
Dapur rumah Warni terlihat sibuk. Ibu Dibyo terlihat berjongkok membuat bara dari tumpukan kayu bakar yang sudah menyala.
Tak jauh dari perapian, Asri membantu Warni menjepit potongan ikan asap dengan bilah-bilah bambu yang sudah disiapkan dengan hati-hati.
"Biar ibu yang memanggangnya nak," Ibu Dibyo mencelupkan potongan ikan yang sudah siap dalam bilah bambu ke dalam bumbu.
Satu-satu bilah bambu yang diterima dari tangan Asri itu mulai diletakkannya di atas bara.
Asri memperhatikan tangan cekatan ibu Dibyo yang membalik bilah bambu itu. Wangi bumbu rempah yang terpanggang mulai tercium. Aroma asap bara arang kayu sonokeling yang bercampur bau asap ikan membuat sensasi rasa yang membangkitkan rasa lapar.
Kesederhanaan dan keramahan penghuni rumah Banjarejo melupakan hari melelahkan Asri. Seperti ibunya, ... sama sekali tak terlihat ada gurat kesusahan dari ibu Dibyo.
Sepertinya kedua perempuan paruh baya yang singgah di hatinya itu mempunyai kesamaan pandangan tentang perjalanan hidup seorang perempuan Jawa yang selalu nrima ing pandum .... Tak perlu bersorak ketika menerima rejeki dan tak mengeluh ketika ada halangan.
"Bantu antar nasi jagung ke depan As, ... Aku mau buat sambal terasi dulu," pinta Warni kepada Asri.
"Ya mbak,..." Asri bergegas menata nasi jagung yang terbungkus daun jati ke tampah.
"Kalau susah biar nanti aku yang menentengnya ke depan," Warni tersenyum.
Sepertinya Warni ragu Asri mampu mengangkat tampah berisi bungkusan nasi itu ke depan.
"Ah mbak Warni gak usah kuatir... Aku biasa melakukannya di rumah," Asri tertawa kecil lalu mengangkat tampah yang sudah penuh terisi. Hati-hati Asri melangkah meninggalkan dapur rumah Warni.
Ibu Dibyo dan Warni yang memperhatikan langkah luwes Asri yang tak terganggu dengan tampah yang dibawanya sepertinya membenarkan semua cerita Dibyo tentang Asri.
Sempat larut dalam kepedihan melihat Dibyo yang tak sadar dan terluka parah, perlahan rasa itu menjadi kebanggaan ibu Dibyo dan Warni setelah tahu sebab apa yang mengakibatkan Dibyo terluka.
Mendengar bagaimana sebisa mungkin Dibyo berusaha melindungi Asri yang teraniaya di depan matanya tanpa rasa takut, membuat kedua perempuan itu membenarkan apa yang dilakukan Dibyo.
__ADS_1
Bagi keduanya, Dibyo sudah menjadi laki-laki dewasa yang sangat membanggakan keluarga besarnya, terutama bapaknya yang menjadi Kades dan sangat dihormati serta dituakan di Banjarejo.
Tentang Asri yang membuat Dibyo terkena imbas kejadian Drini, Ibu Dibyo yang sudah beberapa kali bertemu dengannya juga tak menyangka ada seseorang yang begitu tega melakukan sesuatu yang sangat tidak pantas kepadanya.
Pertemuannya lagi dengan Asri di rumah Banjarejo dengan keakraban yang lebih jauh tak pelak membuat naluri keibuan ibu Dibyo semakin kuat untuk menyampaikan apa yang masih mengganjal di hatinya ... Perkara Drini harus secepatnya menjadi terang dan jelas ...
Ketegaran Asri tak dipungkiri ibu Dibyo. Hati kecilnya sangatlah mengaguminya. Betapa tidak mudah dalam pikirannya sebagai sesama perempuan untuk secepat itu memulihkan trauma luka batin yang dialami Asri. Apalagi dirinya juga mempunyai Warni yang belum tentu akan mampu menjalani jika mengalami apa yang terjadi pada Asri.
"Antar sambal dan ikan ini ke depan nduk,... Ibu mandi dulu sebelum menemui mereka," Ibu Dibyo mengalihkan bayangan Dibyo dan Asri dari benaknya lalu menyuruh Warni yang dilihatnya sudah selesai membuat sambal.
"Ya bu, ..." Warni melanjutkan mengiris ketimun untuk lalapan sambal terasi yang sudah dibuatnya.
Memastikan tak ada lagi yang terlupa, ibu Dibyo beranjak meninggalkan dapur.
...----------------...
Jika dirinya membawa baju ganti, Asri sebenarnya ingin ikut Warni yang mengajaknya mandi di telaga tak jauh dari rumah Banjarejo.
