Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
23. Tentang Cinta dan Kebencian


__ADS_3

Dua gelas kopi dan sepiring ketan goreng yang ada di meja menemani istirahat Seti dan Hening di bawah keteduhan selasar rumah Wirobrajan yang sepi.


Doni dan Yuni baru saja jalan membeli lampu untuk kamar mandi. Pekerjaan beres-beres kamar mandi rumah Wirobrajan sudah selesai. Yuni juga senang rumah orang tuanya sudah siap ditempati kapan saja.


"Besok jadi ke pulang naik Purbaya ?" Seti memulai percakapan dengan Hening di bawah selasar rumah Wirobrajan.


"Jadi ... Kamu tidak ikut pulang ?" Jawab Hening yang duduk di hadapan Seti.


Keduanya bertatapan sejenak. Masing-masing memainkan gelas kopi di depannya.


"Nantilah kalau urusan mas Joko membaik,"


"Aku juga tak enak dengan mbak Ning, sejak mas Joko sakit aku sudah minta kiriman uang saku dipakai buat urusan mas Joko saja," Hening menyalakan rokok, "Toh aku sudah dapat uang sejak sering ke sanggar lukisan Yuni," Hening menghisap rokok dan menghembuskan asapnya pelan.


"Sukurlah," Seti menanggapi. Meraih bungkusan rokok yang digeletakkan di meja, Mengambil sebatang, menemani Hening merokok, "Kamu tidak akan menjauh dariku dan Asri kan ?" Ujar Seti, mencoba menerka isi hati Hening sekali lagi di sela pembicaraan.


"Mana bisa aku melupakan kalian ... apalagi kamu Set, ... tak akan kulepaskan begitu saja," mata Hening menatap tajam Seti.


Seti tersenyum dengan kelegaannya. Tidak ada lagi kegundahan tentang pilihannya lagi. Kelelakiaan-nya menjadi dewasa untuk memahami sesuatu yang tidak ada dalam teori dan kisah roman picisan yang dibacanya. Memahami betapa kedekatan Seto dan Bening kini juga dialaminya sendiri. Tentu saja jalinan cerita itu masih berlanjut. Bukankah esok adalah karunia Sang Waktu yang tak dapat diduga kisah akhirnya ?


...----------------...


Langkah riang Doni dan Yuni terdengar saat memasuki halaman rumah Wirobrajan. Gurauan keduanya mengalihkan pandangan Seti dan Hening ke arah mereka. Tidak terasa ada satu jam Seti dan Hening dengan cerita yang menyenangkan masing-masing. Cerita SMA, canda tawa rumah Jengki membingkai jendela hati untuk tetap dalam satu sudut pandang yang sama tentang kedekatan dengan cara yang lebih dewasa dan bertanggung jawab.


Doni duduk menyebelahi Seti. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai bebas seperti suasana hatinya yang terlihat tak ada beban. Urusan lapak Malioboro sudah dicatatnya dalam lorong-lorong gelap kisah Jogja bersama Seti dan Joe.


Mengikatnya lebih dalam ke rajutan persahabatan yang terjalin semakin erat dengan keduanya. Apalagi ada Yuni yang tiba-tiba saja ada dalam kisah Jogja-nya.


Sedikit cerita saat menemani Yuni tadi, sangat dinikmatinya. Sama-sama menyukai hal-hal yang berbau seni dan keindahan tampaknya mendekatkan Doni dan Yuni. Pelan-pelan keduanya saling mencari tahu tentang masing-masing.

__ADS_1


"Dapat lampunya Don ?" Tanya Seti.


"Dapat ... Ah aku lupa memasangnya," Doni beranjak masuk ke dalam rumah Wirobrajan. "Mana lampunya Yun, biar kupasang," ujarnya saat berpapasan dengan Yuni yang berjalan mendekat ke arah selasar depan.


Yuni berbalik lagi ke dalam mengikuti Doni. Mengambil lampu yang tadi dibelinya untuk dipasang di kamar mandi.


"Kelihatannya Doni ingin lebih tahu tentang temanmu Yuni," Seti berseloroh ke arah Hening saat Doni dan Yuni beranjak ke dalam rumah Wirobrajan.


"Siapa tahu dari Jogja cerita mereka berlanjut," Hening membalas kata-kata Seti sambil tertawa kecil. Tawa lepas itu terlihat cantik, semakin menghangatkan selasar rumah Wirobrajan.


"Ahahaha ... padahal Doni jarang bercerita tentang perempuan loh," Seti menanggapi kata-kata Hening.


Seperti yang disinggung Hening, hati Yuni juga sebenarnya sudah terbuka menanggapi keingintahuan Doni tentang dirinya. Dari beberapa persinggungan dengan beberapa laki-laki yang pernah jadi teman dekatnya, hati kecil Yuni terasa bergetar saat obrolan dengan Doni dirasa menyejukkan hatinya.


Beberapa hasil jahitan tas, dompet dan beberapa pernak pernik kulit yang dibuat Doni menarik keingintahuannya tentang Doni lebih jauh.


