Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
49. Harapan Baru


__ADS_3

Membaca namanya ada di daftar peserta ujian skripsi yang dinyatakan lulus sangat menyenangkan hati Seti. Berulang kali hati kecilnya mengucap syukur atas kemudahan dan kemurahan karunia yang diberikan Sang Khalik.


Segera mengabari Bapak, Ibu, Seto dan Nenek lewat hand phone di sela kegembiraan dan saling mengucap selamat civitas kampusnya dilakukan Seti dengan nada yang riang.


Agak lama dia berbincang dengan Seto tentang rencana terdekatnya setelah kelulusan kuliahnya. Mau apa dan mau kemana menjadi topik hangat kedua kakak beradik itu.


Tentu saja masalah hubungan adiknya dengan Asri jadi pembicaraan pokok yang ditegaskan Seto. Bagaimanapun juga, Seto merasa sangat bersalah membawa Seti dan Asri dalam kesulitan perkara hukum yang di luar kehendaknya.


Andai sedari awal dirinya tegas menyampaikan ke Bapak dan Ibu untuk melamar Bening tanpa perlu melibatkan dan mengajak siapapun ke kedai ikan Drini tentu tidak akan ada perkara yang masih menjadi beban.


Tetapi perandaian tetaplah perandaian ... Kuasa sesuatu adalah misteri kata mbah Jum kepada Seto ketika tahu kejadian Drini yang sudah coba diiingatkan sebelum keberangkatannya ke sana.


Tak mau berlama-lama membicarakan perkara Drini dengan kakaknya, Seti mengakhiri pembicaraan setelah mengucapkan terima kasih dan bersiap menunggu kedatangan keluarganya untuk meyaksikan wisuda sarjana tekniknya.


Apapun nanti akhir perkara Drini, Seti sudah bersiap menerima segala konsekuensinya. Saat ini dirinya lebih fokus kepada kondisi Asri yang sudah diijinkan pulang dari Bethesda dan sementara tinggal di kost Mantrijeron ditemani Ibunya memulihkan kondisi morilnya dengan hati-hati untuk saat ini. Bagaimanapun juga, ... klarifikasi Asri sangat dibutuhkan Kepolisian.


Mengayuh sepeda ontel secepatnya ke kost Samirono, tak sabar Seti ingin berbagi kegembiraan dengan mbah Jum dan Muji secara langsung.


Apalagi tadi Bapak menyinggung akan sesegera mungkin berkunjung ke rumah Sokaraja bersilaturahmi dengan Bapak, Ibu dan kerabat Asri membicarakan kepatutan ikatan resmi hubungan dirinya dengan Asri.


...----------------...


Dust in the wind


All we are is dust in the wind


All we are is dust in the wind


Dust in the wind


Everything is dust in the wind


Everything is dust in the wind


The wind ...


Masih dengan kegembiraan hatinya, Dust In The Wind-nya Kansas mengalun lembut dari walkman seiring ayuhan kaki Seti di atas sadel.

__ADS_1


Laju santai sepeda ontel dari kampus baru di ring road utara ke arah kost Samirono dinikmati betul oleh Seti.


Tentang cerita kepasrahan kepada Dia Sang Pemberi Hidup sepertinya mengena betul di hati Seti lewat lagu itu.


Butiran debu tertiup angin ... Tak ada yang tahu kapan hidup akan datang dan pergi ke mana ... Betapa impian indah tentang hidup bisa hilang dalam sekejap, ... semuanya tak akan ada yang tahu.


Tak ada yang bisa menukar dan mempertahankan hal-hal yang dipunya si Dia dengan apapun. Karena kelak semuanya akan diminta kembali ke asalnya.


...----------------...


"Wah cah bagus dingaren sumringah ?" Mbah Jum melihat ada yang berbeda dari cara Seti menatapnya.


"Aku lulus mbah ... !!!" Setengah berteriak dengan kelegaannya, Seti memeluk mbah Jum.


"We ladalah... slamet yo le ... slamet ... " Mbah Jum membalas erat pelukan Seti. Sirih pinang yang sedang dikunyahnya terlempar entah ke mana saat kedua sosok beda usia itu melonjak-lonjak penuh suka cita yang menyenangkan.


Beberapa mahasiswa yang kebetulan sedang makan siang di warung ikut menari-nari menambah keriuhan warung ketika mbah Jum menyuruh mereka makan minum sepuasnya tanpa perlu membayar ,"Hari ini semuanya gratis buat yang makan di sini... Anak lanang si mbah dah jadi sarjana ...!!!" Pamer mbah Jum kepada mereka.


Kegembiraan spontan dalam batas kewajaran ketika bersinggungan dengan sesuatu yang sangat diharapkan adalah manusiawi. Mengingat butuh kerja keras dan usaha sepenuh hati penuh perjuangan untuk meniscayakan terwujudnya suatu harapan.


