Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa
55. Kedekatan Hati


__ADS_3

"Mas Dibyooo ... !" Asri memeluk erat laki-laki yang hampir menabraknya di depan pintu.


Rupanya Dibyo hendak keluar dari dalam rumah setelah diberitahu bapaknya tentang kedatangan Seti.


"Asri... " Menyadari bahwa perempuan yang memeluknya sangat dikenalinya, Dibyo membiarkan Asri melepaskan perasaan hatinya dalam dekapannya.


"Terimakasih mas Dibyo... Terimakasih atas semua yang mas lakukan untukku ... " Isak tangis Asri di antara pelukan eratnya tak tertahan lagi.


Rumah jawa berdinding papan jati seperti kebanyakan rumah di Banjarejo itu sepi sejenak. Tak ada yang mau mengusik dua sosok yang sama-sama tersakiti luka mendalam di Drini itu saat melepas perasaan hati dengan bahasa tubuh masing-masing.


Ada binar kebahagiaan dari wajah keduanya setelah Asri dan Dibyo mengetahui keadaan masing-masing. Asri melepaskan pelukannya setelah isaknya mereda. Gemuruh campur aduk di dadanya berangsur hilang.


"Kita ngobrol di rumah depan saja nak ..." Bapak Dibyo yang sedari tadi memperhatikan Asri dan Dibyo mengajak kembali ke rumah depan.


"Yuk ke depan ... ," Dibyo mendahului menuju rumah depan sambil menepuk akrab pundak Seti. "Selamat Set atas kelulusanmu ...," lanjutnya ke arah Seti sambil melangkah.


"Terimakasih Dib ... Darimana kamu tahu aku lulus ?"


"Muji cerita banyak tentang kamu beberapa hari yang lalu ketika main ke sini,"


"Orangnya ada di depan mas," Asri menyinggung Muji mendengar ucapan Dibyo.


"Ah panjang umur dia ... hehehe...," Dibyo tertawa.


"Kamu ompong Dib ?" Seti baru menyadari ada beberapa gigi Dibyo yang terlepas.


"Efek ikut-ikutan kamu latihan karate di Drini ... hahaha..." Tawa Dibyo semakin lepas. Tak ingin bekas luka di Drini itu melemahkan dirinya.


Tak tahu mesti berkata apa, Seti hanya terdiam dan balas menepuk akrab pundak Dibyo yang berjalan di sampingnya ... Keduanya saling menatap dengan kekaguman masing-masing.


Menjadi tahu tentang bagaimana menjadi laki-laki yang sesungguhnya dengan cara yang beradab sangatlah mengesankan ... Sehingga patutlah dipahami jika Seti dan Dibyo diam-diam saling mengagumi ketangguhan ujian mental yang dialami satu sama lain ...


...----------------...


Ruang tamu rumah Banjarejo yang luas menjadi hangat setelah semua yang ada di disitu mengetahui kabar kesehatan masing-masing.


Gelap kemuraman hati yang sekian lama memayungi semua yang sedang berkumpul di rumah Banjarejo mulai tersibak.


Keadaan Dibyo tentu saja menjadi pembahasan utama obrolan.


"Jika tidak karena ibunya belum tentu Dibyo pulih secepat ini," bapak Dibyo menjelaskan proses kesembuhan Dibyo ketika Asri menanyakannya.

__ADS_1


"Maksudnya pak ?" Tanya Asri lagi.


"Dibyo kan dekat dengan ibunya sejak kecil. Jadi selama dia dirawat di rumah sakit, ibunyalah yang sangat sabar menunggui dan menemaninya,"


Asri mengangguk. Ternyata Dibyo sama seperti dirinya yang sangat dekat dengan ibunya. Dirinya menjadi semakin mengerti kenapa selama mengelola kedai ikan Drini, Dibyo selalu menyempatkan menengok dan membawakan makan malam jika kebetulan ibu Dibyo menginap di ladang.


"Ibu di mana sekarang pak ?" Seti menanyakan ibu Dibyo mendengar percakapan Asri dan bapak Dibyo.


"Di ladang... Bapak minta tolong tetangga supaya menjemputnya. Makanya tadi bapak agak lama di belakang,"


"Wah kami tak bermaksud merepotkan pak ... Dari Polres mendadak mas Seto mengajak kami ke sini menengok Dibyo," Seti agak tidak enak hati.


"Gak papa nak Seti ... Sebenarnya ada pesan juga dari ibunya Dibyo yang sejak Dibyo pulang dari rumah sakit ingin disampaikan ... Kebetulan malah kalian semua mampir di sini,"


Suara mobil yang dikemudikan Seto mengalihkan pembicaraan ketika masuk ke halaman rumah Banjarejo. Teriakan gembira bocah-bocah di dalamnya terdengar semakin jelas ketika mobil berhenti dan mesin dimatikan.


Satu-satu rombongan bocah itu ke luar dari dalam mobil dengan seringai kegembiraan di mulut kecilnya. Sepertinya perjalanan keliling kampung sangat berkesan bagi mereka.


Berebutan menyalami Seto, bocah-bocah itu berlari meninggalkan halaman rumah Banjarejo, "Maturnuwun pak lik ...!!!" Teriak mereka sambil bergegas ke arah rumah masing-masing.


Memastikan tidak ada lagi bocah yang tertinggal, Seto beranjak masuk ke rumah Banjarejo.


...----------------...


"Selamat sore juga nak Seto," sambut bapak Dibyo. "Mari masuk duduk di dalam dulu," lanjutnya lagi.


