Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
24. Persinggungan Lapak Malioboro dan Sanggar Seni Ancol


__ADS_3

Yuni dan Hening sedang asik memperhatikan Doni yang sedang menyelesaikan jahitan tas kulit yang akan dibawa Yuni dan rencananya akan dicoba dipajang di sanggarnya saat Seti menghampiri mereka dari arah Pasar Kembang.


Joe menyingkirkan beberapa dompet kulit yang sudah selesai dipolesnya dari atas meja kecil dekat etalase lapak Malioboro, saat melihat Seti kebingungan menaruh lima cup minuman coklat yang dibawanya di atas meja yang penuh dengan beberapa dompet kulit yang berserakan.


"Coklat panas dan bakpia kesukaanmu Hen," Seti menawarkan coklat yang masih panas kepada Hening.


Hening mengalihkan pandangannya ke arah cup coklat yang ditawarkan Seti. Beranjak mendekat dan duduk menyebelahi Seti. Minuman itu mengingatkan saat kemesraan terakhirnya dengan Seti di stasiun Purwokerto menjelang keberangkatannya ke Jakarta dulu.


Joe tak menunggu lama mengambil sepotong bakpia dan satu cup coklat dari meja setelah merapikan dompet-dompet kulit yang tadi dibereskannya, lalu beranjak mendekati Doni dan Yuni yang masih asik dengan jahitan tas kulitnya di sudut belakang lapak.


Sepertinya keisengan Joe masih belum mau mengganggu Seti dan Hening yang duduk bersebelahan di depan lapak dengan kenangan kedekatan masa lalunya.


"Kamu masih ingat saja kesukaanku Set," Hening mencicip isi cup coklat yang dipegangnya.


"Kebetulan saja tadi aku ingat saat mau membeli rokok," jawab Seti sambil tersenyum. Kotak bakpia yang tak jauh dari duduknya diambilnya, dan disodorkan ke arah Hening, "Ini juga kesukaanmu, rasa durian," lanjutnya lagi.


Hening mengambil sepotong bakpia dari kotak yang disodorkan Seti. Wajah cantiknya yang terlihat jelas menghadap jalan, membuat beberapa laki-laki yang melintas di depan lapak Malioboro mengalihkan sejenak pandangan ke arahnya.


"Dompet kulit murah bos, ikat pinggangnya juga bersahabat harganya bos !!!" Joe sengaja berteriak dekat telinga Doni saat menawarkan dagangan lapak, jika dilihatnya ada yang menengok ke arah Hening.


"Asu ... jangan terlalu keras !" Teriakan Joe yang seenaknya sendiri membuat Doni yang terkejut saat menjahit berulang kali menyumpahinya.


Yuni yang mendengarkan perdebatan Doni dan Joe hanya tertawa kecil. Dari caranya memandang Doni, tampaknya dia semakin merasa nyaman di geliat lapak Malioboro. Mengingatkan keisengan dan polah Bapak dengan teman-teman pasar seni Ancol.


...----------------...


Joe beringsut menjauhi omelan Doni. Mulai merusuhi percakapan Seti dan Hening di meja lapak depan.


"Jadi begini Hen, ... " Mulut Joe bersiap menjahili dua teman masa SMA nya itu setelah bergabung dengan keduanya.


"Bagaimana ?" Hening menanggapi Joe, walaupun seperti pikiran Seti, ending kata-kata Joe pasti bikin enek seperti yang sudah biasa didengarnya jaman SMA dulu.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu jangan terlalu sering menatap mata Seti," Joe mulai dengan narasinya.


"Maksudmu ?" Hening akhirnya terpancing kata-kata Joe, melirik ke arah Seti yang hanya tersenyum mendengar bualan Joe.


"Dia pakai ilmu pengasihan ... siapa saja perempuan yang terlalu lama menatapnya akan terpengaruh ilmunya," Joe meneruskan lagi kata-katanya.


"Terus maksudmu kamu mau menawarkan penangkal ilmuku yang kamu maksud atau bagaimana ke Hening ?" Seti mencoba menebak arah pembicaraan Joe.


"Nah kan Hen... dia sudah mengakui punya ilmu mejik yang kumaksud. Kawan kita ini sudah berubah setelah berguru di Pantai Selatan," Joe meneruskan kata-katanya dengan gaya seserius mungkin.


"Ah gombal ..." Hening menyela keseriusan kata-kata Joe.


"Coba tatap mataku buat merasakan perbedaan sorot mataku yang polos dan sorot mata Seti yang penuh aura mistis," Joe menatap Hening.


