
"Mabuk lagi... Judi Lagi ... Aaaah ... " Lagu berirama dangdut terdengar dari sebuah rumah di pelosok persawahan tepi jalan Daendels yang masuk wilayah kecamatan Ambal.
Suara mendesah Cucu Cahyati yang mengalunkan lagu itu menemani tiga orang yang terlihat sedang duduk di terasnya.
Jalan Daendels yang ada di depan rumah tadi terlihat sepi dan gelap. Tak ada satupun lampu atau marka jalan di atasnya.
Membelah jalur selatan Kebumen, kendaraan ekspedisi yang memangkas jarak berusaha sebisa mungkin melintasinya pada pagi sampai sore hari saja saat mengantar muatan dari kota Bantul, Purworejo, Kebumen, sampai Cilacap atau sebaliknya.
Supir kendaraan ekspedisi yang sering melaluinya paham betul daerah Ambal dan Mirit, dua kecamatan yang ada di wilayah kabupaten Kebumen. Mereka akan memilih menghindarinya jika kemalaman ketika akan mengantar muatan barang.
Memilih lewat jalur tengah Kebumen sampai Purworejo yang ada di pusat kota walaupun beresiko terkena macet dan berputar lebih jauh.
Resiko jika kendaraan pecah ban atau mogok jika berhenti di dua tempat tadi saat malam hari adalah hilangnya barang muatan yang dibawa ... Ya Ambal dan Mirit konon terkenal dengan sebutan kampung begal dan bromocorah.
Ditambah cerita pembuatan jalan Daendels dari Anyer sampai Panarukan yang melintasi jalur selatan Kebumen itu semakin menambah sisi gelap sejarahnya.
Banyaknya kematian akibat wabah penyakit, kekerasan, dan kelaparan menjadi mitos tambahan keangkeran jalan itu.
Sebenarnya bukan hanya karena mitos tadi yang membuat daerah Ambal sepi dan sunyi di malam hari.
Tempatnya yang terpencil dengan persawahan dan laut di sebelah selatannya membuat daerah itu menjadi tempat yang paling aman untuk bersembunyi atau melarikan diri.
Ketika mendengar seseorang yang melakukan suatu perbuatan melanggar hukum ada di daerah itu membuat orang awam berpikir dua kali untuk melewatinya.
Berkumpulnya orang-orang dari mana saja tanpa pernah tahu masa lalu masing-masing menjadikan daerah itu semakin dipenuhi misteri dan cerita gelap suatu kejahatan yang sering terjadi ...
...----------------...
"Bagaimana Jogja ?" Tanya laki-laki ber-hoodie tebal ke arah dua laki-laki yang ada didepannya.
"Sebaiknya menjauh dari Jogja dulu Git, " jawab salah seorang dari kedua laki-laki yang ditanya tadi.
Tak ada percakapan lagi di teras rumah itu. Sigit laki-laki ber-hoodie tadi berdiri, dan berjalan mondar mandir di teras rumah.
__ADS_1
Kedua laki-laki itu hanya terdiam, tak berani berkata lagi. Keduanya sangat paham jika berita yang disampaikan tadi membuat amarah Sigit meluap.
"Cepat atau lambat aku pasti tertangkap, ... Bapak juga sudah menyuruhku untuk menyerahkan diri," Sigit duduk lagi di hadapan kedua laki-laki itu. "Hanya saja aku tak akan membiarkan bajingan itu bebas begitu saja," ujarnya lagi dengan gusar.
"Seti maksudmu Git ?"
"Ya ... Siapa lagi kalau bukan dia !!! ... Tak masalah aku ditangkap atau menyerahkan diri ... Setelah kubereskan dia dulu !!!" Suara Sigit mengeras menumpahkan kemarahannya.
...----------------...
Setelah berhasil melarikan diri dari Drini. Sigit berpisah dengan teman-nya di Bantul setelah berhasil menemui dan meminta bantuan Herman.
Dari Bantul Sigit menumpang truk ekspedisi ke Ambal ... Herman yang mengatur pelarian Sigit lewat kenalan satu selnya dulu di Wirogunan yang menjadi supir dan berasal dari daerah itu.
Tentu saja semua itu tidak cuma-cuma. Selain tak mau omzet minuman kerasnya menurun sebab kedekatan dirinya dengan Sigit, imbalan yang diterima Herman juga sangat cukup untuk membuatnya mau menerima permintaan mengatur pelarian dan persembunyian Sigit.
Dari tempat persembunyian sampai semua urusan kebutuhan Sigit di Ambal dipenuhi keluarga Sigit melalui Herman dan kaki tangan-nya.
Untuk urusan itu, dua laki-laki tadi adalah orang kepercayaan Herman yang menjadi suruhan-nya menemui Sigit untuk mengantar uang atau menyampaikan berita.
