
Masuk kota Wonosari laju mobil melambat. Jam tangan Seti menunjukkan setengah sepuluh saat Asri menengoknya. Tangannya menggenggam erat tangan Seti. Sesiap apapun dirinya tetap saja rasa gelisah muncul ketika mendekat tujuan.
"Sudah dekat tempatnya ?" Tanya Asri ke arah Seti.
"Sudah ... tuh di depan," jawab Seti pelan.
Rasa cemas Asri coba dihilangkan Seti dengan memberinya belaian lembut di genggaman yang terus mencengkeram erat tangannya.
"Masih yakin tetap mau menghadap ?" Seti mencoba menguji lagi kemantapan hati kekasihnya.
Anggukan kepala Asri setidaknya menghilangkan keraguan pertanyaan Seti yang barusan dikeluarkan.
Keduanya lalu saling menatap yang tanpa perlu satu katapun terucap masing-masing sudah saling memahami artinya.
Cinta itu adalah sesuatu yang rumit dan kompleks. Witing tresno jalaran soko kulino, witing mulya jalaran wani rekasa. Falsafah Jawa tentang cinta yang berarti cinta tumbuh karena terbiasa, bahagia karena berani bersusah payah berkali-kali disampaikan Ibu kepada Asri ketika mengetahui Asri menyambut pernyataan cinta Seti.
Cinta itu tidak melulu tentang kata-kata bersajak indah, sorak sorai kesenangan, benci, rindu dan segala macam ungkapan hati.
Ada kesusahan di antaranya yang kadang terlena karena dibutakan cinta. Membenarkan ada susah payah untuk mencapai kebahagiaan cinta seperti kata-kata ibunya kini dijalani betul oleh Asri.
Persimpangan pilihan untuk memilih arah mana yang akan dituju ketika kesusahan menghadang benar-benar menguji cerita tentang cinta. Ada yang mampu melewati persimpangan pilihan itu, tapi banyak juga yang gagal melewatinya ... Menjadikan sebab putusnya cinta seseorang ...
...----------------...
"Kita minum sambil numpang ke toilet dulu," Seto mengarahkan mobil ke arah warung makan yang lumayan besar dan bersih tak jauh dari Polres.
Gunawan turun lebih dahulu ketika mobil berhenti. Memastikan tidak ada orang terutama wartawan yang mengikuti dan memperhatikan kedatangan mereka seperti yang sudah-sudah. Apalagi sekarang Asri ikut untuk dimintai keterangan. Dirinya tak mau pikiran Asri terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang nanti terekspos ke publik.
Asri mengikuti Seti ke bangku yang ada di pojok warung makan itu.
Beberapa polisi yang kebetulan sedang makan melirik ke arah Asri. Sepertinya kaca mata hitam dan kerudung putih yang dipakai Asri untuk menyembunyikan wajahnya justru membuat setiap laki-laki tergoda untuk berlama menatap mencari tahu wajahnya.
Perawakan tinggi semampai dan kulit putih langsatnya dipadu kemeja putih, celana jeans dan sepatu pantofel benar-benar membuat kewanitaan Asri terlihat sempurna di mata setiap laki-laki yang melihatnya.
"Jeruk hangat dua Ji, ..." Tak ingin Asri gelisah melihat banyak polisi yang memperhatikan mejanya, Seti menemaninya duduk dan meminta tolong kepada Muji untuk memesankan minuman.
"Gak pesan makan atau camilan ?"
__ADS_1
"Gak usah Ji ... itu saja," jawab Seti.
Muji bergegas meninggalkan Seti dan Asri di meja sudut. Kebetulan tiap meja di warung itu hanya ada tiga bangku untuk duduk tamu yang mau makan atau minum di situ. Seto, Gunawan, dan advokat dari LBH duduk di salah satu meja sebelah.
"Duduk sini Gun ... " Salah seorang polisi yang sepertinya mengenali Gunawan memanggil. Mengajaknya bergabung di meja makannya. Sepertinya ada sesuatu yang akan dibicarakan.
Tak enak menolak, Gunawan berpindah tempat ke meja tempat polisi tadi yang memanggilnya.
Asri merapatkan duduknya ke arah Seti. Tangannya meraih dan menggenggam erat tangan Seti. Hati kecilnya berharap Muji cepat duduk di depannya, menutupi dari pandangan setiap mata yang sesekali menatap dirinya.
Muji sepertinya paham dengan keinginan Asri. Setelah memesan, tak berlama-lama dia berbalik kembali menuju meja tempat Asri dan Seti duduk.
"Minum ini dulu As sambil menunggu pesananmu," Muji menyorongkan sebotol air mineral ke arah Asri.
