Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
39. Tentang Cinta


__ADS_3

Sapaan selamat pagi terdengar dari radio di kost Samirono. Topik cinta lalu mengalir menjadi bahasan siaran di Minggu pagi yang sedikit mendung.


Suara lembut penyiar wanita yang menguliti efek dari sebuah cinta menarik perhatian Seto untuk mengikutinya.


Narasi tentang cinta menghentak jiwanya lagi setelah semalaman menemani Bening di rumah Wirobrajan.


Merasakan pengaruh cinta yang masih ada membuat kedinginan hati Seto luluh dengan perasaan itu. Mencoba meredakan kesedihan dan segala masalah Bening yang berlarut dengan caranya. Berharap kasih sayang yang diberikan olehnya akan menjadi dukungan yang berguna bagi Bening.


Menghargai dan menjaga orang tersayang dengan sungguh-sungguh, terasa menyenangkan.


Dicintai memang lebih baik daripada mencintai, tetapi lebih dalam lagi ketika ada rasa saling mencintai. Itulah yang sedang dirasakan Seto sekarang ketika membalas sapaan hati Bening.


Merasa masih cukup waktu untuk menghabiskan kopi dan rokoknya sebelum menjemput Bening di rumah Wirobrajan, Seto meneruskan menyimak narasi cinta yang menyejukkan paginya.


...----------------...


Dandanan dan riasan seperlunya tidak menyembunyikan kecantikan wajah Bening. Senyumnya kembali merekah pagi itu saat Hening mencoba menggoda di depan cermin.


"Ehem ... mbak-ku berdandan lagi," kata Hening setelah lama sungkan mengomentari kakaknya.


"Sudah mandi Hen ?" Bening mengalihkan godaan adiknya. Pipinya entah kenapa terasa panas mendengar godaan adiknya.


"Ntar siangan mbak ... lagian kalau cuma mau nongkrong di malioboro bareng Yuni, Joe dan Doni ngapain harus wangi ... hihihi ...," Hening yang masih tiduran menjawab sekenanya.


Keduanya tertawa lepas.


Setelah obrolan kakak adik tentang rumah Jengki dibahas semalam, kini ada kelegaan dari keduanya.


Sepulang Seto dari rumah Wirobrajan ada dua jam Bening dan Hening membahas tentang rumah Jengki. Pada pokoknya Hening tak mempermasalahkan jika rumah Jengki ditinggalkan setelah Bening memutuskan untuk tidak tinggal di rumah itu lagi.


Hanya saja jika rumah Jengki memang akan dijual, Hening berpesan sebaiknya setelah Bening kakaknya menikah lagi.


"Kata siapa mbak akan menikah lagi ?" Bening mencoba berkelit dari gemuruh hatinya. Sebisa mungkin menyembunyikan tentang Seto kepada Hening.


"Jika itu maumu, ... aku tak akan membiarkanmu berlarut dalam masa lalumu ... Ikutlah denganku." Suara lembut Seto semalam masih terngiang di telinga Bening saat dirinya kembali meminta pendapat Seto untuk meninggalkan rumah Jengki. Malam itu Seto tegas menjawab permintaannya.


"Kataku, ..." Suara Hening mengalihkan ingatan Bening tentang Seto.


Saling berpandangan. Bening memeluk erat adiknya. Ada keriangan baru dari keduanya di rumah Wirobrajan ...


...----------------...


Jam delapan pagi, RX-Spesial yang masuk halaman rumah Wirobrajan membuat debar jantung Bening semakin berdetak lebih cepat.


Sosok tinggi berjaket kulit hitam mendekat ke arah selasar rumah Wirobrajan.


"Sini ikut sarapan dulu cah bagus," om Rudi menyapa Seto dari duduknya di teras. Kelihatannya dia sedang menikmati kehangatan matahari pagi yang sinarnya sebagian menembus atap selasar.

__ADS_1


Naik ke atas lantai teras. Seto menyalami om Rudi lalu duduk di depannya.


"Iya om, ..." kata Seto sambil menyorongkan sebungkus rokok ke om Rudi.


"Jadi ke Drini hari ini To ?" om Rudi menerima bungkus rokok yang diulurkan Seto. Mengeluarkan sebatang dan menghisapnya dalam-dalam setelah Seto menyorongkan korek api yang menyala.


"Jadi om," Seto ikut menyalakan rokok menemani om Rudi.


Keduanya lalu asik mengobrol tentang banyak urusan laki-laki. Kepulan asap dan seduhan kopi menambah keriangan selasar rumah Wirobrajan. Obrolan laki-laki antar generasi terus menyisir pagi itu. Tentu saja setiap topik terbingkai sudut pandang jaman masing-masing.


Tak lama Yuni keluar dari dalam membawa nampan. Dua piring nasi goreng yang masih mengepulkan asap bercampur semerbak bumbu mengalihkan obrolan dua laki-laki itu.


Tak menunggu lama Bapak Yuni mulai memainkan sendoknya. "Habiskan To ... nambah kalau masih kurang," lanjutnya di sela suapan sendok penuh nasi goreng dari piring.


"Ya om," tak mau mengecewakan tuan rumah, Seto mengikuti menyendok nasi goreng di depannya.


"Enak gak om ?" Tanya Hening yang menyusul ke luar. Dua gelas air putih diletakkannya di meja.


