
"OK Set .... Jangan lupa kirim surat lamaran kerja-mu secepatnya," Muji mengakhiri pembicaraan lewat telepon.
"Ya Ji .... Suwun informasinya." Seti menaruh hand phone-nya setelah merasa tak ada lagi yang perlu ditanyakannya kepada Muji.
Tiba-tiba saja Muji menghubungi Seti dari Jogja ketika dirinya baru saja akan mengajak Asri pulang ke rumah Nenek setelah puas menikmati dan memandang senja dari atas saung.
"Wah sepertinya ada kabar baik dari mas Muji," celetuk Asri ingin tahu.
"Iya As .... Ada teman Muji yang butuh asisten juru ledak untuk proyeknya di Kulon Progo,"
"Lalu ?"
"Aku disuruhnya memasukkan lamaran kerja secepatnya .... Kata Muji, tidak perlu pengalaman kerja, yang penting punya sertifikat juru ledak kelas 2 dan belum menikah,"
"Ada gunanya juga sertifikat yang kamu dapatkan dulu." Nada bangga terdengar dari kata-kata Asri.
Seti tertawa kecil mendengar Asri menyinggung beberapa sertifikat dan penghargaan yang didapatkannya selama ini. Entah dengan cara mengikuti kursus selama kuliahnya dulu atau melalui keuletannya memenangkan beberapa pertandingan karate sejak SD sampai SMA.
Muji sempat menyarankan untuk mengikuti kursus bahasa Inggris atau kursus yang lain untuk mengisi waktu, ketika Seti mengeluhkan skripsinya yang macet.
Sempat ragu sertifikat itu nantinya dipakai untuk apa, akhirnya Seti mengikutinya juga setelah membicarakannya dengan Muji ketika kebetulan ada kursus juru ledak kelas 2 yang dibuka di kampusnya.
Muji dan Dibyo jugalah yang bersikeras mendorongnya agar tak ragu mendaftar kursus itu dengan uang hasil jerih payahnya yang dikumpulkan selama membantu Doni di lapak Malioboro.
Untuk urusan studinya, Seti memang lebih banyak bertukar pikir dengan Muji dan Dibyo.
Tak dipungkurinya, saat keduanya mampu menyelesaikan kuliahnya dengan segala keterbatasan keuangan menjadi pemacu Seti untuk tak kehilangan semangat mengejar ketertinggalan skripsinya.
"Yuk ke rumah Nenek .... Ganti baju lalu makan." Ajak Seti tak lama setelah menanggapi obrolan Asri tentang pekerjaan yang ditawarkan Muji.
Meninggalkan saung dengan bayang-bayang hari esok yang tidak perlu dipenuhi dengan rasa kekuatiran, ... tangan Seti menuntun erat Asri ke arah kampung Nenek.
...----------------...
Bahwa dunia kerja itu tidak melulu tentang kepintaran pikir atau kekuatan fisik untuk mendapatkan hasil. Tetapi juga ada keberuntungan .... Ada adab-adab yang tak boleh diabaikan seperti yang dialami Seti.
Seti tak bisa membayangkan masa depan dirinya dan Asri kelak jika saja tak ada keberuntungan dan adab yang dirasakan ketika akhirnya lolos dari jerat kerumitan perkara Drini.
Sekecil apapun peluang untuk mendapatkan hasil akan terurai jika ada keberuntungan dan adab di setiap proses.
__ADS_1
Semudah itukah mendapatkan keberuntungan dalam adab yang ada ?
"Kenapa diam ?" Tanya Asri.
"Lagi memikirkan kenapa selalu ada jalan di saat kesusahan .... " Pertanyaan Asri menghilangkan pertanyaan batin Seti yang berkecamuk di tengah perjalanan ke rumah Nenek.
"Sejak memutuskan tak akan diam, aku-pun sebenarnya selalu memikirkan hal itu," Asri membenarkan kata-kata Seti.
"Itulah kenapa surat lamaran kerjaku akan kubuat malam ini .... Secepatnya aku harus bekerja."
Jika saja Muji tidak menghubunginya tadi, Seti sebenarnya berencana akan mengikuti Asri ke Surabaya sambil menunggu jawaban lamaran kerja yang sudah dikirimnya lewat pos atau mencari pekerjaan apa saja setelah sampai di Surabaya.
Peluang tawaran pekerjaan yang disampaikan Muji itu tak mau disia-siakan Seti yang lalu menyarankan Asri untuk mempertimbangkan ulang rencana keberangkatan mereka ke Surabaya.
"Banyak yang harus kita pulihkan," lanjut Seti.
Tatapan lembut Asri membenarkan pendapat Seti.
Sejak memulihkan fisik dan mental setelah kejadian Drini, ada satu hal lagi yang harus diperbaiki keduanya, ... yaitu satu hal tentang masalah keuangan ....
Merasa ada jalan untuk memulihkan masalah itu, obrolan hangat Seti dan Asri selama di saung tadi tentu saja membahas peluang pekerjaan yang tak akan begitu saja terulang lagi jika diabaikan.
