Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
50. Kegundahan


__ADS_3

"Terimakasih Set, ..." Asri meletakkan sekeranjang buah yang diberikan Seti.


Seti mengangguk memperhatikan Asri. Teras kost Mantrijeron sepertinya menunggu kata-kata yang akan menjadi bahan perbincangan dua kekasih itu.


Kondisi Asri yang semakin membaik membuat dirinya sudah lebih sering meluangkan waktu di teras itu jika Seti datang berkunjung.


"Aku lulus ..." Seti berkata pelan memulai percakapan.


"Maksudmu ?"


"Aku lulus kuliah,"


Kali ini Asri menatap tajam Seti. Masih tak percaya apa yang barusan didengar dari mulut kekasihnya.


"Kamu serius ?"


"Aku serius, ..." Seti menegaskan kata-katanya.


"Selamat ya Set... aku senang sekali ..." Kali ini tatapan Asri penuh kebanggaan. "Aku beritahu kabar gembira ini ke ibu ya ...," lanjutnya lagi.


Langkah ringan Asri ketika beranjak meninggalkan teras menunjukkan keinginan hatinya untuk secepatnya berbagi kegembiraan dengan Ibunya yang sedang menonton tivi di dalam kost Mantrijeron.


Tatapan mata Seti tak mampu menahan langkah Asri itu. Ada satu hal lagi yang sebenarnya ingin disampaikannya ke Asri. Tetapi melihat suasana hati Asri yang terlihat senang, diurungkan niat hatinya untuk menyinggung hal yang akan disampaikannya lagi selain tentang kabar kelulusannya barusan.


...----------------...


Tadi sebelum ke kost Mantrijeron , Seti menyempatkan singgah dulu ke kampung Code menemui Gunawan bersama Muji.


Gunawan menjabat tangan Seti erat-erat mendengar kabar kelulusannya setelah ketiganya duduk di teras rumah kali Code. "Kelulusanmu adalah kabar yang sangat berkesan bagiku...,"


"Terimakasih mas, ..." Seti tersanjung mendengar pujian Gunawan.


"Kebetulan kamu datang Set," Gunawan berpaling ke arah Seti. "Aku minta tolong padamu untuk memastikan kondisi kesehatan Asri."


Tentang proses perkara Drini lalu menjadi topik pembicaraan di teras rumah kali Code. Tinggal keterangan Asri yang dibutuhkan penyidik untuk melengkapi berkas perkara kekerasan yang dialami Asri.


Jika memang kondisi Asri sudah memungkinkan untuk dimintai keterangan, penyidik meminta kepada Gunawan dan tim LBH nya untuk menghadirkan Asri sebagai saksi korban.

__ADS_1


"Coba nanti aku mengajaknya mengobrol mas... Jika dia mulai menyinggung masalah Drini ... aku akan mendorongnya untuk tidak ragu dan mau bercerita lebih banyak di hadapan penyidik,"


"Pelan-pelan kamu menyinggung apa yang terjadi di Drini Set... Jangan sampai membuat Asri tertekan lagi dengan apa yang telah dialaminya,"


"Coba nanti lihat bagaimana mas ... Rencananya aku memang akan ke kost Mantrijeron mengabarkan kelulusanku ... Tentang hal-hal lain berkaitan dengan keterangan Asri yang dibutuhkan aku upayakan Asri nanti mau menyinggungnya,"


"Selama ini dia belum menyinggung kejadian Drini kepada Ibunya ?" Gunawan ingin tahu lagi.


"Aku belum tahu mas... Ibu Asri hanya pernah menyampaikan jika kondisi Asri semakin sehat, dan minggu-minggu depan mungkin akan mengajaknya pulang dulu ke rumah Sokaraja. Bagaimanapun juga Ibunya tidak mau Asri jauh dari keluarga untuk saat-saat ini,"


Teras rumah kali Code senyap sejenak. Masing-masing dengan pikiran tentang rencana dan apa yang akan dilakukan jika Asri masih belum mau membuka sebab awal apa yang dialaminya di Drini.


Tak ingin berlama dengan perandaian tentang Asri, Seti meminta waktu untuk menemui Asri. Berjanji untuk sebisanya meneruskan keinginan Gunawan dan tim LBH-nya supaya semakin jelas dan terang apa kekurangan yang masih dibutuhkan penyidik dari Asri.


Meninggalkan Muji dan Gunawan menindaklanjuti rencana-rencana selanjutnya di Polres, Seti mempercayakan keputusan apapun yang akan diambil oleh Gunawan dan tim LBHnya.


Memantapkan hatinya menemui Asri dan Ibunya, Seti meninggalkan rumah kali Code. Setidaknya kelulusannya menjadi modal untuk membuka percakapan yang menyenangkan dengan Asri ...


...----------------...


"Selamat ya nak Seti, " suara Ibu Asri yang keluar menemui dari dalam kost Mantrijeron mengalihkan perhatian Seti dari lamunannya.


