
"Kamu bisa nyupir Set ?" Tanya Slamet sesaat setelah masuk ruangan kerjanya.
"Bisa mas," jawab Seti yang ada di depan Slamet.
"Ada SIM ?"
"Ada .... Kenapa mas ?"
"Gak papa .... Kamu bawa mobil kantor. Antar aku ke Adi Sutjipto,"
"Tapi apa gak jadi masalah mas ?" Seti masih ragu dengan permintaan Slamet.
"Dah kamu nurut aja perintahku .... Ganti baju kerjamu dengan seragam kantor, lalu ke garasi ambil Feroza .... Nih kuncinya." Slamet memberikan kunci mobil kantor yang biasa dipakainya ke lapangan.
Tak membantah lagi, Seti menuju ke mess karyawan untuk bersalin. Entah kapan Seti akan memakai baju resmi seragam kantor jika Slamet tak menyuruh memakainya hari ini.
Ada yang aneh saja ketika berkaca memakai seragam itu, apalagi selama ini dirinya terbiasa memakai baju kerja lapangannya.
Masih diliputi pertanyaan kenapa Slamet mengajak dirinya dan bukan mengajak yang lain, Seti meninggalkan mess menuju ke garasi kantor ....
...----------------...
Secara jabatan, posisi Slamet selaku site manager adalah yang tertinggi di base camp waduk Sermo.
Hanya saja dalam pekerjaan, Slamet yang lebih senang turun ke lapangan tak mau menunjukkan jarak dengan bawahannya. Penampilannya ketika di lapangan seperti pekerja biasa.
Hal itu justru membuat siapapun yang bekerja menjadi bawahan Slamet menjadi segan. Dan tak berani membantah argumentasinya jika ada pekerjaan yang kurang pas menurutnya.
Biasanya seminggu sekali Slamet berkoordimasi dengan project manager di kantor Jogja untuk menyampaikan progress pekerjaan di waduk Sermo. Karena itulah Seti menyangka Slamet akan mengajaknya singgah dulu di kantor Jogja sebelum ke bandara menjemput direktur CV yang dipanggil bos oleh Slamet.
"Kita langsung ke bandara mas ?" Tanya Seti yang mulai menjalankan mobil.
"Kita ke Panjatan dulu Set lewat jalan Daendels .... Toh pesawat dari Jakarta baru jam 3 sore landing." Jawab Slamet. "Sudah pernah lewat jalan Daendels ?" Tanya Slamet lagi.
"Belum mas .... Katanya jalannya masih banyak yang rusak."
__ADS_1
"Makanya aku ajak kamu biar tahu lokasi kerjaan yang lain. Kebetulan aku disuruh bos mengambil hasil sampling pasir besi di sana," tutur Slamet sambil memasang sabuk pengaman. "Kamu paham situasi kerjaan kita sekarang. Tapi kamu gak usah kuatir, nanti kita bicarakan posisimu dengan bos. Kulihat kamu mampu mengatasi kesulitan di lapangan." Ujarnya lagi.
Seti tak menyangka atasan-nya itu memperhatikan dirinya selama di lapangan.
Beberapa kali pasokan solar yang terlambat dan dirasanya akan menghambat pekerjaan pengeboran untuk pengambilan sampling batu dapat diatasinya.
Jika dirasa solar tidak cukup untuk operasional hari itu, Seti menunda pengeboran. Mengalihkan jadual pengeboran ke pekerjaan lain seperti pengiriman sampling core ke base camp untuk dianalisa, sehingga tidak ada pekerja yang menganggur.
Operator alat berat yang disertakan dalam tim bentukan Slamet memudahkan pengambilan keputusan Seti.
Strategi rekruitment yang dilakukan Slamet mengajarkan kepada Seti tentang hal-hal yang tidak ada dalam text book. Tidak melulu terpancang SOP, semua yang dilibatkan dalam tim kerja Slamet harus mampu membantu dan melakukan pekerjaan lain.
Seperti hati kecil Seti yang mengakui kecermatan rekruitment tim kerjanya, di sisi lain Slamet juga mengakui keberanian Seti dalam pengambilan suatu keputusan di lapangan ketika terjadi kendala.
Pengamatan langsung dan masukan dari beberapa karyawan lain semakin membuat Slamet jatuh hati kepada Seti untuk urusan pekerjaan di lapangan.
"Mining is gambling," gumam Slamet.
" Yeah .... The present is the key to the past ...." Seti menimpali gumaman Slamet.
Berpandangan sejenak. Keduanya tertawa terbahak mendengar kutipan dunia pertambangan yang sering terucap.
...----------------...
Memasuki Panjatan, Seti memperhatikan jalan yang penuh lubang di kanan kiri.
