
Si Denok masuk ke dalam halaman rumah kayu sederhana bercat hijau di sudut kampung Wirobrajan.
Di bawah selasar genteng rumah beratap gudangan itu, Doni duduk santai memperhatikan Seti memarkir si Denok, mulutnya melemparkan hembusan asap rokok.
Mendekat ke arah Doni melewati kerindangan dua pohon melinjo yang resik dan terawat, Seti lalu duduk menyebelahi Doni.
Lantai batu padas dengan empat kursi betawi kayu mahoni berplistur coklat tempat keduanya duduk membuat siapa saja betah berlama duduk di situ menikmati suasana sore yang tenang dan sepi.
"Ke mana mereka ?" Pandangan Seti berputar mencari Hening dan Asri.
"Lagi mandi," jawab Doni pendek.
Seti mengalihkan pandangan, berkeling ke arah sudut halaman di depan duduknya. Warna coklat tanah dan hijau daun melinjo menyegarkan penglihatannya.
Tak lama, Yuni muncul dari dalam rumah. Melangkah hati-hati menghampiri meja kayu bundar di tengah kursi.
Menaruh nampan berisi empat gelas kopi di atasnya, tangan putihnya terulur menontonkan tato bunga mawar kecil ke arah Doni yang sedari tadi memperhatikan gerak geriknya.
"Cantik," bisik Doni setelah Yuni beranjak lagi ke dalam.
Seti tertawa kecil. Jika Joe selalu ceplas ceplos mengungkapkan perempuan yang menarik perhatiannya, Doni lebih pendiam.
"Tumben kamu menyinggung soal perempuan." Seti lantas menggodanya. Baru kali ini didengarnya Doni berkomentar tentang perempuan.
Hening keluar tak lama kemudian. Sepiring besar ketela goreng yang masih panas ditaruhnya di dekat nampan kopi. Bola mata indahnya lembut mengunci tatapan Seti yang memperhatikannya. Ada nyala kerinduan dari keduanya.
"Dah segar Hen," basa basi Seti mencoba menutupi debar jantungnya.
"Sangat segar," Hening tersenyum mengalihkan tatapannya dari kilat mata Seti.
"Bagaimana Jakartamu ?" Doni menimpal pembicaraan.
Selasar rumah itu kembali hidup. Hening membagikan kegembiraan kuliahnya sampai ke pasar seni Ancol bersama Yuni yang sekarang menjadi rutinitas Sabtu Minggunya. Menceritakan mimpinya untuk mempunyai studio sekaligus ruang pamer di pasar seni itu.
Seti tak mau menjeda kegembiraan perbincangan dan mimpi Hening. Pikirannya hanya dipenuhi bagaimana cara untuk menjelaskan hubungannya dengan Asri kepada Hening. Tak ada kefokusan dengan celoteh riang Hening dan Doni.
Untungnya Yuni muncul menyembunyikan semua isi kepala Seti yang berputar-putar tentang Asri dan Hening. Sesaat otak panasnya mendingin saat Yuni mengingatkan kopi dan ketela di atas meja yang terabaikan.
"Wah sudah dibabtis jadi seniman Ancol nih," celetuk Doni melihat Hening mengeluarkan rokok.
__ADS_1
"Tuh yang membabtisku, kalau pengin kenal lebih dekat" Hening tersenyum simpul melemparkan pandangan ke arah Yuni.
"Enak aja...Dia tuh ngrokok gara-gara kebanyakan melamun di depan foto atlit karate," Yuni tertawa tipis membalas Hening.
Merasa bola diarahkan kepadanya, Seti buru-buru menyeruput gelas kopi di depannya ...
...----------------...
Yuni sepertinya sengaja membiarkan Seti dan Hening di rumah Wirobrajan tak lama setelah cerita kesibukan Jakarta mengalir di rumah Wirobrajan. Mencolek Doni, mengajaknya membeli beberapa barang menunggangi si Denok yang dipinjamkan Seti kemudian.
"Kamu terlihat berbeda," kata lembut terucap dari bibir tipis Hening sesaat setelah Yuni dan Doni menghilang dari depan selasar rumah Wirobrajan.
Pembicaraan yang terjeda cukup lama sebab jarak Jakarta Jogja sedikit menepikan kemesraan masa lalu keduanya.
"Kamupun berubah," Seti membalas. Ada spasi panjang di antara kalimat lirihnya.
Rumah Wirobrajan sepertinya tak cukup untuk memberi ruang dan waktu bagi Seti dan Hening untuk menghilangkan kekakuan pelepasan rasa rindu masing-masing.
Seperti jalinan cerita kemarau cinta yang terburu-buru berusaha merubah kekasaran menjadi kelembutan, kesedihan menjadi kegembiraan, kesepian menjadi keramaian hati, tanpa pernah terwujud dalam siang dan malam. Berharap semuanya semudah kata-kata dalam roman picisan.
"Bagaimana kabarmu dengan Asri ?" Akhirnya nama itu terucap dari Hening dengan nada keteduhan yang mendatar.