Merasa sudah cukup segar dan bersih membasuh wajah dan tangannya, Asri mengeringkan sisa-sisa air pembasuh yang masih menempel dengan handuk yang diberikan Warni.
"Terimakasih mbak," Asri mengembalikan handuk yang barusan dipakainya.
"Beneran tidak ikut mandi ?" Warni mengulang ajakannya.
"Kalau tahu akan mampir ke sini aku tentu mau ikut ke telaga mbak,... Masalahnya aku gak bawa ganti," jawab Asri, "Padahal kata Dibyo mandi di telaga ramai-ramai sangat menyenangkan," ujarnya lagi dengan nada menyesal.
"Ya sudah... toh kapan-kapan kamu pasti ke sini lagi," Warni memahami kata-kata Asri. "Aku nyusul ibu ke telaga dulu ya As.... Nanti kita ngobrol lagi di depan."Imbuhnya lagi.
Asri berjalan menuju rumah depan setelah berkaca merapikan rambutnya dan berias seperlunya tanpa polesan kosmetik yang tak dibawanya sepeninggal Warni.
__ADS_1
...----------------...
Meja ruang tamu Banjarejo terlihat sudah disatukan ketika Asri masuk. Kursi dan risban yang ada cukup untuk duduk semua yang ada di dalamnya. Duduk di risban menunggu ibu Dibyo dan Warni yang kelihatannya sudah selesai mandi dan berdandan, Asri menyimak obrolan serius tanpa kata keras yang terlontar.
Argumen mencari solusi dari tiap-tiap pendapat sepertinya mengerucut kepada perkara Drini. Bapak Dibyo menyampaikan betapa dirinya sempat kesulitan untuk mencegah tindakan balas dendam dari warga dan keluarga besarnya. Dikatakannya juga tentang mobil Sigit dan satu mobil lain yang sempat akan dibakar massa ketika mengetahui Dibyo anaknya menjadi salah satu korban.
Santo dan Gunawan tak menyanggah kata-kata bapak Dibyo dan mengucapkan terimakasih atas upayanya mencegah warga dan keluarganya membalas yang malah bisa saja memperumit keadaan.
Himpitan alam yang keras dan keterbatasan ekonomi di pesisir selatan pantai Gunung Kidul bisa saja menjadi amok yang tak terkendali jika ketidakberdayaan masyarakatnya akibat himpitan alam diusik oleh tindakan kekerasan yang sangat di luar nalar.
Untungnya sumbu ledak itu tak mudah menyala. Kepercayaan kepada penguasa yang dianggap mampu mengayomi mereka membuat pesisir Selatan itu tetap adem ketika kejadian Drini terjadi.
Tak mau kepercayaan keluarga dan warganya yang diamanahkan kepadamya memudar seiring proses yang panjang mengurai kejadian itu, bapak Dibyo menanyakan sampai di mana proses keadilan untuk Dibyo dan yang lain kepada Gunawan dan Santo di tengah-tengah perbincangan rumah Banjarejo.
Ibu Dibyo dan Warni ikut bergabung tak lama kemudian saat Santo menyampaikan beberapa permasalahan akibat kejadian Drini.
Asri bergeser sedikit memberi tempat bagi ibu Dibyo dan Warni untuk duduk bersebelahan dengannya di risban.
Paparan proses pengusutan perkara Drini yang disampaikan Santo kepada semua yang sudah bergabung disampaikan dengan bahasa hukum yang sederhana dan luwes. Mengenai kelanjutan apa yang harus dilakukan jika nanti perkara itu berlarut-larut dipaparkannya dengan hati-hati.
Mengenai berita-berita di media lokal Santo hanya menyampaikan untuk tidak terburu-buru menanggapinya ketika bapak Dibyo menanyakan kebenaran isinya.
"Sebaiknya kita makan dulu nak ... Biar bapak Dibyo sekalian memimpin doa dulu untuk semuanya agar dilancarkan segala urusan dan dijauhkan dari marabahaya ... "Ibu Dibyo menyela perbincangan."Sekalian mumpung kalian di sini, ibu juga minta untuk tak lupa mengucap syukur kepada Kanjeng Gusti Pangeranan atas dipulihkannya Dibyo dan Asri." Pungkasnya sambil menatap ke arah suaminya.
Membalas tatapan istrinya dengan tatapan teduh bapak Dibyo lalu mengajak semuanya menghentikan percakapan dan mulai melafalkan doa dengan khusuk atas keselematan dan kemudahan yang diberikan Sang Khalik.
Nada teduh itu akhirnya mengakhiri kata-kata doa dengan kelegaan dan harapan dari masing-masing. "Silahkan dicicipi masakan ndeso ibunya Dibyo." Ajak bapak Dibyo tak lama kemudian dengan ramah sekaligus mengalihkan percakapan sejenak kepada apa yang tersaji di tikar pandan rumah Banjarejo.
...----------------...
__ADS_1