"Ya mas Muji... Terimakasih," Asri menerima botol air mineral yang disodorkan Muji. Membuka tutupnya dan meminumnya seteguk membuatnya terasa lebih nyaman.
"Rokok Set," Muji menyorongkan rokoknya.
"Nantilah ... gampang," Seti menolak halus tawaran Muji. "Kuperhatikan rokokmu semakin kencang akhir-akhir ini Ji," lanjut Seti sambil memperhatikan Muji yang menyalakan rokoknya.
"Kan sekarang aku sudah gajian ... hehehe ... Lagian belum ada pos pengeluaran ngapel," timpal Muji.
"Memang gak ada yang ditaksir mas Muji ?" Tak tahan, Asri ikut nimbrung dalam percakapan.
"Ada... cuman cewek murahan," Seti yang merasakan suasana hati Asri mulai membaik menimpali sambil tersenyum ke arah Asri.
"Kok murahan ?" Asri belum paham apa yang dimaksud Seti.
"Iya ... limaratus perak ... di bioskop Royal...," jawab Seti. "Eni Beatrix, Eva Arnaz, Yeni Farida ...," Seti tertawa menyebut bintang panas favorit Muji.
"Asuuuu...," Muji terbahak.
Asri ikut tertawa lepas mendengar kata-kata Seti dan umpatan Muji. Suasana hatinya kini semakin nyaman terbawa suasana.
Ada saatnya ketegangan dan kegelisahan akan mereda ketika orang terdekat pintar memahami cara untuk mengalihkan perasaan itu.
Kata-kata gurauan Seti dan Muji ketika diucapkan pada saat yang tepat sepertinya mengena betul untuk mengalihkan suasana hati Asri.
__ADS_1
Obrolan lalu mengalir spontan dari ketiganya. Tentang Joe, Doni, Dibyo, Hening dan Yuni lalu menjadi topik yang menghibur.
"Jeruk dan kopinya mas," suara pelayan perempuan yang mengantarkan jeruk hangat dan kopi yang dipesan ke meja mereka menjeda obrolan.
"Terimakasih mbak cantik, ..." Muji iseng menggoda perempuan muda menarik yang mengantar minuman tadi.
"Sama-sama mas... monggo silakan," tersipu malu karena godaan Muji, pelayan perempuan itu lalu berbalik setelah meletakkan gelas pesanan di meja.
"Ih mas Muji bisa genit juga ternyata ...," kata Asri ke arah Muji.
"Owh jelas As ... kan aku temannya Setiaji," kali ini Muji membalas menggoda Seti.
"Memang Seti genit mas ?" Asri melirik ke arah Seti. Sosok Hening mendadak melintas di benaknya. Sosok masa lalu yang sempat membuat kecemburuan dan persangkaan hatinya.
"Powl ... " Muji semakin terbahak melihat Seti yang mendelik akrab ke arahnya. "Tapi sekarang Setiaji sudah jadi Sarjana Teknik Pertambangan ... Bersiap jadi laki-laki pekerja keras,"
"Semoga ..." Asri memeluk mesra pinggang Seti, mengabaikan beberapa pasang mata yang terus memperhatikan kedekatannya dengan Seti. Kali ini dengan rasa bangga kepada Seti.
"Minum dulu jeruknya As," Seti mengingatkan pesanan jeruk hangat yang ada di meja," Kopinya juga Ji, mumpung masih panas ... biar segar nanti," sambungnya ke arah Muji.
...----------------...
Tak sengaja Asri bertatapan dengan Gunawan yang sedang menuju meja tempat Seto berada. Senyuman Gunawan ke arahnya dirasakan Asri menandakan sesuatu yang baik membuatnya semakin yakin akan keputusan yang diambilnya.
Mengalihkan ke gelas jeruk hangatnya setelah membalas senyuman tadi, Asri mengajak Seti untuk mengantarnya ke kamar kecil.
Seti berdiri melihat sekeliling ruangan mencari papan petunjuk arah kamar kecil. Menggandeng Asri setelah melihat papan petunjuk yang dicarinya dan berjalan melewati meja tempat Gunawan tadi mengobrol dengan beberapa Polisi yang ada di situ.
"Permisi pak," kata Seti ketika melewati meja itu.
"Silahkan dik ..." Jawab salah seorang polisi di situ.
Seti mengenali sosok yang menjawab tadi. Dialah yang memeriksanya pertama kali ketika dirinya datang memenuhi panggilan diantar Gunawan.
Dari nama yang tersemat saat pemeriksaan dulu, Seti mengetahui dan mengingat nama Serda Husein, sosok yang menjawab barusan.
Tak mau berlama kembali menjadi perhatian, Asri menarik tangan Seti mengajaknya bergegas meninggalkan meja itu ...
__ADS_1
...----------------...