Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
70. Tanah Panjatan


__ADS_3

"Ada tiga kamar kosong di samping rumah nak, kalau memang nak Seti mau tinggal di gubug ini pilih saja kamar itu. Cuma namanya di kampung ya seperti itu adanya. Listrik juga belum ada." Kata mbah Karto setelah Seti menjelaskan lagi maksud kedatangannya.


"Nggak papa mbah. Yang penting ada tempat buat istirahat dan tidur dekat kantor, saya sudah senang,"


"Jadi mau tinggal di kamar yang mana ? Nanti mbah bersihkan," mbah Karto lalu berdiri menyuruh Seti memilih kamarnya.


"Yang mana saja mbah," Seti berjalan mengikuti mbah Karto ke arah deretan kamar yang dimaksud.


Rumah mbah Karto seperti kebanyakan rumah kampung di pesisir Kulon Progo lebih tinggi dari halamannya. Rumpun bambu wulung membatasi halaman rumah dengan tanaman cabai yang terlihat subur terawat dengan pucuk daunnya yang hijau di sekeliling rumah mbah Karto.


Seti memilih kamar paling ujung setelah mbah Karto membuka satu satu pintu kamar berdaun papan kayu jawa. Udara segar menerobos masuk ke kamar dari jendela kayu yang dibuka lebar mbah Karto.


"Seperti ini kamarnya nak .... Mbah cuma tinggal berdua. Jadi kamar-kamar ini jarang dipakai, kecuali anak-anak kumpul pas lebaran saja," kata mbah Karto."Ini dipan jaman dulu, kasurnya saja yang baru dibelikan sama anak pertama si mbah lebaran kemarin." Lanjut mbah Karto sambil membersihkan kasur di atas dipan jati itu dengan sapu lidi.


"Ya mbah .... Matur nuwun berkenan menerima saya tinggal di sini." Seti lalu ikut membantu mbah Karto membersihkan seisi kamar.


Tadinya mbah Karto bersikeras untuk tak mau menerima uang pembayaran kost dari Seti. Ada yang mau menemaninya saja, mbah Karto sangat merasa senang.


Wandi cucu mbah Karto seperti anak muda kebanyakan, lebih banyak menghabiskan waktu di luar bersama teman sebayanya setelah pulang dari ladang.


Barulah setelah Seti menjelaskan perihal uang yang diberikannya adalah uang dari kantor, mbah Karto mau menerimanya.


Setelah merasa rapi dan bersih, mbah Karto meninggalkan kamar untuk membuat kopi. Membiarkan Seti menatap hamparan pohon cabai yang terlihat jelas dari jendela kamarnya sampai garis pantai dekat tempat kerjanya.


Melirik arlojinya, Seti meninggalkan kamar dan menyusul mbah Karto ke ruang tamu. Masih ada sedikit waktu untuk berbincang dengan mbah Karto sebelum jam istirahatnya berakhir.


...----------------...

__ADS_1


Berjanji setelah tahun baru akan menempati kamarnya, Seti berpamitan kepada mbah Karto setelah merasa tak ada lagi yang perlu disampaikan.


Mbah Karto melepas kepergian Seti dari halaman depan rumahnya. Walau baru sebentar mengenal Seti, dari sorot matanya terlihat keinginan lebih lama untuk mengajak Seti menemaninya mengobrol.


Paham Seti harus bekerja, tak ada alasan lagi menahan Seti lebih lama.


Sama seperti mbah Karto. Kesan pertama Seti di rumah mbah Karto sangat menyenangkan. Setidaknya sampai dirinya pamit, perbincangan terasa tak ada sekat umur. Apalagi ketela goreng yang masih tersisa ketika menemani perbincangan dibawakan mbah Karto untuk teman kerja Seti.


Si Denok hati-hati menyusur jalan kampung menghindari genangan air ke arah jalan Daendels. Mengantar Seti kembali ke tempat kerjanya.


Kali ini masalah tempat tinggal selama bekerja di Panjatan sudah tidak menjadi persoalan bagi Seti.


Walau hanya memakai lampu dari aki dan lentera minyak kelapa untuk penerangan di malam hari seperti kata mbah Karto, suasana rumah dan kehangatan yang empunya rumah dirasa Seti sudah cukup untuk tempat beristirahatnya.


Selama ini Seti masih tidur di mess waduk Sermo sambil menyelesaikan beberapa tanggungan laporan pekerjaan sebelum berpindah ke tempat kerja barunya di Panjatan.


