Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
67. Dunia Baru


__ADS_3

Bentangan perbukitan Menoreh terjamah matahari pagi terlihat seperti raksasa tidur dari arah selatan waduk Sermo. Beberapa pohon pinus dan cengkeh yang tersisa dari genangan waduk terlihat hijau segar tersiram hujan semalaman.


Waduk yang belum lama diresmikan itu adalah satu-satunya waduk yang ada di Jogja yang befungsi untuk menyuplai air PDAM dan irigasi persawahan di sekitar Wates yang menjadi ibukota kabupaten Kulon Progo.


Mampu menampung air sekitar 21,9 juta meter kubik dengan luas sekitar 157 hektar. Konon pembangunan waduk itu selain membendung kali Ngrancah di desa Hargowilis, kecamatan Kokap juga menenggelamkan makam tua yang dikeramatkan.


Makam mbah Sermo yang semula berada ditengah waduk akhirnya dipindahkan ke sebelah timur pinggiran waduk. Sementara penduduk yang mendiami area genangan dipindahkan secara bedol desa dari tanah kelahiran-nya ke Bengkulu dan Riau.


Cerita sejarah waduk Sermo disimak Seti yang tertarik dengan sebatang bambu berbendera di tengah waduk ketika menanyakan kepada penjual nasi rames di tepi waduk. "Bambu itu jadi tanda bekas makam mbah Sermo dik." Kata penjual nasi rames itu lagi.


Sudah satu bulan ini Seti setiap hari mengambil data batuan yang ada di sekitar waduk Sermo di wilayah kecamatan Kokap.


Pekerjaan baru yang sedang dijalaninya terasa menyenangkan hati Seti dan tidak melenceng jauh dari keilmuan pertambangan yang telah dipelajarinya saat kuliah.


Rencana pembuatan jalan lingkar yang menembus bukit Menoreh menugaskan Seti untuk mengumpulkan sampel batuan yang ada di sekitar waduk.


Tidak seperti perbukitan di Gunung Kidul yang berupa batu koral dan kapur. Struktur perbukitan Menoreh tersusun dari batu andesit yang lebih masif dan keras daripada perbukitan di pesisir pantai Gunung Kidul.


Selain alat berat, dibutuhkan pengeboran dan peledakan untuk membelahnya kelak jika perencanaan pembangunan jalan lingkar dan pengumpulan data kantor Seti lolos uji kelayakan dan dikerjakan kelak.


Kantor konsultan perencana tempat Seti bekerja sekaligus base camp ada di kawasan waduk itu. Memudahkannya untuk berangkat dan pergi ke lapangan.


Teman Muji yang menjadi atasan Seti cuma lulusan STM Pertambangan sebaya dengan Seto, tetapi pengetahuan lapangan dan keahliannya tentang batuan sangat mengesankan Seti.


Tak pelit membagi ilmunya dan sangat baik kepada Seti yang masih belajar mengenal dan menikmati dunia kerjanya.


...----------------...


Waduk Sermo adalah salah satu mega proyek presiden Suharto dan rezim orde barunya. Rezim yang sedang diuji kelanjutan kekuasaan-nya setelah waduk itu selesai tahun 1996 lalu. Tak heran, hiruk pikuk demonstrasi dan suara ketidak puasan terhadap rezim orde baru juga menjadi perbincangan hangat penduduk di sekitar waduk Sermo.


Beberapa ada yang mengatakan tak lama lagi rezim itu akan tumbang karena kualat dengan menenggelamkan makam mbah Sermo. Apalagi setelah banyak kejadian kematian akibat tenggelam di waduk itu semakin menambah seram cerita mistis tentang tumbal yang diminta mbah Sermo.

__ADS_1


Memilih menjadi pendengar saja ketika pemilik warung mulai membahas politik, Seti meneruskan sarapan pagi. Pesan Bapak ketika berangkat ke Kulon Progo sangat diperhatikannya. Pesan untuk tidak membicarakan rezim penguasa jika tidak paham siapa lawan bicaranya tertanam kuat di benak Seti.


"Kamu beruntung masih bisa kerja di saat susah seperti sekarang Set. Jadi jangan ikut-ikutan dema demo dulu di jalan." Bapak mengingatkan lagi ketika Seti berpamitan berangkat ke Kulon Progo.


Obrolan di warung tentang situasi politik dan ekonomi semakin hangat ketika beberapa karyawan lain bergabung untuk sarapan. Kebanyakan mengeluhkan tentang keterlambatan beberapa material yang dibutuhkan imbas harga bahan impor yang melonjak tajam.


Jika selama ini kesuraman dunia usaha hanya diamatinya dari luar, kini Seti mengalami sendiri kesuraman akibat ketidakpastian keadaan ....


"Ini anak baru kok diam saja ?" Slamet teman satu tim sekaligus atasan Seti di lapangan mencoba memancing Seti untuk ikut nimbrung berkomentar.


"Ah mas Slamet bisa aja ... " Seti menanggapi sebisanya.


...----------------...