Berhati-hati memilih jalan kampung yang akan dilewatinya sebelum masuk ke jalan Daendels. Ukuran ring 15/33 rodanya setidaknya memudahkan mobil itu terus merangsek melewati genangan jalan berlubang.
"Kita ini jualan data Set. Semakin cepat dan akurat data yang kita sajikan, semakin tinggi nilai kepercayaan yang kita dapat,"
"Ya mas, ...." jawab Seti sambil memperhatikan jalan.
"Dunia ekplorasi kita masih terkendala permodalan, pengetahuan dan teknologi jika dibandingkan orang luar," Slamet membuka jendela lalu menyalakan rokok. "Ngrokok aja kalau kamu mau," lanjutnya lagi sambil mengarahkan bungkus rokoknya ke arah Seti.
"Makasih mas .... Nanti saja," Seti tak mau konsentrasinya terganggu jika ikut merokok.
__ADS_1
"Tak banyak orang kita yang mau berjudi untuk mencari cadangan. Kebanyakan orang kita itu maunya beres. Begitu dengar ada bau-bau uang semuanya berlomba ingin ikut tanpa pernah tahu kebenaran data yang disajikan," Slamet meneruskan obrolan sambil memperhatikan kanan kiri jalan Daendels yang menghijau ditanami padi.
"Maksudnya ?" Seti ingin tahu lagi.
"Kamu dengar skandal Bre-X Gold Minerals yang bikin malu Cendana kemarin kan ?"
Seti tersenyum getir. Teringat salah satu teman kuliahnya yang berapi-api menceritakan cadangan emas Busang Kalimantan Timur yang disajikan Bre-X ketika temannya itu mengambil penelitian di sana untuk skripsinya.
"Saya malah mengikutinya mas. Sempat ramai juga di kampus ketika Busang jadi rebutan sampai berakhir dengan skandal,"
"Capital Gain .... " Slamet menghembuskan asap rokoknya,"Orang kita maunya dapat untung besar secara instan dengan jual beli saham-nya .... Bukan dengan kualitas dan kuantitas produksi yang dihasilkannya."
Perjalanan kali ini semakin menyenangkan hati Seti. Asupan nutrisi pengetahuan dunia kerja-nya semakin bertambah dengan teman seperjalanan yang sudah dianggap sebagai guru pembimbing dahaga tentang pengetahuan dunia kerja yang penuh kerumitan keputusan.
Cerita Slamet terus mengalir runtut membuka logika Seti tentang sebab akibat suatu kejadian. Tentang bagaimana keserakahan suatu rezim yang ingin bermain dalam booming emas Busang harus gigit jari akibat skandal penipuan yang menggegerkan sekaligus mempermalukan dunia pertambangan pada Maret 1997.
Bagaimana kroni Cendana lewat kekuasaan politik berebut menguasai saham Bre-X dengan segala cara. Keserakahan dengan melibatkan raksasa Freeport Mc MoRan untuk berbagi kue emas Busang berujung petaka.
Pemain kawakan sekelas Freeport yang menguasai emas Irian Jaya bukanlah anak kecil yang melonjak kegirangan ketika menerima jajan permen tanpa sebab.
Beberapa lubang pengeboran untuk pengambilan core yang tidak menghasilkan emas menguak tipuan core emas Busang yang ternyata hasil tipu-tipu campuran leburan cincin emas perkawinan Michel de Guzman direktur eksplorasi Bre-X yang berasal Filipina.
Banyak versi akhir cerita memalukan skandal Bre-X yang membuat banyak spekulan bunuh diri .... Sebab tak sanggup menanggung kerugian setelah saham seharga ratusan dolar menukik ke nol dolar.
Bahkan kematian Michel de Guzman yang diberitakan bunuh diri dengan melompat dari helikopter milik keluarga Cendana juga masih menjadi misteri.
Ada yang mengatakan mayat yang ditemukan di rimba belantara Kalimantan bukanlah mayat de Guzman yang dikabarkan masih hidup dan bersembunyi di Indonesia.
"Karena itulah, aku sampai sekarang tak mau gegabah membiarkan orang yang tak kukenal terlibat bersamaku dalam setiap pengujian data pengeboran yang kukerjakan," Slamet mengakhiri cerita panjang keserakahan pemodal yang hanya mau mengejar keuntungan lewat penjualan selembar saham.
Baginya, kepuasan yang sesungguhnya dalam perjudian pencarian hasil tambang adalah ketika apa yang disajikan tak meleset jauh dari perhitungan datanya.
Beberapa bangunan peti kemas terlihat di seberang jalan Daendels dekat pantai yang ditunjuk Slamet mengalihkan perhatian Seti.
Slamet menyuruh Seti berhenti di salah satu bangunan yang sepertinya dipakai sebagai direksi keet suatu pekerjaan awal.
__ADS_1
Perlahan Feroza itu mendekat ....
...----------------...