Bolak balik dari waduk Sermo ke Panjatan yang hanya setengah jam jika memacu si Denok jadi rutintas baru Seti sebelum urusan kerjanya di waduk Sermo selesai.


Uang kost rumah mbah Karto yang sudah dibayarnya setahun di muka setidaknya menjadikan Seti tak terganggu dan bersiap untuk menemani Asri dan Hening di Jogja nanti.


...----------------...


Pulang kerja nanti Seti akan mampir ke tempat Muji di Wates. Selain hanya berbincang lewat telepon, sudah lama Seti tak bertemu secara langsung dengannya.


Kesibukan pekerjaan masing-masing mengharuskan keduanya belum bisa meninggalkan pekerjaan-nya walaupun sebenarnya jarak Jogja dan Kulon Progo tidak terlalu jauh.


Muji yang menelepon Seti jika dirinya akan pulang mudik ke Wates tiga hari yang lalu menjadikan Seti tak sabar menyelesaikan kerjaan hari itu.

__ADS_1


Bagusnya, teman kerjanya di Panjatan memang benar-benar terseleksi. Tak banyak waktu kerja yang terbuang untuk hal-hal sepele. Masing-masing sudah paham kewajiban pekerjaannya tanpa harus saling menunggu.


Kesulitan pengambilan sample pasir besi dengan bor manual hanya ketika berpindah tempat. Berjalan di atas gumuk pasir sangat menguras tenaga dengan bawaan peralatan dan perlengkapan yang ditenteng. Apalagi jika hujan turun, ... kaki akan terasa sangat berat dan melelahkan siapapun yang baru pernah melakukannya.


Jika saja tak ada ladang cabai di sepanjang pantai tempat pengambilan sample pasir besi tentu akan lebih memudahkan pengangkutan core sample yang diambil.


Slamet yang juga bertanggung jawab di eksplorasi Panjatan mensiasatinya dengan melibatkan beberapa pemuda kampung terdekat untuk mengangkutnya dengan motor roda tiga yang sudah dimodifikasi sehingga tetap akurat ketika dianalisa di laboratorium.


Sejarah panjang kepemilikan lahan di sepanjang pantai pesisir selatan Kulon Progo sempat membuat beberapa lahan milik kadipaten Pakualaman terbengkelai. Biaya untuk mengurusnya tidak sebanding dengan hasil yang diperolehnya.


Sampai kemudian beberapa penduduk setempat mengolah lahan dengan meninggikan sebagian tanah supaya kering dan ditanami bawang merah, dan lahan yang rendah ditanami padi.


Pengolahan lahan seperti itu disebut dengan istilah surjan sebagai kearifan lokal yang pertama kali dilakukan oleh Ki Karto Atemo dan Ki Reso Inangun dua warga setempat sekitar tahun 1935.


Cerita mbah Karto tentang asal muasal tanah pesisir Kulon Progo yang semula tandus menjadi subur dan menghasilkan bawang merah serta cabai melintas di kepala Seti ketika mencatat data sample yang akan diangkut dari lubang terakhir titik sampling pekerjaan hari itu sebelum berpindah ke lokasi titik berikutnya.


"Katanya kamu mau ke tempat Muji Set ?" Tanya Slamet yang tanpa disadari Seti sudah ada di sampingnya.


"Eh mas Slamet .... Iya mas, nanti kalau sampling hari ini sudah sesuai target," jawab Seti sedikit terkejut menyadari kehadiran Slamet yang sudah ada di sampingnya.


"Salam ya buat Muji. Aku belum bisa bergabung dengan kalian. Bos minta sebelum libur akhir tahun semua pekerjaan di sini sudah sesuai target," Slamet meneruskan kata-katanya sambil mengawasi pekerjaan.


"Ya mas, nanti saya sampaikan," Seti menanggapi. "Saya juga nanti baru ketemu Muji lagi." Lanjutnya lagi.


"Ok Set .... Aku mau ke kantor dulu. Kalau sempat nanti kita lanjutkan obrolan di sana setelah pekerjaan hari ini selesai," Slamet pamit ke arah Seti, merasa tak ada pekerjaan yang terhambat dan terganggu.


"Ya mas, nanti saya ke kantor setelah semuanya selesai dikemasi." Seti membalas senyuman Slamet yang beranjak meninggalkan lokasi sampling.

__ADS_1


Pesisir Panjatan masih terlihat kesibukan pekerjaan sampling pasir besi menjelang petang. Seti mengoreksi lagi catatan pekerjaannya dan mencocokkan ulang dengan stiker core sample yang akan diangkut ke kantor untuk dianalisa di lab.


...----------------...


__ADS_2