
Tak perlu ada rasa penyesalan tentang masa lalu yang tak berkesudahan jika jiwa itu hidup. Menyusur lorong-lorong waktu tentang kesalahan hidup yang terekam jelas dalam kenangan, lalu memahami kesalahan itu saat sekarang, dan berupaya tak mengulang pada masa yang akan datang adalah tumbuh kembangnya jiwa hidup.
Entah sesuatu yang rumitkah jiwa itu, sehingga tak lepas dari catatan kesalahan masa lalunya. Atau dia begitu sempurna sehingga tak ada beban kesalahan di masa lalunya, tak ada yang bisa memastikannya. Banyak yang bersandar kepada langit untuk menjawab ketidaktahuan itu.
Dan Seto tak peduli ... Masa lalu, kini, dan esok saling berkait menyusun kepingan mozaik tumbuh kembang jiwa dalam peziarahan mesin waktu masing-masing.
Berubah menjadi dewasa dengan belajar dari kesalahan masa lalu, atau tetap diam membeku dalam belengu kesalahan yang sama di masa datang.
Seperti mesin waktu, surat Seti yang mengabarkan kesulitan Joko dan Bening membawa Seto ke masa kini.
Seto sekarang bukan Seto di masa lalu yang peragu ketika pilihan menjadi sesuatu yang berguna bagi kedua sosok yang pernah singgah di suatu masa, atau membiarkan dalam kebekuan masa lalunya harus diambilnya.
Memutuskan untuk pulang menengok Joko setelah Bening tak keberatan dengan kehendaknya, ... Seto menyusur ulang lorong waktunya dengan jiwa yang semakin hidup.
Kali ini dirinya merasa lebih berguna ....
...----------------...
"Kamu yakin Bening baik-baik saja jika aku menengok Joko besok ?" Seto memulai percakapan setelah makan malam yang menyenangkan di warung mbah Jum.
"Sepanjang mas yakin kedatangan mas membuat mas Joko terhibur, aku yakin mbak Ning pasti akan ikut senang," jawab Seti, "Hening dan Asri sendiri yang mengatakannya kepadaku saat aku menelepon mereka," tegasnya lagi.
Melirik wajah adiknya, Seto semakin larut dalam lorong waktunya.
Tentang kesulitan Joko dan Bening seperti yang diceritakan Seti dalam suratnya sebenarnya dirinya ingin tahu lebih jauh ... Tak mau sekedar menduga, ... Seto ingin berbicara secara langsung dengan Bening. Berharap Bening tak sungkan menceritakan semua kepadanya, ... Terutama masalah kesulitan keuangan seperti yang disinggung Seti.
"Bengkel Joko bagaimana Set ?" Mencoba meraba apa yang sekiranya dapat dilakukannya nanti setelah bertemu Joko dan Bening, Seto menanyakan usaha Joko kepada adiknya.
"Aku kurang begitu tahu mas. Hanya kata Asri, banyak kerjaan yang tersendat sejak mas Joko sakit," Seti mengaduk gelas kopi yang sedang dibuatnya.
"Asri dan Hening tidak cerita barangkali ada tagihan bengkel yang tertunda ?" Seto teringat saat terakhir bertemu Joko yang berniat mengajukan kredit ke bank untuk peremajaan alat kerja di bengkelnya.
"Wah aku tidak paham masalah itu mas. Hanya Asri dan Hening bercerita, saat ini berusaha untuk tidak merepotkan mas Joko dan mbak Ning tentang uang saku bulanan mereka," Seti meletakkan gelas kopi ke dekat Seto, "Ngopi dulu mas," sambungnya lagi sambil mengambil sebatang rokok milik Seto.
"Rokokmu berapa bungkus sekarang ?" Seto tersenyum ke arah Seti ... Tertarik melihatnya sudah banyak merokok setelah kedatangannya di kost Samirono.
"Ah mas Seto ... ini saja agak banyak karena ada mas. Aku bisa merokok dan berhenti kapan saja. Tidak harus selalu merokok tiap hari," Seti agak sungkan dengan teguran Seto, "Kalau mas keberatan aku matikan," lanjutnya sambil menjulurkan rokok yang dipegangnya ke arah asbak.
__ADS_1
"Hush ... ngrokok aja, mas gak nglarang kok selama kamu mampu membelinya," Seto tertawa kecil melihat kecanggungan Seti.
Seti menatap kakaknya, ikut tertawa kecil dan meneruskan hisapan rokoknya. "Nanti ke lapak Malioboro mas, barangkali ada sesuatu yang terlupa sebelum ke Purwokerto besok. Kita sekalian beli sambil jalan,"
"Kelihatannya gak ada yang terlupa Set," Seto meneguk kopi hangat yang ada di depannya. "Semakin laku dagangan lapak kalian ?" Seto mengalihkan percakapan ke lapak Malioboro.
Penasaran dengan cerita Seti tentang lapak itu membuat dirinya memutuskan singgah dulu di Jogja menengok sekaligus membesarkan semangat adik kesayangannya.