"Pas banget masakanmu Hen," jawab om Rudi. "Jauh dengan masakan Yuni... hahaha..." lanjutnya sambil terkekeh.


"Ah Bapak kan cuma ngajarin gambar ... tentu saja aku gak jago masak," Yuni yang menyusul ke teras mengantarkan pisang memprotes kata-kata bapak-nya. Mukanya dicemberutkan saat meletakkan pisang yang dibawanya ke meja.


Bening terlihat menyusul kemudian ke arah selasar rumah Wirobrajan di sela perbantahan akrab om Rudi dan Yuni.


Duduk menyebelahi Seto membuat perbantahan beralih topik ke arahnya.


Bening merasa aliran darahnya tak menentu. Rasa yang dulu pernah hinggap di lereng gunung Slamet muncul lagi.


"Asiiiik ... ," Hening ikut menimpali. Melihat salah tingkah kakaknya, dirinya membenarkan tebakan jika Bening sedang jatuh cinta lagi. Tertawa riang melihat muram di kakaknya terlihat menepi.


"Kalian sudah sarapan ?" Tak mau berlama melihat salah tingkah Bening, om Rudi mengalihkan obrolan ke arah tiga perempuan di depannya.


"Sudah om," jawab Bening pendek.


"Nanti bawakan lobster ya... Om sudah lama gak mencicipi lobster,"


"Ah Bapak... kolesterol pak ... kolesterol," Yuni menyela dari samping bapaknya.


"Cuma sedikit ... kan ada dokter kalau sakit kepala bapak kumat," bantah om Rudi. Seringainya ke arah Yuni membuat perbantahan akrab bapak dan anak itu kembali terulang di selasar rumah Wirobrajan.


Sesekali ada tawa dari Seto, Bening dan Hening mendengar perbantahan itu yang menunjukkan betapa erat kedekatan antara om Rudi dan Yuni anak perempuan satu-satunya.


...----------------...


RX-Spesial terlihat meninggalkan rumah Wirobrajan jam sembilan pagi. Om Rudi mengingatkan pesanan lobsternya saat Seto dan Bening berpamitan.


Sepertinya Seto tak mau terburu-buru mengarahkan motor ke arah Drini. Memilih melaju santai di atas motor, menikmati kebersamaan dengan Bening yang memeluk erat pinggang kencangnya.

__ADS_1


Melihat senyum lepas perempuan yang pernah singgah di hatinya, Seto menduga tidak ada masalah dengan pembicaraan Bening dan Hening. Membiarkan dan memandang senyum lepas Bening yang lama tak dilihatnya tanpa mau mengusiknya dengan keingintahuan lebih jauh tentang pembicaraan itu.


"Aku akan melamarmu nanti di Drini." Gemuruh kata hati Seto kencang dirasakannya. Kali ini perasaan kelelakiannya tak ragu lagi untuk segera diungkapkan.


Kata yang tepat untuk diungkapkan nanti sepanjang perjalanan mencoba dirangkai hati-hati oleh Seto ... Bagaimanapun rasa bersalah itu masih membekas ...


...----------------...


"Berhenti dulu To, ..." Bening menepuk pundak Seto setelah melewati tanjakan Irung Petruk.


"Ada apa ?" Tanya Seto setelah menghentikan motor.


"Minum dulu yuk,"


"Gak ada restoran di sini," suara heran terdengar dari mulut Seto yang menengok kanan kiri.


"Siapa yang ngajak ke restoran," Bening turun dari boncengan. "Aku bawa termos kopi kok ... cukup buat berdua," lanjutnya sambil mengeluarkan termos kecil dari tas punggung.


Seto menerima gelas berisi kopi panas dari tangan Bening setelah menepikan motor di keteduhan pohon Jati.


"Kamu capai ?" Tanya Seto di sela minum kopinya.


"Gaklah ...," Bening tersenyum. "Masih jauh ?" Tanya Bening kemudian.


"Lumayan, ... tapi kalau kamu capai nanti kita istirahat dulu di Wonosari," jawab Seto. "Kopi buatanmu enak dan menyegarkan," lanjutnya lagi sambil menyodorkan balik gelas ke arah Bening.


Tangan halus Bening terlihat jelas ketika menerima sodoran kopi dari tangan Seto. Tertawa kecil membenarkan efek kopi yang barusan ikut diminumnya.


"Semalam Hening berbicara banyak denganku,"


"Tidak ada masalah dengan pembicaraan itu kan ?" Seto mencoba membenarkan dugaannya.


"Tidak,"


"Sukurlah,"


"Hanya Hening sepertinya menyuruhku menikah lagi, ..." Kali ini mata Bening menatap tajam laki-laki di depannya.


"Baguslah ... setidaknya kamu tidak akan sendirian lagi," Seto membalas tatapan itu.


"Kamu sendiri bagaimana To ? Mau sendirian terus seperti ini ?" Sepertinya Bening mencoba memancing kelanjutan arah kedekatannya dengan Seto.


"Nanti akan kusampaikan di Drini apa yang akan kulakukan tentang hidupku," Seto merangkul pundak Bening.


Keduanya lalu merapatkan tubuhnya dengan tebakan isi hati masing-masing.


Cinta lama yang terulang selalu menyenangkan. Tentu saja dengan kehati-hatian yang lebih ketika bersemai lagi ...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2