Melihat Ibu anak di depannya memperlihatkan kecerahan wajah segar seperti pucuk ranting dengan hijau daun bersemi, membuat hati kecil Seti mengingatkan untuk tak mengusiknya. Hati kecilnya menyuruhnya untuk membiarkan pucuk itu menjadi daun hijau yang menopang hidup.


Sungguh... merasakan degup jantungnya semakin tak beraturan berdekatan dengan ibu anak yang sudah menjadi bagian jiwanya membuat Seti tak mampu mengucap sepatah kata membuka percakapan selanjutnya.


"Wisudamu mengajak aku kan ?" Celoteh riang Asri membuyarkan perandaian rangkaian kata dalam benak Seti.


"Kamu sudah merasa baikan ?" Ibu Asri melirik anak perempuannya. Mencoba mencari tahu lagi apa yang dikehendaki Asri.


"Ah Ibu ... Aku baik-baik saja," Asri memeluk perempuan berjarik di sampingnya. "Kamu ajak aku kan Set ?" Asri mengalihkan pandangannya ke arah Seti di sela pelukan Ibunya.


"Pasti akan kuajak kamu As ... Sudah kutepati keinginanmu untuk secepatnya meyelesaikan kuliahku ... ," Seti menjeda perkataannya, teringat permintaan Asri tentang kelanjutan hubungan mereka ...


Teras kost Mantrijeron sepi sejenak. Sepertinya banyak hal-hal yang akan dibicarakan dengan kehati-hatian saling menjaga perasaan masing-masing.


"Ibu istirahat dulu ya ... temani Asri dulu nak Seti ... " Naluri keibuan Ibu Asri merasa ada perihal tertentu yang akan dibicarakan anak perempuannya dengan kekasihnya tanpa perlu ada dirinya.

__ADS_1


Merasa cukup menemani kegembiraan Asri yang sempat dihempaskan permasalahan Drini, perempuan paruh baya itu beranjak meninggalkan Asri dan Seti.


Wajah teduhnya saat berpapasan menyejukkan gejolak panas di dada Seti.


"Baik bu ... Terimakasih waktunya," Seti membalas senyum sosok yang beranjak masuk ke arah dalam kost Mantrijeron.


...----------------...


"Set ... Katakan saja apa yang masih menjadi bebanmu," ucapan Asri mengalihkan perhatian Seti yang masih memandang pintu tempat Ibu Asri masuk.


"Tentang apa ?" Seti menjawab sebisanya. Masih menebak akan ke mana arah pembicaraan Asri.


"Tentang aku ...," Asri berdiri... Berpindah duduk merapat menyebelahi Seti.


Seti sedikit terperanjat mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Asri. Tak menjawab cepat-cepat ... Lalu terdiam membiarkan Asri bersandar di bahunya. Harum wangi rambut panjang Asri membuat dirinya tak tahan membelainya.


"Tak ada yang perlu dibahas mengenai dirimu," Seti berbisik pelan.


"Kamu tak akan meninggalkanku lagi ?" Nada gundah seperti kekuatiran Seti tiba-tiba saja tercap pelan dari bibir Asri.


"Maksudmu ?" Seti memalingkan wajah ke arah Asri.


Balas menatap tajam ke arah Seti... Keceriaan wajah Asri kembali menunjukkan kemuramannya. "Selama ini pikiranku dipenuhi banyak pertanyaan tentang kita," lanjutnya lagi.


"Tidak ada masalah tentang hubungan kita ... Secepatnya aku akan melamarmu," Seti mencoba menjawab tegas ... Menepis nada gundah pertanyaan Asri.


"Apapun yang terjadi ?"


"Ya ... Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menjawab keraguanmu ?"


"Temani aku menyelesaikan urusan Drini jika kamu mencintaiku ... Luka itu sangat menyakitkanku ..." Asri berpaling setelah mengucapkan kata-kata itu. Mata sayumya menghindari tatapan Seti.


Tak tahu harus berkata apa, benak Seti dipenuhi kehati-hatian kata untuk menanggapi kegundahan hati Asri seperti yang dikuatirkannya.


"Dari awal kejadian itu .. Aku tak pernah meninggalkanmu," masih dengan kehati-hatian kata, Seti memeluk Asri. Mendekapkan pelan kepala Asri yang bersandar di dadanya yang bergemuruh hebat.


"Aku tak bermaksud menuntut lebih darimu ... Aku hanya tak bisa melupakannya ... " Asri membenamkan wajahnya dalam-dalam ke dada Seti. Isak tangisnya terdengar setelahnya.

__ADS_1


Membiarkan tangis itu keluar tanpa ada kata setidaknya mengurangi kesesakan hati Asri. Menunggu keluh perempuan di dekapannya itu mereda, tangan Seti membelai dan mengusap lembut punggung Asri. Memastikan dirinya ada di saat yang seharusnya ketika Asri membutuhkan seseorang untuk melepas gundahnya.


...----------------...


__ADS_2