"Paling tidak aku tidak sering-sering minta uang lagi ke Bapak, Ibu, dan mas Seto lagi," ada nada girang dari Seti menanggapi pertanyaan Seto tentang lapak Malioboro.
Kamar kost Samirono semakin hangat dengan percakapan kakak beradik itu.
Sayangnya libur semester ini membuat Seti belum sempat mengenalkan teman kost-nya ke kakaknya.
Dibyo liburan di kampungnya. Muji juga pulang kampung menunggu wisuda-nya yang tinggal beberapa bulan lagi.
"Yuk mas kita berangkat." Setelah menghabiskan rokok dan kopi masing-masing, Seti mengajak kakaknya jalan ke lapak Malioboro.
Tak sabar mengenalkan Seto kepada Joe dan Doni sahabatnya, dan tentu saja kesibukan lapak dengan lalu lalang pengunjungnya.
...----------------...
Jaket tebalnya melindungi dadanya dari angin malam yang menerpa. Seto yang membonceng memperhatikan kanan kiri jalan yang dilaluinya. Membenarkan pilihan adiknya yang memilih kuliah di Jogja selepas SMA-nya.
Kota yang menurut dirinya tenang untuk belajar dan tepat untuk mencari wawasan kedewasaan laki-laki.
Setengah jam melintasi jalanan Jogja yang ramai di malam dingin yang cerah, sampailah si Denok ke tujuannya. Berhenti di sudut Malioboro, si Denok membiarkan dua laki-laki dengan kedewasaan masing-masing ke arah lapak yang ada di seberang jalan.
Seto mengikuti Seti yang menyeberang setelah menitipkan si Denok ke mas penjaga parkir yang tersenyum ramah ke arah mereka.
Langkah keduanya terlihat ringan, ingin secepatnya sampai ke lapak yang dituju.
Pandangan Seto beralih ke arah deretan lapak yang terlihat ramai di depannya.
Masing-masing lapak terlihat dipenuhi pengunjung. ... Seti yang ada di depannya berhenti di salah satu lapak, lalu menengok ke Seto.
"Ini lapak kami mas, ... duduk dulu," Seti menyiapkan dingklik ke arah Set ... Lalu beringsut membungkus dua tas kulit besar yang disodorkan laki-laki muda berambut sebahu yang tadi disapanya.
__ADS_1
"Doni," laki-laki berambut panjang itu mendekat ke arah Seto, menyapa dan menyalami sambil menyebut namanya, "Teman Seti dari Purwokerto," lanjutnya lagi, lalu duduk menyebelahi Seto.
"Seto, kakak Seti," jawab Seto menjawab salam Doni.
"Itu Joe teman Seti dari SMA mas," Doni menunjuk ke sosok laki-laki lain yang terlihat sedang merayu pembeli di sebelah Seti.
Seto mengangguk mengikuti arah tangan Doni .... Hati kecilnya senang melihat sendiri kesibukan adik dan temannya belajar menghargai waktu dan uang.
Betapa cerita Seti ternyata lebih dari apa yang digambarkan dalam surat-suratnya tentang Jogja,membuat kesan pertama Seto dengan pergaulan Seti di Jogja memuaskan hatinya.
Membiarkan sejenak lapak Malioboro dengan geliat malamnya, Seto membiarkan Seti, Joe dan Doni dengan kesibukannya sejenak.
Mengeluarkan rokok dari saku jaketnya, pandangannya memperhatikan sudut sudut lapak yang lain. Menyadari bahwa dagangan lapak Seti, Joe, dan Doni terlihat berbeda dari lapak-lapak yang lain.
"Ini Joe mas, teman SMA dulu bareng Hening," suara Seti yang mengenalkan Joe ke arahnya membuyarkan lamunan Seto.
"Seto," membalas uluran tangan Joe, Seto menjawab pendek.
"Mau kopi atau minuman dingin mas ?" Doni yang menyusul ke sudut belakang lapak menawarkan minum ke arah Seto.
"Air putih dingin saja Don ... Barusan ngopi di kost Seti," jawab Seto.
Doni beranjak meninggalkan lapak membeli air dingin yang diminta Seto.
"Datang kapan mas ?" Joe berbasa-basi menegur Seto.
"Tadi sore .... Besok lanjut lagi ke Purwokerto," Seto menjawab teguran Joe.
"Naik bis atau kereta besok ?" Tanya Joe lagi.
"Entahlah, ... lihat situasi."
Lalu lapak Malioboro mulai dengan perbincangan laki-laki dalam persinggahan lorong waktu Seto setelah Doni kembali membawa pesananannya dan satu bungkus besar gorengan .... Kali ini semuanya dengan nada yang penuh harapan.
Cerita tentang Bening dan Joko mengalir dari mulut Seto .... Romantisme Seti dan Asri .... Pendekatan Doni dan Yuni ikut menjadi bahan cerita dari mulut Joe yang seperti biasa dengan candaannya ....
...----------------...
__ADS_1