
Membaca diary sejak masa SMA-nya menyadarkan Asri betapa jejak lorong waktu masa lalunya tak bisa dihapus begitu saja.
Hari penuh kekhilafan, kesenangan dan segala macam masa remaja seperti filem dokumentasi, ... silih berganti muncul di benaknya seperti baru kemarin dijalaninya.
Narasi tentang kesalahan-kesalahan dan kebodohan kekhilafan masa lalunya dicermati berulang oleh Asri.
Manusia tidak pernah melakukan hal itu. Tak ada manusia yang luput dari kesalahan, kecuali dirinya tak pernah melakukan apa-apa. Berdiam diri seperti robot mekanis yang kehabisan sumber energi.
Ujung pena Asri sekarang lebih tajam. Memilah kesan hari-hari masa dewasanya yang diupayakan makin bijak dalam lisan dan tindakan.
Meninggalkan kenaifan dan kekhilafan pada suatu masa tentu tidaklah mudah.
Ada lembaran diary Asri yang hitam pekat. Membekas kemarahan dan kepedihan mendalam .... Sejak luka Drini tak ada lagi coretan di diary-nya ....
Lupakah dirinya ? Atau ada rencana lain untuk mengisinya dengan coretan hidupnya kelak ?
...----------------...
Dering telepon rumah mengalihkan ruang masa lalu Asri. Menutup diary-nya, Asri bergegas mengangkat gagang telepon rumah yang menyapa paginya.
Nada gembira terdengar ketika Asri bercakap. Cukup lama obrolan keduanya sampai Asri mengiyakan ajakan lawan bicaranya.
"Ya sebentar.... Aku mandi dulu." Asri mengakhiri pembicaraan telepon dengan Hening yang memintanya menemaninya di rumah jengki.
Sebenarnya Asri sedang menunggu telepon Seti sampai Hening yang barusan menelepon setidaknya menghilangkan pertanyaan dirinya tentang Seti. Tidak seperti biasanya Seti tidak meneleponnya sejak semalam.
Sejak kepergian Seti ke Kulon Progo, Asri lebih banyak berdiam di rumah membantu Ibu menyiapkan makan siang buat Bapak dan karyawan bengkel.
Sejak Seto menikah, urusan bengkel sepenuhnya menjadi tanggungjawab Teguh dan Bapak untuk mengelolanya. Sepertinya Seto memilih lebih fokus dulu ke urusan kuliahnya dan menata hidup barunya bersama Bening.
Sampai kemudian Asri mendengar Bapak yang berniat menjual mobil kijang kotak kesayangan-nya untuk mengembalikan uang Seto yang dipinjamkan ke bengkel lewat Joko.
Hal itulah yang sebenarnya akan dibicarakannya jika Seti meneleponnya.
Asri menuju kamar mandi. Berharap kesegaran air mendinginkan benaknya yang dipenuhi dengan perandaian tentang apa yang harus dilakukan sebelum bersiap ke rumah jengki.
Dari nada bicara Hening tadi, Asri menangkap ada sesuatu yang akan disampaikan Hening kepadanya ....
...----------------...
Kijang kotak merah itu perlahan meninggalkan rumah Sokaraja. Bapak terlihat senang sambil menyupiri Asri yang duduk di sebelahnya.
"Wah kamu ayu banget nduk," Bapak memuji dandanan Asri.
"Ah Bapak juga kayaknya lagi senang," Asri menatap laki-laki tegap di sebelahnya yang masih menyisakan ketampanan masa mudanya.
"Hahaha .... Iya nduk. Tadi waktu kamu mandi Ibu-mu meminta Bapak menemaninya ke tempat bulik-mu Banjar,"
__ADS_1
"Bulik Siti pak ?"
"Ya,"
"Ada apa ?"
Bulik Siti, adik ibu Asri yang paling kecil dari delapan bersaudara. Ibu Asri anak tertua.
Sejak menikah dengan Bapak yang membuka bengkel, hampir semua kebutuhan biaya sekolah adik ibu Asri dibantu Bapak dan Ibu sampai mereka bekerja.
Dari semua adik ibu Asri, bulik Siti yang menjadi kepala sekolah SMA di Banjarnegara paling dekat dengan ibu Asri. Sejak Joko sakit dan kejadian Drini, dia-lah yang lebih sering mendampingi ibu dan bapak Asri.
Bulik Siti yang ikut ibu dan bapak Asri sejak SMA sampai lulus kuliah di IKIP tahu persis bagaimana Bapak menyisihkan uang bengkel untuk membeli kijang kotak. Mobil serbaguna yang lalu menjadi kendaraan siapa saja yang membutuhkan.
Mobil itu juga yang dipakai wara wiri ketika bulik Siti akan menikah dulu.
"Bulik-mu tidak mau mobil ini dijual ke orang lain nduk," kata Bapak kemudian.
"Maksud Bapak ?"
"Bulik-mu mau memberikan tabungan perhiasan miliknya ke Ibu-mu untuk dipakai dulu. Entah darimana bulik-mu tahu kalau Bapak dan Ibu-mu akan menjual mobil ini. Padahal tabungan perhiasan itu rencananya akan dipakai untuk ongkos haji," jawab Bapak. "Jadi Ibu-mu bersikeras menolaknya. Makanya mengajak Bapak ke Banjar untuk membicarakan hal itu sekaligus menengoknya. Tak enak merepotkan bulik-mu terus terusan," lanjut Bapak.
Asri terdiam mendengar kata-kata Bapak .... "Ah andai saja aku sudah bekerja. Tentu Bapak dan Ibu bisa kubantu." Gumam hati kecilnya ....
