
Bapak dan Ibu Seti sudah sejak kemarin menginap di rumah Wirobrajan di tempat om Rudi. Sengaja mereka ke Jogja memberi semangat Seti yang sedang mengikuti ujian pendadaran skripsinya.
Setelah berbulan-bulan berkutat dengan permasalahan hukum Drini yang masih berjalan, akhirnya skripsi Seti ada titik terang ketika Pembimbing dua skripsinya menandatangani draft skripsinya untuk diuji.
Tidak mudah bagi Seti membagi waktunya untuk menyentuh materi skripsinya. Sebagian besar waktunya tersita untuk menemani Asri ... Sampai kemudian Bapak dan Ibu Asri menyinggung pikiran Seti yang selalu dipenuhi penyesalan di Drini ...
...----------------...
Tak tahan dengan beban pikirannya, pilihan untuk cuti dari kuliah-nya sempat melintas suatu saat di pikiran Seti. Tetapi urung dilaksanakan setelah berbicara mendalam dengan Bapak dan Ibu Asri di Rumah Sakit sepulang dirinya rutin melapor ke Polres bersama Seto. Ibu Asri-lah yang sangat menentang habis-habisan keinginan Seti.
"Apakah ada jaminan jika nak Seti cuti kuliah keadaan berbalik membaik ? ... Yang sudah terjadi biarlah kita hadapi bersama-sama nak ... Itu peringatan dari Gusti Pangeran supaya kita selalu eling dan belajar dari masa lalu," kata Ibu Asri dengan nada tegas.
Tak berani membantah ... Seti bersujud memeluk Ibu Asri yang juga sudah dianggapnya sebagai Ibunya. Tak menyangka kata-kata itu yang disampaikan Ibu Asri. Kata-kata yang menyalakan lagi pijar jiwanya yang meredup. Hati kecilnya tersapa teguran itu ... keras membakar bara api semangatnya yang sempat terhempas.
Seto yang sedari tadi memperhatikan adiknya, mengalihkan pandangan ... hati kecilnya membenarkan sekaligus mengagumi ketegasan kata-kata Ibu Asri ke arah Seti.
Pembicaraan lalu beralih kepada masalah pemulihan Asri setelah kelegaan Seti melepaskan gumpalan sesak isi hatinya. Bapak dan Ibu Asri berkehendak memindahkan Asri ke Purwokerto jika kondisinya sudah memungkinkan.
Kakak beradik itu terdiam sejenak sampai kemudian bibir Seto mengucap kata perlahan ...
"Tentang permasalah Asri, ... apa sebaiknya kita tidak berembug dulu dengan mas Gun ?" Seto memberi pertimbangan. "Bagaimanapun mas Gun dan teman LBH-nya sudah menjadi Penasihat Hukum perkara Asri dan kami,... Waktu dan jarak Purwokerto sebaiknya juga menjadi pertimbangan Bapak dan Ibu ... jika sewaktu-waktu nanti mas Gun atau tim LBH-nya membutuhkan keterangan Asri." Seto hati-hati melanjutkan kata-katanya tanpa berani menatap orang tua Asri.
Om Rudi, Bapak dan Ibu yang tiba-tiba muncul dari arah koridor ruang depan kamar Asri dirawat mengalihkan perhatian dari percakapan itu.
Di belakang mereka Bening dan Hening terlihat berjalan perlahan mengikuti keduanya.
Saling mengucap salam dan doa terdengar tulus keluar dari ucapan masing-masing. Tak lama setelah kedua suami istri dan om Rudi saling menanyakan keadaan masing-masing, Bening dan Hening beringsut ke arah kamar rawat Asri. Seto dan Seti mengikuti keduanya. Sepertinya mereka berempat sengaja memberi keleluasaan pembicaraan antar orang tua yang lebih nyaman tanpa adanya mereka berempat.
...----------------...
__ADS_1
Setelah tahu persis duduk perkara permasalahan yang dihadapi anaknya, sebenarnya Jono Supir sudah menimbang dan memutuskan langkah apa yang sekiranya dapat menjadi pertanggungjawaban dirinya sebagai orang tua.
Berembug dengan istrinya, melamar Bening dan Asri akan diupayakannya lebih dahulu sebagai cara untuk mendekatkan dan menguatkan moril keluarga kedua kekasih anaknya. Terutama kepada keluarga Asri yang yang selama ini terikat hubungan dengan Seto dan Seti.
Mudah bagi Jono Supir untuk melamar Bening menjadi istri Seto yang sudah mapan secara umur dan ekonomi. Tetapi menjadi pertimbangan yang harus disampaikan dengan cermat jika menyangkut kelanjutan hubungan Seti dan Asri.