Slamet satu kampung dan masih berkerabat dengan Muji. Setamat STM dia langsung bekerja di salah satu CV anak perusahaan milik kontraktor dari Jakarta yang mengerjakan proyek pengadaan material batu belah dan konsultan perencana pekerjaan pertambangan di seluruh Indonesia.


Keuletan dan kemampuan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sulit menjadikan Slamet lambat laun sangat dipercaya oleh kontraktor itu yang kebetulan ikut mengerjakan pembangunan waduk Sermo dari awal sampai diresmikan.


Lalu tiba-tiba saja nilai tukar rupiah anjlok. Usaha pertambangan yang mengandalkan investor asing adalah salah satu yang paling terpukul dan mengalami kesulitan ketika kewajiban pengembalian modal investor jatuh tempo.


Beberapa pekerjaan besar terpaksa dibatalkan atau dihitung ulang.


Itulah yang menjadikan Slamet masih berada di waduk Sermo untuk memimpin dan mengkaji ulang rencana pekerjaan yang seharusnya sudah dikerjakan CV jika nilai rupiah tidak terjun bebas.


Seperti merangkak dari awal lagi. Slamet berusaha membentuk tim kerja baru yang direkrutnya atas dasar kepercayaan dan feeling saja.


Tidak mungkin mempertahankan karyawan lama dengan gaji dan fasilitas yang sama jika tidak mau semakin dalam terjerambab dalam kesulitan keuangan.


Usulan Slamet untuk merekrut tenaga baru yang masih fresh dengan sistem kontrak yang tidak menguras keuangan perusahaan untuk beberapa pekerjaan yang berpotensi menguntungkan akhirnya diterima CV setelah dipaparkan dalam rapat komanditer.


Seti adalah salah satu karyawan yang dibutuhkan Slamet untuk mematangkan pekerjaan CV selanjutnya.

__ADS_1


Muda, masih segar dari kelulusan kuliahnya, belum menikah, berani menerima tantangan dan tentu saja juga sebab referensi Muji teman sekampungnya-lah yang membuat Slamet tak ragu meminta Seti untuk membantunya.


...----------------...


"Bebas aja Set kalau kamu punya pendapat .... Kita di sini dalam kesulitan yang sama," Slamet tertawa.


Satu bulan keluar masuk perbukitan Menoreh bersama Seti semakin meyakinkan Slamet bahwa keputusannya memilih Seti tidak salah .... Selain fisik, pengetahuan Seti tentang kharakter batuan perbukitan Menoreh membantunya dalam analisa data yang sedang berusaha disimpulkan-nya sesuai tenggat yang diberikan CV.


"Kalau saya yang penting jangan drop dulu mas selama masih ada yang harus kita kerjakan. Toh situasi sulit ini belum membuat kita lumpuh total." Kata Seti.


Kata tenang tetapi tegas dari mulut Seti tak ayal membuat seisi warung mengalihkan perhatian ke arahnya.


"Iya sih .... Cuma kalau terus-terusan begini apa gak mati konyol," sela salah seorang karyawan yang sedang ngopi. "Ini saja aku entah kerja entah gak kalau sampai nanti siang kiriman solar belum masuk," keluhnya lagi.


"Ahahaha... Sama mas, saya malah belum tandatangan kontrak .... Kalau sampai kontrak dibatalkan apa saya gak sial satu bulan di hutan mas," Seti mencoba menghilangkan keluhan teman kerja-nya itu.


"Iya sih .... Cuma kamu kan bujangan .... Lah anakku empat je ...."


"Makanya KB," yang lain ikut berkomentar.


Warung nasi rames akhirnya mencair. Kekakuan menghadapi situasi pekerjaan yang masih diliputi tanda tanya kelanjutannya memudar. Wajah masam yang ada berganti senyum kebersamaan.


"Tenang saja, nanti siang bos Jakarta datang. Setahuku kerjaan di sini akan tetap diteruskan kecuali ada force majeure." Slamet tak tahan ikut menimpali perbincangan, membesarkan hati semua yang ada di warung itu. "Dah kita konsen kerjaan hari ini dulu. Aku pagi ini jemput bos di bandara dulu, mungkin sore atau malam baru kita meeting-kan di base camp apakah ada perubahan rencana kerja atau tetap lanjut sesuai schedule." Pungkasnya.


Tak ada yang membantah kata-kata Slamet, semuanya lalu bersiap melakukan urusan kerja masing-masing.


"Kamu ikut aku Set." Slamet memanggil Seti yang akan beranjak.


"Siap mas," jawab Seti yang lalu mengikuti Slamet ke arah kantor.


Tidak seperti biasa setelah sarapan pagi, kali ini ajakan atasannya itu yang mengajaknya ke kantor dan bukan ke lapangan menyimpulkan adanya sesuatu hal penting yang akan dibahas dengannya ....

__ADS_1


 


*Force Majuere : keadaan di luar kuasa, misalnya terjadi bencana alam seperti gempa bumi, tanah longsor, epidemik, perang, kerusuhan, dan sebagainya.


__ADS_2