Besok beberapa sampel buatan Doni akan dibawanya ke Jakarta untuk dicoba dipajang di sanggar seninya. Mencoba dikenalkan ke Bapak dan beberapa kenalan pasar seni Ancol serta pelanggan sanggar seni-nya.


"Sudah," Doni menjawab pendek. Dua gelas kopi panas diletakkannya di meja selasar.


"Mandi Hen, nanti kita nongkrong rame-rame di lapak Malioboro," Yuni mengajak Hening menghabiskan malam terakhir Jogja di lapak Malioboro.


"Ah kamu kok jadi betah di lapak itu ?" Hening terkekeh menanggapi ajakan Yuni.


Yuni tersenyum kecil, mengalihkan pandangannya dari tatapan selidik Hening yang menguliti isi hatinya. Tak bisa membantah godaan Hening tentang ketertarikannya pada sosok Doni.


"Sudahlah mandi dulu Hen, keburu malam loh," Yuni mencoba mengalihkan godaan Hening.


"Aku mandi dulu Set, tampaknya temanku ini tak sabar melihat si gondrong merayu pembeli di lapak-nya," Hening ngeloyor dari selasar rumah Wirobrajan. Matanya berkedip ke arah Doni, seakan memberi kode isi hati Yuni sahabatnya.

__ADS_1


Mengalihkan pandangannya dari kedipan mata Hening, pandangan Doni malah beradu dengan binar mata Yuni. Bidikan anak panah Amor menunggu dilepaskan.


Konon dalam mitologi Amor, diceritakan juga tentang dua anak panah Amor yang sering ngawur dilepaskannya. Satu anak panah pembawa cinta dan kasih sayang, anak panah yang lain membawa ketidaksukaan dan kebencian.


Tidak peduli siapapun, perasaan yang dibawa salah satu anak panah itu akan mengikat suasana hati yang terkena.


Dan konon lagi, kengawuran panah Amor sebab walaupun Amor adalah dewa cinta, jiwanya kekanak-kanakan. Tergantung suasana hatinya panah itu bisa dilepaskan kapan saja.


Narcissus yang sedang santai duduk di tepi danau adalah salah satu contoh kesialan panah Amor. Yang karena kengawuran anak panah Amor yang meleset mengenai bayangan Narcissus di air danau membuat Narcissus jatuh cinta dengan bayangannya sendiri, dan membutnya mati tenggelam mengejar bayangan cintanya. Cinta itu kadang bisa mematikan ...


...----------------...


Hening tampak cantik dengan celana jeans selutut dan kaos lengan panjang biru. Yuni tak kalah menarik perhatian Seti dan Doni, serasi dengan kaos putih dan celana jeans belel. Doni beberapa kali disenggol Seti saat terlihat tertegun memandang Yuni.


"Yuk berangkat kita," suara Yuni mengalihkan pandangan Seti dan Doni dari dua perempuan muda yang menarik setiap laki-laki yang melihatnya.


"Gak ada yang ketinggalan Yun ?" Seti mengingatkan Yuni, "Kunci pintu jangan lupa," Seti berdiri dari duduknya di bawah selasar rumah Wirobrajan.


Berempat dengan saling bercerita saat berjalan menyusuri gang sepanjang jalan Wirobrajan lalu masuk ke kampung Sutodirjan, sampai jalan Pasar Kembang yang mulai genit berdandan membuat waktu dan jarak tak terasa.


Seti membiarkan Hening, Yuni ditemani Doni berjalan dahulu ke lapak Malioboro menyusul Joe. Berhenti di kios minuman dekat Stasiun Tugu membeli lima cup coklat panas dan satu bungkus bakpia kesukaan Hening untuk menemani malam mereka di lapak Malioboro.


Saat menunggu pesanan coklatnya, Seti merasa seseorang terus memperhatikannya. Membalas tatapannya, Seti teringat laki-laki bertato teman Sigit yang pernah bersinggungan dengan dirinya di lapak Malioboro dan billiard Nusa Indah. Naluri Seti mengingatkan untuk berhati-hati.


Tak mau berlama-lama di tempat itu, Seti cepat-cepat melangkahkan kakinya ke lapak Malioboro.


Bukan sebab tak berani meladeni saling tatap itu lagi. Tetapi lebih kepada Hening dan Yuni yang tadi berjalan bersamanya. Bagaimanapun juga, dari cara menatap laki-laki bertato itu, Seti menduga pasti akan diceritakan kepada Sigit. Tentu saja dengan versinya yang akan membuat kemarahan Sigit setelah menganggap dirinya merebut Asri dari incaran Sigit meluap lagi. Apalagi sekarang dirinya dan Doni malah terlihat berjalan berpasangan dengan Hening dan Yuni tanpa Asri.


Seti mempercepat langkahnya ke arah lapak Malioboro. Berharap saling tatap tadi tidak berlanjut ke hal-hal lain ...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2