...----------------...
"Mampir dulu pak,' Hening beringsut mendekat menyapa bapak Asri lalu beralih memeluk Asri yang turun dari mobil.
"Maturnuwun nduk, .... Kapan-kapan saja, Bapak ke bengkel dulu antar makan anak-anak lalu mau antar Ibu-nya Asri." Jawab bapak Asri setelah berbincang sebentar, lalu memundurkan mobil keluar halaman rumah jengki.
"Yuk masuk." Hening mengajak Asri.
Tak membantah, Asri mengikuti Hening yang beranjak memasuki rumah jengki.
"Duduk dulu As, ... aku buatkan teh panas dulu," lanjut Hening setelah keduanya masuk.
"Ya ...." Asri merebahkan badan-nya ke bale-bale di depan TV yang menyala.
Berita Jakarta yang semakin liar menggetarkan hati Asri. Ajakan Seti ber-akhir tahun di Jogja mengusik pikirannya.
"Bagaimana jika Jogja ikut-ikutan rusuh ?" Kekuatiran itu muncul di benak Asri.
Asri mengambil remote TV, memindahkan ke saluran lain. Tetapi semua saluran TV menyiarkan berita yang sama. Masing-masing dengan bumbu-bumbu ketidakpastian dan suasana kacau hampir di setiap kampus yang ada di Jakarta
"Itulah kenapa aku dan Yuni memutuskan pulang kampung dula As," Hening meletakkan dua gelas teh panas di meja sambil ikut mengomentari berita TV.
"Tapi kalian baik-baik saja kan ?"
__ADS_1
Hening tersenyum ke arah Asri. "Jika tentang aku dan Yuni kamu lihat sendiri, kami baik-baik saja .... Hanya jika pertanyannmu tentang pekerjaan, ... Kamu tahu sendiri kan sulitnya keadaan Jakarta." Jawab Hening. "Jadi kami sekarang dua perempuan yang sedang tidak baik-baik saja hihihi ...." Hening terkekeh mentertawakan keadaannya.
Asri yang tahu benar tentang Hening ikut tertawa. Selama dirinya bersama Hening sejak SMA belum pernah sekalipun sahabatnya itu mengeluh tentang kesulitan dengan kecengengan yang memelas.
Sesulit apapun masalah, Hening selalu terlihat biasa-biasa saja di hadapan-nya.
"Dah aku mau mandi dulu, ... " Hening meninggalkan Asri yang masih menonton TV.
...----------------...
Tak mau paginya terganggu, Asri mematikan TV lalu berpindah ke teras belakang sambil menunggu Hening selesai mandi.
Duduk di risban jati teras belakang rumah jengki itu terasa menyenangkan Asri.
Ada kerinduan masa lalu yang terobati ketika Asri menikmati teh hangatnya di sana. Seperti baru kemarin dirinya meninggalkan teras itu dan tak terasa semua yang pernah singgah di teras itu terus tumbuh menjadi dewasa dengan persoalan masing-masing.
Semakin kuat atau melemahkah ?
Tak membantah banyak persinggungan di teras itu menjadikan diri Asri semakin kuat....Bening, Joko semasa hidupnya, Hening dan tentu saja Seti sudah menjadi bagian jiwanya.
Seperti Hening yang menghadapi kerasnya kekacauan Jakarta, Asri sendiri juga masih berkutat dengan persoalan keuangan keluarganya.
Jika keadaan tidak seperti yang diberitakan media, pekerjaan di Surabaya setidaknya sangat berarti bagi Asri.
Ada rasa yang tak bisa diungkapkan Asri ketika dirinya sementara ini setiap hari hanya bisa membantu berkutat di dapur tanpa bisa membantu kebutuhan yang lain.
Walau Bapak dan Ibu terus menghibur dan menyemangati dirinya, tetap saja keinginan berbuat lebih bagi keluarganya mengganggu hati kecilnya.
"Segaaaar ...." Hening yang keluar menghampiri membuyarkan lamunan Asri.
"Cantiknya seniman Jakarta-ku," Asri memuji Hening yang terlihat tak ada cela kewanitaan-nya sehabis mandi.
Gigi putih rapi yang terlihat saat Hening tertawa lepas mendengar pujian Asri menambah pesona kecantikannya. Masih berkerudung handuk yang melingkar menutupi rambut basahnya, Hening duduk di depan Asri. Mengambil gelas dan menenguk teh yang ada di meja.
"Kamu juga semakin cantik As, ... Pasti Seti tak sabar untuk menikahimu,"
Pipi Asri terasa panas mendengar kata-kata Hening. Mendengar nama kekasihnya disebut, keinginan bertemu dengan Seti mengusiknya lagi.
"Ah .... Kerja dulu Hen. Banyak yang harus dibereskan. Kawin itu gak segampang kata-kata. Banyak yang harus disiapkan," elak Asri.
"Aku bilang menikah .... Bukan kawin loh," ledek Hening.
"Hihihi .... " Asri tergelak memahami ledekan Hening.
Gelak tawa canda keduanya menghidupkan pagi rumah jengki. Melupakan sejenak persoalan masing-masing yang menghimpit.
Ketika sahabat berbagi muncul menyapa, sepertinya tak perlu lagi ada yang ditutup tutupi. Persoalan perempuan lalu menjadi topik obrolan Asri dan Hening. Tentu saja ada kisah asmara Asri dan Seti yang menjadi bumbu keduanya tanpa perlu ada kecemburuan lagi ....
__ADS_1
...----------------...