
"Setaaaan ... !!!" Sigit mengumpat sejadi-jadinya di hadapan dua laki-laki yang baru saja menemuinya di rumah Ambal.
"Entah bagaimana dia tiba-tiba menghilang ketika kami mengikutinya,"
Persangkaan Seti benar, ketika dirinya merasa diikuti setelah gladi bersih wisuda ... Dua laki-laki berjaket hitam di atas RX-King itu memang benar orang suruhan Herman untuk mengawasi dan mengikuti dirinya.
Kehilangan jejak ketika Seti berhasil mengecoh mereka, kedua laki-laki suruhan Herman itu beralih meninggalkan Jogja menuju tempat persembunyian Sigit.
Jika saja jejak Seti diketahui setelah berhasil mengikutinya, rencananya Sigit dan Herman akan mencari tempat dekat tempat Seti tinggal. Menunggu kelengahan Seti untuk melampiaskan kemarahannya ... Tetapi rencana itu belum berhasil.
Herman lalu menyuruh kedua laki-laki itu untuk memberitahu Sigit agar menunda kedatangannya ke Jogja sampai tempat dimana Seti tinggal jelas keberadaannya.
Herman tahu jika Seti kost di Samirono dari Sigit. Hanya saja dirinya tak mau gegabah menyuruh orang-orangnya mencari Seti di sana karena merasa Gunawan juga tak akan membiarkan begitu saja.
Kedekatan Seti dan Gunawan diketahui Herman dari cerita Sigit ketika mereka bersinggungan di billiard Nusa Indah.
Husein juga yang mengingatkan Herman untuk tidak mengusik Gunawan yang pernah sama-sama menjalani sudut gelap jalanan Jogja.
Sebenarnya Herman juga belum tahu benar di sisi mana Husein berada. Mengingat selama ini kedekatan dirinya dengan Husein hanya sebatas uang. Nalurinya membatasi dirinya untuk menceritakan untuk apa dirinya ke kampung Samirono dan hubungan dirimya dengan Sigit kepada Husein.
Begitu juga dengan kedekatan Herman dan Sigit ... Sampai saat ini uanglah yang mendekatkan mereka ... Masing-masing masih membatasi untuk tidak gegabah mengumbar hal-hal yang seharusnya disimpan rapat-rapat ...
...----------------...
"Aku sudah tidak tahan di tempat ini ... " Keluh Sigit.
"Mau bagaimana lagi Git ... Kami hanya disuruh Blegog untuk menyampaikan pesan itu," salah seorang laki-laki suruhan Herman menimpali keluhan Sigit.
"Jadi sudah pasti penyidikan Seti dihentikan ?" Sigit mengalihkan pembicaraan, membahas hal mengenai dugaan sebab kematian di Drini.
"Dari orang Blegog di Polres sepertinya seperti itu Git ... SP3 segera diterbitkan ..."
__ADS_1
"Baiklah kalau itu yang terjadi, aku harus memikirkan cara lain," Sigit masih berusaha mencari cara untuk membalaskan sakit hatinya.
Berpikir sebab Seti-lah dirinya tak bisa mendapatkan penghuni kost Mantrijeron terutama Asri, ... dendam Sigit semakin memuncak kepada Seti setelah kejadian Drini. Apalagi dua teman dekatnya berakhir dengan meregang nyawa di sana.
Yang tak disadari Sigit ... Seti-pun tak akan membiarkannya bebas melenggang mengusik kehidupan siapapun yang dekat dengan dirinya ... Terutama Asri ...
...----------------...
"Coba kalian sering lewat Samirono ... Ini ada uang .. Cari orang yang gak berpotongan gali kayak kalian," Sigit menyerahkan uang ke salah satu laki-laki suruhan Herman. "Uangku sudah menipis ... Tak ada pemasukan sama sekali selama aku di sini," imbuhnya.
"Jika ketemu, kami langsung beritahu Blegog atau kamu Git ?" Tanya laki-laki yang menerima uang.
"Langsung ke sini saja ... Sekalian jemput aku ... Pastikan tidak ada yang mengikuti !" Sahut Sigit.
"Baiklah Git ... Kami langsung pulang ke Jogja sekalian cari orang yang kamu minta. " Kedua laki-laki itu berpamitan meninggalkan rumah Ambal.
...----------------...
Parang itu dikirim oleh Herman lewat orang suruhannya.
Sigitlah yang meminta parang itu ke Herman setelah bersembunyi di rumah Ambal. Dirinya mengetahui Herman mempunyai sepasang parang setelah keduanya akrab.
