
Jam sembilan pagi rumah Wirobrajan ramai berbenah. Joe dan Doni mengerok dinding kamar mandi yang berjamur. Menambal bagian-bagian yang keropos dengan dempul anti air. Seti menyiapkan cat sambil membuang sampah ke lubang sampah yang digalinya tadi.
Dari halaman depan, rumah Wirobrajan sudah terlihat rapi dan resik setelah seluruh lantai dipel dan dinding papannya diplitur ulang. Sampah daun dan sisa barang tak terpakai sudah terkumpul semua di lubang sampah.
Sambil menunggu Hening dan Yuni pulang dari pasar, Seti membakar sampah, lalu ke dapur merebus air untuk membuat kopi.
Jam duabelasan nanti Joe giliran membuka lapak. Besok Hening dan Yuni balik ke Purwokerto. Jadi hari ini rumah Wirobrajan paling tidak sudah selesai dan rapi kamar mandinya.
Suara si Denok mengalihkan pandangan Seti dari adukan kopi yang baru saja dibuatnya. Mendekati Hening dan Yuni lalu membantu menurunkan belanjaan yang dibawa mereka.
Kecanggungan Seti dan Hening sudah mulai hilang. Pembicaraan tentang kegundahan hati masing-masing tentang jarak dan waktu berakhir dengan keterusterangan Seti melegakan keduanya. Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan tentang Asri. Masing-masing sudah memahaminya.
"Mau masak apa kok banyak sekali belanjaannya ?" Seti berseloroh sambil menerima sekantong besar belanjaan dari tangan Yuni yang membonceng Hening.
"Mie goreng sama ca kangkung," sahut Yuni.
"Kamu masih doyan mie kan Set ?" Hening menggoda Seti setelah memarkir si Denok.
"Masihlah ... apalagi buatanmu," Seti menyahut dari dapur saat meletakkan belanjaan Hening dan Yuni.
"Buatanku atau Asri ?" Hening menggoda Seti lagi sambil meletakkan dua bungkus rokok buat Joe dan Doni di meja.
"Cie cie cieeee ... yang lagi pacaran sembunyi-sembunyi," Joe tiba-tiba saja ikutan nimbrung meledek Seti dan Hening saat mengambil cat di ruang tengah.
"Pacaran ndas-mu," Seti menjawab sebisanya. Tak ingin Hening ikut-ikutan menggodanya lagi.
"Iya Joe, ... si Seti sudah bertekuk lutut terpanah asmara Jogja. Nyesel aku gak kuliah di Jogja," mata Hening berkedip ke arah Joe sambil tersenyum.
"Padahal sudah kuingatkan loh Hen ... dasar play boy aja dia ... semuanya mau diembat," Joe terbahak lalu kabur ke arah kamar mandi membawa cat.
Seti hanya cengar-cengir, beranjak ke meja ruang tengah menyeruput kopi yang masih panas. Lalu beranjak ke kamar mandi membawakan kopi buat Joe dan Doni.
"Hihihi ... yang gak berkutik ketahuan," Yuni nyeletuk dari dapur.
Rumah Wirobrajan ramai dengan celetukan dan saling meledek. Tentu saja masing-masing tanpa ada yang tersinggung hatinya, semuanya sudah paham kedekatan masing-masing. Tawa dan canda Yuni dan Hening yang mulai memasak dari dapur bersahutan dengan Seti, Joe, dan Doni dari kamar mandi.
...----------------...
Menjelang jam dua belas siang, kesibukan rumah Wirobrajan terjeda. Yuni menyiapkan makan siang di meja ruang tengah. Hening dan Seti masih sibuk mengukur tempat kitchen sink di sudut dapur. Joe dan Doni duduk mengaso di selasar depan sambil mengobrolkan dagangan apa yang harus disiapkan Joe sehabis makan siang di lapak Malioboro.
'Daladh dab," Yuni mendekat ke arah selasar.
__ADS_1
Joe dan Doni tertawa mendengar logat Yuni yang mencoba mengucapkan ajakan makan dalam bahasa gaul Jogja.
"Yo mbak," Doni yang masih terbahak menanggapi ajakan Yuni.