Pertanyaan-pertanyaan kerangka pikir metodologi penyusunan skripsinya yang terjawab ketika sidang terbayang lagi oleh Seti. Betapa bersyukur dan berterimakasih kepada Pemberi Hidup saat satu persatu tahapan itu dilewatinya tanpa ada keraguan saat menjawabnya.


Jika tak ada itu semua, ... belum tentu Seti mampu melaluinya kala hatinya dipenuhi dendam dan kemarahan yang kemudian perlahan memudar ... mencair mengikuti jalan Pemberi Hidup lewat kepedulian orang baik di sekitarnya supaya dirinya mulai mengenal dan mau belajar mengerti tentang kebijaksanaan.


...----------------...


Muji yang barusan pulang kerja menyusul ke warung mbah Jum. Suara mbah Jum yang terdengar agak keras membuat Muji ingin tahu apa yang terjadi di warung makan mbah Jum.


"Ndang mangan Ji ... adikmu lulus ...!!!" Mbah Jum menyambut Muji yang masih belum tahu sebab keramaian warung.


"Wah... selamat Set ... akhirnya netes ...!" Muji memeluk Seti mendengar seruan mbah Jum.


"Makasih Ji ...," jawab Seti dengan kegembiraan yang lepas.


Muji lalu menarik Seti mendekat dan duduk menyebelahi mbah Jum yang masih sibuk memamerkan kelulusan Seti kepada siapa saja yang ada di warung.


"Wis to mbah... seneng boleh ... Tapi jangan digratisin semua ... ntar bangkrut, " Muji meledek mbah Jum setelah cukup lama tak ada canda di warung itu.

__ADS_1


" Hehehe... iya ... cuma hari ini saja le ... sesuk yo bayar to," Mbah Jum tertawa mendengar ledekan Muji.


Seti tertawa mendengar perbantahan itu lalu berdiri mengambil sepiring nasi di meja saji. Semangkuk sup ayam panas dan dua potong tempe goreng bersambal tomat sepertinya menggugah selera makannya yang mulai terasa.


Muji tak mau kalah. Sepiring besar nasi dengan rendang daging yang mengepulkan asap wangi langsung dilahapnya.


"Wah asem ki ... laos ..." Muji memuntahkan potongan besar lengkuas yang dipikirnya daging.


Mbah Jum terbahak, " Kapok ... Kualat makane ra sah komentar nak onok wong lagi seneng, ..." kali ini dia puas melihat kesialan Muji.


"Yo mbah... maap ... " Muji cengengesan sambil beringsut ke meja saji. Mengaduk panci rendang mencari daging yang diincarnya. " Wah daginge entek mbah ..." gerutunya setelah tahu tak ada lagi daging yang ada di panci.


Mahasiswa yang kost di sekitaran warung mbah Jum kebanyakan dari menengah ke bawah yang kulah di IKIP Karang Malang. Tentu saja mendengar seruan mbah Jum yang menggratiskan makan siang membuat mereka mengincar dan dan berebutan ayam serta rendang daging yang jarang dinikmatinya.


"Hahaha ... tuh masih ada di lemari," mbah Jum menunjuk lemari di sudut warung. Tak tega melihat raut kecewa Muji yang sepertinya sangat berharap menikmati rendang buatannya.


...----------------...


"Pakai si Denok Set ... biar aku gantian pakai sepeda ontel itu," kata Muji sambil menyuapkan potongan besar rendang daging ke mulutnya. Sepertinya dia tahu masih banyak urusan kampus yang harus diselesaikan Seti sampai wisuda nanti.


"Lagi pula motorku sudah ditemukan.


Sekarang ada di Kejaksaan, ..." lanjut Muji.


"Kata siapa ?" Seti tertarik dengan kabar yang disampaikan Muji.


"Mas Gun,... sekarang dia lagi urus untuk pinjam pakai motor itu. Moga-moga saja secepatnya bisa diambil," jawab Muji.


"Yang merampas motormu ketangkap juga ?" Kali ini Seti bertanya serius. Ada nada kelegaan.


"Kata mas Gun satu yang ketangkap di Bantul... Tapi aku belum jelas... Nanti sehabis makan kita temui mas Gun supaya jelas beritanya," Muji menatap tajam Seti. "Kamu jangan kemrungsung ya Set ... Filing-ku perkara ini akan selesai dalam waktu dekat." Hati kecilnya kuatir kemarahan Seti meledak lagi.


Seti mengangguk mendengar kata-kata Muji. Tak sabar ingin tahu kejelasan tentang berita terbaru kejadian Drini yang masih menjadi kegelisahan hatinya ...


 --------------


* Wah cah bagus dingaren sumringah : Wah anak lelaki gagah tidak seperti biasanya terlihat gembira dalam bahasa Jawa.

__ADS_1


*Ndang mangan : Cepat makan dalam bahasa Jawa.


__ADS_2