"Iya pak,... terimakasih," Seto mendekat ke risban, duduk menyebelahi Asri.


"Lain kali biarkan saja bocah-bocah itu nak Seto... biar ndak merepotkan dan tuman," bapak Dibyo sepertinya mengkuatirkan tingkah bocah-bocah kampung tadi mengganggu Seto.


"Ah bapak... saya senang melihat mereka gembira ... dan polah mereka masih wajar, gak merepotkan saya," Seto tersenyum menepis kekuatiran dan rasa sungkan bapak Dibyo.


Asri melirik sekilas ke arah Seto yang menyalakan rokok.


Rasa nyaman, terlindungi, dan aman didekat sekumpulan laki-laki yang tahu bagaimana cara membawa diri yang pernah hilang ketika Joko berpulang ada dalam dirinya lagi.


Terlepas dari kelebihan dan kekurangan masing-masing, Asri menganggap sosok Seto pantas menjadi pengganti figur Joko kakaknya yang tahu benar kapan dan dimana kehadirannya dibutuhkan Asri.


Mengalihkan perhatian ke arah Seti yang terlihat sedang asik mengobrol dengan Dibyo dan Muji di meja lain, semakin yakinlah hati Asri jika pemahaman dirinya tentang laki-laki yang digambarkan ibunya sudah ada dalam genggamannya.


Tentang keluarga dan teman terdekat, terutama keluarga dan teman laki-laki Seti tak ada celah dari diri Asri untuk menjauh. Semakin hari semakin tak dapat dihindari rasa ingin dekatnya dengan mereka.

__ADS_1


Rasa ingin dekat persis seperti apa yang selalu disampaikan ibunya saat hari-hari beratnya di rumah sakit dulu ... "Tak ada ujian hidup yang tak mampu dihadapi manusia nduk ... Ibu percaya banyak orang baik di sekeliling Seti yang akan selalu peduli dan mendekat denganmu ..."


Kedekatan dan kepedulian Seto dengan anak kecil terutama kepada Joko kakaknya, ketegasan Seti terhadap sesuatu yang menindas si lemah, keberanian Dibyo melawan pemaksaan kehendak fisik, Muji yang tahu benar kapan menghibur jiwa yang lelah, Gunawan yang peduli dengan keadilan, belum lagi Joe dan Doni yang silih berganti datang dalam cerita perjalanan Asri tak dipungkiri membuat warna indah jiwanya semakin hidup ...


...----------------...


"Eh ada tamu jauh ..." Sosok perempuan ramah muncul dari balik pintu sambil menenteng nampan besar.


Asri yang mengenali ibu Dibyo berdiri dari duduknya, membantu menyajikan nampan besar berisi gelas dan kaleng biscuit. "Biar saja mbak..." ucap perempuan muda yang ada di belakang ibu Dibyo. Ceret besar yang mengepulkan asap ditenteng di tangan kanannya, tangan kirinya membawa sepiring besar ketela goreng.


"Gak papa mbak... biar saya bantu," Asri melanjutkan menyajikan apa yang dibawa kedua perempuan itu.


"Warni ... mbakyunya Dibyo," perempuan muda itu mengenalkan diri.


Warni kakak Dibyo sejak kejadian Drini pulang ke Banjarejo. Rumah kayu jati yang belum selesai di belakang tadi dibangun dari hasil kerja keras dirinya dan suaminya selama bekerja menjadi pembantu rumah tangga di Jakarta.


Tak menduga akibat kejadian Drini luka Dibyo cukup berat, Warni memutuskan keluar dari pekerjaannya untuk bergantian menunggui Dibyo selama di rumah sakit.


...----------------...


"Monggo diminum kopi dan dicicipi gorengannya," ibu Dibyo menuangkan kopi panas ke setiap gelas yang sudah ditata Asri.


Aroma kopi panas dan ketela goreng berbalut ketumbar kasar sangat mengguggah siapa saja yang menghirupnya untuk tak berlama mencicip.


"Ueeenake ..." celetuk Muji yang pertama kali mengambil potongan ketela goreng di dekatnya. Mulutnya menganga menghembuskan uap panas ketela goreng yang dikunyahnya.


"Mbrangas .. " Dibyo mencela kelakuan Muji sambil terbahak.


Ibu Dibyo ikut tertawa kecil mendengar gerutuan Dibyo. "Jangan pulang dulu ya nak ... Kebetulan pak Dhe-nya Dibyo membawakan dua ikan pari besar yang sudah diasap,"


"Wah kami malah merepotkan," kata Seto sambil berdiri dari risban, bergabung ke meja tempat bapak Dibyo, Gunawan dan Santo.


"Sudah ... pokoknya makan dulu," lanjut ibu Dibyo sambil beranjak undur ke belakang.


"Saya bantu siapkan bu,..." Asri mengikuti langkah ibu dan Warni menuju ke dalam rumah Banjarejo.


"Nanti bau asap loh cah ayu," cegah ibu Dibyo.


"Di kedai dulu juga kena asap bu ..." Kata Asri lagi.


Tak mau berbantahan, ibu Dibyo dan Warni membiarkan Asri mengikuti mereka masuk ke dalam menyiapkan masakan makan malam.

__ADS_1


Seto lalu mulai membuka percakapan lagi dengan bapak Dibyo setelah ketiga perempuan itu masuk ke dalam ... Kali ini dirinya terlihat serius ...


...----------------...


__ADS_2