Joe seperti biasa mulai iseng. Kali ini dia memakai centhong nasi untuk mengambil ca kangkung di depannya. Karuan saja Hening melotot ke arahnya, "Terus ngawur aja Joe... lainnya ngambil nasi pakai apa !"
"Maaf gak sengaja...," Joe malah membalas pelototan Hening dengan memakai centhong nasi itu untuk mengambil mie goreng dekat ca kangkung. Hening semakin sengit memelototi Joe yang malah mulai makan tanpa merasa bersalah.
Seti yang sudah paham dengan kelakuan Joe membiarkan saja keduanya berbantahan. Mengambil sendok makan dan mengambil nasi ke piringnya. Doni dan Yuni tak sengaja bertatapan saat keduanya hampir berbarengan mengambil nasi. "Kamu dulu Yun," Doni menarik tangannya dari periuk nasi.
"Kamu dulu Don,... nih kuambilkan," ada rona merah di wajah Yuni menghindari tatapan tajam Doni ke matanya.
"Poros Jakarta-Jogja tersambung lagi... tapi kali ini lain gerbongnya," Joe kumat lagi isengnya. Kali ini menanggapi kecanggungan sesaat Doni dan Yuni di depan meja. "Hati-hati-loh jangan kayak gerbong yang dulu," lanjutnya lagi menyindir Seti.
"Iya Joe ... payah gak kuat nanjak," Hening kali ini tertawa. Melirik ke arah Seti yang pura-pura tak mendengar kata-kata Joe barusan.
"Ini baru gerbong anti tanjakan," Doni menerima sepiring nasi yang diulurkan Yuni. Keasikan memandangi Yuni, dia tak menyadari sepiring munjung nasi yang diterimanya.
"Pantes kuat nanjak... porsinya porsi lembur ... full bahan bakar," Seti tertawa melihat Doni yang kebingungan dengan nasi yang diambilkan Yuni. Suka tidak suka dia harus menghabiskan nasi yang diambilkan Yuni.
"Kebanyakan Don ?" Yuni mendekat ke arh Doni, menyadari nasi yang diambilkan terlalu banyak.
"Memang kalau lagi ada yang menarik ... lupa apa yang sedang dilakukan," Joe melirik ke arah Doni, "Teman sekamar dilupakan ... teman sengsara diabaikan...lihat yang segar dan cantik lupa ada yang kelaparan," ujarnya lagi sambil mengambil nasi di periuk. Rupanya Joe benar-benar lapar. Cepat sekali dia makan dan akan menambah nasinya ketika yang lain barusan makan.
"Woy jangan pakai centhong itu lagi !" Hening menggerutu ke arah Joe yang akan menyendok nasi dengan centhong nasi tadi, yang sudah dipakai untuk menyendok ca kangkung dan mie goreng. "Sini kucuci dulu ... cepat basi nanti nasinya," Hening merebut centhong nasi tadi dari tangan Joe.
"Ambilkan dong sayang ... kayak Doni tadi diambilkan," Joe tertawa membalas gerutuan Hening.
Masih menggerutu, Hening mengambilkan nasi buat Joe dengan sendok makan yang lain. "Wah kayaknya ini gerbong baru juga," kali ini Seti menggoda Hening yang masih bersungut-sungut mengambilkan nasi buat Joe.
"Aku sih siap Set ... hanya seniman ibu kota itu kayaknya belum paham gerbong eksekutif ini," Joe terbahak melihat Hening yang semakin mengomel.
Makan siang di rumah Wirobrajan semakin mengasikkan dengan kedekatan masing-masing. Tampaknya Doni semakin berhasrat untuk lebih dekat mengenal Yuni.
Semalam sepulang dari rumah Wirobrajan tak henti-henti dia ingin tahu lebih jauh tentang Yuni lewat Seti dan Joe. Dipikirnya mereka berdua tahu lebih jauh tentang siapa Yuni.
Barulah setelah Seti dan Joe bercerita bahwa merekapun baru mengenal Yuni setelah kedatangannya di Jogja bareng Hening, Doni mencoba lebih mengenal Yuni dengan caranya sendiri. Rumah Wirobrajan setidaknya menjadi pijakan untuk saling bersapa lebih dalam.
