut bergabung dan menyerahkan SP3 sebagai bukti dihentikannya perkara yang menyeret Seto dan Seti sebagai penyebab kematian seseorang di Drini semakin memberi rasa kenyamanan dan kelegaan semua yang ada di bawah selasar rumah Wirobrajan.
Nenek terlihat paling bahagia melihat Seto dan Seti lepas dari kegundahan masalah yang bertubi-tubi menempa kedewasaan keduanya. Tak henti-henti mengajak semuanya untuk mengucap syukur kepada Yang Kuasa.
Rasa lelah perjalanan dari Jakarta hilang seketika dari badan Bening, Yuni dan Hening .... Terobati suasana kegembiraan di bawah selasar rumah Wirobrajan.
Seto merangkul erat Santo dan Gunawan bergantian ... Dekapan erat Seti yang mengikuti kakaknya menggantikan segala kata yang tak dapat terucap.
Bening yang tertegun dengan apa yang dilihatnya lalu menyadari Hening adiknya sedang memperhatikan dirinya.
Bening mengusap air matanya lalu mendekati Hening. "Tidak seperti yang kamu pikirkan Hen ... " Kata Bening setelah duduk di samping Hening. "Aku bahagia ...," ujarnya kemudian.
"Aku tahu mbak ...." Hening mendekap erat kakaknya.
Paham tentang berbagai sentuhan cinta yang telah dirasakan kakaknya, Hening larut dalam rasa yang sama.
__ADS_1
Hanya saja rasa tentang cinta yang meledak dalam hati Hening lebih kepada kegembiraan bahwa luka hati Bening karena cinta yang terobati.
Takjub menyadari Sang Waktu mengatur Seto yang kini menggantikan Joko di sisi Bening pada saat yang tepat.
Tak terbayangkan di hati Hening jika Sang Waktu tak bermurah hati mengatur jawaban atas semua pertanyaan tentang arti cinta yang dijalani kakaknya.
Semua persangkaan tak akan mampu melawan kehendak Sang Waktu ...Terbantahkan ketika berakhir dengan jawaban cerita indah.
Itulah kenapa Hening ikut larut dalam kegembiraan selasar rumah Wirobrajan ... Kegembiraan cinta yang dirasakan yang lain adalah kegembiraannya juga.
...----------------...
Joe sepertinya juga ikut larut dalam kegembiraan. Tentu saja kegembiraan dirinya dipertontonkan dengan kesibukannya mencicipi semua makanan yang tersaji.
"Tak perlu gengsi dan malu Hen kalau lapar... sikaaaat .... Mumpung gratis !" Seru Joe ke arah Hening yang sedang memperhatikan dirinya.
Tangan kiri Joe memegang piring penuh berisi kue dan jajajan, tangan kanannya sibuk menyendok es krim ke piring yang lain yang ada di meja.
"Hihihi ... ada yang kelaparan," Hening bergabung menemani Joe.
"Tumben kamu paham keadaan di luar sana Joe,"
"Mau bagaimana lagi ... demo di sana sini .... Harga makin gak karu-karuan bikin sepi pembeli." Kata-kata Joe dibenarkan Hening dalam hati. "Bagaimana Jakarta ?" Lanjut Joe lagi sambil melahap sepotong kue di piringnya.
"Sama saja Joe ... Untungnya pesanan kami sebagian besar dari luar. Jadi keuntungan sanggar Taji malah semakin besar. Kasihan sanggar lain yang hanya tergantung pesanan domestik ... Banyak yang tutup dulu."
...----------------...
Selasar rumah Wirobrajan di penghujung tahun 1997 itu sepertinya selain menjadi saksi kebahagiaan juga menjadi saksi kegelisahan.
Hiruk pikuk politik dan demo di sana sini mulai berimbas pada lapak Malioboro dan bengkel Sokaraja. Bapak dan Ibu juga sempat mengeluhkan pabrik kembang gula tempatnya bekerja yang berencana akan merumahkan sebagian karyawannya kepada om Rudi.
Untungnya seperti yang diceritakan Hening kepada Joe, sanggar Taji malah mendapatkan keuntungan akibat selisih nilai mata uang dolar dan rupiah.
__ADS_1
Tak salah Yuni memaksa Bening yang paham urusan keuangan untuk membantu rencana penjualan barang kerajinan sanggar Taji untuk pesanan luar negeri.
Jika sebelumnya sanggar Taji memasang harga dalam rupiah, setelah Bening bergabung semua harga untuk pesanan luar negeri disepakati memakai dolar sebagai transaksinya.
Pengalaman Bening selama bekerja di bank membuat sanggar Taji tepat dalam strategi pemasaran dan penjualannya.
Tak dipungkiri juga oleh Yuni dan Hening betapa kekuatan mental Bening sangatlah teruji. Tak terganggu dengan permasalahan Drini, ... semua kebijakan sanggar Taji berujung dengan keuntungan.
Itulah kenapa rencana pernikahan Bening dan Seto tetap dilaksanakan. Apalagi perkara Drini yang menyeret Seto berhasil dipatahkan oleh Gunawan dan Santo dengan pembuktian yang cermat.
Kegelisahan tentang cara bertahan hidup menghadapi kesulitan keuangan hanya menjadi bumbu kecil kebahagiaan cinta Seto dan Bening.
...----------------...
Banyak rencana yang tersusun di selasar rumah Wirobrajan kemudian ....
Santo pamit merasa urusan-nya sudah selesai. Gunawan juga mengikuti mengantar Santo sekalian menjemput mbah Jum, Muji dan Dibyo di Samirono memakai mobil om Rudi.
Bapak, Ibu, Nenek dan om Rudi membicarakan rencana mereka sebagai orang tua tentang apa yang akan dijalani anak-anaknya.
Jika hubungan Seto dan Bening serta Seti dan Asri sudah penuh kepastian, ... om Rudi juga menyinggung hubungan Yuni dan Doni dalam perbincangan mereka.
Sepertinya om Rudi juga berkehendak agar Yuni dan Doni secepatmya mengenalkan keluarga mereka masing-masing.
Undangan menghadiri permikahan Seto dan Bening serta pertunangan Seti dan Asri diterimanya dengan senang. Sekaligus meminta Bapak dan Ibu untuk menemaninya ke tempat keluarga Doni setelahnya.
Di sudut yang lain, Seto dan Bening memisahkan diri ..... Keduamya larut dalam pembicaraan serius tentang akan tinggal di mana mereka setelah menikah.
Rumah jengki tak jadi dijual .... Bening menyerahkannya kepada Hening untuk diurus. Urusan bengkel Sokaraja Seto diserahkan kepada Teguh untuk dikelola. Kedai Ikan Drini juga sudah dipasrahkan Seto kepada Dibyo untuk diteruskan.
Tawaran untuk tinggal di rumah Nenek sambil menyelesaikan kuliah Seto di Purwokerto sepertinya tak ditolak Seto dan Bening.
Itulah yang sedang dibicarakan keduanya sambil menunggu kondisi usaha membaik Seto tak menolak permintaan Bening untuk membiarkannya tetap bekerja membantu sanggar Taji. Toh tidak harus setiap hari Bening harus selalu di Jakarta.
__ADS_1
Seti, Joe, Doni, Asri, Hening, dan Yuni tahu diri dan tak mau merecoki pembicaraan orang tua. Tentu saja ada yang dibahas setelah kegembiraan kelulusan Seti dan rencana pertunangannya dengan Asri sambil menunggu mbah Jum, Muji, dan Dibyo yang sedang dijemput Gunawan.
...----------------...