Kata Herman, parang itu diperolehnya ketika berguru ilmu silat di pedalaman Banten. Parang itu selain sebagi simbol laki-laki petarung atau jawara di sana, juga berfungsi sebagai senjata ketika perkelahian tak terelak-kan.
Herman menyebut parang itu parang Ciomas. Konon bahan besi golok Ciomas milik Herman ditempa dengan menggunakan palu atau tempat khusus yang disebut Ki Denok yang merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Banten.
Karena aturan pembuatan golok ini yang sangat ketat, parang Ciomas itu merupakan salah satu parang yang paling tajam dan mempunyai aura mistis di setiap bilahnya.
Hari-hari Sigit di rumah Ambal yang penuh dendam kepada Seti dilampiaskan dengan mempersiapkan senjata yang akan digunakannya kelak ketika bertemu Seti ... Berpacu dengan waktu menyadari dirinya tinggal menunggu waktu saja untuk tertangkap.
Karena itulah Sigit suka tidak suka sangat tergantung kepada Herman untuk mengatur semua rencana balas dendamnya.
__ADS_1
Tak ada rasa penyesalan sedikitpun dari Sigit tentang sebab awal semua kekacauan kejadian Drini yang berawal dari dirinya.
Keburukan sifat Sigit itu mirip dengan dongeng Dursasana anak kedua dalam wayang Kurawa yang adigang adigung adiguna, gemar berjudi dan perempuan ... Dan tentu saja selalu menimpakan kesalahan kepada orang lain jika perbuatannya menimbulkan kekacauan dan keributan.
Jika Dursasana mempermainkan Pandawa dalam judi dadu dan melecehkan Drupadi istri Pandawa ... Apa yang dilakukan Sigit juga tak jauh berbeda dengan kisah pewayangan itu ketika dirinya secara licik berhasil mengelabui Joe dan Doni lewat permainan judi kartu billiard dan lalu melecehkan Asri di Drini.
Kematian dua teman dekatnya di Drini ditimpakan Sigit sebab ulah Seti ... Seolah-olah dirinya-lah yang menjadi korban Seti ... Tanpa pernah mau tahu, ... sebab awal semua kekacaun Drini adalah berawal dari ulah dirinya.
Yang ada dalam diri Sigit sekarang adalah amarah yang harus dilampiaskannya ...
Terbiasa keluyuran setiap malam di tempat hiburan Jogja dengan perempuan yang berganti-ganti lalu terhempas di pelosok Ambal berlantai semen dan atap seng tanpa listrik tentu saja sangat menyiksa Sigit.
Amarah itu yang membuat Sigit tetap bertahan untuk menunggu waktu yang tepat keluar dari persembunyian-nya. Mengabaikan permintaan keluarganya untuk menyerah dan memilih penyelesaian dengan caranya sendiri.
Parang Ciomas itu terasah lagi sepeninggal orang suruhan Herman ...
...----------------...
Tentang berita dihentikannya penyidikan Seti sebenarnya tidak ada urusannya dengan Herman. Tetapi mendengar berita itu dari mulut Husein membuat dirinya merasa curiga.
Tidak biasanya Husein menceritakan urusan kantor yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Selama ini Herman tak pernah menyinggung kedekatannya dengan Sigit kepada Husein. Apalagi mengenai Seti ... Nama yang baru didengarnya dari mulut Sigit setelah bersembunyi di rumah Ambal.
Lalu kenapa tiba-tiba saja Husein menyinggung nama Seti kepadanya ? Hati kecil Herman dipenuhi pertanyaan akan dibawa kemana kedekatan mereka pada akhirnya ...
Apakah Husein selama ini bersandar kepadanya adalah hanya untuk memanfaatkan dirinya sebagai mata polisi ? Benarkah Husein tulus menyelamatkan dirinya ketika dikeroyok dulu tanpa ada motif imbal balik yang lain ? Kekalkah persahabatan masa kecil antara dirinya dan Husein setelah terjeda waktu lama dan tiba-tiba saja terajut kembali ?
Jika saja dari awal Herman tidak menerima uang yang sangat besar dari keluarga Sigit, tentu saja dirinya tidak dipenuhi kecurigaan kepada Husein yang menyinggung Seti setelah sebelumnya menyinggung Gunawan ketika dirinya menanyakan siapa sosok yang berpengaruh di Samirono.
Ya uang ... Itulah kenapa sampai saat ini Herman lebih memilih menutupi jejak Sigit yang baru dikenalnya di dunia hiburan malam kepada Husein teman kecilnya yang singgah kembali di kehidupannya ... Tidak semudah itu Husein mengorek info darinya jika itu tentang Sigit ...
__ADS_1
...----------------...