Masalah keamanan yang belum menentu imbas hasrat kekuasaan dan politik ditambah harga yang melambung tinggi di penghujung 1997 menjadikan kehendak Seti semakin menguat untuk mempersiapkan hari-hari ke depannya bersama Asri.
Lapak Malioboro yang selama ini membantu keuangan Seti dan Asri sepertinya juga harus dikesampingkan dulu. Apalagi Seti juga tak bisa lagi bebas membantu di sana. Memilih menyingkir dulu sambil menunggu akhir semua perkara Drini tuntas ....
...----------------...
"Minum kopi dulu Set, sambil menunggu Seto pulang," kata Bening sambil meletakkan nampan berisi kopi dan teh panas di meja teras rumah Nenek.
"Ya mbak, terimakasih .... " Seti menanggapi Bening yang lalu duduk di sampingnya. "Ke mana mas Seto ?" Tanya Seti kemudian.
"Masih di kampus. Hari ini katanya ada kuliah sampai malam."
"Biar saja mbak, gak usah ditelepon. Lagi pula aku dan Asri gak buru-buru." Seti tak mau mengganggu Seto.
Kesegaran yang terlihat jelas dari wajah istri kakaknya menyenangkan hati Seti. Baru kali ini dirinya bertemu Bening setelah pernikahan-nya.
Sambil menunggu Asri yang sedang bersalin sehabis mandi, Seti dan Bening bertukar kabar masing-masing. Tak ada suatu keluh kesah tentang kesehatan dalam obrolan itu semakin menghangatkan malam di teras rumah Nenek.
__ADS_1
"Minggu depan mungkin Hening pulang dulu ke rumah jengki." Bening beralih menyinggung Hening.
"Dia baik-baik saja kan ?" Tanya Seti yang tak menduga kepulangan Hening ternyata lebih cepat dari dugaan-nya.
"Baik .... Sepertinya dia ingin satu dua hari di sana menyegarkan otaknya yang katanya serasa mau meledak melihat situasi Jakarta," lanjut Bening.
"Yah mau bagaimana lagi mbak .... Lapak Malioboro juga tak bisa terus-terusan sepi begini." Seti meniup gelas kopi yang masih mengepulkan asap. "Untungnya barusan Muji menyuruhku berangkat kerja membantu teman-nya di Kulon Progo," sambungnya lagi.
"Wah selamat ya Set ....Mbak senang kamu akhirnya dapat kerja kantoran,"
"Ah masih latihan kerja mbak, belum tahu kerjaannya nanti seperti apa,"
"Pokoknya jangan kamu lepas dulu. Mbak juga dulu seperti itu waktu pertama kali dapat panggilan kerja di bank. Ternyata gak serumit yang mbak bayangkan ketika sudah masuk di dalamnya,"
"Jangan kuatir, aku ambil peluang itu mbak ... Kebetulan aku sedikit tahu kerjaan itu,"
"Baguslah .... Paling tidak kamu bisa dapat pengalaman di situ."
Seti mengalihkan pandangan di sela obrolan ketika melihat Asri menghampiri dirinya. "Sudah ketemu Nenek ?" Tanya Seti.
"Belum .... Sepertinya Nenek masih istirahat di kamarnya," Asri duduk menyebelahi Seti.
"Nanti jam delapan biasanya Nenek baru bangun." Timpal Bening yang sudah mengetahui kebiasaan Nenek. "Makanlah dulu, kalau kalian sudah lapar," lanjutnya.
"Nanti saja mbak Ning bareng Nenek kalau sudah bangun."
Obrolan di teras berlanjut lagi. Kali ini menyinggung panggilan kerja Asri di Surabaya.
"Sepertinya kita tunggu kakakmu dulu Set. Paling tidak bagaimana pendapatnya nanti patut kamu pikirkan juga." Ujar Bening sambil membuka tutup toples. "Cicipin peyek kacang buatanku As,"
"Ya mbak .... Makasih," Asri mengambil sepotong peyek dari toples yang disodorkan Bening.
"Sepertinya enak tuh," Seti ikut mengambil peyek yang tersaji, "Tapi sepertinya masih enak buatan Ibu,"
"Hihihi .... Padahal kata Seto enak buatan mbak loh," Bening tertawa kecil menjawab ledekan Seti.
"Pastilah .... Mungkin karena mas Seto sudah kenyang dimarahin Ibu mbak ...." Seti ikut terbahak.
Kegembiraan dan tawa Bening tak bisa ditutupi lagi mendengar Seti yang mulai mengolok cerita kenakalan masa lalu Seto sampai kemudian keberuntungan Seto setelah menjadi pelaut.
__ADS_1
Asri-pun ikut larut dalam cerita masa lalu yang berentet keluar dari mulut Seti. Baru kali inilah dirinya paham, betapa satu keberuntungan dunia kerja akan menyentuh manusia yang tak pernah menyerah dengan keadaan sesuai adab yang ada dalam dirinya ....
...----------------...