Mengetahui Bapak dan Ibu Asri sedang di Rumah Sakit. Jono supir mengajak istrinya menyusul untuk meraba suasana apa yang dikehendaki Bapak dan Ibu Asri. Jika memang mereka berkehendak Asri untuk segera dilamar, Jono supir dan istrinya sudah mempersiapkan segala konsekuensinya.
...----------------...
Tidak mudah meyakinkan orang tua Asri untuk memindahkan Asri ke Rumah Sakit Bethesda di Jogja. Pertimbangan perkara hukum yang masih berjalan. Campur tangan orang tua Asri dan Seti akhirnya sepakat dengan pilihan tempat untuk memulihkan kondisi Asri selanjutnya.
Tentang pembicaraan ikatan hubungan Seti dan Asri selanjutnya belum ada pembicaraan yang terucap dari Bapak dan Ibu keduanya saat di Rumah Sakit. Sepertinya Bapak dan Ibu Asri juga ingin mengetahui sejauh mana Seti sanggup menyelesaikan permasalahannya satu persatu tanpa terbebani kondisi Asri.
Perlahan Seti mulai bisa berteman dengan permasalahannya. Setiap hari dari kost Samirono ke Bethesda lalu kampus Babarsari dilalui dengan sepeda ontel peninggapan mendiang suami mbah Jum. Si Denok untuk sementara dipakai Muji bekerja.
Bagusnya, teman kampus Seti tak terpengaruh opini media. Membiarkan Seti dengan kesibukan konsultasi skripsi, dan memberikan bantuan diskusi membahas kendala skripsinya.
...----------------...
"Bagaimana dengan masalah kamu di Drini dik ?" Pertanyaan Pembimbing dua setelah menandatangani draft skripsi terlontar ke arah Seti.
Sedikit terkejut dengan pertanyaan yang tidak diduga membuat Seti balik bertanya. "Dari mana mas tahu ?"
"Media ...,"
"Mas percaya dengan berita itu ?"
"Sah sah saja setiap opini... Kampus ikut prihatin dengan apa yang kamu alami," Pembimbing dua itu menyerahkan draft yang sudah ditandatangani ke arah Seti. "Saya pribadi percaya padamu dik ... Tidak ikut campur dalam masalahmu,"
__ADS_1
"Terimakasih dukungannya mas ... Perkara itu masih berproses,"
"Fokus dulu dengan ujian skripsimu bulan depan, ... Saya yakin kamu mampu melewati semuanya,"
Seti bergegas meninggalkan kampus setelah mengobrol cukup lama tentang semua masalah yang dialami dengan Pembimbing dua-nya. Wajahnya terlihat begitu cerah ketika mengayuh sepeda ke kost Samirono. Tak sabar memberitahu mbah Jum dan Muji. Dari kost Samirono Seti berencana ke kampung Code, lapak Malioboro dan rumah Wirobrajan.
...----------------...
"Bapak dan Ibu sudah kamu kabari ?" Tanya Seto ke arah Seti. Sedari pagi Seto ada di kampung Code menemui Gunawan.
"Belum mas, nanti saja jika aku sudah mendaftar," Seti menyelonjorkan kakinya.
"Sudah tidak terasa sakit kepalamu ?" Gunawan nimbrung dari sudut teras rumah kali Code.
"Tidak mas... obat juga sudah tidak kuminum,"
"Sukurlah ... sebaiknya secepatnya kamu kabari Bapak dan Ibu, biar mereka senang," kata Gunawan lagi ke arah Seti.
"Ya mas... nanti kutelepon,"
Perbincangan rumah kali Code lalu beralih kepada perkara Drini. Gunawan mengabarkan bahwa beberapa perkara itu akan naik ke pengadilan. Perampasan motor Muji, pelecehan dengan kekerasan terhadap Asri sudah lengkap berkasnya.
"Hanya saja tentang perkelahian itu, keterangan saksi ahli yang kita hadirkan masih menunggu gelar perkara," Gunawan menambahkan tentang perkara perkelahian Drini. "Hasil otopsi menurut saksi ahli kita juga menguatkan sebab kematian yang patut diduga karena adanya keracunan," lanjutnya.
"Kapan gelar perkara itu mas ?" Tanya Seto ke Gunawan.
"Nanti ada undangan gelar perkara, ... Semoga menjadi terang benderang sebab akibatnya," jawab Gunawan.
Puas dan merasa cukup dengan pembicaraan di rumah kali Code, Seti berpamitan ke arah Seto dan Gunawan.
__ADS_1
"Jangan lama-lama di Malioboro. " Seto melepas kepergian adiknya dari teras. Raut kegembiraan terlihat dari senyum di bibirnya. Merasa puas salah satu kewajibannya terhadap Seti terselesaikan ketika mendengar adiknya akan ujian skripsi.
...----------------...