Selesai berbenah dan membereskan piring dan gelas kotor, Joe berpamitan berangkat ke lapak Malioboro, "Tampaknya aku harus mencari uang untuk kita ngopi dan camilan nanti malam kawan," Joe memulai percakapan di selasar rumah Wirobrajan. "Tak enak kalau besok seniman ibukota yang mau mudik tak membawa cinderamata dariku," cerocosnya lagi sambil berdiri bersiap berangkat.
"Bawa si Denok Joe, nanti kami susul jika kamar mandi sudah beres," Seti mengulurkan kunci si Denok ke arah Joe.
__ADS_1
"Baik-baiklah kalian di rumah ini ... jangan berbuat tidak senonoh tanpa sepengetahuanku," Joe menerima kunci si Denok sambil ngeloyor terbahak menuju halaman rumah Wirobrajan mengajak si Denok ke lapak Malioboro.
...----------------...
Seti dan Doni melanjutkan mengecat kamar mandi tak lama setelah Joe berangkat ke lapak Malioboro. Hening dan Yuni membalik jemuran gorden dan sprei di halaman rumah Wirobrajan yang tadi pagi dicuci.
Beberapa tetangga yang melintas, melirik ke arah rumah Wirobrajan yang sudah berubah menjadi lebih segar dan enak dipandang. Warna pelitur dop yang menegaskan warna hijau lumut dinding papan kayu mahoni dan perpaduan coklat tua kusen dan daun pintu serta jendelanya membuat tertarik siapa saja yang lewat untuk meliriknya setelah bertahun-tahun kosong tak terurus.
"Si gondrong tampaknya tertarik padamu Yun," Hening melirik ke arah Yuni yang sedang memasukkan beberapa gorden kecil yang sudah mengering.
"Hihihi ... kenapa kalau dia tertarik padaku ?"
"Gak papa sih, aku juga baru kenal di sini. Kelihatannya sih baik orangnya,"
"Jadi maksudmu Doni lebih baik daripada Seti-mu dan Joe ?" Yuni masih tertawa menanggapi obrolan Hening.
"Kalau Seti dan Joe sih aku dah tahu banget... mereka sangat baik padaku, terutama Seti. Hanya Doni kelihatannya berbeda... lebih anteng menurutku,"
"Terus ?"
"Ya siapa tahu kalian bisa lebih dekat ... hihihi ..." kali ini Hening yang tertawa.
Jika Doni mencoba mencari tahu siapa Yuni lewat Seti dan Joe, tadi malam Yuni mencoba mencari tahu siapa Doni lewat Hening. Kelihatannya mereka sama-sama tertarik saat pertama kali bertegur sapa di Malioboro.
"Ah laki-laki ... nanti ujungnya kayak yang sudah-sudah ... ," Yuni tertawa mencoba melupakan obrolannya dengan Hening semalam.
"Tapi kok kamu semalaman bertanya terus tentang Doni,"
"Ah ntar aja mau bagaimana, ... kamu sendiri dengan Seti juga ujungnya gak jadian,"
"Bedalah ... kami tetap dekat kok. Paling tidak aku malah sudah lega mendengar pengakuannya langsung. Kalau kamu tidak memaksaku mengajak ke Jogja, bisa jadi semakin lama aku dalam bayang-bayangnya. Lagipula dia jadian dengan adik suami mbak-ku... besok di Purwokerto kamu kukenalkan pada Asri. Anaknya asik juga kok, dulu kami pernah satu kelas dan dia duduk sebangku denganku,"
"Kamu kok santai saja setelah tahu cerita Seti ?"
"Kan aku belajar darimu dan mbak-ku ... hihihi ..." Hening menatap Yuni. Senyumnya lepas setelah kelegaan hubungannya dengan Seti menjadi jelas.
Dari cerita Bening dan pertemanannya dengan Yuni, dia belajar banyak tentang hal-hal kewanitaan yang tidak harus melulu terpasung kisah cinta yang tak berbalas.
Apalagi keterusterangan Seti akhirnya membuatnya memahami tentang sebuah pilihan. Cerita tentang kejujuran laki-laki di rumah Wirobrajan semakin membekas di hatinya. Mendewasakan kewanitaannya menjadi semakin tegar dan memahami arti cinta.
...----------------...
__ADS_1