Hening membalas tatapan mata Joe. Cukup lama keduanya saling bertatapan. "Terimakasih tatapanmu Hen, aku belum sanggup menjadi suamimu jika itu maksud tatapanmu. Aku belum menyelesaikan kuliahku... jadi bersabarlah menungguku. Jangan menatapku lagi seperti itu terus, karena aku laki-laki yang selalu konsisten dengan prinsipku," kata Joe sambil terbahak.


"Wong gemblung !" Hening yang akhirnya sadar sedang dikerjai keisengan Joe lalu ikut terbahak sambil menyumpahinya.


"Mau ke mana wong gemblung ? " Tanya Hening setengah berteriak ke arah Joe.


"Menghindari godaan matamu," sahut Joe yang menjauh sambil masih terkekeh.


Tawa Seti semakin keras mendengar perdebatan Hening dan Joe.


...----------------...


"Ke mana si Joe tuh," Yuni yang mendekat mendengar kegaduhan suara tawa di depan lapak bertanya ke arah Hening.


"Gak tahu. Ada-ada saja polahnya yang bikin rusuh," Hening menanggapi Yuni yang duduk menyebelahinya. "Bakpia Yun... cicipi," lanjutnya sambil menyodorkan bakpia ke arah Yuni.


"Sudah selesai kerjaan Doni ?" Seti menimpali.

__ADS_1


"Tuh sedang di-packing," Yuni menunjuk Doni yang sedang memasukkan tas dan dompet kulit yang sudah diperiksanya ke dalam kotak kardus.


"Kalau gak ada Doni, lapak ini belum tentu seramai ini. Tas dan dompet kulit buatan tangannya banyak yang tertarik membelinya," Seti memuji Doni. Tentu saja juga bermaksud supaya Yuni semakin penasaran kepada Doni.


Tak berapa lama Doni nenyusul ke depan lapak duduk menyebelahi Yuni. "Dah ku-packing semua sample jahitan kulit yang besok mau kalian bawa. Moga-moga aja ada yang tertarik," Doni tersenyum kecil ke arah Yuni. Sepertinya berharap kedekatannya berlanjut setelah Yuni balik ke Jakarta dari Purwokerto.


"Dari beberapa jenis yang kuminta, sepertinya tas kulitmu bakalan jadi tren di sanggarku nanti," balas Yuni.


Hening memperhatikan percakapan Doni dan Yuni. Dirinya tahu persis dengan kemampuan Yuni membaca peluang menghasilkan uang dari barang-barang seni apa saja yang bisa dijual di pasar seni Ancol.


Saat berbincang di rumah Wirobrajan, dia setuju saat Yuni mengusulkan untuk membawa beberapa contoh pernak pernik kulit yang digelar di lapak Malioboro untuk dicoba dipasarkan di sanggar seni mereka.


...----------------...


Mengenai kedekatan Hening dan Yuni setelah perkenalan mereka di kampus IKJ yang berlanjut dengan berjualan karya tangan seni keduanya di sanggar seni mereka di Ancol, sepertinya mirip dengan kedekatan Seti dan Joe yang mengikuti Doni membantu berjualan di lapak Malioboro setelah ketertarikannya dengan pernak pernik seni buatan tangan terampil Doni.


Lama bersinggungan dengan dunia pasar seni Ancol menemani Bapak, Yuni tahu persis jenis barang seni apa yang laku dijual di sana. Seperti lukisan Hening yang dibawanya ke sanggar.


Semula Hening tidak menyangka lukisan yang dibawa Yuni dan dipajang di sanggar itu ternyata akan menarik beberapa pengunjung yang singgah untuk membelinya.


Dari situlah akhirnya Hening menuruti permintaan Yuni untuk membuka sanggar bersama Yuni yang terpisah dengan sanggar bapak Yuni.


Saat semula semua kebutuhan di Jakarta mengandalkan uang saku dari Bening, setelah persinggungannya dengan pasar seni Ancol lewat kedekatannya dengan Yuni membuat Hening mulai bisa menyisihkan uang saku yang dikirimkan Bening untuk ditabung.


Sehingga saat Joko sakit dan dirasanya Bening kakaknya membutuhkan biaya untuk pengobatan Joko suaminya, Hening memutuskan untuk meminta Bening menghentikan kiriman uang saku buat dirinya.


Semua kebutuhan biaya hidup di Jakarta sebisa mungkin ditutup Hening dari uang yang didapat dari sanggar Ancol. Bahkan uang saku yang sempat disisihkan untuk ditabung akhirnya dikembalikannya kepada Bening saat pertama kali dia pulang dari Jakarta menemani Bening menunggui Joko di rumah sakit.


-------------


*Wong gemblung : orang gila dalam bahasa jawa

__ADS_1


__ADS_2