
Masih belum menyadari apa yang sedang terjadi, Seti berhenti di samping mobil yang terperosok di halaman kedai. Saat turun dari atas si Denok dan berjalan mendekat, barulah naluri bersiap Seti terbangun saat bertatapan dengan laki-laki yang ada di dalam mobil ... Merasa heran sosok bertato macan yang sudah beberapa kali bersinggungan dengannya kini ada di sampingnya.
Terlanjur mendekat, jantung Seti berdegup kencang saat melihat tubuh gemuk yang sangat dikenalnya tergeletak di dalam kedai bersimbah darah ...
"Praaak ... !!!" Belum hilang keterkejutan Seti melihat tubuh Dibyo yang tergeletak saat dirasakannya suatu pukulan keras menghantam kepalanya. Terhuyung sesaat ... Seti dapat menghindari pukulan balok kayu berikutnya yang mengarah ke kepalanya lagi dengan mundur selangkah.
Reflek berkelahinya menghindarkan dari celaka yang lebih parah.
Melihat kejadian yang begitu cepat di depan matanya, Seto yang melihat adiknya dalam bahaya berlari meninggalkan Bening yang masih termangu di atas motor.
Tak mempedulikan jeritan Bening yang jatuh terguling bersama motor yang ditumpanginya, Seto meneruskan langkah menerjang ke arah dua laki-laki yang mengejar Seti.
Satu pukulannya telak menghantam tengkuk laki-laki yang memegang balok kayu... Tak membiarkan lawannya yang jatuh tengkurab melawan, Seto melepaskan tendangan tumit yang keras dan tepat menghantam wajah laki-laki tadi ketika mencoba berpaling ke arah Seto.
Seti yang melihat kakaknya membantu menarik nafas panjang ... Masih sedikit pusing akibat pukulan balok kayu tadi, teriakan kerasnya terdengar sesaat kemudian bersamaan pukulan yang diarahkan ke ulu hati penyerang dirinya yang lain.
Dua orang yang muncul dari balik mobil yang terperosok disambut Seto dengan tendangan berputar dan pukulan lurus. Membuat keduanya terhuyung mundur. Sigit yang bertubuh lebih besar terkena tendangan Seto di dagunya, teman-nya yang lebih kecil lebih tersiksa ...menerima pukulan keras Seto tepat di mulutnya ketika bergerak maju.
Seti berlari ke arah pintu mobil yang terbuka, menyadari laki-laki bertato yang ada di dalamnya sedang berusaha keluar untuk menyerangnya, ... sambil membawa sebilah pedang ...
...----------------...
Jika mati itu adalah gelap dan sunyi. Itulah yang dirasakan Asri sebelum cahaya terang dan hangat matahari sore yang tiba-tiba saja menyingkirkan mega di atas Drini mengusap matanya.
Lalu rasa perih dan sakit yang mengiris sekujur tubuhnya membuat Asri mencoba berdiri dari bale-bale setelah entah berapa lama dirinya berada dalam gelap dan sunyi.
Masih belum sepenuhnya ingat apa yang terjadi pada dirinya, tangan Asri mengusap darah yang keluar dari mulut dan hidungnya ...
Suara teriakan dan keributan yang didengarnya setelah denging telinganya berkurang membuat Asri mencoba beranjak mencari tahu.
Berpegangan sepanjang dinding gedheg kedai, Asri beringsut keluar.
Bukan hal mudah bagi dirinya memaksa tubuh terlukanya yang tanpa pakaian keluar dari dalam kedai.
__ADS_1
Masih dalam kebingungannya, tubuh Asri mulai limbung ... Sekelilingnya terasa berputar saat dirasanya sepasang tangan yang terulur menopang tubuhnya yang mulai ambruk ... dan lalu memeluk erat tubuhnya ...
...----------------...
Melihat dua laki-laki yang dekat dengannya berkelahi di depannya, Bening hanya bisa berteriak-teriak meminta tolong dengan panik.
Menyingkirkan motor yang menindih, lalu berdiri mencoba menjauh dari keributan yang dilihatnya.
Saat beranjak mundur, mata Bening melihat sosok perempuan yang sangat dihapalnya melangkah limbung dari dalam kedai.
"Asriiii ... !!!" Rasa takutnya hilang melihat keadaan memelas perempuan yang sangat dikasihinya merambat mencari pegangan untuk bersandar.
Naluri kewanitaan Bening menuntunnya secepat mungkin mendekat ke arah Asri. Berlari sekuat tenaga ke arah Asri ... Tangan perempuannya sigap menyambar tubuh penuh luka yang akan terguling. Kemudian duduk bersimpuh sambil memeluk dan membelai lembut Asri di pangkuannya.
"Mbak Niiing ... " Asri tersenyum menatap Bening yang mendekapnya ... lalu terkulai lagi di pelukan Bening ... kali ini ada rasa nyaman dalam gelapnya ...
"Asriiii... Asriii... !!!" Jeritan tangis Bening tak tertahan ... Menyebut nama Asri berulang kali ...
...----------------...