"Apa yang harus kami sampaikan ke Blegog ?"
"Cari tahu dan awasi di mana Seti jika benar bajingan itu nanti tak terbukti bersalah !"
Semula jika Seti dan Seto terbukti bersalah, Sigit akan menyerahkan diri seperti permintaan keluarganya Berniat membalas keduanya di dalam penjara ... Tetapi niat itu lalu diurungkannya.
Memilih dengan cara apapun dirinya akan melampiaskan pembalasan kepada Seti setelah mendengar kabar yang disampaikan orang suruhan Herman tadi.
Malam semakin larut ... siaran radio berakhir seiring waktu ... Rumah Ambal masih penuh sumpah serapah dan perandaian tentang rencana-rencana pembalasan Sigit ...
...----------------...
"Kami balik ke Jogja besok pagi Git,"
__ADS_1
"Baiklah ... Terimakasih atas berita yang kalian sampaikan tadi" Sigit beranjak masuk ke dalam rumah.
Tak lama dua botol minuman keras ditentengnya dari dalam rumah. "Ngombe sik dab ..." Ujarnya sambil membuka botol di tangannya.
"Ini barang oplosan Blegog ?"
"Bukan... Ini barang asli yang ditukar orang dalam." Sigit lalu menceritakan cara Herman menukar minuman asli dengan oplosannya di tempat-tempat hiburan melalui orang dalam yang bekerja di tempat itu.
Dari botol-botol minuman asli yang berhasil ditukarnya itulah bos Herman memperoleh keuntungan.
Setiap botol minuman asli yang berhasil ditukarkan, Herman mendapatkan lima ribu perak. Rata-rata dalam satu malam, Herman bisa menukar 20 sampai 30 botol dari satu tempat hiburan saja. Bisa dibayangkan berapa yang diperoleh Herman setiap malam jika dia berhasil memasok semua tempat hiburan di Jogja dan sekitarnya.
Sigit dan Herman tak tahu akan diapakan botol minuman tadi. Apakah mau dijual lagi atau bagaimana keduanya tak peduli. Tugas Sigit adalah merayu pengunjung untuk menghabiskan sebanyak mungkin minuman melalui perempuan penghibur yang disuruhnya menemani pengunjung.
"Siapa yang mengurus perempuan-perempuan itu sekarang Git .. Kulihat wajah-wajah baru semua setelah kamu menghilang ?" Topik obrolan lalu beralih setelah isi botol minuman tadi tertuang.
"Itulah yang menjadi pertanyaanku ... Semua orang terdekatku untuk urusan itu tiba-tiba menghilang ... Aku tak bisa menjawab pertanyaanmu. Bisa saja perempuan freelance atau sainganku yang sekarang bermain di sana," keluh Sigit sambil memutarkan gelas minuman.
Tentang perempuan-perempuan di sekitar Sigit seperti yang disinggung tadi, sebenarnya kebanyakan karena terjerat tipu muslihatnya.
Entah sudah berapa perempuan muda yang tak bisa lepas dari cengkeraman Sigit. Keinginan memperoleh sesuatu dengan cara yang paling gampang memudahkan perempuan-perempuan yang didekati Sigit terkena perangkap kesenangan di awal.
Memanfaatkan kepopuleran di kampusnya. Sigit mendekati satu-satu perempuan yang diincarnya. Jika yang didekatinya tergoda dengan penampilan dan mulai menerima satu per satu pemberiannya, Sigit akan mengajaknya ke dunia gemerlap malam Jogja.
Mengajaknya tidur mudah bagi Sigit setelah dirinya dianggap sebagai seorang kekasih yang sempurna Lalu pelan-pelan buaian kata-kata cinta semu membuat satu-satu tak kuasa menampik permintaan Sigit ketika diminta untuk menemani pengunjung tempat hiburan yang dikenalkan Sigit sebagai agen pencari bakat untuk model atau filem yang tertarik dengan mereka.
Begitulah tipu muslihat yang memperdaya khayalan masa depan indah. Seolah-olah semuanya sim salabim seperti sulapan pasar malam untuk mendapatkan sesuatu.
Menyesal ?
Tentu saja semuanya sudah terlambat ketika rasa penyesalan merasa dibodohi dan dimanfaatkan muncul setelah Sigit tiba-tiba saja menjauh dan menghilang begitu saja ketika sudah mendapatkan mangsa berikutnya.
Begitulah sisi gemerlap dunia malam Jogja yang penuh kepalsuan bagi yang tak bijak dan berhati-hati saat mencari tempat pelampiasan kepenatan keseharian... Terutama bagi perempuan muda yang memilih Jogja sebagai persinggahan hausnya mencari pengetahuan dengan bekal logika yang sempit ...
__ADS_1
...----------------...