"Baik-baik saja. Akhir-akhir ini kami banyak menghabiskan waktu bersama setelah mas Joko sakit,"
"Banyak kisah di Jogja yang membuat aku dan Asri memutuskan sesuatu," tak ingin berlama-lama membiarkan spasi kosong di tengah kekakuan kata, akhirnya Seti membawa rangkaian kedekatannya dengan Asri ke dalam pembicaraan. "Aku tak bisa membiarkannya dengan segala perandaian,"
"Kalian sudah dalam ruang hati yang sama ?"
"Ya ... " Rumah Wirobrajan sepi sejenak. Kerinduan yang tadi memuncak menjadi sesuatu yang aneh ...
...----------------...
Ketika suatu ketidakpastian menjadi suatu kepastian yang jelas dan terang benderang, maka tak akan ada lagi perandaian di dalamnya.
Tidak penting lagi menanyakan kemana lembayung senja setelah mentari terlelap, karena seberapa kali pertanyaan itu bergulir, lembayung itu akan kembali di senja esok.
"Aku tak terhanyut Yun," tanpa ekspresi kepedihan, suara Hening terucap datar dari keremangan selasar rumah Wirobrajan. "Toh aku tetap bersama mereka." Asap rokok keluar dari bibir tipisnya.
Yuni menatap lembut. Memahami perasaan Hening. Rekaman cerita Hening, Asri, dan Seti selama perjalanan Jakarta Jogja yang masih lekat di memorinya berakhir tanpa gelombang tsunami. Mengalir seperti anak sungai yang tak terbendung. Mengarah ke satu tempat dengan kodratnya masing-masing.
__ADS_1
"Jadi kamu sudah tahu dari Seti sendiri ?" Tanya Yuni, masih dengan tatapan lembutnya.
Hening mengangguk. "Ah sudahlah, aku baik-baik saja Yun ... Sebentar lagi mereka kemari loh." Kali ini Hening tersenyum lepas.
...----------------...
Kedatangan Yuni ke rumah Wirobrajan bukan tanpa sebab. Sejak nenek Yuni meninggal, rumah Wirobrajan kosong. Bapak menitipkan ke salah satu saudaranya di kampung yang sama. Rencana menempati rumah itu jika Yuni selesai kuliah sudah dibicarakan sejak lama dengan Yuni. Karena itu bapak menyuruhnya menengok rumah Wirobrajan mengecek kondisinya di liburan semesternya berbarengan dengan Hening yang mengajaknya menengok Bening.
Kekurangan perkakas dan beberapa perlengkapan dapur tadi sudah dibelinya bareng Doni. Jadi kalau Bapak sesekali singgah ke Jogja tidak perlu repot memasak.
Hanya tinggal kamar mandi dan WC yang perlu dibersihkan dan dicat ulang. Rencananya Seti, Joe, dan Doni akan mengerjakannya besok. Malam itu mereka akan datang lagi mengantarkan beberapa barang yang tadi belum sempat dibeli Yuni setelah menutup lapak.
"Asik juga lapak mereka," melihat senyum Hening tersungging kembali, Yuni melemparkan kesan pertamanya di Jogja.
"Lapak atau si gondrong penunggunya... hihihi...," kali ini Hening menggoda Yuni. Sepertinya dia mulai tahu isi kepala Doni dan Yuni.
"Hihihi ... Kamu dah kenal lama Doni ?" Yuni menanggapi godaan Hening. Binar mata Yuni ketika menyebutkan nama Doni tak bisa disembunyikan dari tatapan selidik Hening.
"Hanya Seti dan Joe," Hening menjawab sambil bersiap berbenah lagi. "Dah kita selesaikan kamar buat tidur dulu, sambil menunggu si gondrong datang." Hening beranjak ke kamar.
...----------------...
Joe ngos-ngosan memasukkan dua kardus besar dan dua kasur kapuk dari atas becak ke dalam rumah Wirobrajan. Lalu duduk di kursi selasar setelah becak yang mengantarnya berbalik.
"Asu tenan ... tahu begini mending aku yang ikut Doni," Hening dan Yuni yang sedang mengecek barang bawaan Joe tertawa keras mendengar gerutuannya.
"Kenapa datang-datang malah marah-marah kepada mereka ?" Hening terkekeh menanggapi gerutuan Joe. Mencoba menghibur kekesalannya.
"Si Seti bilang, banyak tukang yang bantu angkut barang dari becak. Jadi aku disuruhnya ikut becak, daripada berat bawa tivi bareng Doni,"
"Tivi ?" Tanya Yuni heran.
"Iya, ... katanya si Doni mau ambil tivi pesananmu." Joe masih bersungut saat suara si Denok terdengar mendekat ke arah rumah.
Doni turun dari boncengan si Denok, dengan kardus tulisan polytron tivi yang sudah sangat dihapal Joe ... kardus kost Demangan berisi potongan kain yang biasa dipakai mengelap sisa cat lukis yang berceceran.
"Dasar asuuuu ... " Umpat Joe lagi, menyadari dirinya tertipu sambil menyeringai ke arah Seti dan Doni yang terbahak puas berhasil mengerjai dirinya.
"Sudah lama jadi nyambi jadi kuli panggul mas ?" Masih terkekeh Seti duduk menyebelahi Joe.
__ADS_1
Hening dan Yuni ikut terbahak mengetahui Joe dikerjai habis-habisan oleh Seti dan Doni. Selasar rumah Wirobrajan mulai ramai lagi dengan perbantahan dan makian akrab.
...----------------...