Kepalanya yang terkulai di antara pintu mobil menjadi sasaran amukan Seti berikutnya. Sekuat tenaga pintu mobil dihantamkan ke arah kepala laki-laki bertato tadi ... "Bruaaaak ...!!!" Suara besi beradu dengan tulang kepala terdengar sangat menakutkan. Lalu telinganya mendengar suara Bening menyebut nama Asri tak jauh dari Seto yang sedang berhadapan dengan Sigit.
Perhatian Seti beralih ke arah suara teriakan Bening tadi.
Melihat Bening meraung sambil berusaha menutupi tubuh perempuan yang sangat dicintainya membuat otak Seti berpikir cepat, "Orang-orang biadab inilah penyebabnya ... "
Raut muka Seti tak seperti biasanya lagi.
Seto yang tak sengaja menatap wajah Seti tahu betul jika rahang Seti sudah terkunci rapat dan sorot matanya mengunci titik kematian yang diincar... Maka jangan berharap ada belas kasih lagi bagi siapapun yang berhadapan dengan Seti ...
Hawa bertarung Seti berubah menjadi hawa membunuh. Darah yang menetes akibat luka pukulan balok kayu di dahinya semakin membenarkan kesimpulan tentang apa yang terjadi dan menimpa penghuni kedai Drini selama ditinggalkannya tadi.
Setelah menjatuhkan si tato macan, kini Seti memburu si gempal yang berlari menjauh. Tampaknya amukan Seti kepada si tato macan di depan matanya menjatuhkan mental si gempal. Merasa Seti bukan lawannya, dia berusaha kabur... lalu jatuh terguling terkena tendangan Seti di punggungnya.
__ADS_1
Tidak semua orang mampu berlari cepat di lahan pasir pantai yang terurai. Terbiasa bermain bola di pantai Drini bersama Dibyo dan orang kampung sekitar, mudah bagi Seti untuk menyusul lari si gempal tadi.
Setelah tendangannya menjatuhkan incaran-nya, Seti meneruskan dengan pukulan telak yang meremukkan wajah si gempal.
...----------------...
Sigit mundur ke arah mobil paling belakang, menghindari pukulan dan tendangan Seto. Tak menyadari ada satu orang lawan lagi yang sedang bersiap menunggunya. Seto terus menerjang Sigit tanpa menyadari jebakan yang menunggunya.
Mengendap dengan sebilah pisau yang terhunus, sosok kurus kerempeng tiba-tiba saja muncul dari balik mobil di sebelah Seto tepat ketika dirinya berhasil melepaskan pukulan lurus ke arah mulut Sigit yang membuatnya jatuh terbanting dengan bibir pecah.
Seto merasakan sakit di lengannya. "Aduh ... aku kena Set ..." Tak menduga ada orang lain yang menyerangnya, Seto mengaduh menyadari belati yang menancap di lengannya.
Mendekat berusaha melindungi Seto, kali ini Seti membiarkan Sigit berguling menjauhinya lalu terbirit-birit menyusul laki-laki yang menusuk Seto. Kedua orang yang diincar Seti berlari ke arah motor Muji yang tergeletak. Melihat kelengahan Seti yang terpecah konsentrasinya membuat Sigit dan si kurus mampu menyalakan motor ... dan tancap gas meninggalkan kedai Drini ...
...----------------...
Rumah Sakit Wonosari mendadak ramai dengan polisi dan wartawan lokal. Simpang siur kejadian di kedai ikan Drini menjadi bumbu perbincangan penduduk setempat sampai malam hari itu.
Baru kali ini ada kejadian perkelahian yang menyebabkan dua orang tewas, lima luka berat, dan satu orang masih belum diketahui nasibnya menjadi topik perbincangan.
Ketika berpapasan dengan Rx-Spesial yang melaju kencang dan hampir menabraknya, seorang laki-laki setengah tua penduduk setempat yang akan pergi mancing curiga melihat ceceran darah di dekat Drini. Mengira motor yang melaju kencang tadi habis menabrak sesuatu, dia mengikuti ceceran darah itu yang menuntun-nya ke arah kedai ikan Drini.
Melihat kekacauan dan tubuh yang bergelimpangan, tak berpikir panjang laki-laki tadi menabuh kenthongan yang tergantung di atap kedai dengan panjang pendek pukulan yang memberi kode terjadinya sesuatu.
Mendengar sahutan suara kenthongan dari sekitar, pahamlah Seti bahwa laki-laki yang memukul kenthongan itu ada di pihaknya.
Tak menunggu lama, beberapa motor penduduk sekitar terlihat dari kejauhan menuju sumber suara kenthongan pertama. Kebetulan keramaian even di Timang berakhir. Memudahkan kabar adanya kejadian di Drini tersampaikan ke penduduk sekitar yang bersiap meninggalkan Timang.
Memastikan Dibyo, Asri, dan Seto ada di tangan yang benar. Seti diam-diam menyelinap meninggalkan Drini ketika ambulance yang tadi bersiaga di even off road Timang masuk ke halaman kedai Drini.
Pilihan mencari dan menemukan Sigit dengan segala konsekuensinya diambil Seti ...
...----------------...
__ADS_1